Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh

 *Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

 

Tindakan Joko Tenang telah membuat Dawaru berdiri mematung tidak berkutik, bahkan suaranya pun diborgol oleh totokan.

Melihat nasib rekannya, ketiga rekan Dawaru segera bangkit berdiri dengan wajah-wajah yang sangar memandang Joko yang memunggungi posisi mereka. Memang mereka kelompok anti ketampanan. Sebab, jika mereka bergabung dengan orang tampan, mereka akan terlalu kentara terlihat jelek. Padahal mereka tidak jelek-jelek amat.

“Biar aku yang bayar, Nyai!” kata Joko Tenang kepada ketiga wanita rekan semejanya.

Joko Tenang bangkit lebih dulu dan langsung berjalan menuju bagian kasir. Dia meninggalkan Dawaru dan ketiga temannya yang baru hendak mendekat.

Ketiga rekan Dawaru jadi menahan langkah karena Joko Tenang sudah lebih dulu pergi ke kasir. Satu orang dari mereka mendekati Dawaru untuk membebaskan rekannya itu dari totokan. Sementara dua orang lainnya segera mengejar Joko Tenang ke bagian kasir.

Subini, Nangita dan Rinda bergegas bangkit dan pergi menuju ke pintu keluar. Mereka menghindari para pendekar yang sedang marah kepada Joko Tenang itu.

Dua orang pendekar yang mengejar Joko Tenang ke kasir, masing-masing membawa golok yang modelnya sama dengan golok Dawaru. Sebutlah lelaki muda berkumis tipis bermata sipit bernama Enggang, sedangkan lelaki separuh baya berperut gendut berambut pendek keriting bernam Jiping.

Kegaduhan itu membuat perhatian semua orang tertuju kepada keempat lelaki tersebut dan Joko Tenang. Seratus kurang satu persen menduga akan terjadi keributan lebih keras.

Jiping dan Enggang mendatangi Joko Tenang yang sedang melakukan pembayaran di kasir. Posisi Joko Tenang membelakangi kedua lelaki bergolok itu.

Keduanya berhenti tiga langkah di belakang Joko Tenang

“Kisanak Siluman Perempuan!” panggil Jiping terhadap Joko Tenang dari belakang.

Joko Tenang menengok ke belakang dan memandang kepada Jiping. Joko Tenang tersenyum, meski hatinya tidak gembira disebut “Siluman Perempuan”. Lebih tidak menyakitkan jika sekedar disebut “Siluman Monyet” atau “Siluman Kecoa”.

“Maaf, ada apa, Kisanak?” tanya Joko Tenang berkura-kura di bawah lampu alias sok lugu.

“Kau telah mempermalukan kami di depan orang banyak!” teriak Jiping.

“Lalu?” tanya Joko Tenang dengan tenang dan masih sok lugu.

“Kami akan semakin malu jika tidak bisa membuatmu malu!” jawab Jiping, tetap dengan berteriak.

“Maksud Kakang, Kakang ingin membuat aku malu. Kakang ingin memperlakukanku seperti apa agar aku malu?” tanya Joko lagi, masih dalam posisi menengok.

“Kami akan menelanjangimu di depan banyak orang untuk tahu, apakah kau lelaki atau perempuan!” jawab Jiping.

“Sebentar, aku bayar dulu, Kakang,” kata Joko Tenang, lalu kembali menghadapkan wajahnya kepada kasir.

Joko Tenang membayar dengan beberapa kepeng perak. Setelah pembayarannya selesai, Joko Tenang lalu berbalik dan menghadap kepada Jiping dan Enggang.

“Tapi jangan seburuk itu cara membuatku malu, Kakang,” kata Joko Tenang sembari tersenyum mengalah. “Kakang, biarkan aku pergi. Kita teman saja. Aku punya kepeng perak, cukup untuk bayar makanan kalian.”

Joko Tenang memperlihatkan dua kepeng perak di jarinya.

Joko Tenang kemudian melambungkan kedua koin perak tersebut dengan sekali jentikan jari.

Kedua kepeng perak melambung dengan masing-masing koin ke arah Jiping dan Enggang. Secara bersamaan dan dengan mudah keduanya menimang koin tersebut.

Duk! Duk!

“Uhh!” keluh Jiping dang Enggang bersamaan, sambil tangan mereka berdua yang menimang koin perak tersebut jatuh menghantam lantai papan, sampai-sampai keduanya membungkuk karena terbawa oleh koin yang ternyata terlalu berat.

Siapa yang percaya jika dua koin perak yang sebesar lingkaran jari telunjuk dan jempol bisa seberat itu? Jangan ada yang mengaku!

Semua orang yang melihat kejadian itu jadi terkejut, termasuk Subini dan kedua rekannya yang memantau dari luar.

Joko Tenang lalu berjalan melewati Jiping dan Enggang, sambil tangannya mencubit tubuh keduanya. Jiping dan Enggang tidak menjerit kesakitan, tapi hanya tersentak. Seiring itu, keduanya sudah bisa mengangkat tangan. Kepeng di tangan mereka kembli menjadi ringan. Keduanya buru-buru bangkit tegak agar tidak semakin malu diri.

“Jangan pergi kau! Hahaha!” teriak Enggang kepada Joko Tenang, tapi kemudian tertawa terbahak-bahak.

Seperti tidak mendengar, Joko Tenang tetap berjalan di antara punggung-punggung pelanggan rumah makan menuju pintu keluar.

“Enggang, kenapa kau malah tertawa? Hahaha!” tanya Jiping, tapi kemudian dia juga tertawa tanpa jelas sebabnya.

“Hei! Jangan hahahah!” teriak Enggang lagi meneriaki Joko Tenang dan kembali tertawa.

“Pura-pura hahaha!” maki Jiping pula lalu kembali tertawa.

Jiping dan Enggang menjadi heran dengan diri mereka sendiri karena dengan sendirinya tertawa, padahal mereka sedang marah.

“Hahaha...!” tawa Jiping dan Enggang berkepanjangan sambil memegangi perut mereka. Ada rasa geli yang mendera tubuh mereka.

Semua orang yang melihat tingkah Jiping dan Enggang di depan kasir itu jadi heran, termasuk Dawaru yang sudah bebas dari totokan dan rekannya yang bernama Kuring.

Sadar bahwa kedua rekan mereka dibuat aneh oleh Joko Tenang, Dawaru dan Kuring segera memburu pemuda berbibir merah itu ke pintu. Tidak mau basa-basi, Kuring langsung menyerang Joko dari belakang tanpa peduli dengan suasana rumah makan yang ramai.

“Awas, Jokooo!” teriak Rinda panik dari luar rumah makan sambil menunjuk ke belakang Joko.

Kuring sudah melompat jauh dengan golok menebas ke arah kepala Joko. Tanpa menengok lebih dulu, Joko Tenang hanya memiringkan sedikit kepala dan membiarkan bahunya terbacok.

“Aaa!” jerit Subini, Nangita dan Rinda bersamaan melihat Joko yang ganteng terkena bacokan golok.

Namun, jantung dan hati ketiga emak-emak itu urung copot, karena Joko Tenang tetap berdiri baik-baik saja tanpa ada darah yang menetes.

Kuring tepat membacok bahu kanan Joko Tenang. Bukan golok Kuring yang terbalik sehingga tidak melukai mangsanya, tetapi golok itu membacok bahu Rompi Api Emas yang antigores.

Trio emak-emak sudah tidak menjerit, tetapi tetap tegang. Entah bagian tubuh mereka yang mana sedang tegang.

Joko Tenang berbalik menghadap kepada Kuring yang masih ternganga karena salah mendapat lawan. Melihat Joko berbalik, Kuring tersadar dari keterpukauannya dan buru-buru menusukkan goloknya ke arah perut Joko. Kali ini tusukannya dialiri tenaga dalam.

Dengan gerakan yang tenang setenang air rawa, tapi secepat serangan buaya, Joko Tenang menangkap ujung golok dengan jepitan dua jarinya.

Ting!

“Wow!” pukau ketiga emak-emak melihat Joko dengan mudah mematahkan golok Kuring.

“Hiaat!” teriak Dawaru yang berlari dan melompat di belakang Kuring. Dia juga hendak membacok Joko Tenang.

Joko Tenang cukup bergerak cepat mencubit kulit Kuring sambil menghindari bacokan Dawaru yang datang. Setelah itu, Joko Tenang berbalik dan mencubit Dawaru yang posisi mendaratnya masih membelakangi.

Hanya cubitan yang memberi sakit seperti digigit semut. Itu tidak menghentikan Dawaru dan Kuring untuk terus menyerang Joko.

Joko Tenang dengan tetap tenang menangkis serangan kedua lelaki bergolok itu. Hingga kemudian....

“Hahaha!” tawa Kuring sembari berhenti menyerang.

“Hahaha!” tawa Dawaru pula kemudian, juga jadi berhenti menyerang.

“Hahaha...!” tawa mereka terus berlanjut, kian ikut meramaikan tawa Jiping dan Enggang di sebelah dalam.

Karena keempat lawannya sudah terkena jurus Cubitan Seribu Geli, Joko Tenang memilih berjalan keluar dari rumah makan sembari tersenyum kepada ketiga wanita istri pelaut yang menantinya. (RH)

Terpopuler

Comments

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

luar biasa cara Joko melumpuhkan musuhnya

2023-08-30

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

mantap om, bunga meluncur pagi ini🌹

2023-08-20

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

weeehhh rompinya mantap tuh om😅

2023-08-20

2

lihat semua
Episodes
1 Pemuji 1: Tamu Lancang
2 Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3 Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4 Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5 Pemuji 5: Joko Tenang
6 Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7 Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8 Pemuji 8: Tamu Agung
9 Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10 Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11 Pemuji 11: Mencari Joko
12 Pemuji 12: Obrolan Rujak
13 Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14 Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15 Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16 Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17 Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18 Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19 Pemuji 19: Bertemu Lagi
20 Pemuji 20: Muara Jerit
21 Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22 Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23 Pemuji 23: Pertolongan Joko
24 Pemuji 24: Mengobati Putri
25 Pemuji 25: Target Lain
26 Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27 Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28 Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29 Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30 Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31 Pemuji 31: Pisah dan Janji
32 Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33 Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34 Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35 Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36 Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37 Pemuji 37: Amarah Prabu
38 Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39 Pemuji 39: Menyergap Joko
40 Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41 Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42 Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43 Pemuji 43: Nyai Bale
44 Pemuji 44: Gusti Raja
45 Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46 Pemuji 46: Kehilangan
47 Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48 Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49 Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50 Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51 Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52 Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53 Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54 Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55 Pemuji 55: Rayuan Joko
56 Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57 Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58 Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59 Pemuji 59: Putri Mahapatih
60 Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61 Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62 Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63 Pemuji 63: Nyaris Gila
64 Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65 Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66 Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67 Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68 Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69 Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70 Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71 Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72 Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73 Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74 Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75 Pemuji 75: Isi Perjanjian
76 Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77 Pemuji 77: Serangan Hantu
78 Pemuji 78: Anak Halus
79 Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80 Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81 Pemuji 81: Rencana Serangan
82 Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83 Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84 Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85 Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86 Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87 Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88 Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89 Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90 Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91 Pemuji 91: Perang
92 Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93 Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94 Pengumuman Duka
95 Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96 Pemuji 95: Pertarungan Langit
97 Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98 Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99 Pengumuman Sanggana7
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Pemuji 1: Tamu Lancang
2
Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3
Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4
Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5
Pemuji 5: Joko Tenang
6
Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7
Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8
Pemuji 8: Tamu Agung
9
Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10
Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11
Pemuji 11: Mencari Joko
12
Pemuji 12: Obrolan Rujak
13
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14
Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15
Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16
Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17
Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18
Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19
Pemuji 19: Bertemu Lagi
20
Pemuji 20: Muara Jerit
21
Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22
Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23
Pemuji 23: Pertolongan Joko
24
Pemuji 24: Mengobati Putri
25
Pemuji 25: Target Lain
26
Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27
Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28
Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29
Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31
Pemuji 31: Pisah dan Janji
32
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34
Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37
Pemuji 37: Amarah Prabu
38
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39
Pemuji 39: Menyergap Joko
40
Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41
Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42
Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43
Pemuji 43: Nyai Bale
44
Pemuji 44: Gusti Raja
45
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46
Pemuji 46: Kehilangan
47
Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50
Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51
Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53
Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54
Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55
Pemuji 55: Rayuan Joko
56
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57
Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59
Pemuji 59: Putri Mahapatih
60
Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61
Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62
Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63
Pemuji 63: Nyaris Gila
64
Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68
Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69
Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73
Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74
Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75
Pemuji 75: Isi Perjanjian
76
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77
Pemuji 77: Serangan Hantu
78
Pemuji 78: Anak Halus
79
Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80
Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81
Pemuji 81: Rencana Serangan
82
Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83
Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84
Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85
Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87
Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90
Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91
Pemuji 91: Perang
92
Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93
Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94
Pengumuman Duka
95
Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96
Pemuji 95: Pertarungan Langit
97
Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98
Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99
Pengumuman Sanggana7

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!