*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Tindakan Joko Tenang telah membuat Dawaru berdiri mematung tidak berkutik, bahkan suaranya pun diborgol oleh totokan.
Melihat nasib rekannya, ketiga rekan Dawaru segera bangkit berdiri dengan wajah-wajah yang sangar memandang Joko yang memunggungi posisi mereka. Memang mereka kelompok anti ketampanan. Sebab, jika mereka bergabung dengan orang tampan, mereka akan terlalu kentara terlihat jelek. Padahal mereka tidak jelek-jelek amat.
“Biar aku yang bayar, Nyai!” kata Joko Tenang kepada ketiga wanita rekan semejanya.
Joko Tenang bangkit lebih dulu dan langsung berjalan menuju bagian kasir. Dia meninggalkan Dawaru dan ketiga temannya yang baru hendak mendekat.
Ketiga rekan Dawaru jadi menahan langkah karena Joko Tenang sudah lebih dulu pergi ke kasir. Satu orang dari mereka mendekati Dawaru untuk membebaskan rekannya itu dari totokan. Sementara dua orang lainnya segera mengejar Joko Tenang ke bagian kasir.
Subini, Nangita dan Rinda bergegas bangkit dan pergi menuju ke pintu keluar. Mereka menghindari para pendekar yang sedang marah kepada Joko Tenang itu.
Dua orang pendekar yang mengejar Joko Tenang ke kasir, masing-masing membawa golok yang modelnya sama dengan golok Dawaru. Sebutlah lelaki muda berkumis tipis bermata sipit bernama Enggang, sedangkan lelaki separuh baya berperut gendut berambut pendek keriting bernam Jiping.
Kegaduhan itu membuat perhatian semua orang tertuju kepada keempat lelaki tersebut dan Joko Tenang. Seratus kurang satu persen menduga akan terjadi keributan lebih keras.
Jiping dan Enggang mendatangi Joko Tenang yang sedang melakukan pembayaran di kasir. Posisi Joko Tenang membelakangi kedua lelaki bergolok itu.
Keduanya berhenti tiga langkah di belakang Joko Tenang
“Kisanak Siluman Perempuan!” panggil Jiping terhadap Joko Tenang dari belakang.
Joko Tenang menengok ke belakang dan memandang kepada Jiping. Joko Tenang tersenyum, meski hatinya tidak gembira disebut “Siluman Perempuan”. Lebih tidak menyakitkan jika sekedar disebut “Siluman Monyet” atau “Siluman Kecoa”.
“Maaf, ada apa, Kisanak?” tanya Joko Tenang berkura-kura di bawah lampu alias sok lugu.
“Kau telah mempermalukan kami di depan orang banyak!” teriak Jiping.
“Lalu?” tanya Joko Tenang dengan tenang dan masih sok lugu.
“Kami akan semakin malu jika tidak bisa membuatmu malu!” jawab Jiping, tetap dengan berteriak.
“Maksud Kakang, Kakang ingin membuat aku malu. Kakang ingin memperlakukanku seperti apa agar aku malu?” tanya Joko lagi, masih dalam posisi menengok.
“Kami akan menelanjangimu di depan banyak orang untuk tahu, apakah kau lelaki atau perempuan!” jawab Jiping.
“Sebentar, aku bayar dulu, Kakang,” kata Joko Tenang, lalu kembali menghadapkan wajahnya kepada kasir.
Joko Tenang membayar dengan beberapa kepeng perak. Setelah pembayarannya selesai, Joko Tenang lalu berbalik dan menghadap kepada Jiping dan Enggang.
“Tapi jangan seburuk itu cara membuatku malu, Kakang,” kata Joko Tenang sembari tersenyum mengalah. “Kakang, biarkan aku pergi. Kita teman saja. Aku punya kepeng perak, cukup untuk bayar makanan kalian.”
Joko Tenang memperlihatkan dua kepeng perak di jarinya.
Joko Tenang kemudian melambungkan kedua koin perak tersebut dengan sekali jentikan jari.
Kedua kepeng perak melambung dengan masing-masing koin ke arah Jiping dan Enggang. Secara bersamaan dan dengan mudah keduanya menimang koin tersebut.
Duk! Duk!
“Uhh!” keluh Jiping dang Enggang bersamaan, sambil tangan mereka berdua yang menimang koin perak tersebut jatuh menghantam lantai papan, sampai-sampai keduanya membungkuk karena terbawa oleh koin yang ternyata terlalu berat.
Siapa yang percaya jika dua koin perak yang sebesar lingkaran jari telunjuk dan jempol bisa seberat itu? Jangan ada yang mengaku!
Semua orang yang melihat kejadian itu jadi terkejut, termasuk Subini dan kedua rekannya yang memantau dari luar.
Joko Tenang lalu berjalan melewati Jiping dan Enggang, sambil tangannya mencubit tubuh keduanya. Jiping dan Enggang tidak menjerit kesakitan, tapi hanya tersentak. Seiring itu, keduanya sudah bisa mengangkat tangan. Kepeng di tangan mereka kembli menjadi ringan. Keduanya buru-buru bangkit tegak agar tidak semakin malu diri.
“Jangan pergi kau! Hahaha!” teriak Enggang kepada Joko Tenang, tapi kemudian tertawa terbahak-bahak.
Seperti tidak mendengar, Joko Tenang tetap berjalan di antara punggung-punggung pelanggan rumah makan menuju pintu keluar.
“Enggang, kenapa kau malah tertawa? Hahaha!” tanya Jiping, tapi kemudian dia juga tertawa tanpa jelas sebabnya.
“Hei! Jangan hahahah!” teriak Enggang lagi meneriaki Joko Tenang dan kembali tertawa.
“Pura-pura hahaha!” maki Jiping pula lalu kembali tertawa.
Jiping dan Enggang menjadi heran dengan diri mereka sendiri karena dengan sendirinya tertawa, padahal mereka sedang marah.
“Hahaha...!” tawa Jiping dan Enggang berkepanjangan sambil memegangi perut mereka. Ada rasa geli yang mendera tubuh mereka.
Semua orang yang melihat tingkah Jiping dan Enggang di depan kasir itu jadi heran, termasuk Dawaru yang sudah bebas dari totokan dan rekannya yang bernama Kuring.
Sadar bahwa kedua rekan mereka dibuat aneh oleh Joko Tenang, Dawaru dan Kuring segera memburu pemuda berbibir merah itu ke pintu. Tidak mau basa-basi, Kuring langsung menyerang Joko dari belakang tanpa peduli dengan suasana rumah makan yang ramai.
“Awas, Jokooo!” teriak Rinda panik dari luar rumah makan sambil menunjuk ke belakang Joko.
Kuring sudah melompat jauh dengan golok menebas ke arah kepala Joko. Tanpa menengok lebih dulu, Joko Tenang hanya memiringkan sedikit kepala dan membiarkan bahunya terbacok.
“Aaa!” jerit Subini, Nangita dan Rinda bersamaan melihat Joko yang ganteng terkena bacokan golok.
Namun, jantung dan hati ketiga emak-emak itu urung copot, karena Joko Tenang tetap berdiri baik-baik saja tanpa ada darah yang menetes.
Kuring tepat membacok bahu kanan Joko Tenang. Bukan golok Kuring yang terbalik sehingga tidak melukai mangsanya, tetapi golok itu membacok bahu Rompi Api Emas yang antigores.
Trio emak-emak sudah tidak menjerit, tetapi tetap tegang. Entah bagian tubuh mereka yang mana sedang tegang.
Joko Tenang berbalik menghadap kepada Kuring yang masih ternganga karena salah mendapat lawan. Melihat Joko berbalik, Kuring tersadar dari keterpukauannya dan buru-buru menusukkan goloknya ke arah perut Joko. Kali ini tusukannya dialiri tenaga dalam.
Dengan gerakan yang tenang setenang air rawa, tapi secepat serangan buaya, Joko Tenang menangkap ujung golok dengan jepitan dua jarinya.
Ting!
“Wow!” pukau ketiga emak-emak melihat Joko dengan mudah mematahkan golok Kuring.
“Hiaat!” teriak Dawaru yang berlari dan melompat di belakang Kuring. Dia juga hendak membacok Joko Tenang.
Joko Tenang cukup bergerak cepat mencubit kulit Kuring sambil menghindari bacokan Dawaru yang datang. Setelah itu, Joko Tenang berbalik dan mencubit Dawaru yang posisi mendaratnya masih membelakangi.
Hanya cubitan yang memberi sakit seperti digigit semut. Itu tidak menghentikan Dawaru dan Kuring untuk terus menyerang Joko.
Joko Tenang dengan tetap tenang menangkis serangan kedua lelaki bergolok itu. Hingga kemudian....
“Hahaha!” tawa Kuring sembari berhenti menyerang.
“Hahaha!” tawa Dawaru pula kemudian, juga jadi berhenti menyerang.
“Hahaha...!” tawa mereka terus berlanjut, kian ikut meramaikan tawa Jiping dan Enggang di sebelah dalam.
Karena keempat lawannya sudah terkena jurus Cubitan Seribu Geli, Joko Tenang memilih berjalan keluar dari rumah makan sembari tersenyum kepada ketiga wanita istri pelaut yang menantinya. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
luar biasa cara Joko melumpuhkan musuhnya
2023-08-30
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
mantap om, bunga meluncur pagi ini🌹
2023-08-20
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
weeehhh rompinya mantap tuh om😅
2023-08-20
2