*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Kematian Menteri Ketahanan Pangan langsung membuat gempar Istana dan Ibu Kota. Berita dibunuhnya Menteri Aduh Mantang sudah masuk ke Istana sejak dini hari, tapi baru sebatas sampai di Mahapatih. Barulah saat Prabu Galang Digdaya bangun, kabar duka itu dilaporkan oleh Mahapatih Olo Kadita.
Namun sebelumnya, Mahapatih telah menurunkan Pasukan Kaki Gunung untuk mengamankan kediaman Menteri Aduh Mantang yang merupakan tempat kejadian pembunuhan (TKP). Selain itu, Mahapatih Olo Kadita juga mengirim tim investigasi yang dipimpin oleh pejabat bernama Rempak Tujuh. Karena yang dibunuh adalah pejabat Istana, maka yang menangani kasusnya pun harus orang nomor satu di bidangnya.
Kabar kematian Menteri Ketahanan Pangan jelas mengejutkan Prabu Galang Digdaya. Namun, dia tidak mau menduga-duga.
“Penjarakan semua tanpa terkecuali sampai diketahui siapa pembunuhnya!” perintah Prabu Galang Digdaya.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Mahapatih Olo Kadita.
Hukum Kerajaan Pasir Langit menganut paham “tersangka sementara”, yaitu semua orang yang ada di tempat kejadian dan yang memiliki hubungan kuat dengan korban akan dipenjara sementara, termasuk seluruh anggota keluarga. Itu artinya, semua anggota keluarga, prajurit, pelayan, pendekar yang menjadi pengawal akan dipenjara. Tidak hanya itu, anggota keluarga yang tidak berada di lokasi kejadian juga bisa berstatus “tersangka sementara”.
Tidak berapa lama setelah Mahapatih Olo Kadita pulang dari melapor, Menteri Keuangan Badaragi datang menemui Prabu Galang Digdaya. Kedatangan Badaragi bisa disebut terlalu pagi, karena tidak ada urusan darurat.
“Pagi sekali kau datang, Badaragi?” tanya Prabu Galang kepada salah satu pejabat kepercayaannya itu.
“Aku mendengar kabar kematian Aduh Mantang. Aku pikir Gusti Prabu akan sulit ditemui karena akan konsentrasi kepada perkara pembunuhan itu. Jadi aku datang lebih pagi selagi penyelidikan masih berlangsung,” jawab Badaragi.
“Baiklah. Katakan!” perintah Prabu Galang yang saat itu tidak bermahkota, sehingga tampangnya benar-benar seperti singa jantan.
“Aku membawa laporan keuangan dari semua usaha Istana yang berjalan di Ibu Kota,” kata Badaragi. Dia lalu mengulurkan kedua tangannya yang memegang lipatan lontar.
Prabu Galang Digdaya mengambil lontar tersebut dan membukanya. Dia diam memerhatikan apa yang tertera di dalam helaian lontar tersebut. Prabu Galang Digdaya manggut-manggut.
“Keuntungan bulan ini jauh meningkat,” kata Prabu Galang.
“Bulan lalu adalah musim ikan perut emas bertelur, jadi penjualan ikan dan makanan telurnya meningkat. Ini akan berlangsung hingga dua bulan ke depan, Gusti,” jelas Badaragi.
“Usaha putriku memang berkembang bagus. Namun sayang, dia tidak bisa aku andalkan sebagai penerusku,” kata Prabu Galang lalu memberikan kembali lontar tersebut kepada Badaragi.
Badaragi menerima kembali lontar tersebut.
“Bukankah Aduh Mantang termasuk akrab dengan Putri Ani?” tanya Prabu Galang.
“Benar, Gusti Prabu,” jawab Badaragi.
“Ada lagi? Aku lihat kau membawa bungkusan,” tanya Prabu Galang.
“Ada seorang pengusaha kayu dari Hutan Malam Abadi yang ingin menawarkan kayunya dan ingin menjalin perdagangan dengan Istana. Kayunya yang dia tawarkan jenis sonokeling, Gusti Prabu,” ujar Badaragi.
“Kenapa harus lewat kau?” tanya Prabu Galang.
“Pemuda itu ingin lewat jalur cepat. Dia diperkenalkan oleh pengawalku. Selain pengusaha, dia juga seorang pendekar. Namanya Joko Tenang,” jelas Badaragi.
“Coba aku lihat!” pinta Prabu Galang Digdaya.
Badaragi lalu membuka bungkusan kain yang dibawanya di depan sang prabu. Terhamparlah tiga potongan kayu milik Joko Tenang.
Prabu Galang Digdaya lalu mengambil dua potong kayu itu. Dia memerhatikannya.
“Kayu ini memang bagus untuk segala hal, khususnya untuk kapal-kapal kita,” kata Prabu Galang lalu meletakkan kembali potongan kayu itu di atas kain. Lalu katanya, “Kau bawa kepada Mahapatih. Jika memang kita membutuhkan kayu sebagus ini, pertemukan saja pengusaha kayu itu dengan Mahapatih. Namun, jika orang itu mencurigakan, tangkap saja. Setahuku, Hutan Malam Abadi terdapat di wilayah kekuasaan Kerajaan Sanggana Kecil. Kedatangan orang itu bersamaan dengan kedatangan Ratu Kerajaan Balilitan dan Mahapatih Kerajaan Sanggana Kecil. Bisa saja orang itu terhubung.”
Cukup terkejut Badaragi di dalam hati mendengar dugaan junjungannya. Namun, setelah selesai menemui rajanya, Badaragi pergi menemui Mahapati Olo Kadita.
Sementara itu, Joko Tenang yang pagi itu ingin pergi ke Rumah Makan Muara Jerit, harus berhenti ketika lewat di depan kediaman Menteri Ketahanan Pangan. Itu terjadi karena warga Ibu Kota sedang berkumpul memenuhi jalan untuk menyaksikan kediaman sang menteri yang dijaga rapat oleh Pasukan Kaki Gunung. Pengamanan oleh pasukan kerajaan membuat jalanan tertutup.
Pasukan prajurit yang berjumlah puluhan orang itu mengenakan seragam cokelat-cokelat atas bawah, seperti pasukan polisi di zaman depan. Mereka juga mengenakan perlengkapan keamanan yang jauh lebih komplit, seperti helm kulit yang tebal, pelindung leher, pelindung dada, hingga pelindung tangan dan tulang kering. Kelengkapan itu membuat para prajurit itu terlihat sesak.
Pasukan itu membentuk pagar hidup yang rapat. Mereka dibekali tameng besar setinggi dada dan bersenjatakan tombak. Meski demikian, ada pula senjata pedang di pinggang mereka.
Tiba-tiba kerumunan warga di arah yang berlawanan dengan posisi Joko Tenang bergerak membuka karena ada orang berkuda yang datang.
“Menghormat kepada Gusti Putri!” teriak salah satu penunggang kuda yang tidak lain adalah Rincing Kila.
Jika dia Rincing Kila, maka penunggang lainnya tentu adalah Putri Ani Saraswani.
“Sembah hormat hamba, Gusti Putri!” ucap para warga sembari turun berlutut dan menghormat dengan dalam.
Semua warga turun berlutut, termasuk para prajurit yang membentuk pagar manusia di depan rumah Menteri Aduh Mantang. Ternyata ada satu orang yang tidak turun berlutut ke tanah, yaitu Joko Tenang.
Jelas posisi itu membuat Putri Ani Saraswani yang cantiknya keterlaluan itu langsung bisa melihat Joko Tenang dengan terang seterang penerangan. Ketika keduanya saling temu pandang, mata sang putri seketika goyah. Putri Ani langsung mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
“Bangunlah, kalian semua!” perintah Putri Ani Saraswani yang membuat semuanya kembali bangkit berdiri.
Sang putri yang seolah-olah memendam satu kesalahan kepada Joko Tenang, segera turun untuk fokus kepada tujuannya.
Tadi pagi, Putri Ani Saraswani telah mendapat laporan dari Kalawit yang pulang dengan selamat. Jika Kalawit pulang dengan selamat, Putri Ani bisa menyimpulkan tingkat kesaktian Joko Tenang.
“Lelaki itu seorang diri dan tidak mencurigakan. Sepanjang malam dia hanya tidur. Hanya ... dia suka kencing di sembarang tempat,” lapor Kalawit kepada Putri Ani tadi pagi di Istana, tepatnya di wismanya.
Kembali ke depan kediaman Menteri Ketahanan Pangan.
“Beri jalan untuk Gusti Putri!” perintah Rincing Kila kepada para prajurit yang berdiri rapat dengan perisai besarnya.
“Mohon ampun, Gusti. Gusti Rempak Tujuh melarang ada yang masuk, kecuali Gusti Prabu atau Gusti Mahapatih,” jawab salah satu prajurit itu.
“Kurang ajar kau, Prajurit!” maki Rincing Kila.
“Kami hanya menjalankan perintah, Gusti,” tandas prajurit itu.
“Kita kembali, Rincing!” perintah Putri Ani memilih mengalah. Dia tahu, jika Rempak Tujuh sudah memberi perintah, maka tidak boleh dilanggar, tanpa kenal jabatan atau anggota Keluarga Kerajaan.
Rincing Kila pun menurut, meski dia memendam kemarahan terhadap para prajurit khusus itu. Dia memberikan kedua telapak tangannya di sisi perut kuda majikannya.
Putri Ani yang juga memendam kemarahan lalu menginjak telapak tangan pengawalnya untuk mempermudah dirinya naik ke punggung kuda.
Setelah duduk di pelana kudanya, Putri Ani Saraswani menyempatkan diri untuk melirik kepada Joko Tenang. Namun, yang dilirik ternyata sudah tidak ada di tempat, membuat hati sang putri tersentak. Agar tidak kentara bahwa dia mencari keberadaan Joko Tenang, sang putri berlagak mengedarkan pandangannya ke sekitar seolah-olah memandangi para warga.
Ternyata Rincing Kila bisa membaca gelagat junjungannya.
“Menghormat!” teriak Rincing Kila.
“Sembah hormat hamba, Gusti Putri!” ucap para warga dan prajurit senmbari turun berlutut dan menghormat dengan dalam.
Dengan begitu, seharusnya Joko Tenang bisa dengan mudah terlihat seperti tadi. Namun, sosok Joko Tenang tetap tidak terlihat keberadaannya. Putri Ani pun tidak melihat warna merah rompi Joko Tenang di antara para warga yang menghormat.
Putri Ani Saraswani lalu menjalankan kudanya pergi dari tempat tersebut, setelah matanya tidak menemukan sosok Joko Tenang lagi.
Rincing Kila pun segera mengikuti junjungannya. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
kecewa dobel ni Gusti putri...ngk boleh masuk sama kehilangan sosok Joko kasihan
2023-09-08
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
bunga meluncur 🌹🌹🌹🌹
2023-09-04
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
waduh, putri ani gak silau tuh, kalau terang seterang penerangan😆
2023-09-04
1