Pemuji 19: Bertemu Lagi

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

Kematian Menteri Ketahanan Pangan langsung membuat gempar Istana dan Ibu Kota. Berita dibunuhnya Menteri Aduh Mantang sudah masuk ke Istana sejak dini hari, tapi baru sebatas sampai di Mahapatih. Barulah saat Prabu Galang Digdaya bangun, kabar duka itu dilaporkan oleh Mahapatih Olo Kadita.

Namun sebelumnya, Mahapatih telah menurunkan Pasukan Kaki Gunung untuk mengamankan kediaman Menteri Aduh Mantang yang merupakan tempat kejadian pembunuhan (TKP). Selain itu, Mahapatih Olo Kadita juga mengirim tim investigasi yang dipimpin oleh pejabat bernama Rempak Tujuh. Karena yang dibunuh adalah pejabat Istana, maka yang menangani kasusnya pun harus orang nomor satu di bidangnya.

Kabar kematian Menteri Ketahanan Pangan jelas mengejutkan Prabu Galang Digdaya. Namun, dia tidak mau menduga-duga.

“Penjarakan semua tanpa terkecuali sampai diketahui siapa pembunuhnya!” perintah Prabu Galang Digdaya.

“Baik, Gusti Prabu,” ucap Mahapatih Olo Kadita.

Hukum Kerajaan Pasir Langit menganut paham “tersangka sementara”, yaitu semua orang yang ada di tempat kejadian dan yang memiliki hubungan kuat dengan korban akan dipenjara sementara, termasuk seluruh anggota keluarga. Itu artinya, semua anggota keluarga, prajurit, pelayan, pendekar yang menjadi pengawal akan dipenjara. Tidak hanya itu, anggota keluarga yang tidak berada di lokasi kejadian juga bisa berstatus “tersangka sementara”.

Tidak berapa lama setelah Mahapatih Olo Kadita pulang dari melapor, Menteri Keuangan Badaragi datang menemui Prabu Galang Digdaya. Kedatangan Badaragi bisa disebut terlalu pagi, karena tidak ada urusan darurat.

“Pagi sekali kau datang, Badaragi?” tanya Prabu Galang kepada salah satu pejabat kepercayaannya itu.

“Aku mendengar kabar kematian Aduh Mantang. Aku pikir Gusti Prabu akan sulit ditemui karena akan konsentrasi kepada perkara pembunuhan itu. Jadi aku datang lebih pagi selagi penyelidikan masih berlangsung,” jawab Badaragi.

“Baiklah. Katakan!” perintah Prabu Galang yang saat itu tidak bermahkota, sehingga tampangnya benar-benar seperti singa jantan.

“Aku membawa laporan keuangan dari semua usaha Istana yang berjalan di Ibu Kota,” kata Badaragi. Dia lalu mengulurkan kedua tangannya yang memegang lipatan lontar.

Prabu Galang Digdaya mengambil lontar tersebut dan membukanya. Dia diam memerhatikan apa yang tertera di dalam helaian lontar tersebut. Prabu Galang Digdaya manggut-manggut.

“Keuntungan bulan ini jauh meningkat,” kata Prabu Galang.

“Bulan lalu adalah musim ikan perut emas bertelur, jadi penjualan ikan dan makanan telurnya meningkat. Ini akan berlangsung hingga dua bulan ke depan, Gusti,” jelas Badaragi.

“Usaha putriku memang berkembang bagus. Namun sayang, dia tidak bisa aku andalkan sebagai penerusku,” kata Prabu Galang lalu memberikan kembali lontar tersebut kepada Badaragi.

Badaragi menerima kembali lontar tersebut.

“Bukankah Aduh Mantang termasuk akrab dengan Putri Ani?” tanya Prabu Galang.

“Benar, Gusti Prabu,” jawab Badaragi.

“Ada lagi? Aku lihat kau membawa bungkusan,” tanya Prabu Galang.

“Ada seorang pengusaha kayu dari Hutan Malam Abadi yang ingin menawarkan kayunya dan ingin menjalin perdagangan dengan Istana. Kayunya yang dia tawarkan jenis sonokeling, Gusti Prabu,” ujar Badaragi.

“Kenapa harus lewat kau?” tanya Prabu Galang.

“Pemuda itu ingin lewat jalur cepat. Dia diperkenalkan oleh pengawalku. Selain pengusaha, dia juga seorang pendekar. Namanya Joko Tenang,” jelas Badaragi.

“Coba aku lihat!” pinta Prabu Galang Digdaya.

Badaragi lalu membuka bungkusan kain yang dibawanya di depan sang prabu. Terhamparlah tiga potongan kayu milik Joko Tenang.

Prabu Galang Digdaya lalu mengambil dua potong kayu itu. Dia memerhatikannya.

“Kayu ini memang bagus untuk segala hal, khususnya untuk kapal-kapal kita,” kata Prabu Galang lalu meletakkan kembali potongan kayu itu di atas kain. Lalu katanya, “Kau bawa kepada Mahapatih. Jika memang kita membutuhkan kayu sebagus ini, pertemukan saja pengusaha kayu itu dengan Mahapatih. Namun, jika orang itu mencurigakan, tangkap saja. Setahuku, Hutan Malam Abadi terdapat di wilayah kekuasaan Kerajaan Sanggana Kecil. Kedatangan orang itu bersamaan dengan kedatangan Ratu Kerajaan Balilitan dan Mahapatih Kerajaan Sanggana Kecil. Bisa saja orang itu terhubung.”

Cukup terkejut Badaragi di dalam hati mendengar dugaan junjungannya. Namun, setelah selesai menemui rajanya, Badaragi pergi menemui Mahapati Olo Kadita.

Sementara itu, Joko Tenang yang pagi itu ingin pergi ke Rumah Makan Muara Jerit, harus berhenti ketika lewat di depan kediaman Menteri Ketahanan Pangan. Itu terjadi karena warga Ibu Kota sedang berkumpul memenuhi jalan untuk menyaksikan kediaman sang menteri yang dijaga rapat oleh Pasukan Kaki Gunung. Pengamanan oleh pasukan kerajaan membuat jalanan tertutup.

Pasukan prajurit yang berjumlah puluhan orang itu mengenakan seragam cokelat-cokelat atas bawah, seperti pasukan polisi di zaman depan. Mereka juga mengenakan perlengkapan keamanan yang jauh lebih komplit, seperti helm kulit yang tebal, pelindung leher, pelindung dada, hingga pelindung tangan dan tulang kering. Kelengkapan itu membuat para prajurit itu terlihat sesak.

Pasukan itu membentuk pagar hidup yang rapat. Mereka dibekali tameng besar setinggi dada dan bersenjatakan tombak. Meski demikian, ada pula senjata pedang di pinggang mereka.

Tiba-tiba kerumunan warga di arah yang berlawanan dengan posisi Joko Tenang bergerak membuka karena ada orang berkuda yang datang.

“Menghormat kepada Gusti Putri!” teriak salah satu penunggang kuda yang tidak lain adalah Rincing Kila.

Jika dia Rincing Kila, maka penunggang lainnya tentu adalah Putri Ani Saraswani.

“Sembah hormat hamba, Gusti Putri!” ucap para warga sembari turun berlutut dan menghormat dengan dalam.

Semua warga turun berlutut, termasuk para prajurit yang membentuk pagar manusia di depan rumah Menteri Aduh Mantang. Ternyata ada satu orang yang tidak turun berlutut ke tanah, yaitu Joko Tenang.

Jelas posisi itu membuat Putri Ani Saraswani yang cantiknya keterlaluan itu langsung bisa melihat Joko Tenang dengan terang seterang penerangan. Ketika keduanya saling temu pandang, mata sang putri seketika goyah. Putri Ani langsung mengalihkan pandangannya ke sisi lain.

“Bangunlah, kalian semua!” perintah Putri Ani Saraswani yang membuat semuanya kembali bangkit berdiri.

Sang putri yang seolah-olah memendam satu kesalahan kepada Joko Tenang, segera turun untuk fokus kepada tujuannya.

Tadi pagi, Putri Ani Saraswani telah mendapat laporan dari Kalawit yang pulang dengan selamat. Jika Kalawit pulang dengan selamat, Putri Ani bisa menyimpulkan tingkat kesaktian Joko Tenang.

“Lelaki itu seorang diri dan tidak mencurigakan. Sepanjang malam dia hanya tidur. Hanya ... dia suka kencing di sembarang tempat,” lapor Kalawit kepada Putri Ani tadi pagi di Istana, tepatnya di wismanya.

Kembali ke depan kediaman Menteri Ketahanan Pangan.

“Beri jalan untuk Gusti Putri!” perintah Rincing Kila kepada para prajurit yang berdiri rapat dengan perisai besarnya.

“Mohon ampun, Gusti. Gusti Rempak Tujuh melarang ada yang masuk, kecuali Gusti Prabu atau Gusti Mahapatih,” jawab salah satu prajurit itu.

“Kurang ajar kau, Prajurit!” maki Rincing Kila.

“Kami hanya menjalankan perintah, Gusti,” tandas prajurit itu.

“Kita kembali, Rincing!” perintah Putri Ani memilih mengalah. Dia tahu, jika Rempak Tujuh sudah memberi perintah, maka tidak boleh dilanggar, tanpa kenal jabatan atau anggota Keluarga Kerajaan.

Rincing Kila pun menurut, meski dia memendam kemarahan terhadap para prajurit khusus itu. Dia memberikan kedua telapak tangannya di sisi perut kuda majikannya.

Putri Ani yang juga memendam kemarahan lalu menginjak telapak tangan pengawalnya untuk mempermudah dirinya naik ke punggung kuda.

Setelah duduk di pelana kudanya, Putri Ani Saraswani menyempatkan diri untuk melirik kepada Joko Tenang. Namun, yang dilirik ternyata sudah tidak ada di tempat, membuat hati sang putri tersentak. Agar tidak kentara bahwa dia mencari keberadaan Joko Tenang, sang putri berlagak mengedarkan pandangannya ke sekitar seolah-olah memandangi para warga.

Ternyata Rincing Kila bisa membaca gelagat junjungannya.

“Menghormat!” teriak Rincing Kila.

“Sembah hormat hamba, Gusti Putri!” ucap para warga dan prajurit senmbari turun berlutut dan menghormat dengan dalam.

Dengan begitu, seharusnya Joko Tenang bisa dengan mudah terlihat seperti tadi. Namun, sosok Joko Tenang tetap tidak terlihat keberadaannya. Putri Ani pun tidak melihat warna merah rompi Joko Tenang di antara para warga yang menghormat.

Putri Ani Saraswani lalu menjalankan kudanya pergi dari tempat tersebut, setelah matanya tidak menemukan sosok Joko Tenang lagi.

Rincing Kila pun segera mengikuti junjungannya. (RH)

Terpopuler

Comments

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

kecewa dobel ni Gusti putri...ngk boleh masuk sama kehilangan sosok Joko kasihan

2023-09-08

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

bunga meluncur 🌹🌹🌹🌹

2023-09-04

1

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

waduh, putri ani gak silau tuh, kalau terang seterang penerangan😆

2023-09-04

1

lihat semua
Episodes
1 Pemuji 1: Tamu Lancang
2 Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3 Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4 Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5 Pemuji 5: Joko Tenang
6 Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7 Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8 Pemuji 8: Tamu Agung
9 Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10 Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11 Pemuji 11: Mencari Joko
12 Pemuji 12: Obrolan Rujak
13 Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14 Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15 Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16 Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17 Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18 Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19 Pemuji 19: Bertemu Lagi
20 Pemuji 20: Muara Jerit
21 Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22 Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23 Pemuji 23: Pertolongan Joko
24 Pemuji 24: Mengobati Putri
25 Pemuji 25: Target Lain
26 Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27 Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28 Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29 Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30 Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31 Pemuji 31: Pisah dan Janji
32 Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33 Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34 Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35 Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36 Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37 Pemuji 37: Amarah Prabu
38 Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39 Pemuji 39: Menyergap Joko
40 Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41 Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42 Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43 Pemuji 43: Nyai Bale
44 Pemuji 44: Gusti Raja
45 Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46 Pemuji 46: Kehilangan
47 Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48 Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49 Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50 Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51 Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52 Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53 Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54 Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55 Pemuji 55: Rayuan Joko
56 Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57 Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58 Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59 Pemuji 59: Putri Mahapatih
60 Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61 Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62 Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63 Pemuji 63: Nyaris Gila
64 Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65 Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66 Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67 Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68 Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69 Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70 Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71 Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72 Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73 Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74 Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75 Pemuji 75: Isi Perjanjian
76 Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77 Pemuji 77: Serangan Hantu
78 Pemuji 78: Anak Halus
79 Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80 Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81 Pemuji 81: Rencana Serangan
82 Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83 Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84 Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85 Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86 Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87 Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88 Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89 Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90 Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91 Pemuji 91: Perang
92 Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93 Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94 Pengumuman Duka
95 Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96 Pemuji 95: Pertarungan Langit
97 Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98 Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99 Pengumuman Sanggana7
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Pemuji 1: Tamu Lancang
2
Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3
Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4
Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5
Pemuji 5: Joko Tenang
6
Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7
Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8
Pemuji 8: Tamu Agung
9
Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10
Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11
Pemuji 11: Mencari Joko
12
Pemuji 12: Obrolan Rujak
13
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14
Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15
Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16
Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17
Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18
Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19
Pemuji 19: Bertemu Lagi
20
Pemuji 20: Muara Jerit
21
Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22
Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23
Pemuji 23: Pertolongan Joko
24
Pemuji 24: Mengobati Putri
25
Pemuji 25: Target Lain
26
Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27
Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28
Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29
Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31
Pemuji 31: Pisah dan Janji
32
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34
Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37
Pemuji 37: Amarah Prabu
38
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39
Pemuji 39: Menyergap Joko
40
Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41
Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42
Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43
Pemuji 43: Nyai Bale
44
Pemuji 44: Gusti Raja
45
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46
Pemuji 46: Kehilangan
47
Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50
Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51
Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53
Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54
Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55
Pemuji 55: Rayuan Joko
56
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57
Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59
Pemuji 59: Putri Mahapatih
60
Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61
Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62
Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63
Pemuji 63: Nyaris Gila
64
Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68
Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69
Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73
Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74
Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75
Pemuji 75: Isi Perjanjian
76
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77
Pemuji 77: Serangan Hantu
78
Pemuji 78: Anak Halus
79
Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80
Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81
Pemuji 81: Rencana Serangan
82
Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83
Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84
Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85
Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87
Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90
Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91
Pemuji 91: Perang
92
Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93
Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94
Pengumuman Duka
95
Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96
Pemuji 95: Pertarungan Langit
97
Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98
Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99
Pengumuman Sanggana7

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!