*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Gusti, ayo kita kembali,” kata Jago Jantan yang melihat majikannya agak lama memandangi pintu Perpustakaan Alam Semesta, sepertinya sangat berat meninggalkan tempat itu.
“Sepertinya aku tidak mau pergi sebelum berbicara dengan Permaisuri Mata Hati,” kata Santra Buna.
Sementara itu di dalam ruang Perpustakaan Alam Semesta.
Riskaya menjura hormat kepada Permaisuri Nara yang kemudian hanya mengangguk. Permaisuri Nara pun menjura hormat kepada suaminya.
“Siapa ketiga lelaki itu, Kakang Prabu?” tanya Permaisuri Nara.
Jangan ditanya bagaimana Permaisuri Nara yang buta total bisa tahu ada tiga orang asing yang baru keluar dari perpustakaan itu, tahu pula jenis kelaminnya.
“Santra Buna dan kedua pengawalnya. Dia syahbandar kota pelabuhan Bandakawen. Dia jatuh hati kepada para Permaisuri Dewi Bunga sejak bertahun-tahun lamanya. Dia sudah pernah bertemu dengan Permaisuri Dewi Ara dan mengizinkannya datang ke mari untuk mengungkapkan perasaannya yang dia pendam. Dia meminta aku untuk menceraikan salah satu Permaisuri Dewi Bunga dan menikahkan dengan dirinya,” jelas Prabu Dira.
“Sudah tidak sayang nyawa!” desis Permaisuri Nara. Meski wajahnya datar-datar saja, tapi nada suaranya menunjukkan kemarahan.
Orang paling sakti di Kerajaan Sanggana Kecil itu lalu berbalik arah menghadap ke pintu. Prabu Dira dan Riskaya menduga pasti bahwa Permaisuri Mata Hati akan melakukan sesuatu kepada Santra Buna.
“Hekk!”
Di luar perpustakaan, tiba-tiba Santra Buna, Jago Jantan dan Jampang Kawe memekik dan mendelik berjemaah. Mereka sontak memegangi lehernya masing-masing, bukan leher rekannya. Itu karena leher mereka tiba-tiba tercekik oleh satu kekuatan yang tidak terlihat.
Santra Buna dan kedua pengawalnya berusaha melawan dengan mengerahkan tenaga sakti mereka, tetapi upaya itu sia-sia. Santra Buna adalah sosok berkesaktian tinggi, tetapi tetap saja tidak sanggup melawan kekuatan yang mencekiknya.
Para prajurit yang hendak mengawal ketiga tamu itu hanya bisa terkejut dan bingung harus berbuat apa.
Sut sut sut!
Tidak berapa lama, ketiga lelaki gagah itu melesat lurus ke langit seperti roket menuju bulan. Bukan mereka yang mau terbang, tetapi kekuatan Permaisuri Nara yang menerbangkan mereka. Pada akhirnya, ketiga lelaki itu terdiam melayang di udara tinggi, pada ketinggian yang membuat mereka terlihat kecil.
Setelah melihat ketiga tamu itu digantung di langit tanpa tali dan gantungan, para prajurit pun tidak ambil peduli. Mereka sudah pernah mendengar seseorang digantung di langit seperti itu. Mereka juga sudah tahu bahwa hanya Permisuri Mata Hati yang bisa menggantung orang di langit tanpa perlu dijaga atau ditunggui.
Setelah menggantung Santra Buna dan kedua pengawalnya di langit, Permaisuri Nara kembali berbalik menghadap kepada Prabu Dira yang juga tahu apa yang diperbuat oleh istri tuanya.
“Bagaimana rencana Kakang Prabu di pesisir selatan?” tanya Permaisuri Nara tanpa membahas perbuatannya kepada Santra Buna dan dua pengawalnya.
“Aku sudah bersepakat dengan Ratu Tirana. Komandan Pasukan Penjaga Telaga sudah berangkat menuju Kerajaan Pasir Langit. Besok Mahapatih Batik Mida akan berangkat ke Balilitan. Dari sana dia akan berangkat bersama Ratu Lembayung Mekar untuk bertemu dengan Prabu Galang Digdaya,” jawab Prabu Dira.
“Prabu Galang Digdaya adalah raja sakti yang pongah dan keras. Pasukan Kaki Gunung mereka terkenal tidak terkalahkan oleh kerajaan mana pun. Tidak akan mudah jika tanpa tawaran yang menggiurkan,” kata Permaisuri Nara.
“Baik, akan aku pikirkan, tawaran mahal apa yang akan kita suguhkan kepada Prabu Galang Digdaya,” kata Prabu Dira.
“Lalu bagaimana dengan Kerajaan Werang?”
“Kerajaan Werang lebih kecil dan sahabat erat Kerajaan Pasir Langit. Jika Pasir Langit sudah bersahabat dengan kita, Kerajaan Werang akan lebih mudah diajak bersahabat,” jawab sang suami.
“Aku dengar-dengar, Prabu Galang memiliki seorang putri yang sangat cantik. Aku hanya berpesan kepada Kakang Prabu, jangan jatuh hati lagi,” ujar Permaisuri Nara.
“Hahaha!” tawa Prabu Dira mendengar pesan itu.
Prabu Dira lalu bangkit dari kursinya. Dia berjalan keluar dari balik meja dan menghampiri Permaisuri Nara.
Sambil tersenyum, Prabu Dira lalu merangkul pinggang Permaisuri Nara dari samping. Sebelum sang prabu melakukan sesuatu terhadap Permaisuri Guru, semua dayang segera menunduk memandang ke lantai.
Berbeda dengan Riskaya. Tiba-tiba sepasang kelopak matanya tertutup secara paksa tanpa dikehendaki olehnya. Siapa lagi yang melakukan itu jika bukan Permaisuri Nara.
Memang, setelah merangkul pinggang Permaisuri Nara, Prabu Dira melakukan penciuman pada pipi istrinya tersebut, lalu beralih ke bibir. Permaisuri Nara tidak menolak, tapi balas memagut bibir merah suaminya.
Cup!
Meski tidak melihat, tetapi Riskaya dan para dayang itu bisa mendengar jelas ketika kedua bibir saling lepas, seperti lepas dari sesuatu yang saling menyedot.
“Tidak, Sayang. Cukup Riskaya yang aku jadikan selir. Aku berjanji tidak akan menambah lagi. Kau bisa menggantungku di langit jika aku sampai jatuh hati kepada wanita lain lagi,” kata Prabu Dira berjanji. Dia sudah melepaskan tubuh istrinya.
Sepasang mata Riskaya kembali terbuka. Para pelayan pun kembali mengangkat sedikit wajahnya.
“Gusti Ratu tibaaa!” teriak prajurit penjaga di luar pintu.
Para dayang segera turun bersujud sebelum ratu yang diumumkan melangkah masuk.
Sebentar kemudian, sesosok wanita muda berbusana warna perak melangkah masuk dengan senyum kecil yang begitu manis dan menyejukkan mata yang melihatnya. Wanita cantik jelita bertiara emas permata di kepalanya itu memang memiliki nilai plus di wajahnya, yaitu raut yang sejuk dan selalu tersenyum. Tahun ini, giliran dia yang menjadi ratu. Dialah Ratu Tirana.
Ratu Tirana terkenal sebagai istri Prabu Dira yang memiliki hati paling lembut. Untuk urusan kesaktian, tidak perlu ditanya karena tidak ada yang perlu dipertanyakan.
Ratu Tirana masuk bersama sepuluh dayangnya, sehingga ruangan besar itu lebih ramai oleh dayang. Mungkin jika datang separuh dari semua istri Prabu Dira, ruangan itu bisa penuh oleh para dayang.
“Sembah hormatku, Permaisuri Guru,” ucap Ratu Tirana sebelum Permaisuri Nara melakukan penghormatan.
“Kau selalu mendahuluiku menghormat, Gusti Ratu,” ucap Permaisuri Nara datar. Memang, kerendahan hati Ratu Tirana membuat Permaisuri Guru sangat menyenangi madunya itu.
“Ini buah dari pengajaran Permaisuri Guru yang diajarkan kepada kami,” kata Ratu Tirana seraya tersenyum. Dia sudah tegak kembali.
Sekedar bocoran dari sesuatu yang sudah terbuka, Prabu Dira saat ini memiliki sebelas istri dengan komposisi dua ratu dan sembilan permaisuri. Ratu Lembayung Mekar adalah Ratu Kerajaan Balilitan yang akan selalu menjadi ratu di kerajaannya. Adapun satu ratu lainnya setiap tahun akan berganti karena Delapan Dewi Bunga punya hak untuk berposisi sebagai Ratu Kerajaan Sanggana Kecil.
Delapan Dewi Bunga antara lain: Permaisuri Yuo Kai, Permaisuri Getara Cinta, Permaisuri Tirana, Permaisuri Nara, Permaisuri Kerling Sukma, Permaisuri Sandaria, Permaisuri Sri Rahayu, dan Permaisuri Dewi Ara. Setiap tahun salah satu dari Dewi Bunga itu akan menjadi ratu, kecuali Permaisuri Nara.
Permaisuri Nara melimpahkan hak ratunya kepada Permaisuri Kusuma Dewi, meski dia bukan bagian dari Dewi Bunga.
Untuk menghindari adanya selir, maka mereka sepakati semua bergelar permaisuri, termasuk Permaisuri Ginari, wanita terakhir yang Prabu Dira nikahi.
Jika Riskaya dinikahi oleh Prabu Dira di kemudian hari, maka dia akan menjadi selir pertama, yang tentu saja haknya sangat berbeda dari seorang permaisuri.
“Sembah hormatku, Kakang Prabu,” ucap Ratu Tirana sembari menghormat kepada suaminya.
“Bangunlah,” ucap Prabu Dira.
“Aku datang hanya ingin mengingatkan Kakang Prabu untuk pergi melihat keadaan Putra Mahkota dan Permaisuri Geger Jagad,” ujar Ratu Tirana setelah tegak kembali. “Mereka sudah cukup lama pergi ke Negeri Pulau Kabut.”
“Baik, Ratuku,” ucap Prabu Dira.
“Apakah ketiga orang di atas sana adalah tamu dari Bandakawen, Kakang Prabu?” tanya Tirana.
“Benar.”
“Seburuk apa pun dosanya, alangkah baiknya jika mereka diampuni. Mereka adalah tamu. Kematian mereka akan menghancurkan nama baik Sanggana Kecil,” kata Ratu Tirana.
“Aku tidak akan membunuhnya. Aku hanya memberi sedikit hadiah dari kekurangajaran mereka,” kata Permaisuri Nara. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil menunggu Si Joko up, silakan baca novel Author yang lain:
Alma3 Ratu Siluman.
Rugi1 Perampok Budiman.
Rugi2 Darah Pengantin Pendekar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Idrus Salam
Kelancangan memang tidak baik untuk dibiarkan karena akibat lainnya akan datang jika kurang mendapat suatu tindakan yang membuat jera pelakunya. Siapa sangka hal ihwal kurang ajar sering berlalu dalam sendi penyelewengan buat akibat yang mungkin terabaikan.
lam
2024-10-14
1
Sena judifa
like, fav dan rate mendarat thor, salam dari muara cinta kita thor
2023-10-11
1
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʀͩᴏᷞsͧᴍᷠiͣa✰͜͡v᭄HIAT
permaisuri nara galak juga ya
2023-09-28
1