*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Prabu Galang Digdaya adalah sosok gagah bertubuh kekar berkulit hitam, tapi bersih dari keringat. Hanya ada selempangan kain cokelat-kuning yang menutupi sebagian badan kirinya. Sabuknya cokelat berhias rantai emas dengan kain kebat berwarna cokelat-kuning. Gelang emas di lengan kekarnya model dua lingkaran. Di kedua pergelangan tangannya juga ada gelang berwarna logam merah, entah apa jenisnya. Pada kedua pipinya ada tatto tiga garis warna putih, sehingga wajahnya mirip wajah harimau atau singa. Rambutnya yang lebat mengembang seperti surai singa, tapi bermahkota emas. Dialah Raja Kerajaan Pasir Langit.
Prabu Galang Digdaya yang berusia separuh abad lebih satu dekade itu, didampingi oleh istrinya yang berusia lebih muda sepuluh tahun. Istrinya yang agak gemukan mengenakan pakaian warna putih dengan konde bermodel kipas dari emas. Istrinya bernama Permaisuri Titir Priya.
Prabu dan permaisuri didampingi oleh para pejabat menterinya.
“Selamat datang, Yang Mulia Ratu Lembayung Mekar. Penguasa Kerajaan Balilitan yang selalu tampil begitu cantik! Hahaha!” ucap Prabu Galang Digdaya dengan senyum dan tawa ramahnya.
“Terimalah hormatku, Gusti Prabu Galang yang sakti digdaya,” ucap Ratu Lembayung Mekar dengan sedikit bumbu pujian, sembari menjura hormat secukupnya sebagai sesama seorang pemilik kerajaan.
Sementara Mahapatih Batik Mida, Dewi Bayang Kematian dan pengawal yang ikut naik, menjura hormat lebih dalam.
“Bangkitlah, kalian semua!” perintah Prabu Galang dengan tatapan yang kentara tertuju kepada Dewi Bayang Kematian.
Setelah semua tamu tegak kembali, sang prabu pun bertanya.
“Siapa wanita cantik memesona yang kau bawa ini, Gusti Ratu?” tanya Prabu Galang.
“Ini Dewi Bayang Kematian. Istri Mahapatih Batik Mida dari Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Ratu Lembayung.
“Ya ya ya. Bukankah suamimu adalah penguasa Kerajaan Sanggana Kecil?” terka Prabu Galang.
“Benar, Gusti Prabu,” ucap Ratu Lembayung.
“Dewi Bayang Kematian adalah pendekar wanita yang begitu terkenal belasan tahun yang lalu. Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya. Tidak disangka kini sudah menjadi istri seorang pejabat yang gagah,” kata Prabu Galang.
“Hahaha!” tertawa ramai mereka mendengar basa basi rajanya.
“Silakan, Gusti Ratu,” ucap Prabu Galang mempersilakan tamu cantiknya untuk berjalan memasuki Istana.
“Terima kasih, Gusti Prabu,” ucap Ratu Lembayung Mekar.
Prabu Galang Digdaya berjalan di tengah-tengah antara istrinya dan Ratu Lembayung Mekar menuju ke pintu Istana yang besar dan megah. Sebagai tamu negara tingkat tinggi, tentunya Prabu Galang Digdaya yang harus menyambut langsung.
Kedua pemimpin kerajaan itu dan para pejabatnya meninggalkan tarian dan musik gamelan yang menyambut.
Singkat cerita.
Ratu Lembayung Mekar dan rombongan telah duduk di kursi-kursi yang telah diatur sambil disuguhkan musik gamelan dan tarian yang berbeda dari tarian sebelumnya. Uniknya dalam musik gamelan itu, ada beberapa permainan alat musik dari benda-benda laut, seperti jenis-jenis cangkang kerang.
Untuk fase ini, Prabu Galang memperkenalkan tentang budaya musik di negeri itu, juga budaya lainnya. Yang dibahas pada kesempatan santai ini, barulah hal-hal tentang kabar dan obrolan-obrolan santai yang tidak jarang mengundang tawa di antara mereka.
Singkat cerita.
Setelah bincang-bincang santai itu, barulah Prabu Galang Digdaya dan Ratu Lembayung Mekar melakukan pembicaraan serius tanpa diganggu oleh jenis hiburan apa pun.
Prabu Galang Digdaya didampingi oleh Mahapatih Olo Kadita, sedangkan Ratu Lembayung Mekar didampingi oleh Mahapatih Batik Mida.
Sementara Permaisuri Titir Priya mengajak Dewi Bayang Kematian untuk berkeliling melihat hal-hal indah yang dimiliki oleh Istana Pasir Langit itu. Permaisuri Titir Priya didampingi oleh istri Mahapatih Olo Kadita.
Permaisuri mengajak Dewi Bayang Kematian untuk melihat-lihat koleksi kolam ikan Istana.
“Negeri Tanduk terancam tenggelam, jadi mereka membutuhkan daratan baru untuk tetap memiliki negeri. Tanah Jawi inilah yang ingin mereka serang dan kuasai. Memang belum pasti kapan mereka akan menyerang, tetapi berdasarkan berita-berita telik sandi yang terus kami kumpulkan dalam sepuluh tahun terakhir, waktu serangan itu semakin dekat. Berita ini pertama kali diungkapkan oleh Tiga Malaikat Kipas sepuluh tahun yang lalu....”
“Tiga Malaikat Kipas?” sebut ulang Prabu Galang memotong penuturan Ratu Lembayung Mekar. Dia tahu nama pendekar legenda itu.
“Benar. Mereka adalah guru dari Prabu Dira suamiku. Belum lama ini juga, Ratu Siluman Alma Fatara datang ke Sanggana Kecil. Dia membawa kabar tentang Negeri Tanduk. Ratu Siluman meyakini bahwa paling cepat serangan itu akan datang satu tahun lagi. Sejak sepuluh tahun yang lalu, Prabu Dira telah mengambil peran membangun kekuatan kerajaan dan kekuatan para pendekar untuk menyongsong perang besar yang mungkin terjadi di pesisir selatan ini. Jika ditarik garis lurus, kemungkinan besar titik yang akan diserang oleh Negeri Tanduk adalah wilayah kekuasaan Kerajaan Pasir Langit dan Kerajaan Werang,” jelas Ratu Lembayung Mekar.
“Jika Negeri Tanduk mau menyerang ke sini, biarkan saja. Mereka akan berhadapan dengan kerajaan pesisir terkuat di Tanah Jawi. Akan kami kubur mereka semua di dasar laut,” kata Prabu Digdaya menggebu-gebu lalu tersenyum lebar.
“Gusti Prabu mungkin tidak tahu bahwa Negeri Tanduk memiliki pasukan Hewan Alam Kahyangan,” kata Ratu Lembayung Mekar.
Terbeliak serius Prabu Galang mendengar informasi baru itu.
“Aku tahu bahwa Raja Sanggana Kecil memiliki seekor Hewan Alam Kahyangan. Jika hanya seekor burung atau seekor macan raksasa, apa yang perlu ditakutkan?” kata Prabu Galang.
“Hewan Alam Kahyangan yang Raja Negeri Tanduk miliki adalah sepasang kura-kura yang bisa beranak pinak. Jadi bukan hanya dua ekor, tapi bisa banyak. Terlebih Negeri Tanduk memiliki banyak negeri sekutu seperti Negeri Karang Hijau, Negeri Sumur Gurun, Negeri Ujung Laut, dan Bangsa Perahu Gajah,” tandas Ratu Lembayung Mekar.
“Baiklah. Anggaplah itu benar,” kata Prabu Galang Digdaya sembari mencebikkan bibirnya dan merilekskan punggungnya dengan bersandar. “Jadi, apa yang Gusti Ratu inginkan dari Kerajaan Pasir Langit?”
“Prabu Dira dan pemerintahannya menganggap ancaman ini sangat serius. Beberapa kerajaan pesisir telah bersekutu dengan kami seperti Kerajaan Teluk Busung dan Kerajaan Madang. Selain mengabarkan ancaman berbahaya ini kepada Gusti Prabu Galang, atas nama suamiku, kami ingin mengajak Gusti Prabu untuk bekerja sama membangun benteng laut di sepanjang garis pantai selatan, terutama di wilayah perairan Kerajaan Pasir Langit dan Kerajaan Werang. Jika Gusti Prabu bersedia kerja sama, Kerajaan Sanggana Kecil meminta izin untuk membangun angkatan laut di wilayah perairan Kerajaan Pasir Langit. Jika dua tawaran kami disetujui, maka Sanggana Kecil akan menawarkan minyak murah yang selama lima purnama pertama hanya sebagai hadiah,” tutur Ratu Lembayung Mekar.
“Hmmm. Tawaran minyak itu sangat menarik, Gusti Ratu. Namun....”
Prabu Galang Digdaya menarik napas panjang dan diam berpikir serius. Lalu tanyanya kepada tamunya.
“Apakah kau mengakui bahwa aku seorang raja yang sakti?”
“Ya, aku mengakuinya. Kesaktian Prabu Galang Digdaya yang tinggi dan kekuatan pasukan Kerajaan Pasir Langit yang belum terkalahkan telah masyhur sejak lama,” kata Ratu Lembayung.
“Aku tahu bahwa Kerajaan Balilitan dan Kerajaan Baturaharja adalah kerajaan di bawah kendali Kerajaan Sanggana Kecil. Selama di bawah kepemimpinanku, Kerajaan Pasir Langit tidak pernah kalah dalam berperang. Siapa pun pasukan lawan yang akan datang, dengan senang hati pasukan Pasir Langit akan hadapi. Jika aku bersekutu dengan kerajaan yang lebih besar, apa jaminannya bahwa di kemudian hari Prabu Dira tidak akan mengendalikanku. Aku tahu bahwa Prabu Dira adalah raja yang sangat sakti, apalagi ratu dan para permaisurinya. Membiarkan kerajaan lain membangun angkatan laut di perairanku, itu sangat berbahaya. Meski tawaran minyak itu sangat menguntungkan, tetapi mohon maaf, Gusti Ratu, dengan tegas aku menolak penawaran Prabu Dira,” kata Prabu Galang dengan tegas.
Terlihatlah raut kekecewaan pada wajah Ratu Lembayung Mekar dan Mahapatih Batik Mida.
“Aku berharap Gusti Prabu sudi memikirkannya lagi. Angkatan Laut Negeri Tanduk adalah yang terkuat di lautan saat ini. Pembangunan benteng laut untuk kepentingan bersama. Jika waktu yang tersisa tinggal satu tahun lagi, pembangunan benteng laut sepanjang garis pantai Tanah Jawi sisi selatan jelas tidak akan selesai. Jadi, kita harus membangun benteng lebih dulu di wilayah yang pasti akan di serang,” ujar Ratu Lembayung.
“Keputusanku sudah tidak bisa berubah. Jika benar pasukan Negeri Tanduk datang menyerang, Kerajaan Pasir Langit dan Kerajaan Werang akan berperang. Jika kami memang hancur, kami hancur dengan terhormat,” tegas Prabu Galang Digdaya. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
ternyata ditolak... seorang raja memang harus memikirkan segalanya sebelum menyetujuinya
2023-08-31
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
nama permaysurinya nyeremin, selalu kebayang kematian.😟
2023-08-21
3
ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ
kepercayaan Prabu Galang patut diacungi jempol semoga saja keputusanmu benar dan tidak ada penyesalan di belakang
2023-08-16
3