Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

 

Prabu Galang Digdaya adalah sosok gagah bertubuh kekar berkulit hitam, tapi bersih dari keringat. Hanya ada selempangan kain cokelat-kuning yang menutupi sebagian badan kirinya. Sabuknya cokelat berhias rantai emas dengan kain kebat berwarna cokelat-kuning. Gelang emas di lengan kekarnya model dua lingkaran. Di kedua pergelangan tangannya juga ada gelang berwarna logam merah, entah apa jenisnya. Pada kedua pipinya ada tatto tiga garis warna putih, sehingga wajahnya mirip wajah harimau atau singa. Rambutnya yang lebat mengembang seperti surai singa, tapi bermahkota emas. Dialah Raja Kerajaan Pasir Langit.

Prabu Galang Digdaya yang berusia separuh abad lebih satu dekade itu, didampingi oleh istrinya yang berusia lebih muda sepuluh tahun. Istrinya yang agak gemukan mengenakan pakaian warna putih dengan konde bermodel kipas dari emas. Istrinya bernama Permaisuri Titir Priya.

Prabu dan permaisuri didampingi oleh para pejabat menterinya.

“Selamat datang, Yang Mulia Ratu Lembayung Mekar. Penguasa Kerajaan Balilitan yang selalu tampil begitu cantik! Hahaha!” ucap Prabu Galang Digdaya dengan senyum dan tawa ramahnya.

“Terimalah hormatku, Gusti Prabu Galang yang sakti digdaya,” ucap Ratu Lembayung Mekar dengan sedikit bumbu pujian, sembari menjura hormat secukupnya sebagai sesama seorang pemilik kerajaan.

Sementara Mahapatih Batik Mida, Dewi Bayang Kematian dan pengawal yang ikut naik, menjura hormat lebih dalam.

“Bangkitlah, kalian semua!” perintah Prabu Galang dengan tatapan yang kentara tertuju kepada Dewi Bayang Kematian.

Setelah semua tamu tegak kembali, sang prabu pun bertanya.

“Siapa wanita cantik memesona yang kau bawa ini, Gusti Ratu?” tanya Prabu Galang.

“Ini Dewi Bayang Kematian. Istri Mahapatih Batik Mida dari Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Ratu Lembayung.

“Ya ya ya. Bukankah suamimu adalah penguasa Kerajaan Sanggana Kecil?” terka Prabu Galang.

“Benar, Gusti Prabu,” ucap Ratu Lembayung.

“Dewi Bayang Kematian adalah pendekar wanita yang begitu terkenal belasan tahun yang lalu. Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya. Tidak disangka kini sudah menjadi istri seorang pejabat yang gagah,” kata Prabu Galang.

“Hahaha!” tertawa ramai mereka mendengar basa basi rajanya.

“Silakan, Gusti Ratu,” ucap Prabu Galang mempersilakan tamu cantiknya untuk berjalan memasuki Istana.

“Terima kasih, Gusti Prabu,” ucap Ratu Lembayung Mekar.

Prabu Galang Digdaya berjalan di tengah-tengah antara istrinya dan Ratu Lembayung Mekar menuju ke pintu Istana yang besar dan megah. Sebagai tamu negara tingkat tinggi, tentunya Prabu Galang Digdaya yang harus menyambut langsung.

Kedua pemimpin kerajaan itu dan para pejabatnya meninggalkan tarian dan musik gamelan yang menyambut.

Singkat cerita.

Ratu Lembayung Mekar dan rombongan telah duduk di kursi-kursi yang telah diatur sambil disuguhkan musik gamelan dan tarian yang berbeda dari tarian sebelumnya. Uniknya dalam musik gamelan itu, ada beberapa permainan alat musik dari benda-benda laut, seperti jenis-jenis cangkang kerang.

Untuk fase ini, Prabu Galang memperkenalkan tentang budaya musik di negeri itu, juga budaya lainnya. Yang dibahas pada kesempatan santai ini, barulah hal-hal tentang kabar dan obrolan-obrolan santai yang tidak jarang mengundang tawa di antara mereka.

Singkat cerita.

Setelah bincang-bincang santai itu, barulah Prabu Galang Digdaya dan Ratu Lembayung Mekar melakukan pembicaraan serius tanpa diganggu oleh jenis hiburan apa pun.

Prabu Galang Digdaya didampingi oleh Mahapatih Olo Kadita, sedangkan Ratu Lembayung Mekar didampingi oleh Mahapatih Batik Mida.

Sementara Permaisuri Titir Priya mengajak Dewi Bayang Kematian untuk berkeliling melihat hal-hal indah yang dimiliki oleh Istana Pasir Langit itu. Permaisuri Titir Priya didampingi oleh istri Mahapatih Olo Kadita.

Permaisuri mengajak Dewi Bayang Kematian untuk melihat-lihat koleksi kolam ikan Istana.

“Negeri Tanduk terancam tenggelam, jadi mereka membutuhkan daratan baru untuk tetap memiliki negeri. Tanah Jawi inilah yang ingin mereka serang dan kuasai. Memang belum pasti kapan mereka akan menyerang, tetapi berdasarkan berita-berita telik sandi yang terus kami kumpulkan dalam sepuluh tahun terakhir, waktu serangan itu semakin dekat. Berita ini pertama kali diungkapkan oleh Tiga Malaikat Kipas sepuluh tahun yang lalu....”

“Tiga Malaikat Kipas?” sebut ulang Prabu Galang memotong penuturan Ratu Lembayung Mekar. Dia tahu nama pendekar legenda itu.

“Benar. Mereka adalah guru dari Prabu Dira suamiku. Belum lama ini juga, Ratu Siluman Alma Fatara datang ke Sanggana Kecil. Dia membawa kabar tentang Negeri Tanduk. Ratu Siluman meyakini bahwa paling cepat serangan itu akan datang satu tahun lagi. Sejak sepuluh tahun yang lalu, Prabu Dira telah mengambil peran membangun kekuatan kerajaan dan kekuatan para pendekar untuk menyongsong perang besar yang mungkin terjadi di pesisir selatan ini. Jika ditarik garis lurus, kemungkinan besar titik yang akan diserang oleh Negeri Tanduk adalah wilayah kekuasaan Kerajaan Pasir Langit dan Kerajaan Werang,” jelas Ratu Lembayung Mekar.

“Jika Negeri Tanduk mau menyerang ke sini, biarkan saja. Mereka akan berhadapan dengan kerajaan pesisir terkuat di Tanah Jawi. Akan kami kubur mereka semua di dasar laut,” kata Prabu Digdaya menggebu-gebu lalu tersenyum lebar.

“Gusti Prabu mungkin tidak tahu bahwa Negeri Tanduk memiliki pasukan Hewan Alam Kahyangan,” kata Ratu Lembayung Mekar.

Terbeliak serius Prabu Galang mendengar informasi baru itu.

“Aku tahu bahwa Raja Sanggana Kecil memiliki seekor Hewan Alam Kahyangan. Jika hanya seekor burung atau seekor macan raksasa, apa yang perlu ditakutkan?” kata Prabu Galang.

“Hewan Alam Kahyangan yang Raja Negeri Tanduk miliki adalah sepasang kura-kura yang bisa beranak pinak. Jadi bukan hanya dua ekor, tapi bisa banyak. Terlebih Negeri Tanduk memiliki banyak negeri sekutu seperti Negeri Karang Hijau, Negeri Sumur Gurun, Negeri Ujung Laut, dan Bangsa Perahu Gajah,” tandas Ratu Lembayung Mekar.

“Baiklah. Anggaplah itu benar,” kata Prabu Galang Digdaya sembari mencebikkan bibirnya dan merilekskan punggungnya dengan bersandar. “Jadi, apa yang Gusti Ratu inginkan dari Kerajaan Pasir Langit?”

“Prabu Dira dan pemerintahannya menganggap ancaman ini sangat serius. Beberapa kerajaan pesisir telah bersekutu dengan kami seperti Kerajaan Teluk Busung dan Kerajaan Madang. Selain mengabarkan ancaman berbahaya ini kepada Gusti Prabu Galang, atas nama suamiku, kami ingin mengajak Gusti Prabu untuk bekerja sama membangun benteng laut di sepanjang garis pantai selatan, terutama di wilayah perairan Kerajaan Pasir Langit dan Kerajaan Werang. Jika Gusti Prabu bersedia kerja sama, Kerajaan Sanggana Kecil meminta izin untuk membangun angkatan laut di wilayah perairan Kerajaan Pasir Langit. Jika dua tawaran kami disetujui, maka Sanggana Kecil akan menawarkan minyak murah yang selama lima purnama pertama hanya sebagai hadiah,” tutur Ratu Lembayung Mekar.

“Hmmm. Tawaran minyak itu sangat menarik, Gusti Ratu. Namun....”

Prabu Galang Digdaya menarik napas panjang dan diam berpikir serius. Lalu tanyanya kepada tamunya.

“Apakah kau mengakui bahwa aku seorang raja yang sakti?”

“Ya, aku mengakuinya. Kesaktian Prabu Galang Digdaya yang tinggi dan kekuatan pasukan Kerajaan Pasir Langit yang belum terkalahkan telah masyhur sejak lama,” kata Ratu Lembayung.

“Aku tahu bahwa Kerajaan Balilitan dan Kerajaan Baturaharja adalah kerajaan di bawah kendali Kerajaan Sanggana Kecil. Selama di bawah kepemimpinanku, Kerajaan Pasir Langit tidak pernah kalah dalam berperang. Siapa pun pasukan lawan yang akan datang, dengan senang hati pasukan Pasir Langit akan hadapi. Jika aku bersekutu dengan kerajaan yang lebih besar, apa jaminannya bahwa di kemudian hari Prabu Dira tidak akan mengendalikanku. Aku tahu bahwa Prabu Dira adalah raja yang sangat sakti, apalagi ratu dan para permaisurinya. Membiarkan kerajaan lain membangun angkatan laut di perairanku, itu sangat berbahaya. Meski tawaran minyak itu sangat menguntungkan, tetapi mohon maaf, Gusti Ratu, dengan tegas aku menolak penawaran Prabu Dira,” kata Prabu Galang dengan tegas.

Terlihatlah raut kekecewaan pada wajah Ratu Lembayung Mekar dan Mahapatih Batik Mida.

“Aku berharap Gusti Prabu sudi memikirkannya lagi. Angkatan Laut Negeri Tanduk adalah yang terkuat di lautan saat ini. Pembangunan benteng laut untuk kepentingan bersama. Jika waktu yang tersisa tinggal satu tahun lagi, pembangunan benteng laut sepanjang garis pantai Tanah Jawi sisi selatan jelas tidak akan selesai. Jadi, kita harus membangun benteng lebih dulu di wilayah yang pasti akan di serang,” ujar Ratu Lembayung.

“Keputusanku sudah tidak bisa berubah. Jika benar pasukan Negeri Tanduk datang menyerang, Kerajaan Pasir Langit dan Kerajaan Werang akan berperang. Jika kami memang hancur, kami hancur dengan terhormat,” tegas Prabu Galang Digdaya. (RH)

Terpopuler

Comments

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

ternyata ditolak... seorang raja memang harus memikirkan segalanya sebelum menyetujuinya

2023-08-31

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

nama permaysurinya nyeremin, selalu kebayang kematian.😟

2023-08-21

3

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

kepercayaan Prabu Galang patut diacungi jempol semoga saja keputusanmu benar dan tidak ada penyesalan di belakang

2023-08-16

3

lihat semua
Episodes
1 Pemuji 1: Tamu Lancang
2 Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3 Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4 Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5 Pemuji 5: Joko Tenang
6 Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7 Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8 Pemuji 8: Tamu Agung
9 Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10 Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11 Pemuji 11: Mencari Joko
12 Pemuji 12: Obrolan Rujak
13 Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14 Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15 Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16 Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17 Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18 Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19 Pemuji 19: Bertemu Lagi
20 Pemuji 20: Muara Jerit
21 Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22 Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23 Pemuji 23: Pertolongan Joko
24 Pemuji 24: Mengobati Putri
25 Pemuji 25: Target Lain
26 Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27 Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28 Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29 Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30 Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31 Pemuji 31: Pisah dan Janji
32 Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33 Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34 Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35 Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36 Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37 Pemuji 37: Amarah Prabu
38 Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39 Pemuji 39: Menyergap Joko
40 Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41 Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42 Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43 Pemuji 43: Nyai Bale
44 Pemuji 44: Gusti Raja
45 Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46 Pemuji 46: Kehilangan
47 Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48 Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49 Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50 Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51 Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52 Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53 Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54 Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55 Pemuji 55: Rayuan Joko
56 Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57 Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58 Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59 Pemuji 59: Putri Mahapatih
60 Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61 Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62 Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63 Pemuji 63: Nyaris Gila
64 Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65 Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66 Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67 Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68 Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69 Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70 Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71 Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72 Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73 Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74 Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75 Pemuji 75: Isi Perjanjian
76 Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77 Pemuji 77: Serangan Hantu
78 Pemuji 78: Anak Halus
79 Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80 Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81 Pemuji 81: Rencana Serangan
82 Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83 Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84 Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85 Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86 Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87 Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88 Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89 Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90 Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91 Pemuji 91: Perang
92 Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93 Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94 Pengumuman Duka
95 Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96 Pemuji 95: Pertarungan Langit
97 Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98 Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99 Pengumuman Sanggana7
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Pemuji 1: Tamu Lancang
2
Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3
Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4
Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5
Pemuji 5: Joko Tenang
6
Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7
Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8
Pemuji 8: Tamu Agung
9
Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10
Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11
Pemuji 11: Mencari Joko
12
Pemuji 12: Obrolan Rujak
13
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14
Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15
Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16
Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17
Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18
Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19
Pemuji 19: Bertemu Lagi
20
Pemuji 20: Muara Jerit
21
Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22
Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23
Pemuji 23: Pertolongan Joko
24
Pemuji 24: Mengobati Putri
25
Pemuji 25: Target Lain
26
Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27
Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28
Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29
Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31
Pemuji 31: Pisah dan Janji
32
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34
Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37
Pemuji 37: Amarah Prabu
38
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39
Pemuji 39: Menyergap Joko
40
Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41
Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42
Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43
Pemuji 43: Nyai Bale
44
Pemuji 44: Gusti Raja
45
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46
Pemuji 46: Kehilangan
47
Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50
Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51
Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53
Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54
Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55
Pemuji 55: Rayuan Joko
56
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57
Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59
Pemuji 59: Putri Mahapatih
60
Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61
Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62
Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63
Pemuji 63: Nyaris Gila
64
Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68
Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69
Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73
Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74
Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75
Pemuji 75: Isi Perjanjian
76
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77
Pemuji 77: Serangan Hantu
78
Pemuji 78: Anak Halus
79
Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80
Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81
Pemuji 81: Rencana Serangan
82
Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83
Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84
Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85
Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87
Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90
Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91
Pemuji 91: Perang
92
Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93
Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94
Pengumuman Duka
95
Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96
Pemuji 95: Pertarungan Langit
97
Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98
Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99
Pengumuman Sanggana7

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!