*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Legam Pora dan Kurna Sagepa naik perahu sewaan yang didayung oleh pemilik perahu, yaitu seorang ibu gemuk bercaping.
Legam Pora dan Kurna Sagepa penasaran ingin melihat keseruan Arena Gelombang yang menjadi salah satu tempat hiburan favorit para pendekar dan warga Kerajaan Pasir Langit.
Beberapa puluh tombak dari garis Pantai Segadis, ada banyak kumpulan manusia yang berdiri di perahu-perahu kecil. Banyak di antaranya berperawakan pendekar. Karena posisinya di lautan, jadi untuk sampai ke sana harus naik perahu. Untuk melihat ada apa di sana, juga harus menggunakan perahu.
Perahu-perahu itu mengelilingi sebuah pagar balok-balok kayu yang ditancapkan ke dasar laut. Pagar itu membentuk lingkaran besar. Di tengah lingkaran ada sebidang papan tebal yang mengambang, tapi pada empat sisinya ditambat menggunakan tambang yang tersambung ke balok pagar, sehingga bidang papan itu mengambang tanpa pergi ke mana-mana meski dimainkan oleh ombak.
Di bidang itulah ada dua orang petarung sedang bertarung.
Di Arena Gelombang ini tidak ada judi, tetapi untuk bertarung harus membayar biaya pendaftaran yang cukup besar. Pemenang duel akan mendapat hadiah tiga kali lipat dari uang pendaftaran. Untuk meraih untung besar dari arena itu adalah dengan biaya sewa perahu yang mahal. Pemilik Arena Gelombang akan mendapat hasil bagi tujuh puluh persen dari pendapatan sewa perahu, sedangkan pemilik perahu hanya tiga puluh persen. Mahalnya sewa perahu tidak mengurangi minat penonton untuk menyaksikan pertarungan di Arena Gelombang.
Pendapatan juga dihasilkan dari penjualan sate kerang dan kelapa muda dalam tabung bambu. Menu itu selalu tersedia di setiap perahu dan menjadi cemilan tunggal saat menonton pertarungan.
Jikapun ada yang berjudi, itu di antara sesama penonton saja, tidak melibatkan pemilik arena.
Setibanya di luar pagar Arena Gelombang, perahu yang ditumpangi oleh Legam Pora dan Kurna Sagepa hanya sampai di lapis dua karena perahu penonton sudah penuh di lapis terdepan. Namun, itu masih bisa menyaksikan dengan jelas pertarungan di Arena Gelombang yang seluas meja tenis.
Saat itu sedang bertarung dua orang pemuda berperawakan seimbang. Pemuda berpakaian biru muda bersenjatakan golok panjang, sedangkan pemuda tidak berbaju bersenjatakan tombak besi. Arena yang bergerak terus oleh ayunan gelombang laut cukup mempengaruhi pertarungan. Itulah tantangan utama dalam pertarungan di Arena Gelombang.
Suara bising teriakan-teriakan para penonton terdengar riuh.
“Hahaha!” tawa Kurna Sagepa ketika melihat pertarungan yang tergelar.
“Apanya yang lucu?” tanya Legam Pora heran melihat rekannya.
“Pendekar yang pakai golok oleng saat membacok. Hahaha!” jawab Kurna Sagepa lalu tertawa lagi.
Memang, sebagai mantan anggota bajak laut dan kini sebagai personel Pasukan Penguasa Telaga di Sanggana Kecil, Kurna Sagepa sudah terbiasa dengan ombak. Makanya dia akan tahu pendekar yang tidak terbiasa bertarung di atas laut.
“Sebenarnya itu gampang. Dia saja yang tingkat kenuragannya masih sedangkal kobokan,” kata Legam Pora, lalu menggigit sate kerangnya yang terpegang di tangan kanannya.
“Aku tidak percaya. Kau hanya menganggap remeh bertarung di atas ombak. Aku yakin kau akan seperti pendekar bergolok itu jika bertarung,” kata Kurna Sagepa.
“Kurang asam! Kau meragukan kehebatanku sebagai Pendekar Pengawal Bunga?” sewot Legam Pora.
“Aku tidak meragukanmu sebagai pendekar daratan, tetapi aku ragu jika pendekar daratan bertarung di atas lautan,” tandas Kurna Sagepa.
Jleg!
Tiba-tiba ada seorang lelaki kecil berjubah hitam mendarat dari lompatannya ke perahu itu. Rambutnya yang semua putih dan wajah hitamnya yang berkeriput menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang tua.
Orang tua mungil itu kemudian menggoyang-goyang perahu dengan tekanan kakinya yang berdiri mengangkang bergantian, sehingga perahu itu sangat bergoyang ke kanan dan ke kiri.
“Eh eh eh!” pekik Legam Pora yang oleng sambil mengangkat kedua tangannya agar membantunya menjaga keseimbangan.
Berbeda dengan Kurna Sagepa yang berdiri dengan tenang sambil mengikuti ayunan perahu.
“Hahaha!” tawa kakek-kakek kecil itu melihat Legam Pora dan Kurna Sagepa.
“Kurang asam!” maki Legam Pora emosi sambil maju hendak menyerang si kakek kecil itu.
Namun, baru saja Legam Pora mengangkat satu kakinya, tubuhnya langsung terpelanting
Jbur!
Tubuh besar hitam itu jatuh terpelanting ke air, membuat sejumlah penonton terdekat menengok ke belakang memandangi siapa yang jatuh.
“Hahaha!” tawa sejumlah penonton melihat ada makhluk hitam yang tercebur.
“Hahaha!” tawa Kurna Sagepa, tapi dia bukan menertawakan Legam Pora, melainkan menertawakan kakek kecil yang dikenalnya. “Ikan Kecil?”
“Iya, aku Wiro Kuto, si Ikan Kecil!” teriak si kakek kecil sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Hei! Kalian mau membalikkan perahuku?!” bentak wanita gemuk pemilik perahu.
Terkejut Kurna Sagepa dan Ikan Kecil dibentak keras seperti itu. Kakek yang populer dikenal dengan nama Ikan Kecil itu lalu menghentikan goyangannya terhadap perahu.
“Ikan Keciiil!” pekik Kurna Sagepa.
“Kurnaaa!” pekik Ikan Kecil pula.
Kedua lelaki itu lalu saling maju dan berpelukan kencang sambil tertawa-tawa.
“Kau semakin kekar, Kurna!” kata Ikan Kecil.
“Kau juga semakin kecil, Ikan!” kata Kurna Sagepa pula seperti seumuran saja.
“Hahaha!” tawa keduanya lagi sambil melepaskan pelukannya.
Tap!
Tiba-tiba sebuah tangan hitam dan besar mencekal satu kaki Ikan Kecil. Itu jelas membuat Ikan Kecil terkejut.
“Eh eh eh!” pekik Ikan Kecil saat tangan itu bisa mengangkat kaki dan tubuhnya.
Jbur!
Besarnya tenaga tangan hitam milik Legam Pora itu dengan mudah melempar tubuh Ikan Kecil ke air laut.
“Hahaha!” tawa Kurna Sagepa melihat pembalasan Legam Pora.
Singkat cerita.
Kini Kurna Sagepa, Legam Pora dan Ikan Kecil duduk bersama di atas perahu. Untuk sementara mereka tidak menonton pertarungan di Arena Gelombang, tetapi justru mengobrol. Legam Pora dan Ikan Kecil dalam kondisi kuyup.
“Bukankah kau mengabdi kepada Yang Mulia Pangeran Joko Tenang? Kenapa ada di sini?” tanya Ikan Kecil kepada Kurna Sagepa.
“Benar, tapi sekarang bukan Pangeran, tapi Gusti Prabu,” jawab Kurna Sagepa. “Selain bersama Legam Pora, aku juga bersama Swara Sesat, Garis Merak dan suaminya.”
“Garis Merak sudah menikah? Dengan siapa?” tanya Ikan Kecil cepat.
“Dengan Reksa Dipa. Julukannya Pendekar Serat Darah. Dia Ketua Pasukan Pengawal Bunga,” jawab Kurna Sagepa. “Legam Pora termasuk Pendekar Pengawal Bunga.”
Legam Pora mengangguk.
“Lalu di mana Mata Samudera?” tanya Kurna Sagepa.
“Coba kau lihat kapal yang di sana,” kata Ikan Kecil lalu menunjuk jauh ke arah laut.
Ikan Kecil menunjuk ke arah sebuah kapal besar yang terlihat kecil karena jauh. Kapal itu sepertinya sedang turun jangkar.
“Mata Samudera kini adalah Ketua Bajak Laut Elang Samudera,” kata Ikan Kecil.
“Wuaaah! Ketua Bajak Laut?” sorak Kurna Sagepa terkejut. Bujang lapuk itu lalu setengah berbisik kepada Ikan Kecil, “Kami sedang dalam tugas.”
“Apa?” tanya Ikan Kecil cepat.
“Lebih baik kita bertemu dengan Garis Merak. Dia sekarang Komandan Pasukan Penguasa Telaga. Di Sanggana Kecil ada sebuah telaga besar yang berisi ikan-ikan raksasa dan ikan-ikan siluman. Kamilah penguasa dan penjaganya,” kata Kurna Sagepa.
“Lalu di mana Garis Merak?” tanya Ikan Kecil.
“Sedang pergi mencari pembuat kapal besar,” jawab Kurna Sagepa. “Kami akan berkumpul lagi menjelang matahari tenggelam.”
“Memang pertemuan kita tepat. Pembuat kapal besar yang handal tidak ada di Pantai Segadis, tetapi di Pantai Pendek di selatan,” kata Ikan Kecil.
“Ayo kita ke pantai!” ajak Kurna Sagepa.
Garis Merak, Kurna Sagepa, Swara Sesat, Ikan Kecil dan Mata Samudera, mereka semua mantan anggota Bajak Laut Elang Biru, yang sepuluh tahun lalu memutuskan berpisah. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
mereka bertiga seperti anak kecil aja hhh KTM teman lama
2023-08-31
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
nontonnya jadi asyik dong🤭
2023-08-22
1
ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ
aku tiap kali baca Selalu tertawa lucu aja nama-namanya
2023-08-16
3