Pemuji 14: Perasaan Putri Ani

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

“Itu Gusti Putri. Turun menghormat!” kata Ronda Galo sambil menepak pelan dengkul Joko Tenang.

Joko Tenang agak terkejut. Buru-buru dia mengikuti Ronda Galo dengan turut turun dari kudanya.

Kedua pemuda itu lalu menghormat dengan berlutut satu kaki sambil tetap memegang tali kendali kudanya.

Deg!

Terhentak jantung dan perasaan gadis berbaju putih yang tadi kecantikannya disebut keterlaluan, ketika dia melihat dengan seksama paras dan sosok Joko Tenang yang penuh pesona sebagai seorang pendekar. Gadis yang adalah Putri Ani Saraswani itu, menghentikan kudanya dan pandangannya fokus kepada Joko Tenang, karena memandang Ronda Galo jelas tidak menggugah selera.

“Siapa lelaki yang bersamamu, Ronda?” tanya Putri Ani Saraswani tanpa memindahkan koordinat tatapannya kepada Joko.

Mendengar pertanyaan sang putri, Joko Tenang mengangkat wajahnya memandang kepada wanita yang usianya masih di bawah kepala tiga tersebut.

Deg!

Deg lagi jadinya, ketika dua pasang mata itu saling bertemu lintasan. Deg itu terjadi di dalam hati Putri Ani, membuat matanya mengerjap sekali.

“Pesona lelaki ini begitu tinggi,” batin Putri Ani.

“Ini Joko Tenang, seorang pengusaha kayu. Ingin bertemu dengan Gusti Menteri, Gusti Putri,” jawab Ronda Galo.

Putri Ani Saraswani segera mengalihkan pandangan matanya kepada Ronda Galo karena tatapan mata Joko Tenang membuat hatinya bergetar.

“Tapi, sepertinya dia seorang pendekar?” tanya sang putri sambil melirik sebentar lagi kepada Joko Tenang.

Putri Ani tidak bisa lama memandang Joko karena dia tidak tahan jika beradu pandang dengan pemuda setampan itu, bahkan bibir merahnya memberi nilai sensasi tersendiri.

“Hamba memang seorang pendekar, Gusti Putri.” Kali ini yang menjawab adalah Joko Tenang, langsung dihiasi dengan sekelumit senyum manis.

Syerrr!

Terkejut Putri Ani Saraswani karena merasakan jantungnya seperti direnggut dengan halus dan darahnya berdesir memberi belaian indah, ketika dia mendengar langsung suara Joko Tenang dan melihat keindahan yang manis di dalam senyum pemuda beristri sebelas itu.

Entah kenapa, mendadak ketenangan sang putri sebagai seseorang yang bermartabat dan berstatus tinggi jadi hilang. Joko Tenang bisa melihat ada salah tingkah dalam gerakan mata gadis cantik itu, tetapi berusaha ditutupi.

Untuk menutupi perasaannya yang terganggu oleh ketampanan dan pesona senyuman berbibir merah Joko Tenang, Putri Ani Saraswani melakukan gerakan mengusap surai kudanya.

“Semoga urusanmu berjalan baik, Kisanak,” ucap sang putri sebagai sikap baiknya kepada Joko Tenang.

“Terima kasih, Gusti Putri,” ucap Joko Tenang tanpa embel-embel, karena sebenarnya dia ingin memuji kecantikan itu.

“Hea!” gebah Putri Ani pelan terhadap kudanya, membuat si abang kuda berjalan meninggalkan kedua pemuda itu.

Pengawal berpedang sang putri mengikuti junjungannya masuk ke pekarangan rumah Menteri Keuangan Badaragi.

Karena sudah sampai, Ronda Gayo dan Joko Tenang pun hanya berjalan menuntun kudanya memasuki pekarangan.

Para prajurit jaga menjura hormat kepada Putri Ani dan pengawalnya yang bernama Rincing Kila.

“Pesona lelaki itu begitu tinggi, Rincing,” kata Putri Ani Saraswani kepada pengawalnya. “Perasaanku jadi terganggu.”

“Maksud Gusti Putri, Gusti jatuh hati kepadanya?” tanya Ringcing Kila.

“Aku tidak mengatakan seperti itu. Namun entah kenapa, ada perasaan bahagia melihat senyumnya. Aku tidak sanggup beradu tatap dengannya. Pembawaannya santun, tetapi menunjukkan bahwa dia bukan orang biasa, bukan sekedar pengusaha kayu atau pendekar biasa,” kata Putri Ani agak panjang.

“Dia lebih tampan dari mendiang Agi Lodya,” kata Rincing Kila sembari tersenyum menggoda junjungannya yang hanya meliriknya dengan tajam.

Memang, hingga saat ini, Putri Ani Saraswani belum bisa move on dari mendiang kekasihnya yang bernama Agi Lodya, padahal kematian kekasihnya sudah berlalu tujuh tahun lamanya.

Kekuatan cinta Putri Ani Saraswani begitu dalam dan tinggi kepada Agi Lodya. Sampai-sampai hingga saat ini dia masih memendam dendam kepada ayahnya yang telah memancung Agi Lodya sekeluarga.

“Gusti Putri!” panggil seorang gadis cantik pula berpakaian warna hitam. Gadis itu lebih muda dari sang putri dan Rincing Kila, tapi kecantikannya selevel sang pengawal.

Gadis bernama Badira itu berjalan menyongsong kedatangan sang putri. Dia menangkap tali pada muka kuda.

“Siapa orang tampan yang bersama Ronda itu, Putri?” tanya Badira sambil tersenyum memandang ke arah Joko Tenang dan Ronda Galo yang pergi ke sisi teras depan rumah.

“Pengusaha kayu,” jawab Putri Ani Saraswani, lalu turun dari punggung kudanya.

“Ah, aku tidak percaya. Lelaki setampan dan sebersih itu seorang tukang kayu. Lelaki itu justru seperti seorang bangsawan. Lihat saja jenis kulitnya, sangat bersih,” celoteh Badira.

Perkataan putri Menteri Keuangan itu membuat Putri Ani Saraswani kembali melemparkan pandangannya ke arah teras depan. Dia melihat Joko Tenang sedang ditemui oleh Menteri Badaragi. Agak lama dia memandang.

“Ehhem!” dehem Rincing Kila yang membuat Putri Ani terkaget kecil.

“Hihihi!” tawa Badira melihat reaksi sahabatnya itu. “Eit, eit! Bisa jadi pemuda itu datang untuk melamarku.”

“Kau mengenalnya saja tidak, bagaimana mungkin langsung melamar,” kata Putri Ani sambil mencengkeram pelan tengkuk Badira. “Ayo kita ke kolam.”

“Hihihi!” Badira hanya tertawa cekikikan.

Rincing Kila memberikan kedua kuda kepada prajurit jaga di kediaman itu. Ketiga gadis itu lalu pergi ke bagian belakang kediaman luas tersebut.

Putri Ani Saraswani sedang membudidayakan ikan perut emas. Ikan laut yang harga telurnya sangat mahal. Telurnya lebih mahal dari dagingnya. Bisnis ikan laut jenis ini sangat menjanjikan keuntungan yang besar.

Sementara itu, di teras rumah, Menteri Keuangan Badaragi sudah berkenalan dengan Joko Tenang.

Sosok Badaragi adalah seorang lelaki gemuk berkulit putih bersih dengan wajah yang bersih. Dia saat itu dia mengenakan pakaian biru gelap dengan hiasan rantai emas kecil di bagian dada bajunya. Blangkonnya berwarna batik biru.

Seorang pelayan datang menyuguhkan kopi merek Badarkopi. Menteri Keuangan juga punya usaha kopi yang pemasarannya sudah memonopoli pasar dalam negeri.

Menteri Badaragi dan Joko Tenang duduk di kursi batu karang tapi berlapis bantalan dan sandaran empuk. Keduanya berseberangan meja. Sementara Ronda Galo berdiri di belakang kursi junjungannya, tapi sedikit ke samping.

“Aroma kopinya sangat memanjakan hidung, Gusti,” puji Joko Tenang.

“Kopi ini aku namakan Badarkopi. Kopi olahan asli kediamanku di sisi selatan rumah ini, tapi baru sebatas dalam negeri peredarannya,” kata Badaragi antusias memperkenalkan produknya.

“Tapi, aku perlu mencicipi dulu rasanya, Gusti,” kata Joko Tenang.

“Silakan, Joko. Kau pasti akan ketagihan,” kata Badaragi optimis.

Sembari tersenyum, Joko Tenang meraih cangkir keramik untuknya. Dia kemudian menyeruput kopi yang masih berasap tipis.

Seperti seorang juri kontes memasak, Joko Tenang manggut-manggut kecil setelah merasakan kepahitan kopi tersebut. Ternyata pahitnya bercampur rasa manis.

“Perpaduan pahit kopi dengan rasa manis gula terasa sangat khas,” kata Joko Tenang.

“Bukan gula, tetapi madu Gunung Dewi Runa,” kata Badaragi meluruskan.

“Oooh!” desah Joko Tenang yang langsung tahu tentang Gunung Dewi Runa, gunung pinggir laut yang sudah dikuasai oleh Ratu Siluman Alma Fatara.

Gunung Dewi Runa masih bisa dilihat puncaknya dari daerah itu. Gunung itu ada di wilayah timur dari Kerajaan Pasir Langit.

“Sepertinya aku tertarik untuk minta dikirimkan ke wilayahku di Hutan Malam Abadi,” kata Joko Tenang tanpa pikir panjang lagi.

“Oh, tentu, Joko. Aku berharap kesepakatan ini awal dari kopiku menebus pasar kerajaan lain,” kata Badaragi penuh antusias. Sang menteri sepertinya semakin menunjukkan sikap terbuka dan akrab kepada Joko Tenang. “Soal rasa memang tidak pernah berbohong. Hahaha!”

“Rincian tentang pembelian kopiku, nanti kita bicarakan kemudian. Namun aku pastikan, aku membeli kopi Gusti. Sekarang aku ingin menunjukkan kayuku,” kata Joko Tenang.

Joko lalu meletakkan bungkusan kain hitam ke atas meja. Bungkusan itu tadi dia bawa di kuda. Joko Tenang membuka ikatan kain, menunjukkan tiga potongan balok kayu kecil.

“Ini kayu sonokeling yang ada di Hutan Malam Abadi, Gusti. Silakan dilihat, Gusti,” kata Joko Tenang.

Badaragi lalu mengambil satu potong kayu. Kayu itu sangat keras dan kuat, yang pastinya sangat bagus untuk membuat bangunan.

“Ini kayu yang sangat bagus,” ucap Badaragi.  “Berapa banyak kayu yang kau miliki, Joko?”

“Satu hutan. Karena aku adalah penguasanya, Gusti. Karena itulah aku butuh sedikit kesaktian untuk menjaga hutanku,” jawab Joko Tenang.

Sang menteri lalu mengambil potongan kayu yang lain untuk mengamatinya.

“Besok kayu ini akan aku tunjukkan kepada Gusti Prabu,” kata Badaragi.

“Jika demikian, mari kita bicarakan kesepakatan pembelian kopi, Gusti,” kata Joko Tenang sembari tersenyum. (RH)

Terpopuler

Comments

momoy

momoy

kayak lagi Arafiq yg di aransemen ulang Ama Slank om, pandangan pertama ah mgkn siom lebih tau lagi lagi nya gmn

2023-09-02

1

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

yang satu menawarkan kopi satunya menawarkan kayu 🤭..awas Gusti putri jangan sampai patah hati lagi ya

2023-09-02

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

alamak, dah syerrrr tuh🤣

2023-08-26

1

lihat semua
Episodes
1 Pemuji 1: Tamu Lancang
2 Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3 Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4 Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5 Pemuji 5: Joko Tenang
6 Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7 Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8 Pemuji 8: Tamu Agung
9 Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10 Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11 Pemuji 11: Mencari Joko
12 Pemuji 12: Obrolan Rujak
13 Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14 Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15 Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16 Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17 Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18 Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19 Pemuji 19: Bertemu Lagi
20 Pemuji 20: Muara Jerit
21 Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22 Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23 Pemuji 23: Pertolongan Joko
24 Pemuji 24: Mengobati Putri
25 Pemuji 25: Target Lain
26 Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27 Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28 Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29 Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30 Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31 Pemuji 31: Pisah dan Janji
32 Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33 Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34 Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35 Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36 Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37 Pemuji 37: Amarah Prabu
38 Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39 Pemuji 39: Menyergap Joko
40 Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41 Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42 Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43 Pemuji 43: Nyai Bale
44 Pemuji 44: Gusti Raja
45 Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46 Pemuji 46: Kehilangan
47 Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48 Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49 Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50 Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51 Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52 Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53 Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54 Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55 Pemuji 55: Rayuan Joko
56 Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57 Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58 Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59 Pemuji 59: Putri Mahapatih
60 Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61 Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62 Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63 Pemuji 63: Nyaris Gila
64 Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65 Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66 Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67 Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68 Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69 Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70 Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71 Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72 Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73 Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74 Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75 Pemuji 75: Isi Perjanjian
76 Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77 Pemuji 77: Serangan Hantu
78 Pemuji 78: Anak Halus
79 Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80 Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81 Pemuji 81: Rencana Serangan
82 Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83 Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84 Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85 Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86 Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87 Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88 Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89 Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90 Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91 Pemuji 91: Perang
92 Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93 Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94 Pengumuman Duka
95 Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96 Pemuji 95: Pertarungan Langit
97 Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98 Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99 Pengumuman Sanggana7
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Pemuji 1: Tamu Lancang
2
Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3
Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4
Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5
Pemuji 5: Joko Tenang
6
Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7
Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8
Pemuji 8: Tamu Agung
9
Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10
Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11
Pemuji 11: Mencari Joko
12
Pemuji 12: Obrolan Rujak
13
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14
Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15
Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16
Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17
Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18
Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19
Pemuji 19: Bertemu Lagi
20
Pemuji 20: Muara Jerit
21
Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22
Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23
Pemuji 23: Pertolongan Joko
24
Pemuji 24: Mengobati Putri
25
Pemuji 25: Target Lain
26
Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27
Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28
Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29
Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31
Pemuji 31: Pisah dan Janji
32
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34
Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37
Pemuji 37: Amarah Prabu
38
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39
Pemuji 39: Menyergap Joko
40
Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41
Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42
Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43
Pemuji 43: Nyai Bale
44
Pemuji 44: Gusti Raja
45
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46
Pemuji 46: Kehilangan
47
Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50
Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51
Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53
Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54
Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55
Pemuji 55: Rayuan Joko
56
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57
Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59
Pemuji 59: Putri Mahapatih
60
Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61
Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62
Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63
Pemuji 63: Nyaris Gila
64
Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68
Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69
Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73
Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74
Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75
Pemuji 75: Isi Perjanjian
76
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77
Pemuji 77: Serangan Hantu
78
Pemuji 78: Anak Halus
79
Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80
Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81
Pemuji 81: Rencana Serangan
82
Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83
Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84
Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85
Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87
Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90
Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91
Pemuji 91: Perang
92
Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93
Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94
Pengumuman Duka
95
Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96
Pemuji 95: Pertarungan Langit
97
Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98
Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99
Pengumuman Sanggana7

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!