*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Itu Gusti Putri. Turun menghormat!” kata Ronda Galo sambil menepak pelan dengkul Joko Tenang.
Joko Tenang agak terkejut. Buru-buru dia mengikuti Ronda Galo dengan turut turun dari kudanya.
Kedua pemuda itu lalu menghormat dengan berlutut satu kaki sambil tetap memegang tali kendali kudanya.
Deg!
Terhentak jantung dan perasaan gadis berbaju putih yang tadi kecantikannya disebut keterlaluan, ketika dia melihat dengan seksama paras dan sosok Joko Tenang yang penuh pesona sebagai seorang pendekar. Gadis yang adalah Putri Ani Saraswani itu, menghentikan kudanya dan pandangannya fokus kepada Joko Tenang, karena memandang Ronda Galo jelas tidak menggugah selera.
“Siapa lelaki yang bersamamu, Ronda?” tanya Putri Ani Saraswani tanpa memindahkan koordinat tatapannya kepada Joko.
Mendengar pertanyaan sang putri, Joko Tenang mengangkat wajahnya memandang kepada wanita yang usianya masih di bawah kepala tiga tersebut.
Deg!
Deg lagi jadinya, ketika dua pasang mata itu saling bertemu lintasan. Deg itu terjadi di dalam hati Putri Ani, membuat matanya mengerjap sekali.
“Pesona lelaki ini begitu tinggi,” batin Putri Ani.
“Ini Joko Tenang, seorang pengusaha kayu. Ingin bertemu dengan Gusti Menteri, Gusti Putri,” jawab Ronda Galo.
Putri Ani Saraswani segera mengalihkan pandangan matanya kepada Ronda Galo karena tatapan mata Joko Tenang membuat hatinya bergetar.
“Tapi, sepertinya dia seorang pendekar?” tanya sang putri sambil melirik sebentar lagi kepada Joko Tenang.
Putri Ani tidak bisa lama memandang Joko karena dia tidak tahan jika beradu pandang dengan pemuda setampan itu, bahkan bibir merahnya memberi nilai sensasi tersendiri.
“Hamba memang seorang pendekar, Gusti Putri.” Kali ini yang menjawab adalah Joko Tenang, langsung dihiasi dengan sekelumit senyum manis.
Syerrr!
Terkejut Putri Ani Saraswani karena merasakan jantungnya seperti direnggut dengan halus dan darahnya berdesir memberi belaian indah, ketika dia mendengar langsung suara Joko Tenang dan melihat keindahan yang manis di dalam senyum pemuda beristri sebelas itu.
Entah kenapa, mendadak ketenangan sang putri sebagai seseorang yang bermartabat dan berstatus tinggi jadi hilang. Joko Tenang bisa melihat ada salah tingkah dalam gerakan mata gadis cantik itu, tetapi berusaha ditutupi.
Untuk menutupi perasaannya yang terganggu oleh ketampanan dan pesona senyuman berbibir merah Joko Tenang, Putri Ani Saraswani melakukan gerakan mengusap surai kudanya.
“Semoga urusanmu berjalan baik, Kisanak,” ucap sang putri sebagai sikap baiknya kepada Joko Tenang.
“Terima kasih, Gusti Putri,” ucap Joko Tenang tanpa embel-embel, karena sebenarnya dia ingin memuji kecantikan itu.
“Hea!” gebah Putri Ani pelan terhadap kudanya, membuat si abang kuda berjalan meninggalkan kedua pemuda itu.
Pengawal berpedang sang putri mengikuti junjungannya masuk ke pekarangan rumah Menteri Keuangan Badaragi.
Karena sudah sampai, Ronda Gayo dan Joko Tenang pun hanya berjalan menuntun kudanya memasuki pekarangan.
Para prajurit jaga menjura hormat kepada Putri Ani dan pengawalnya yang bernama Rincing Kila.
“Pesona lelaki itu begitu tinggi, Rincing,” kata Putri Ani Saraswani kepada pengawalnya. “Perasaanku jadi terganggu.”
“Maksud Gusti Putri, Gusti jatuh hati kepadanya?” tanya Ringcing Kila.
“Aku tidak mengatakan seperti itu. Namun entah kenapa, ada perasaan bahagia melihat senyumnya. Aku tidak sanggup beradu tatap dengannya. Pembawaannya santun, tetapi menunjukkan bahwa dia bukan orang biasa, bukan sekedar pengusaha kayu atau pendekar biasa,” kata Putri Ani agak panjang.
“Dia lebih tampan dari mendiang Agi Lodya,” kata Rincing Kila sembari tersenyum menggoda junjungannya yang hanya meliriknya dengan tajam.
Memang, hingga saat ini, Putri Ani Saraswani belum bisa move on dari mendiang kekasihnya yang bernama Agi Lodya, padahal kematian kekasihnya sudah berlalu tujuh tahun lamanya.
Kekuatan cinta Putri Ani Saraswani begitu dalam dan tinggi kepada Agi Lodya. Sampai-sampai hingga saat ini dia masih memendam dendam kepada ayahnya yang telah memancung Agi Lodya sekeluarga.
“Gusti Putri!” panggil seorang gadis cantik pula berpakaian warna hitam. Gadis itu lebih muda dari sang putri dan Rincing Kila, tapi kecantikannya selevel sang pengawal.
Gadis bernama Badira itu berjalan menyongsong kedatangan sang putri. Dia menangkap tali pada muka kuda.
“Siapa orang tampan yang bersama Ronda itu, Putri?” tanya Badira sambil tersenyum memandang ke arah Joko Tenang dan Ronda Galo yang pergi ke sisi teras depan rumah.
“Pengusaha kayu,” jawab Putri Ani Saraswani, lalu turun dari punggung kudanya.
“Ah, aku tidak percaya. Lelaki setampan dan sebersih itu seorang tukang kayu. Lelaki itu justru seperti seorang bangsawan. Lihat saja jenis kulitnya, sangat bersih,” celoteh Badira.
Perkataan putri Menteri Keuangan itu membuat Putri Ani Saraswani kembali melemparkan pandangannya ke arah teras depan. Dia melihat Joko Tenang sedang ditemui oleh Menteri Badaragi. Agak lama dia memandang.
“Ehhem!” dehem Rincing Kila yang membuat Putri Ani terkaget kecil.
“Hihihi!” tawa Badira melihat reaksi sahabatnya itu. “Eit, eit! Bisa jadi pemuda itu datang untuk melamarku.”
“Kau mengenalnya saja tidak, bagaimana mungkin langsung melamar,” kata Putri Ani sambil mencengkeram pelan tengkuk Badira. “Ayo kita ke kolam.”
“Hihihi!” Badira hanya tertawa cekikikan.
Rincing Kila memberikan kedua kuda kepada prajurit jaga di kediaman itu. Ketiga gadis itu lalu pergi ke bagian belakang kediaman luas tersebut.
Putri Ani Saraswani sedang membudidayakan ikan perut emas. Ikan laut yang harga telurnya sangat mahal. Telurnya lebih mahal dari dagingnya. Bisnis ikan laut jenis ini sangat menjanjikan keuntungan yang besar.
Sementara itu, di teras rumah, Menteri Keuangan Badaragi sudah berkenalan dengan Joko Tenang.
Sosok Badaragi adalah seorang lelaki gemuk berkulit putih bersih dengan wajah yang bersih. Dia saat itu dia mengenakan pakaian biru gelap dengan hiasan rantai emas kecil di bagian dada bajunya. Blangkonnya berwarna batik biru.
Seorang pelayan datang menyuguhkan kopi merek Badarkopi. Menteri Keuangan juga punya usaha kopi yang pemasarannya sudah memonopoli pasar dalam negeri.
Menteri Badaragi dan Joko Tenang duduk di kursi batu karang tapi berlapis bantalan dan sandaran empuk. Keduanya berseberangan meja. Sementara Ronda Galo berdiri di belakang kursi junjungannya, tapi sedikit ke samping.
“Aroma kopinya sangat memanjakan hidung, Gusti,” puji Joko Tenang.
“Kopi ini aku namakan Badarkopi. Kopi olahan asli kediamanku di sisi selatan rumah ini, tapi baru sebatas dalam negeri peredarannya,” kata Badaragi antusias memperkenalkan produknya.
“Tapi, aku perlu mencicipi dulu rasanya, Gusti,” kata Joko Tenang.
“Silakan, Joko. Kau pasti akan ketagihan,” kata Badaragi optimis.
Sembari tersenyum, Joko Tenang meraih cangkir keramik untuknya. Dia kemudian menyeruput kopi yang masih berasap tipis.
Seperti seorang juri kontes memasak, Joko Tenang manggut-manggut kecil setelah merasakan kepahitan kopi tersebut. Ternyata pahitnya bercampur rasa manis.
“Perpaduan pahit kopi dengan rasa manis gula terasa sangat khas,” kata Joko Tenang.
“Bukan gula, tetapi madu Gunung Dewi Runa,” kata Badaragi meluruskan.
“Oooh!” desah Joko Tenang yang langsung tahu tentang Gunung Dewi Runa, gunung pinggir laut yang sudah dikuasai oleh Ratu Siluman Alma Fatara.
Gunung Dewi Runa masih bisa dilihat puncaknya dari daerah itu. Gunung itu ada di wilayah timur dari Kerajaan Pasir Langit.
“Sepertinya aku tertarik untuk minta dikirimkan ke wilayahku di Hutan Malam Abadi,” kata Joko Tenang tanpa pikir panjang lagi.
“Oh, tentu, Joko. Aku berharap kesepakatan ini awal dari kopiku menebus pasar kerajaan lain,” kata Badaragi penuh antusias. Sang menteri sepertinya semakin menunjukkan sikap terbuka dan akrab kepada Joko Tenang. “Soal rasa memang tidak pernah berbohong. Hahaha!”
“Rincian tentang pembelian kopiku, nanti kita bicarakan kemudian. Namun aku pastikan, aku membeli kopi Gusti. Sekarang aku ingin menunjukkan kayuku,” kata Joko Tenang.
Joko lalu meletakkan bungkusan kain hitam ke atas meja. Bungkusan itu tadi dia bawa di kuda. Joko Tenang membuka ikatan kain, menunjukkan tiga potongan balok kayu kecil.
“Ini kayu sonokeling yang ada di Hutan Malam Abadi, Gusti. Silakan dilihat, Gusti,” kata Joko Tenang.
Badaragi lalu mengambil satu potong kayu. Kayu itu sangat keras dan kuat, yang pastinya sangat bagus untuk membuat bangunan.
“Ini kayu yang sangat bagus,” ucap Badaragi. “Berapa banyak kayu yang kau miliki, Joko?”
“Satu hutan. Karena aku adalah penguasanya, Gusti. Karena itulah aku butuh sedikit kesaktian untuk menjaga hutanku,” jawab Joko Tenang.
Sang menteri lalu mengambil potongan kayu yang lain untuk mengamatinya.
“Besok kayu ini akan aku tunjukkan kepada Gusti Prabu,” kata Badaragi.
“Jika demikian, mari kita bicarakan kesepakatan pembelian kopi, Gusti,” kata Joko Tenang sembari tersenyum. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
momoy
kayak lagi Arafiq yg di aransemen ulang Ama Slank om, pandangan pertama ah mgkn siom lebih tau lagi lagi nya gmn
2023-09-02
1
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
yang satu menawarkan kopi satunya menawarkan kayu 🤭..awas Gusti putri jangan sampai patah hati lagi ya
2023-09-02
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
alamak, dah syerrrr tuh🤣
2023-08-26
1