Pemuji 8: Tamu Agung

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

 

Satu rombongan besar pasukan berkuda berseragam kuning-hitam mengawal sebuah kereta kuda megah warna kuning emas keemas-emasan. Biliknya tergolong besar, lebih besar dari bilik kereta kuda ukuran normal. Kereta itu ditarik oleh empat ekor kuda yang berpakaian warna kuning.

Jumlah kuda pasukan berseragam kuning hitam sebanyak lima puluh ekor, ditambah sepuluh kuda yang ditunggangi oleh orang-orang berperawakan pendekar, dan ditambah sepuluh kuda yang ditunggangi oleh wanita berseragam kuning tapi model pelayan.

Ada satu kuda berpelana bagus yang ditunggangi oleh seoarang lelaki gagah berusia setengah abad lebih dua tahun. Dia bertubuh tinggi besar dan berotot kekar.  Otot itu terjiplak jelas pada pakaian warna biru terangnya. Dia memelihara kumis yang cukup tebal. Dia mengenakan topi kuluk kanigara di kepalanya yang juga berwarna biru terang dengan garis emas. Lelaki gagah itu adalah Mahapatih Batik Mida yang memiliki julukan kependekaran Panglima Dada Perkasa.

Dia datang sebagai Mahapatih Kerajaan Sanggana Kecil yang diutus ke Kerajaan Balilitan, kerajaan yang diratui oleh salah satu istri Prabu Dira. Sang mahapatih hanya didampingi oleh istrinya yang tercinta dan tercantik baginya. Istrinya yang bernama baku Dewi Bayang Kematian, kini berada di dalam bilik kereta kuda bersama Ratu Lembayung Mekar.

Pasukan berkuda berseragam kuning-hitam merupakan pasukan Kerajaan Balilitan, sedangkan sepuluh pendekar berkuda adalah Pasukan Pengawal Bunga.

Ratu Lembayung Mekar bukanlah bagian dari Delapan Dewi Bunga. Namun meski demikian, dia juga mendapat sepuluh pendekar dari Pasukan Pengawal Bunga, sama dengan hak istri-istri Prabu Dira lainnya. Pasukan Pengawal Bunga adalah pasukan pendekar level tertinggi yang dimiliki Kerajaan Sanggana Kecil.

Sementara sepuluh wanita berseragam kuning adalah kesepuluh pelayan pribadi Ratu Lembayung Mekar.

Rombongan itu berlalu di jalan utama ibu kota Digdaya menuju ke gerbang utama Istana Pasir Langit. Mereka pun menjadi pusat perhatian warga Ibu Kota dan para pendekar yang ada di kota tersebut.

Salah satu orang yang memerhatikan rombongan itu adalah Joko Tenang. Meski itu adalah rombongan istri dan pejabatnya, tapi Joko Tenang tidak pergi menghampiri. Dia hanya memandangi mereka berlalu.

Joko Tenang tidak bersembunyi, sehingga dia sempat dilirik oleh mahapatihnya. Demikian pula para pendekar Pasukan Pengawal Bunga. Namun, baik Mahapatih Batik Mida dan para pendekar, mereka tidak sedikit pun memberi kode kepada Joko Tenang, seolah-olah semuanya tidak mengenali penyamaran rajanya.

Ratu Lembayung Mekar yang ada di dalam bilik kereta pun tidak diberi tahu tentang keberadaan suaminya.

Setelah melalui jalanan Ibu Kota yang diapit deretan rumah-rumah panggung berkaki pendek tapi tertata rapi, akhirnya rombongan itu tiba di Gerbang Pemuja Langit, gerbang utama dari benteng kayu besar yang mengelilingi wilayah Istana.

Di Gerbang Pemuja Langit, rombongan Ratu Lembayung Mekar disambut oleh pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Panglima Istana Banta Ufuk.

Setelah Mahapatih Batik Mida memperkenalkan diri, rombongannya lalu dikawal masuk ke Istana dengan pasukan yang berjumlah dua kali lipat dari jumlah rombongan sang ratu.

Bangunan Istana Pasir Langit berdiri megah yang terbuat dari unsur batu dan kayu, tapi sepi dari unsur tanaman hijau. Ada dua batu karang yang menjulang di depan tangga utama menuju bangunan utama Istana yang identik warna cokelat dan atap warna merah gelap. Cat warna putih di sejumlah sisi bangunan memperindah warna Istana.

Rombongan Ratu Lembayung Mekar disambut oleh irama gamelan yang dimainkn di atas tangga utama. Di tangga yang lebar dan terdiri dua puluh lima anak tangga, ramai sejumlah pejabat sudah berdiri menunggu. Mereka berpakaian serba mewah demi menyambut seorang tamu agung dari Kerajaan Balilitan.

Di depan tangga utama ada pelataran, tempat sepuluh penari wanita cantik sedang menari.

Rombongan yang menjadi sangat besar itu berhenti tidak jauh di depan para penari.

Ketika rombongan berhenti, seorang pendekar wanita yang menyandang busur dari Pasukan Pengawal Dewi segera turun dari kudanya. Wanita bernama Tengari Sampi itu berlari ke sisi kanan bilik kereta dan berlutut satu kaki tepat di depan pintu yang hanya bertirai warna emas.

Tirai itu kemudian disibak dari dalam oleh satu tangan wanita yang halus dan cantik dengan cincin-cincin emas dan kuku-kuku berwarna emas. Selanjutnya menyembullah sesosok wanita berbusana warna kuning dan dilapisi jubah warna emas. Begitu berkilau dengan tiara di kepala dan berbagai perhiasan emas permata. Wanita bak toko emas itu sudah berusia separuh abad lebih lima tahun, tetapi make-up membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih muda. Bedak tebal cukup menutupi keriput di wajah plus pesona gincu merah yang terang.

Inilah penampakan Ratu Lembayung Mekar, istri Prabu Dira. Dia turun dengan memegang satu tangan Tengari Sampi dan menginjak paha pengawalnya sebagai tangga untuk turun.

Adapun di sisi kiri kereta, Mahapatih Batik Mida juga segera turun dari kudanya dan berlutut satu kaki pula di depan pintu kiri bilik kereta. Tirai pintu kiri disibak pula oleh seorang wanita cantik berpakaian hijau muda dan berjubah biru terang, serasi dengan pakaian Mahapatih. Jubahnya berhias sulaman-sulaman benang putih yang bagus. Sosok wanita yang jauh lebih muda dari sang ratu itu juga gemerlap oleh asesoris emas dan perak. Nilai plusnya, dia memiliki ukuran dada yang jumbo tapi tertutup rapi, sangat cocok jika itu memang jatah sang mahapati.

Wanita yang rambut panjangnya terurai sepunggung itu tidak lain adalah istri Mahapatih Batik Mida, yaitu Dewi Bayang Kematian. Dialah satu-satunya wanita yang selalu Prabu Dira coba hindari dengan dalih demi kenyamanan.

Tindakannya yang melayani sang istri, membuat Mahapatih Batik Mida jadi pusat perhatian kedua pasukan. Namun, sebagai seorang mahapatih, Batik Mida tidak risih sedikit pun. Itu adalah salah satu wujud bukti cinta sang mahapatih kepada istrinya yang sangat spesial.

Sama seperti ketika Ratu Lembayung Mekar turun, Dewi Bayang Kematian juga turun dengan menginjak paha dan berpegangan pada tangan besar suaminya.

Kemunculan Ratu Lembayung Mekar segera disongsong oleh Mahapatih Kerajaan Pasir Langit yang bernama Olo Kadita. Lelaki gemuk berusia separuh abad lebih dua belas tahun itu bersama istrinya.

“Terimalah sembah hormat kami, Gusti Ratu,” ucap Mahapatih Olo Kadita dengan senyum ramah. Ia dan istrinya lalu menjura hormat kepada sang ratu.

“Bangkitlah, Mahapatih,” ucap Ratu Lembayung.

Mahapatih dan istrinya kembali tegak berdiri.

“Perkenalkan, ini adalah Mahapatih Batik Mida dan istrinya Dewi Bayang Kematian,” kata Ratu Lembayung memperkenalkan pejabat yang bersamanya, membuat mata mahapatih tuan rumah melebar karena terkejut.

Mahapatih Batik Mida dan istrinya pun menjura hormat kepada mahapatih kerajaan tuan rumah. Dia terkejut mendengar jabatan Batik Mida dan dia terkejut pula mendengar nama Dewi Bayang Kematian yang agak menyeramkan.

“Apa yang terjadi dengan Mahapatih Tarik Sewu, Gusti?” tanya Mahapatih Olo Kadita kepada sang ratu. Sebab, setahu dia, mahapatih Kerajaan Balilitan adalah Tarik Sewu.

“Mahapatih Batik Mida ini adalah Mahapatih Kerajaan Sanggana Kecil, kerajaan suamiku,” jelas Ratu Lembayung.

“Ooh. Oh ya, selamat datang di Istana Pasir Langit!” ucap Mahapatih Olo Kadita dengan bangga sambil agak merentangkan kedua tangannya. “Silakan, Gusti Ratu, Gusti Prabu Galang Digdaya sudah menunggu di atas.”

Ratu Lembayung mengangguk, lalu berjalan. Dewi Bayang Kematian berjalan di antara posisi Ratu Lembayung dan suaminya. Sementara Mahapati Olo Kadita dan istrinya mengiringi di sisi kiri Ratu Lembayung.

Adapun yang ikut di belakang adalah Panglima Istana Banta Ufuk, empat pendekar dari Pengawal Dewi Bunga, termasuk Tengari Sampi, serta kesepuluh dayang milik Ratu Lembayung Mekar. Mereka ikut dengan berjalan kaki pula, tidak dengan berkuda.

Rombongan yang dipandu oleh Mahapatih Olo Kadita itu lewat di sisi para penari yang menari dengan senyum selalu mekar.

Mereka kemudian menaiki tangga Istana. Sementara di atas sana sudah menunggu seorang lelaki bermahkota bersama dengan para pejabatnya yang lain. (RH)

Terpopuler

Comments

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

aku salut sama Joko tenang ternyata dia orangnya juga benar" tenang 🤭

2023-08-30

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

weihh pasukan kuning nih⭐

2023-08-21

2

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ

ternyata oh ternyata Joko tenang itu adalah sebenarnya raja istrinya Dewi bunga benar nggak sih

2023-08-16

2

lihat semua
Episodes
1 Pemuji 1: Tamu Lancang
2 Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3 Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4 Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5 Pemuji 5: Joko Tenang
6 Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7 Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8 Pemuji 8: Tamu Agung
9 Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10 Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11 Pemuji 11: Mencari Joko
12 Pemuji 12: Obrolan Rujak
13 Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14 Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15 Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16 Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17 Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18 Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19 Pemuji 19: Bertemu Lagi
20 Pemuji 20: Muara Jerit
21 Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22 Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23 Pemuji 23: Pertolongan Joko
24 Pemuji 24: Mengobati Putri
25 Pemuji 25: Target Lain
26 Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27 Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28 Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29 Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30 Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31 Pemuji 31: Pisah dan Janji
32 Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33 Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34 Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35 Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36 Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37 Pemuji 37: Amarah Prabu
38 Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39 Pemuji 39: Menyergap Joko
40 Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41 Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42 Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43 Pemuji 43: Nyai Bale
44 Pemuji 44: Gusti Raja
45 Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46 Pemuji 46: Kehilangan
47 Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48 Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49 Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50 Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51 Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52 Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53 Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54 Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55 Pemuji 55: Rayuan Joko
56 Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57 Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58 Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59 Pemuji 59: Putri Mahapatih
60 Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61 Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62 Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63 Pemuji 63: Nyaris Gila
64 Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65 Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66 Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67 Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68 Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69 Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70 Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71 Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72 Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73 Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74 Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75 Pemuji 75: Isi Perjanjian
76 Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77 Pemuji 77: Serangan Hantu
78 Pemuji 78: Anak Halus
79 Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80 Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81 Pemuji 81: Rencana Serangan
82 Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83 Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84 Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85 Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86 Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87 Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88 Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89 Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90 Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91 Pemuji 91: Perang
92 Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93 Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94 Pengumuman Duka
95 Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96 Pemuji 95: Pertarungan Langit
97 Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98 Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99 Pengumuman Sanggana7
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Pemuji 1: Tamu Lancang
2
Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3
Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4
Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5
Pemuji 5: Joko Tenang
6
Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7
Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8
Pemuji 8: Tamu Agung
9
Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10
Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11
Pemuji 11: Mencari Joko
12
Pemuji 12: Obrolan Rujak
13
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14
Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15
Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16
Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17
Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18
Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19
Pemuji 19: Bertemu Lagi
20
Pemuji 20: Muara Jerit
21
Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22
Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23
Pemuji 23: Pertolongan Joko
24
Pemuji 24: Mengobati Putri
25
Pemuji 25: Target Lain
26
Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27
Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28
Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29
Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31
Pemuji 31: Pisah dan Janji
32
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34
Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37
Pemuji 37: Amarah Prabu
38
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39
Pemuji 39: Menyergap Joko
40
Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41
Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42
Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43
Pemuji 43: Nyai Bale
44
Pemuji 44: Gusti Raja
45
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46
Pemuji 46: Kehilangan
47
Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50
Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51
Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53
Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54
Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55
Pemuji 55: Rayuan Joko
56
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57
Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59
Pemuji 59: Putri Mahapatih
60
Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61
Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62
Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63
Pemuji 63: Nyaris Gila
64
Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68
Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69
Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73
Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74
Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75
Pemuji 75: Isi Perjanjian
76
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77
Pemuji 77: Serangan Hantu
78
Pemuji 78: Anak Halus
79
Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80
Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81
Pemuji 81: Rencana Serangan
82
Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83
Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84
Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85
Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87
Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90
Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91
Pemuji 91: Perang
92
Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93
Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94
Pengumuman Duka
95
Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96
Pemuji 95: Pertarungan Langit
97
Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98
Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99
Pengumuman Sanggana7

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!