*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Satu rombongan besar pasukan berkuda berseragam kuning-hitam mengawal sebuah kereta kuda megah warna kuning emas keemas-emasan. Biliknya tergolong besar, lebih besar dari bilik kereta kuda ukuran normal. Kereta itu ditarik oleh empat ekor kuda yang berpakaian warna kuning.
Jumlah kuda pasukan berseragam kuning hitam sebanyak lima puluh ekor, ditambah sepuluh kuda yang ditunggangi oleh orang-orang berperawakan pendekar, dan ditambah sepuluh kuda yang ditunggangi oleh wanita berseragam kuning tapi model pelayan.
Ada satu kuda berpelana bagus yang ditunggangi oleh seoarang lelaki gagah berusia setengah abad lebih dua tahun. Dia bertubuh tinggi besar dan berotot kekar. Otot itu terjiplak jelas pada pakaian warna biru terangnya. Dia memelihara kumis yang cukup tebal. Dia mengenakan topi kuluk kanigara di kepalanya yang juga berwarna biru terang dengan garis emas. Lelaki gagah itu adalah Mahapatih Batik Mida yang memiliki julukan kependekaran Panglima Dada Perkasa.
Dia datang sebagai Mahapatih Kerajaan Sanggana Kecil yang diutus ke Kerajaan Balilitan, kerajaan yang diratui oleh salah satu istri Prabu Dira. Sang mahapatih hanya didampingi oleh istrinya yang tercinta dan tercantik baginya. Istrinya yang bernama baku Dewi Bayang Kematian, kini berada di dalam bilik kereta kuda bersama Ratu Lembayung Mekar.
Pasukan berkuda berseragam kuning-hitam merupakan pasukan Kerajaan Balilitan, sedangkan sepuluh pendekar berkuda adalah Pasukan Pengawal Bunga.
Ratu Lembayung Mekar bukanlah bagian dari Delapan Dewi Bunga. Namun meski demikian, dia juga mendapat sepuluh pendekar dari Pasukan Pengawal Bunga, sama dengan hak istri-istri Prabu Dira lainnya. Pasukan Pengawal Bunga adalah pasukan pendekar level tertinggi yang dimiliki Kerajaan Sanggana Kecil.
Sementara sepuluh wanita berseragam kuning adalah kesepuluh pelayan pribadi Ratu Lembayung Mekar.
Rombongan itu berlalu di jalan utama ibu kota Digdaya menuju ke gerbang utama Istana Pasir Langit. Mereka pun menjadi pusat perhatian warga Ibu Kota dan para pendekar yang ada di kota tersebut.
Salah satu orang yang memerhatikan rombongan itu adalah Joko Tenang. Meski itu adalah rombongan istri dan pejabatnya, tapi Joko Tenang tidak pergi menghampiri. Dia hanya memandangi mereka berlalu.
Joko Tenang tidak bersembunyi, sehingga dia sempat dilirik oleh mahapatihnya. Demikian pula para pendekar Pasukan Pengawal Bunga. Namun, baik Mahapatih Batik Mida dan para pendekar, mereka tidak sedikit pun memberi kode kepada Joko Tenang, seolah-olah semuanya tidak mengenali penyamaran rajanya.
Ratu Lembayung Mekar yang ada di dalam bilik kereta pun tidak diberi tahu tentang keberadaan suaminya.
Setelah melalui jalanan Ibu Kota yang diapit deretan rumah-rumah panggung berkaki pendek tapi tertata rapi, akhirnya rombongan itu tiba di Gerbang Pemuja Langit, gerbang utama dari benteng kayu besar yang mengelilingi wilayah Istana.
Di Gerbang Pemuja Langit, rombongan Ratu Lembayung Mekar disambut oleh pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Panglima Istana Banta Ufuk.
Setelah Mahapatih Batik Mida memperkenalkan diri, rombongannya lalu dikawal masuk ke Istana dengan pasukan yang berjumlah dua kali lipat dari jumlah rombongan sang ratu.
Bangunan Istana Pasir Langit berdiri megah yang terbuat dari unsur batu dan kayu, tapi sepi dari unsur tanaman hijau. Ada dua batu karang yang menjulang di depan tangga utama menuju bangunan utama Istana yang identik warna cokelat dan atap warna merah gelap. Cat warna putih di sejumlah sisi bangunan memperindah warna Istana.
Rombongan Ratu Lembayung Mekar disambut oleh irama gamelan yang dimainkn di atas tangga utama. Di tangga yang lebar dan terdiri dua puluh lima anak tangga, ramai sejumlah pejabat sudah berdiri menunggu. Mereka berpakaian serba mewah demi menyambut seorang tamu agung dari Kerajaan Balilitan.
Di depan tangga utama ada pelataran, tempat sepuluh penari wanita cantik sedang menari.
Rombongan yang menjadi sangat besar itu berhenti tidak jauh di depan para penari.
Ketika rombongan berhenti, seorang pendekar wanita yang menyandang busur dari Pasukan Pengawal Dewi segera turun dari kudanya. Wanita bernama Tengari Sampi itu berlari ke sisi kanan bilik kereta dan berlutut satu kaki tepat di depan pintu yang hanya bertirai warna emas.
Tirai itu kemudian disibak dari dalam oleh satu tangan wanita yang halus dan cantik dengan cincin-cincin emas dan kuku-kuku berwarna emas. Selanjutnya menyembullah sesosok wanita berbusana warna kuning dan dilapisi jubah warna emas. Begitu berkilau dengan tiara di kepala dan berbagai perhiasan emas permata. Wanita bak toko emas itu sudah berusia separuh abad lebih lima tahun, tetapi make-up membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih muda. Bedak tebal cukup menutupi keriput di wajah plus pesona gincu merah yang terang.
Inilah penampakan Ratu Lembayung Mekar, istri Prabu Dira. Dia turun dengan memegang satu tangan Tengari Sampi dan menginjak paha pengawalnya sebagai tangga untuk turun.
Adapun di sisi kiri kereta, Mahapatih Batik Mida juga segera turun dari kudanya dan berlutut satu kaki pula di depan pintu kiri bilik kereta. Tirai pintu kiri disibak pula oleh seorang wanita cantik berpakaian hijau muda dan berjubah biru terang, serasi dengan pakaian Mahapatih. Jubahnya berhias sulaman-sulaman benang putih yang bagus. Sosok wanita yang jauh lebih muda dari sang ratu itu juga gemerlap oleh asesoris emas dan perak. Nilai plusnya, dia memiliki ukuran dada yang jumbo tapi tertutup rapi, sangat cocok jika itu memang jatah sang mahapati.
Wanita yang rambut panjangnya terurai sepunggung itu tidak lain adalah istri Mahapatih Batik Mida, yaitu Dewi Bayang Kematian. Dialah satu-satunya wanita yang selalu Prabu Dira coba hindari dengan dalih demi kenyamanan.
Tindakannya yang melayani sang istri, membuat Mahapatih Batik Mida jadi pusat perhatian kedua pasukan. Namun, sebagai seorang mahapatih, Batik Mida tidak risih sedikit pun. Itu adalah salah satu wujud bukti cinta sang mahapatih kepada istrinya yang sangat spesial.
Sama seperti ketika Ratu Lembayung Mekar turun, Dewi Bayang Kematian juga turun dengan menginjak paha dan berpegangan pada tangan besar suaminya.
Kemunculan Ratu Lembayung Mekar segera disongsong oleh Mahapatih Kerajaan Pasir Langit yang bernama Olo Kadita. Lelaki gemuk berusia separuh abad lebih dua belas tahun itu bersama istrinya.
“Terimalah sembah hormat kami, Gusti Ratu,” ucap Mahapatih Olo Kadita dengan senyum ramah. Ia dan istrinya lalu menjura hormat kepada sang ratu.
“Bangkitlah, Mahapatih,” ucap Ratu Lembayung.
Mahapatih dan istrinya kembali tegak berdiri.
“Perkenalkan, ini adalah Mahapatih Batik Mida dan istrinya Dewi Bayang Kematian,” kata Ratu Lembayung memperkenalkan pejabat yang bersamanya, membuat mata mahapatih tuan rumah melebar karena terkejut.
Mahapatih Batik Mida dan istrinya pun menjura hormat kepada mahapatih kerajaan tuan rumah. Dia terkejut mendengar jabatan Batik Mida dan dia terkejut pula mendengar nama Dewi Bayang Kematian yang agak menyeramkan.
“Apa yang terjadi dengan Mahapatih Tarik Sewu, Gusti?” tanya Mahapatih Olo Kadita kepada sang ratu. Sebab, setahu dia, mahapatih Kerajaan Balilitan adalah Tarik Sewu.
“Mahapatih Batik Mida ini adalah Mahapatih Kerajaan Sanggana Kecil, kerajaan suamiku,” jelas Ratu Lembayung.
“Ooh. Oh ya, selamat datang di Istana Pasir Langit!” ucap Mahapatih Olo Kadita dengan bangga sambil agak merentangkan kedua tangannya. “Silakan, Gusti Ratu, Gusti Prabu Galang Digdaya sudah menunggu di atas.”
Ratu Lembayung mengangguk, lalu berjalan. Dewi Bayang Kematian berjalan di antara posisi Ratu Lembayung dan suaminya. Sementara Mahapati Olo Kadita dan istrinya mengiringi di sisi kiri Ratu Lembayung.
Adapun yang ikut di belakang adalah Panglima Istana Banta Ufuk, empat pendekar dari Pengawal Dewi Bunga, termasuk Tengari Sampi, serta kesepuluh dayang milik Ratu Lembayung Mekar. Mereka ikut dengan berjalan kaki pula, tidak dengan berkuda.
Rombongan yang dipandu oleh Mahapatih Olo Kadita itu lewat di sisi para penari yang menari dengan senyum selalu mekar.
Mereka kemudian menaiki tangga Istana. Sementara di atas sana sudah menunggu seorang lelaki bermahkota bersama dengan para pejabatnya yang lain. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
aku salut sama Joko tenang ternyata dia orangnya juga benar" tenang 🤭
2023-08-30
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
weihh pasukan kuning nih⭐
2023-08-21
2
ᴄᷤʜͦɪͮᴄͥʜͣɪᷡᴋͣ
ternyata oh ternyata Joko tenang itu adalah sebenarnya raja istrinya Dewi bunga benar nggak sih
2023-08-16
2