Catatan Author: Bab 11 ini sesungguhnya adalah bab 8, setelah peristiwa di rumah makan dan sebelum kedatangan rombongan Ratu Lembayung Mekar. Karena mungkin faktor U atau faktor lagi kasmaran, Author lupa memasukkan bab ini. Para readers semoga bisa memakluminya. Mohon maaf dan terima kasih.
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Trio emak-emak berpisah dengan Joko Tenang dalam perasaan yang membawa bahagia, seperti rasa bahagia ketika awal-awal mengenal cinta. Rasa itu tetap hadir meski mereka sadar diri, yakni sadar diri bahwa Joko Tenang tidak mungkin jatuh hati kepada mereka yang hanya sekumpulan emak-emak kaleng kosong.
Namun, perpisahan hari itu hanyalah sementara karena Joko Tenang perlu istirahat, bukan perlu istri lagi.
Joko Tenang bersedia menginap di sebuah rumah kosong milik Nangita. Sebuah rumah kayu kecil dan sederhana model panggung kaki pendek, yang di bawahnya ada kolam ikan. Rumah kecil itu memang biasa disewakan, tetapi saat itu sedang kosong. Nangita memiliki tiga rumah inap yang posisinya mengurung posisi rumah Nangita yang cukup besar. Rumah yang diinapi Joko Tenang posisinya berseberangan jalan dengan depan rumah Nangita.
Saking senangnya Nangita karena Joko Tenang menginap di penginapannya, sampai-sampai dia beberapa kali bolak balik datang menemui Joko, demi memastikan bahwa apa yang disediakan oleh pelayannya sudah tersedia semua. Joko Tenang hanya bisa memaklumi kegenitan emak yang satu itu.
Lalu bagaimana nasib Dawaru dan ketiga rekannya yang disiksa dengan kebahagiaan oleh Joko Tenang? Jangan dijawab!
Keempat lelaki yang meragukan jenis dan gender Joko Tenang itu, ditinggalkan dalam kondisi tertawa-tawa terus, sampai-sampai mereka minta tolong kepada siapa saja agar bisa diberhentikan tertawa. Namun, tidak ada seorang pun pendekar yang merasa bisa menghentikan mereka tertawa, kecuali dibunuh.
Tidak ada yang mau membunuh mereka. Akhirnya, pemilik rumah makan hanya meminta pelayan lelakinya untuk memindahkan mereka agak jauh keluar agar tidak mengganggu selera makan pelanggan.
Dulu, ketika Joko Tenang tidak terlalu sakti, selain mati, hanya ada satu cara untuk membuat korban Cubitan Seribu Geli berhenti tertawa, yaitu oleh Joko Tenang sendiri. Cubitan dari ilmu itu sendiri sebenarnya jenis totokan di satu titik atau lebih, yang mengunci syaraf geli korban tanpa bisa kembali lagi, kecuali jika dibebaskan oleh Joko Tenang sendiri.
Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kesaktian Joko Tenang semakin “gila sih”. Dia bisa meningkatkan beberapa kesaktiannya menjadi lebih hebat. Permaisuri Nara menjadi guru pribadinya dalam hal ini. Tidak perlu bayar, cukup diberi “mantap-mantap” sebagai imbalan.
Salah satu ilmu yang bisa Joko Tenang kembangkan adalah Cubitan Seribu Geli ini. Dia kini bisa menyetel durasi ketahanan totokannya pada korban, sehingga korban memiliki durasi tawa sampai waktu tertentu. Jika Joko Tenang berniat sekedar memberi lawan pelajaran dengan Cubitan Seribu Geli, dia tidak perlu buang-buang waktu menungguinya atau membebaskan totokannya, karena nantinya totokan itu akan lepas sendiri.
Terbukti, tidak lama setelah Dawaru dan ketiga rekannya dibuang, rasa geli mereka mendadak hilang. Namun, mereka harus menderita kram otot pada wajah dan perut. Jadi, wajah mereka selalu mengembang meski sudah tidak tertawa. Namun, itu hanya sementara.
Ulah Joko Tenang di rumah makan itu seketika membuatnya jadi buah bibir semerah bibirnya. Sosok Joko Tenang yang tampannya selangit dan kesaktiannya yang unik pun jadi trending topik di ibu kota Digdaya. Berita dan ceritanya bahkan menyusup masuk hingga ke kalangan Istana.
Salah satu buntut dari kejadian di rumah makan itu adalah peristiwa sore ini.
“Nangita, keluar kau!”
Joko Tenang yang sedang beristirahat tapi tidak tidur, hanya rebahan di ranjang kayu sambil memikirkan rencana-rencananya, tiba-tiba mendengar seorang lelaki berteriak memanggil wanita pemilik penginapan.
Joko Tenang pun mengintip lewat jendela kamar. Cara mengintipnya pun biasa saja, bukan gaya mengintip perempuan mandi.
Joko Tenang melihat ada sejumlah lelaki berseragam prajurit warna cokelat dan kuning sedang berdiri di halaman rumah Nangita. Para prajurit itu bersenjatakan tombak. Ada satu orang lelaki berkuda sendiri dan bertelanjang dada, padahal tipe badannya kurus tanpa memiliki otot yang begitu menonjol.
Di luar halaman, tepatnya di pinggir jalan, ada berdiri Dawaru dan ketiga rekannya yang kondisinya sudah normal kembali. Mereka memandang ke dalam.
Melihat orang-orang itu, Joko Tenang bisa menduga kuat apa yang telah berlaku.
Panggilan lelaki berkuda berhasil memaksa Nangita keluar dari rumahnya dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Namun, ketika melihat keberadaan Dawaru dan rekan-rekannya di luar pagar halaman, Nangita pun bisa menduga apa yang terjadi. Rupanya Dawaru melapor kepada lelaki berkuda.
Nangita sendiri keluar bersama tiga orang pelayan lelakinya.
“Ada apa, Gusti Brabean?” tanya Nangita dengan wajah yang tidak ramah, karena sudah menduga akan mendapat susah dari Wakil Kepala Keamanan Ibu Kota yang bernama Brabean.
“Mana lelaki berbibir merah yang membuat kekacauan di rumah makan?” tanya Brabean.
“Apakah kau mencariku, Prajurit?” tanya Joko Tenang sambil keluar dari dalam rumah Nangita.
Terkejut Nangita dan ketiga pelayannya melihat kemunculan Joko Tenang. Kok munculnya dari dalam rumah? “Jangan-jangan Nyai Nangita dengan Joko Tenang sedang anu-anu tanpa sepengetahuan mereka.” Itu dugaan ketiga pelayan Nangita kepada majikan perempuannya.
“Kisanak, sebutkan namamu!” perintah Brabean selaku orang yang punya otoritas dalam hal keamanan di kota itu.
“Namaku Joko Tenang,” jawab Joko Tenang sembari tersenyum.
Sekedar bocoran hati. Melihat perawakan Joko Tenang yang jauh lebih gagah, ditambah cerita kejadian di rumah makan, sebenarnya Brabean gentar di dalam hati. Apalagi yang dihadapinya ini adalah seorang pendekar yang bisa membuat “tertawa”. Namun, demi menjaga kehormatan sebagai perwira, apalagi sudah mendapat uang sirih, dia harus tampil berani. Untumg dia pernah ikut diklat lakon drama di Sanggar Angin Ribut waktu remaja, sebelum gabung di kemiliteran Kerajaan Pasir Langit. Jadi dia bisa menutupi rasa gentarnya dengan gaya galak dan tegas.
“Aku Brabean, Wakil Kepala Keamanan Ibu Kota. Kau telah dilaporkan membuat keributan di rumah makan dan melukai empat warga Ibu Kota. Kau harus ikut kami untuk diperiksa!” tandas Brabean.
Joko Tenang beralih memandang ke depan pagar halaman. Dawaru dan ketiga rekannya kompak cepat berbalik, berpura-pura menjadi turis yang sedang mengagumi rumah kecil yang disewa Joko.
“Bagaimana jika aku tunjukkan dulu kepada Gusti Prajurit apa yang telah aku perbuat kepada keempat korbanku, agar nantinya Gusti Prajurit bisa dengan mudah menilai, aku membuat kekacauan atau aku yang diusik?” ujar Joko Tenang.
Terbeliak Brabean mendengar pengajuan proposal lisan itu. Jelas dia tidak mau bernasib seperti Dawaru cs. Pasalnya, Brabean tidak lebih hebat dari mereka. Brabean hanya memiliki kelebih dari sisi jumlah orang karena punya pasukan.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya satu suara yang berasal dari depan pagar halaman.
Joko Tenang, Nangita dan yang lainnya segera menengok memandang ke depan pagar halaman. Terlihat Subini dan Rinda datang bersama seorang pemuda gagah yang usianya lima tahun lebih muda dari Joko Tenang.
Pemuda itulah yang bertanya kepada Dawaru dan ketiga rekannya.
“Tidak melakukan apa-apa, Gusti,” jawab Dawaru sembari tersenyum nyengir dan merunduk-runduk merendahkan diri.
“Kami permisi, Gusti,” ucap Jiping bersikap hormat kepada pemuda berwajah tegas itu. Padahal dia jauh lebih tua.
Jiping segera menarik tangan Dawaru untuk pergi dari tempat itu, menyusul Enggang dan Kuring yang sudah ngacir lebih dulu.
Pemuda berpakaian bagus warna merah itu menyandang pedang bagus di tangan kirinya. Kepalanya diikat dan ditutupi sebagian dengan kain sutera warna merah pula. Si pemuda bernama Ronda Galo, adik dari dari Rinda. Dia berstatus sebagai pengawal pribadi Menteri Keuangan Badaragi.
Terkejut Brabean melihat kedatangan Ronda Galo, di saat Nangita dan ketiga pelayannya tersenyum.
“Apes betul nasibku sore ini,” batin Brabean dengan jantung berdebar. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
asta guna
anjay ... sama emak2 usia seabad jg Ayuk aja nih si perempuan berjakun
2024-06-25
1
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
emang apes kamu Brabean makanya jangan sok" an 🤭...yang mantap" itu apa Thor 🤔
2023-09-02
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
bunga mekar untuk othor lagi🌹🌺
2023-08-22
2