*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Digdaya adalah nama ibu kota Kerajaan Pasir Langit. Jika Reksa Dipa dan keempat rekannya diutus ke Pantai Segadis, maka Prabu Dira Pratakarsa Diwana mengutus dirinya sendiri langsung ke jantung Kerajaan Pasir Langit, yaitu ke Ibu Kota, sangat dekat ke Istana Pasir Langit.
Setelah kembali dari menjenguk istri dan putranya di Negeri Pulau Kabut, Prabu Dira langsung menuju ke Kerajaan Balilitan untuk bermalam satu malam bersama istrinya, Ratu Lembayung Mekar. Dengan menunggangi sang rajawali raksasa dari Alam Kahyangan, Prabu Dira bisa dengan singkat waktu pergi dari satu negeri ke negeri lain.
Usai memberi nafkah batin dan arahan tentang tugas berkunjung ke Kerajaan Pasir Langit kepada sang ratu, Prabu Dira lalu terbang ke ibu kota Digdaya, yang nama kotanya diambil dari nama Raja Kerajaan Pasir Langit, yakni Prabu Galang Digdaya. Tentunya Prabu Dira tidak turun langsung di kota, tetapi turun di tempat yang jauh dari manusia.
Dalam misinya, Prabu Dira tidak mengajak salah satu istrinya atau pengawalnya. Dia pun tidak mengajak Riskaya, calon selirnya. Murni Prabu Dira bersolo misi.
Dalam misinya kali ini, Prabu Dira tidak tampil sebagai seorang bangsawan apalagi sebagai seorang raja, tetapi sebagai seorang pendekar yang bernama Joko Tenang.
Joko Tenang tetap tampil dengan Rompi Api Emas yang berwarna merah terang, melapisi baju putihnya. Joko mengenakan celana putih juga, berkain kebat hitam dan bersabuk hitam. Rambut lurus panjangnya diikat sederhana dengan pita ikatan rambut warna merah. Baju pada bagian dadanya sedikit dibuka guna pamer kegagahannya agar tidak disangka perempuan yang menyamar sebagai lelaki.
Joko Tenang datang dengan berkuda memasuki ibu kota Digdaya. Sangat jauh berbeda dengan ibu kota Kerajaan Sanggana Kecil. Di Digdaya, permukiman dan tempat-tempat usaha nyaris seratus persen berunsur kayu dan bermodel panggung pendek. Biasanya kolong rumah dijadikan tempat ternak ikan, bukan ayam. Namanya juga kerajaan pesisir yang sangat akrab dengan hewan air.
Pokoknya urusan kuliner makanan laut yang bahasa kampungnya seafood, Kerajaan Pasir Langit topnya. Di kerajaan ini, makanan darat seperti congor sapi bakar, iga kerbau lurus, atau ayam penyet asam tidak populer, meski menu itu juga tersedia.
Sebagai orang yang baru pertama datang ke kota itu, atau sebagai turis, tempat yang mudah untuk didatangi oleh Joko Tenang adalah rumah makan. Meski di Sanggana Kecil ada Telaga Fatara penghasil ikan-ikan besar, tetapi Joko ingin juga merasakan kelezatan ikan air asin.
Ibu kota itu ramai, terutama di pusat kotanya yang juga menjadi pusat perekonomian. Joko Tenang lebih dulu melihat-lihat suasana, hingga akhirnya dia memilih sebuah rumah makan besar yang ramai pengunjung. Memang hari menunjukkan waktu biasa orang merasa lapar, yaitu siang hari.
Dia turun di depan rumah makan dan menambatkan kudanya tidak jauh dari beberapa kuda lain milik pengunjung.
Saat memasuki pintu utama rumah makan, Joko Tenang berhenti sejenak. Dia melihat suasana. Pada saat itu juga, dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang kebetulan arah pandangannya ke posisi pintu.
Senjumlah pengunjung perempuan yang sudah bertempat di rumah makan itu, jadi heboh tapi senyap melihat ketampanan Joko Tenang. Mereka saling colek dan main alis kepada sesama teman.
Joko Tenang sendiri tidak peduli dengan sikap beberapa wanita yang bergelagat genit. Dia hanya mencari tempat yang kosong untuk bisa makan. Rumah makan besar itu penuh oleh pengunjung dari berbagai kalangan, bahkan terlihat ada yang makan tanpa meja.
“Selamat datang, Aden Pendekar!” sapa seorang pelayan lelaki segera datang menyambut Joko Tenang.
“Ada tempat yang kosong, Kisanak?” tanya Joko Tenang sembari tersenyum ramah dengan bibir merahnya.
“Mohon maaf, Aden Pendekar. Semua meja penuh, tapi kalau tempat duduk ada yang kosong. Hanya, harus bergabung dengan pengunjung yang lain,” jawab si pelayan dengan mimik menyesal.
“Tidak apa-apa, asalkan mereka tidak keberatan,” kata Joko Tenang.
“Sebentar. Hamba tanyakan lebih dulu, Den,” kata si pelayan.
“Hmm!” gumam Joko Tenang sembari mengangguk.
Pelayan itu segera berbalik dan berjalan cepat di antara punggung-punggung para pelanggan yang asik makan. Joko Tenang sedikit bergeser sambil memerhatikan keramaian di rumah makan, termasuk memastikan posisi dapur, kasir, hingga pintu belakang yang menuju ke toilet. Urusan kakus termasuk perkara yang diperhatikan oleh pemerintah.
Beberapa pelanggan wanita kerap mencuri-curi pandang kepada Joko, termasuk lelaki juga. Selain memang ganteng, bibir merah Joko Tenang menjadi daya tarik yang kuat. Bukan hanya menarik hati, tetapi juga menarik tanda tanya. Lelaki kok pakai gincu?
Tidak pakai L, pelayan tadi kembali datang menemui Joko Tenang.
“Mari, ikut hamba, Aden Pendekar,” ajak si pelayan.
Joko Tenang pun ikut di belakang pelayan. Ketika dia bergerak, banyak mata yang memerhatikan. Tentunya para wanita tidak mau kehilangan sosok yang membuat mata mereka bahagia.
Joko Tenang dibawa ke sebuah meja yang ditempati oleh tiga orang emak-emak, tapi berpenampilan seperti orang kaya. Penilaian itu berdasarkan jenis bahan pakaian dan asesoris emas di kepala, leher dan tangannya.
“Hihihi!” Tertawa ramailah ketiga emak-emak yang berusia kepala empat hingga kepala lima itu, saat melihat kedatangan Joko Tenang yang tersenyum ramah, menebarkan pesona ketampanannya, padahal mereka sedang berjibaku dengan makanan.
Seperti fans kedatangan idol dadakan, riuhlah ketiga emak-emak itu. Heboh. Para pelanggan pun jadi memandangi mereka, tetapi ketiganya tetap enjoy.
“Apakah aku diizinkan ikut makan satu meja dengan kalian, Nyai?” tanya Joko Tenang dengan senyum yang legit.
“Tentuuu!” jawab ketiga emak-emak itu kompak tanpa ada oposisi.
“Terima kasih, Nyai,” ucap Joko Tenang.
Dia lalu duduk di sisi emak-emak yang bermata sipit sebelah, tapi cantik untuk ukuran usia kepala empat ke atas. Namanya Subini.
Sementara dua emak yang duduk di sisi seberang meja bernama Nangita dan Rinda yang bertubuh gemuk.
“Maaf, Aden Pendekar. Mau pesan apa?” tanya si pelayan.
“Yang seperti ini!” Joko menunjuk makanan milik ketiga wanita itu.
“Namanya ikan kipas bakar kuah asam manis,” kata Rinda memberi tahu.
“Iya, itu. Dan yang cumi seperti itu,” kata Joko Tenang, kembali menunjuk.
“Ini cumi istri kepiting. Cumi yang oleh juru masak dibuat mengandung telur kepiting, lalu digoreng dan disiram dengan bumbu lada hitam yang becek. Rasanya nomor satu di rumah makan ini,” kata Nangita agak panjang.
“Dua itu saja dan nasinya. Minumannya teh hangat,” kata Joko Tenang kepada pelayan.
“Teh hangat belimbing wuluh!” seru Rinda cepat. “Itu yang enak, Pendekar Tampan.”
“Yah, itu. Itu saja,” ucap Joko Tenang menerima rekomendasi para wanita itu.
“Hihihi!” tawa ramai ketiganya karena senang usulan mereka diterima oleh orang ganteng.
“Eh, Pendekar Tampan!” panggil Subini sambil menengok penuh ke kanan. “Kau baru pertama datang ke Digdaya?”
“Benar, Nyai. Aku pertama datang ke sini,” jawab Joko yang memang tidak bisa menyangkal. “Aku ada janji dengan temanku di sini. Mungkin aku akan tinggal beberapa hari.”
“Perkenalkan, namaku Subini. Ini Nangita, dan ini Rinda,” kata Subini sekalian memperkenalkan kedua rekannya yang tersenyum lebar.
“Namamu siapa, Pendekar?” tanya Nangita.
“Namaku Joko Tenang, Nyai,” jawab Joko yang selalu tersenyum juga, mengimbangi kegembiraan tiga emak-emak itu.
“Joko, kau pasti berkesaktian tinggi,” terka Rinda.
“Hahaha! Tidak juga, Nyai. Kesaktianku hanya secukupnya saja, cukup untuk bisa bertahan hidup,” kata Joko yang didahului dengan tawa pendeknya.
“Terlihat dari aura dan pembawaanmu, Joko,” kata Subini.
“Silakan dilanjutkan makannya, Nyai. Khawatir nanti tidak habis,” kata Joko.
“Aku sudah terlanjur kenyang karena melihat ketampananmu, Joko. Hihihi!” kata Nangita genit, tapi kemudian dia tetap melanjutkan makannya.
Mereka hanya saling tertawa. Mereka jadi pelanggan yang paling ramai karena sering tertawa cekikikan. Bukan Joko yang tertawa cekikikan, tetapi ketiga emak-emak itu. Joko hanya melengkapi. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Sena judifa
muara cinta kita mampir
2023-10-23
0
Sena judifa
memang pake gincukah om rudi?
2023-10-23
0
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʀͩᴏᷞsͧᴍᷠiͣa✰͜͡v᭄HIAT
wah si joko di giring 1 meja sm emak² rempong.. ini anugrah apa musibah ya buat joko🤭
2023-09-28
1