Pemuji 5: Joko Tenang

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

 

Digdaya adalah nama ibu kota Kerajaan Pasir Langit. Jika Reksa Dipa dan keempat rekannya diutus ke Pantai Segadis, maka Prabu Dira Pratakarsa Diwana mengutus dirinya sendiri langsung ke jantung Kerajaan Pasir Langit, yaitu ke Ibu Kota, sangat dekat ke Istana Pasir Langit.

Setelah kembali dari menjenguk istri dan putranya di Negeri Pulau Kabut, Prabu Dira langsung menuju ke Kerajaan Balilitan untuk bermalam satu malam bersama istrinya, Ratu Lembayung Mekar. Dengan menunggangi sang rajawali raksasa dari Alam Kahyangan, Prabu Dira bisa dengan singkat waktu pergi dari satu negeri ke negeri lain.

Usai memberi nafkah batin dan arahan tentang tugas berkunjung ke Kerajaan Pasir Langit kepada sang ratu, Prabu Dira lalu terbang ke ibu kota Digdaya, yang nama kotanya diambil dari nama Raja Kerajaan Pasir Langit, yakni Prabu Galang Digdaya. Tentunya Prabu Dira tidak turun langsung di kota, tetapi turun di tempat yang jauh dari manusia.

Dalam misinya, Prabu Dira tidak mengajak salah satu istrinya atau pengawalnya. Dia pun tidak mengajak Riskaya, calon selirnya. Murni Prabu Dira bersolo misi.

Dalam misinya kali ini, Prabu Dira tidak tampil sebagai seorang bangsawan apalagi sebagai seorang raja, tetapi sebagai seorang pendekar yang bernama Joko Tenang.

Joko Tenang tetap tampil dengan Rompi Api Emas yang berwarna merah terang, melapisi baju putihnya. Joko mengenakan celana putih juga, berkain kebat hitam dan bersabuk hitam. Rambut lurus panjangnya diikat sederhana dengan pita ikatan rambut warna merah. Baju pada bagian dadanya sedikit dibuka guna pamer kegagahannya agar tidak disangka perempuan yang menyamar sebagai lelaki.

Joko Tenang datang dengan berkuda memasuki ibu kota Digdaya. Sangat jauh berbeda dengan ibu kota Kerajaan Sanggana Kecil. Di Digdaya, permukiman dan tempat-tempat usaha nyaris seratus persen berunsur kayu dan bermodel panggung pendek. Biasanya kolong rumah dijadikan tempat ternak ikan, bukan ayam. Namanya juga kerajaan pesisir yang sangat akrab dengan hewan air.

Pokoknya urusan kuliner makanan laut yang bahasa kampungnya seafood, Kerajaan Pasir Langit topnya. Di kerajaan ini, makanan darat seperti congor sapi bakar, iga kerbau lurus, atau ayam penyet asam tidak populer, meski menu itu juga tersedia.

Sebagai orang yang baru pertama datang ke kota itu, atau sebagai turis, tempat yang mudah untuk didatangi oleh Joko Tenang adalah rumah makan. Meski di Sanggana Kecil ada Telaga Fatara penghasil ikan-ikan besar, tetapi Joko ingin juga merasakan kelezatan ikan air asin.

Ibu kota itu ramai, terutama di pusat kotanya yang juga menjadi pusat perekonomian. Joko Tenang lebih dulu melihat-lihat suasana, hingga akhirnya dia memilih sebuah rumah makan besar yang ramai pengunjung. Memang hari menunjukkan waktu biasa orang merasa lapar, yaitu siang hari.

Dia turun di depan rumah makan dan menambatkan kudanya tidak jauh dari beberapa kuda lain milik pengunjung.

Saat memasuki pintu utama rumah makan, Joko Tenang berhenti sejenak. Dia melihat suasana. Pada saat itu juga, dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang kebetulan arah pandangannya ke posisi pintu.

Senjumlah pengunjung perempuan yang sudah bertempat di rumah makan itu, jadi heboh tapi senyap melihat ketampanan Joko Tenang. Mereka saling colek dan main alis kepada sesama teman.

Joko Tenang sendiri tidak peduli dengan sikap beberapa wanita yang bergelagat genit. Dia hanya mencari tempat yang kosong untuk bisa makan. Rumah makan besar itu penuh oleh pengunjung dari berbagai kalangan, bahkan terlihat ada yang makan tanpa meja.

“Selamat datang, Aden Pendekar!” sapa seorang pelayan lelaki segera datang menyambut Joko Tenang.

“Ada tempat yang kosong, Kisanak?” tanya Joko Tenang sembari tersenyum ramah dengan bibir merahnya.

“Mohon maaf, Aden Pendekar. Semua meja penuh, tapi kalau tempat duduk ada yang kosong. Hanya, harus bergabung dengan pengunjung yang lain,” jawab si pelayan dengan mimik menyesal.

“Tidak apa-apa, asalkan mereka tidak keberatan,” kata Joko Tenang.

“Sebentar. Hamba tanyakan lebih dulu, Den,” kata si pelayan.

“Hmm!” gumam Joko Tenang sembari mengangguk.

Pelayan itu segera berbalik dan berjalan cepat di antara punggung-punggung para pelanggan yang asik makan. Joko Tenang sedikit bergeser sambil memerhatikan keramaian di rumah makan, termasuk memastikan posisi dapur, kasir, hingga pintu belakang yang menuju ke toilet. Urusan kakus termasuk perkara yang diperhatikan oleh pemerintah.

Beberapa pelanggan wanita kerap mencuri-curi pandang kepada Joko, termasuk lelaki juga. Selain memang ganteng, bibir merah Joko Tenang menjadi daya tarik yang kuat. Bukan hanya menarik hati, tetapi juga menarik tanda tanya. Lelaki kok pakai gincu?

Tidak pakai L, pelayan tadi kembali datang menemui Joko Tenang.

“Mari, ikut hamba, Aden Pendekar,” ajak si pelayan.

Joko Tenang pun ikut di belakang pelayan. Ketika dia bergerak, banyak mata yang memerhatikan. Tentunya para wanita tidak mau kehilangan sosok yang membuat mata mereka bahagia.

Joko Tenang dibawa ke sebuah meja yang ditempati oleh tiga orang emak-emak, tapi berpenampilan seperti orang kaya. Penilaian itu berdasarkan jenis bahan pakaian dan asesoris emas di kepala, leher dan tangannya.

“Hihihi!” Tertawa ramailah ketiga emak-emak yang berusia kepala empat hingga kepala lima itu, saat melihat kedatangan Joko Tenang yang tersenyum ramah, menebarkan pesona ketampanannya, padahal mereka sedang berjibaku dengan makanan.

Seperti fans kedatangan idol dadakan, riuhlah ketiga emak-emak itu. Heboh. Para pelanggan pun jadi memandangi mereka, tetapi ketiganya tetap enjoy.

“Apakah aku diizinkan ikut makan satu meja dengan kalian, Nyai?” tanya Joko Tenang dengan senyum yang legit.

“Tentuuu!” jawab ketiga emak-emak itu kompak tanpa ada oposisi.

“Terima kasih, Nyai,” ucap Joko Tenang.

Dia lalu duduk di sisi emak-emak yang bermata sipit sebelah, tapi cantik untuk ukuran usia kepala empat ke atas. Namanya Subini.

Sementara dua emak yang duduk di sisi seberang meja bernama Nangita dan Rinda yang bertubuh gemuk.

“Maaf, Aden Pendekar. Mau pesan apa?” tanya si pelayan.

“Yang seperti ini!” Joko menunjuk makanan milik ketiga wanita itu.

“Namanya ikan kipas bakar kuah asam manis,” kata Rinda memberi tahu.

“Iya, itu. Dan yang cumi seperti itu,” kata Joko Tenang, kembali menunjuk.

“Ini cumi istri kepiting. Cumi yang oleh juru masak dibuat mengandung telur kepiting, lalu digoreng dan disiram dengan bumbu lada hitam yang becek. Rasanya nomor satu di rumah makan ini,” kata Nangita agak panjang.

“Dua itu saja dan nasinya. Minumannya teh hangat,” kata Joko Tenang kepada pelayan.

“Teh hangat belimbing wuluh!” seru Rinda cepat. “Itu yang enak, Pendekar Tampan.”

“Yah, itu. Itu saja,” ucap Joko Tenang menerima rekomendasi para wanita itu.

“Hihihi!” tawa ramai ketiganya karena senang usulan mereka diterima oleh orang ganteng.

“Eh, Pendekar Tampan!” panggil Subini sambil menengok penuh ke kanan. “Kau baru pertama datang ke Digdaya?”

“Benar, Nyai. Aku pertama datang ke sini,” jawab Joko yang memang tidak bisa menyangkal. “Aku ada janji dengan temanku di sini. Mungkin aku akan tinggal beberapa hari.”

“Perkenalkan, namaku Subini. Ini Nangita, dan ini Rinda,” kata Subini sekalian memperkenalkan kedua rekannya yang tersenyum lebar.

“Namamu siapa, Pendekar?” tanya Nangita.

“Namaku Joko Tenang, Nyai,” jawab Joko yang selalu tersenyum juga, mengimbangi kegembiraan tiga emak-emak itu.

“Joko, kau pasti berkesaktian tinggi,” terka Rinda.

“Hahaha! Tidak juga, Nyai. Kesaktianku hanya secukupnya saja, cukup untuk bisa bertahan hidup,” kata Joko yang didahului dengan tawa pendeknya.

“Terlihat dari aura dan pembawaanmu, Joko,” kata Subini.

“Silakan dilanjutkan makannya, Nyai. Khawatir nanti tidak habis,” kata Joko.

“Aku sudah terlanjur kenyang karena melihat ketampananmu, Joko. Hihihi!” kata Nangita genit, tapi kemudian dia tetap melanjutkan makannya.

Mereka hanya saling tertawa. Mereka jadi pelanggan yang paling ramai karena sering tertawa cekikikan. Bukan Joko yang tertawa cekikikan, tetapi ketiga emak-emak itu. Joko hanya melengkapi. (RH)

Terpopuler

Comments

Sena judifa

Sena judifa

muara cinta kita mampir

2023-10-23

0

Sena judifa

Sena judifa

memang pake gincukah om rudi?

2023-10-23

0

❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʀͩᴏᷞsͧᴍᷠiͣa✰͜͡v᭄HIAT

❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʀͩᴏᷞsͧᴍᷠiͣa✰͜͡v᭄HIAT

wah si joko di giring 1 meja sm emak² rempong.. ini anugrah apa musibah ya buat joko🤭

2023-09-28

1

lihat semua
Episodes
1 Pemuji 1: Tamu Lancang
2 Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3 Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4 Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5 Pemuji 5: Joko Tenang
6 Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7 Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8 Pemuji 8: Tamu Agung
9 Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10 Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11 Pemuji 11: Mencari Joko
12 Pemuji 12: Obrolan Rujak
13 Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14 Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15 Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16 Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17 Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18 Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19 Pemuji 19: Bertemu Lagi
20 Pemuji 20: Muara Jerit
21 Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22 Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23 Pemuji 23: Pertolongan Joko
24 Pemuji 24: Mengobati Putri
25 Pemuji 25: Target Lain
26 Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27 Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28 Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29 Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30 Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31 Pemuji 31: Pisah dan Janji
32 Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33 Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34 Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35 Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36 Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37 Pemuji 37: Amarah Prabu
38 Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39 Pemuji 39: Menyergap Joko
40 Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41 Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42 Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43 Pemuji 43: Nyai Bale
44 Pemuji 44: Gusti Raja
45 Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46 Pemuji 46: Kehilangan
47 Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48 Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49 Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50 Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51 Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52 Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53 Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54 Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55 Pemuji 55: Rayuan Joko
56 Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57 Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58 Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59 Pemuji 59: Putri Mahapatih
60 Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61 Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62 Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63 Pemuji 63: Nyaris Gila
64 Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65 Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66 Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67 Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68 Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69 Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70 Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71 Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72 Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73 Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74 Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75 Pemuji 75: Isi Perjanjian
76 Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77 Pemuji 77: Serangan Hantu
78 Pemuji 78: Anak Halus
79 Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80 Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81 Pemuji 81: Rencana Serangan
82 Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83 Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84 Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85 Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86 Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87 Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88 Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89 Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90 Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91 Pemuji 91: Perang
92 Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93 Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94 Pengumuman Duka
95 Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96 Pemuji 95: Pertarungan Langit
97 Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98 Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99 Pengumuman Sanggana7
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Pemuji 1: Tamu Lancang
2
Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3
Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4
Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5
Pemuji 5: Joko Tenang
6
Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7
Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8
Pemuji 8: Tamu Agung
9
Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10
Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11
Pemuji 11: Mencari Joko
12
Pemuji 12: Obrolan Rujak
13
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14
Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15
Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16
Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17
Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18
Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19
Pemuji 19: Bertemu Lagi
20
Pemuji 20: Muara Jerit
21
Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22
Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23
Pemuji 23: Pertolongan Joko
24
Pemuji 24: Mengobati Putri
25
Pemuji 25: Target Lain
26
Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27
Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28
Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29
Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31
Pemuji 31: Pisah dan Janji
32
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34
Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37
Pemuji 37: Amarah Prabu
38
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39
Pemuji 39: Menyergap Joko
40
Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41
Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42
Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43
Pemuji 43: Nyai Bale
44
Pemuji 44: Gusti Raja
45
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46
Pemuji 46: Kehilangan
47
Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50
Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51
Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53
Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54
Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55
Pemuji 55: Rayuan Joko
56
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57
Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59
Pemuji 59: Putri Mahapatih
60
Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61
Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62
Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63
Pemuji 63: Nyaris Gila
64
Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68
Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69
Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73
Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74
Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75
Pemuji 75: Isi Perjanjian
76
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77
Pemuji 77: Serangan Hantu
78
Pemuji 78: Anak Halus
79
Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80
Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81
Pemuji 81: Rencana Serangan
82
Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83
Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84
Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85
Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87
Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90
Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91
Pemuji 91: Perang
92
Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93
Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94
Pengumuman Duka
95
Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96
Pemuji 95: Pertarungan Langit
97
Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98
Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99
Pengumuman Sanggana7

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!