*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Lima orang berperawakan pendekar sudah tiba di Pantai Segadis. Mereka menghentikan kuda-kuda tunggangannya di tanah tinggi yang jenis tanahnya sudah termasuk pasir pantai.
Dari atas itu mereka bisa melihat suasana pantai dan keramaiannya. Selain tempat para nelayan menurunkan hasil tangkapan lautnya di beberapa dermaga kayu atau langsung di pasir yang dibelai ombak, pantai itu juga menjadi pusat kuliner laut berhawa sejuk. Agak jauh lebih ke darat, ada sejumlah kedai makanan yang memang bertujuan sebagai tempat makan.
Pantai Segadis memang spot wisata yang paling ternama di wilayah Kerajaan Pasir Langit, terkenal keindahannya dengan hamparan pantai pasir yang memanjang jauh. Selain itu, ada banyak pendekar yang datang karena keberadaan Arena Tarung Pantai, yaitu arena tarung bagi para pendekar yang mau pamer kesaktian atau memang mau cari uang dari pertarungan itu.
Kembali kepada kelima pendekar yang datang dari jauh, yaitu dari Kerajaan Sanggana Kecil. Mereka diutus langsung oleh Prabu Dira Pratakarsa Diwana ke wilayah pantai tersebut.
Orang pertama adalah seorang lelaki gagah dan tampan, seusia Prabu Dira, yakni kepala tiga lebih satu tahun. Kulitnya sawo matang ditutup oleh pakaian biru gelap berlapis jubah hitam tanpa lengan. Pinggang jubanya masuk dalam sabuk hitamnya yang lebar. Rambut gondrongnya diikat sederhana di belakang kepala. Wajahnya dingin dengan sorot mata yang tajam. Dia bernama Reksa Dipa yang berjuluk Pendekar Serat Darah.
Reksa Dipa sebenarnya menjabat sebagai Ketua Pendekar Pengawal Dewi Bunga dan merupakan Pengawal Dewi Bunga Satu, yaitu Ratu Tirana. Dia ditugaskan memimpin keempat rekannya dalam sebuah misi. Adapun tugasnya sebagai Ketua Pendekar Pengawal Dewi Bunga di Kerajaan dilaksanakan oleh wakilnya.
Orang kedua adalah lelaki besar berkulit hitam. Nyaris senada dengan gelap malam warna kulitnya. Jelas dia gampang menarik perhatian, baik sesama jenis atau lawan jenis. Dia berbekal senjata sebuah celurit di punggung dan toya pendek melintang di pinggang kiri. Dia adalah Legam Pora, salah satu Pengawal Bunga dari Permaisuri Kerling Sukma.
Orang ketiga seorang perempuan. Dia satu-satunya perempuan. Pendekar wanita berpakaian kuning itu memiliki tubuh yang sekal dan langsing, meski dia sudah beranak tiga. Sepertinya dia memerhatikan perawatan raganya setelah melahirkan. Ia berkulit hitam manis, semanis parasnya yang dihiasi tahi lalat kecil di atas sudut kiri bibirnya. Gaya rambutnya sudah seperti emak-emak. Ia menyandang sebuah kail bagus. Dia bernama Garis Merak, Komandan Pasukan Penjaga Telaga di Kerajaan Sanggana Kecil. Dia juga berstatus sebagai istri Reksa Dipa.
Lelaki berkuda keempat adalah seorang pemuda berusia kepala empat. Disebut pemuda karena dia masih lajang alias jomblo. Ia terbilang tampan berhidung mancung, meski kulitnya hitam dan tidak semanis Garis Merak. Rambut pendeknya keriting. Pemuda berpakaian merah gelap itu menyandang dua besi panjang berbentuk pengait di punggungnya. Dia adalah Kurna Sagepa, Wakil Komanda Pasukan Penguasa Telaga.
Anggota berkuda yang terakhir seorang lelaki berperut gendut dan berwajah bulat hitam. Rambutnya gondrong berwarna merah. Usianya baru setengah abad minus lima tahun. Ia mengenakan baju cokelat yang cukup longgar. Pada kedua pergelangan tangannya ada melilit senar tebal yang nyaris memenuhi batang tangannya. Pada ujung senar itu, masing-masing ada besi kecil yang menggantung berbentuk kerucut kecil. Itu adalah senjatanya. Dia bernama Swara Sesat, seorang pendekar yang memiliki pendengaran tidak normal. Ia menjabat sebagai Wakil Komandan Pasukan Penguasa Telaga, sama dengan Kurna Sagepa.
Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat tersenyum lebar sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya, seolah-olah sedang menikmati angin sejuk yang mengibarkan rambut, pakaian dan ekor kuda mereka.
“Seperti pulang ke rumah,” kata Garis Merak.
“Ayo kita mandi air asin, Sesat!” ajak Kurna Sagepa sambil menoleh kepada rekan gendutnya itu.
“Tidak, aku tidak bersin,” sangkal Swara Sesat sambil menggeleng kepala.
“Hahaha!” tawa Legam Pora dengan suara yang nge-bass.
Bagi Garis Merak dan Kurna Sagepa tidak heran lagi mendengar Swara Sesat salah menjawab atau membalas perkataan orang, karena mereka tahu bahwa sahabat mereka telinganya memang tersesat.
Reksa Dipa juga sudah terbiasa, terlebih dia jarang berbicara. Berbeda dengan Legam Pora yang jarang bergabung dengan mereka.
Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat adalah seorang anggota bajak laut sebelum bergabung dan mengabdi kepada Prabu Dira. Selama satu dasawarsa di Kerajaan Sanggana menjadi prajurit penjaga telaga, mereka belum pernah ke laut lagi. Maka wajarlah jika ketiganya begitu menikmati suasana pantai dan aroma laut yang kembali mereka rasakan.
Reksa Dipa juga sebenarnya anak laut, tepatnya anak pantai, tapi dia bukan mantan anggota bajak laut. Jika istri dan dua rekannya rindu suasana laut sejak lama, Reksa Dipa rindunya muncul setelah merasakan lagi suasana pantai.
“Legam Pora, kau bisa berenang?” tanya Swara Sesat kepad lelaki hitam.
Mendelik Legam Pora ditanya tentang itu.
“Sembarangan! Kau pikir hanya Penjaga Telaga yang bisa berenang?” sentak Legam Pora sewot.
“Hahaha!” tawa Swara Sesat tiba-tiba. Dia benar-benar tertawa tanpa dibuat-buat atau diadon. “Benar dugaanku. Pantas saja kau tidak pernah aku lihat pergi ke telaga. Buang kue basah pun tidak pernah aku lihat. Hahaha!”
“Hahaha...!” tawa kencang Garis Merak dan Kurna Sagepa mendengar perkataan Swara Sesat. Sementara Reksa Dipa hanya tersenyum.
Menghitam wajah Legam Pora yang memang hitam. Panas hati dan telinganya mendengar perkataan dan tawaan Swara Sesat. Satu tangannya bahkan pergi menggenggam gagang celuritnya, seolah-olah ingin mencabutnya.
“Tenang, Sahabat. Jangan marah seperti itu. Justru aku mau menawarkan mengajarimu berenang di sana,” kata Swara Sesat lalu menunjuk laut.
“Hei! Dengarkan aku, Tuli! Aku bisa berenang. Aku bisa berenang!” teriak Legam Pora kepada Swara Sesat.
“Di sana tidak ada karang. Lihat hamparan pantainya, nyaris tidak ada karang. Jika kau belajar berenang di sana, akan aman. Ini selagi kau bersamaku, perenang handal di tiga air. Air telaga, air sungai, dan air lautan,” cerocos Swara Sesat.
“Ditambah air hujan, air mata dan air kencing,” celetuk Kurna Sagepa.
“Hahaha!” tawa mereka semua, kecuali Swara Sesat.
“Apanya yang lucu? Kalian meragukan aku bisa mengajar memancing?” tanya Swara Sesat. Lalu katanya kepada Legam Pora, “Ayo, Legam, kita ke laut!”
Legam Pora tidak menyahut, dia justru menjalankan kudanya agak kencang.
“Nah seperti itu, harus semangat belajar berenang! Hiah!” pekik Swara Sesat senang, lalu menggebah kencang kudanya menyusul Legam Pora yang kesal.
Baru saja Swara Sesat berlari kencang ke arah laut, tiba-tiba kuda Legam Pora berbelok meninggalkan kuda si gendut.
“Eh, kok belok?” pekik Swara Sesat terkejut, sambil mengerem laju kudanya. “Katanya mau belajar berenang?”
“Hahaha!” tawa Garis Merak dan Kurna Sagepa melihat kesalahpahaman itu. Mereka menggebah kudanya menyusul Legam Pora. Demikian halnya Reksa Dipa.
Setelah geleng-geleng kepala tanda prihatin, mau tidak mau, Swara Sesat berbelok arah menyusul rekan-rekannya. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil menunggu Si Joko up, silakan baca novel Author yang lain:
Alma3 Ratu Siluman.
Rugi1 Perampok Budiman.
Rugi2 Darah Pengantin Pendekar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Sena judifa
om...pantai segadis itu di mana?
2023-10-23
0
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʀͩᴏᷞsͧᴍᷠiͣa✰͜͡v᭄HIAT
kesel emang ya kalau ngomong sm orang yg pendengarannya slenco.. bikin emosi😂
2023-09-28
0
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
susah ya ngomong sama orang budek ..orang ngomong apa dia jawab apa hhhh
2023-08-20
3