Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

Hari itu juga, Ratu Lembayung Mekar dan rombongan pulang meninggalkan Istana Pasir Angin dengan membawa ole-ole kegagalan dan kekecewaan. Meski tawaran Kerajaan Sanggana Kecil telah ditolak, Prabu Galang Digdaya tetap menjamu tamunya dengan santap siang.

Setelah penolakan itu, tidak ada lagi pembahasan tentang upaya kerja sama. Ratu Lembayung dan Mahapatih Batik Mida pun sudah tidak mau menyinggung hal itu lagi, demi menjaga norma sebagai tamu.

Rombongan Ratu Lembayung Mekar diantar oleh Prabu Galang Digdaya hingga tangga atas depan Istana. Setelah rombongan itu pergi, Prabu Digdaya hanya tersenyum sinis.

“Mereka pikir bisa membohongi raja hebat sepertiku,” ucap Prabu Galang kepada mahapatihnya.

“Betul kata Gusti Prabu. Bukankah mereka sudah bersekutu dengan kerajaan pesisir lain, lalu kenapa harus memilih perairan kita untuk membangun benteng laut dan angkatan laut?” kata Mahapatih Olo Kadita sepemikiran dengan Prabu Galang, atau dia sekedar menjilat terhadap junjungannya.

Itulah sepenggal obrolan Prabu Galang Digdaya dengan mahapatihnya setelah tamu kenegaraan pulang.

Sementara itu di pinggir jalanan ibu kota Digdaya, sambil menikmatik rujak cocol sambal gula aren, Joko Tenang melihat rombongan istrinya melintas. Joko Tenang membiarkannya melintas.

“Rombongan kerajaan dari mana itu?” tanya Subini.

“Jika melihat dari benderanya, itu dari Kerajaan Balilitan,” jawab Joko Tenang.

“Oooh,” desah Subini.

“Kau sendiri dari kerajaan mana, Joko?” tanya Rinda.

“Nyai, baru bertanya setelah sekian lama kita bersama,” kritik Joko Tenang.

“Maklum, keasikan bersama pemuda setampan kau, membuat pikiranku sulit berkembang. Hihihi!” kilah Rinda.

“Hihihi!” tawa Rinda dan Nangita pula.

Beruntung Ratu Lembayung Mekar tidak menyaksikan pemandangan selama dalam perjalanan. Dia lebih memilih berbincang-bincang dengan Dewi Bayang Kematian. Jadi dia tidak perlu cemburu karena tidak melihat keakraban suaminya dengan tiga wanita yang lebih muda darinya.

Hingga akhirnya, rombongan Ratu Lembayung Mekar pun berlalu.

Tidak berapa lama, acara makan rujak berakhir. Joko Tenang pun berpisah dengan Subini dan Rinda. Dia pulang bersama Nangita karena memang arah pulang mereka searah, hanya berseberangan jalan.

Saat berjalan pulang bersama, Joko Tenang dan Nangita seperti sepasang selingkuhan saja, tapi tanpa gandeng tangan.

Saat itu, Joko Tenang mengetahui bahwa ada seorang lelaki yang memantau dan mengikuti mereka. Hal itu tidak diketahui oleh Nangita. Namun, Joko Tenang tetap tenang, bersikap seolah-olah kondisi asik-asik saja.

Di jalan depan rumahnya, Nangita berpisah dari Joko Tenang dengan perasaan bahagia.

Setelah Joko Tenang masuk ke rumah sewanya, seorang pemuda berambut ikal gondrong yang wajahnya dicat warna hijau berpola petir, segera bergerak mendekati rumah sewa lewat arah belakang. Pemuda berpakaian hijau gelap kegelap-gelapan itu membawa seruling warna hitam di pinggang belakangnya.

Ternyata Joko Tenang tidak menutup pintu rumahnya. Sementara si pemuda yang celingak-celinguk seperti manuk, bergerak mendekat ke pintu yang terbuka. Dia harus memastikan tidak ada yang melihatnya.

Tidak berapa lama, pemuda itu langsung masuk ke dalam rumah sewa tanpa ucap salam lebih dulu.

“Sembah hormat hamba, Gusti Prabu!” ucap pemuda itu sambil langsung turun bersujud di lantai, tepat di depan kedua kaki Joko Tenang yang ternyata sudah berdiri menunggu.

“Bangkitlah!” perintah Joko Tenang.

Wus! Dak!

Satu angin kecil muncul dari kibasan tangan kiri Joko Tenang, bukan untuk menerbangkan pemuda berwajah hijau, tetapi untuk menutup pintu.

Pemuda itu segera bangkit berdiri.

“Sampaikan pesan yang kau bawa, Petir Hijau!” perintah Joko Tenang yang ternyata mengenal pemuda itu.

Petir Hijau adalah salah satu pendekar dari Pasukan Pengawal Bunga. Dia sebelumnya berada di dalam rombongan Ratu Lembayung Mekar.

“Prabu Galang Digdaya menolak semua tawaran kita, Gusti,” lapor Petir Hijau.

Joko Tenang terdiam sejenak mendengar kabar itu. Dia memikirkan sesuatu, tetapi apa yang dia pikirkan tidak tertulis di atas kepalanya.

“Sampaikan kepada Gusti Ratu dan Mahapatih, kembalilah dengan damai. Sampaikan pula perintahku kepada Mahapatih Batik Mida untuk mengirim seluruh Pasukan Hantu Sanggana ke Kerajaan Pasir Langit,” perintah Joko Tenang.

“Baik, Gusti Prabu,” ucap Petir Hijau patuh.

“Kau boleh pergi!” perintah Joko Tenang.

“Baik, Gusti Prabu.”

Maka Petir Hijau menjura hormat. Dia tidak langsung keluar, tetapi membuka pintu sedikit, kemudian melongokkan sebentar kepalanya di ambang pintu. Setelah dipastikan tidak ada orang tukang ngintip, dia pun keluar dan berlari pergi tanpa suara.

Joko Tenang pergi masuk ke kamarnya. Sebentar lagi senja, dia tidak boleh ke mana-mana karena sesuai janji, Ronda Galo akan datang.

“Joko!”

Benar saja, Joko Tenang yang tertidur, dibangunkan oleh satu suara lelaki yang memanggilnya dari luar rumah sewanya.

Joko Tenang segera bangun dan keluar. Benar saja, Ronda Galo sudah berdiri di depan pintu bersama kakaknya, Rinda.

“Gusti Menteri bersedia bertemu denganmu sekarang,” ujar Ronda Galo.

“Ah, syukurlah. Tunggu, aku cuci wajah dulu,” ucap Joko Tenang.

Joko Tenang bergegas masuk ke dalam, di mana ada gentong air tempat untuk sekedar cuci piring atau cuci wajah. Joko menunjukkan bahwa dia antusias.

Meski Rinda mengantar adiknya ke rumah sewa Joko, tetapi ketika pergi ke kediaman Menteri Keuangan, dia tidak ikut.

Joko Tenang dan Ronda Galo pergi berkuda ke kediaman Menteri Keuangan Badaragi. Rumah sang menteri berada tidak jauh dari gerbang benteng Istana.

Rumah itu besar dan luas. Luas lantai rumah juga seluas kolam ikan yang dimiliki di bawahnya. Rumah dan kolam dipadu sehingga membentuk tempat yang nyaman bagi mata untuk memandangnya. Ikan-ikan hias di dalam kolam pun besar-besar. Suara aliran air menjadi musik alami yang merdu.

Kediaman berhalaman luas itu memiliki penjagaan beberapa prajurit berseragam cokelat-kuning.

Drap drap drap!

Seiring tibanya Joko Tenang dan Ronda Galo di depan pintu pagar kediaman Menteri Keuangan di senja itu, tiba pula dua ekor kuda dari arah jalan menuju gerbang benteng Istana.

Kedua kuda itu ditunggangi oleh dua orang wanita muda cantik dengan kecantikan yang berbeda level.

Gadis cantik berlevel biasa mengenakan pakaian warna hijau muda. Dia menyandang pedang yang menggantung di pingging kirinya. Penampilannya lebih mencirikan dia sebagai seorang pendekar atau pengawal.

Adapun gadis cantik berlevel keterlaluan, dia mengenakan baju putih bersabuk dan kain kebat warna kuning tua. Celananya berwarna putih. Kombinasi warna yang cantik seperti telur rebus dibelah.

Ada sejumlah perhiasan emas di jemari tangannya, pergelangan tangan, leher, telinga dan kepalanya. Di pergelangan kakinya pun ada gelang emas. Gilanya, dia punya hidung kecil tapi mancung sempurna dan bibir yang belah, meski dagunya tidak belah. Itulah uniknya. Ditambah alis yang panjang dengan ketebalan yang sedang. Giwang permata birunya berkilau ketika mendapat bias yang tepat dari matahari sore.

Berpapasannya keempat kuda itu membuat Ronda Galo segera menghentikan kudanya dan turun. Sementara Joko Tenang fokus memerhatikan kecantikan yang selevel dengan para permaisurinya. Namun, akan berbeda rasanya di hati jika melihat kecantikan yang usianya sudah terekam selama sepuluh tahun, dibandingkan melihat kecantikan yang baru pertama kali dilihat. Itulah yang dialami oleh Joko Tenang.

“Aku hanya berpesan kepada Kakang Prabu, jangan jatuh hati lagi.”

Seketika terngiang pesan Permaisuri Nara di dalam benak Joko Tenang, di saat hatinya sedang mengagumi kecantikan gadis berambut lurus sepunggung itu. (RH)

Terpopuler

Comments

Idrus Salam

Idrus Salam

Kekaguman seorang raja atas wanita menimbulkan rasa yang baru di hatinya akankah berdampak pada kebijakannya. Sementara pada ujung yang lain ada pembatasan yang diminta oleh salah satu permaisurinya.

Bukannya pada beberapa episode yang telah lalu Ratu Tirana sebagai lalu lintas perjalanan cinta sang prabu...

2024-10-16

0

momoy

momoy

ijin nanya om ronda Galo ini knp Galo apa efek jomblo,knp dia gak ronda maling kan rame om 🙏🙏😭🤭🤭

2023-09-02

2

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

Ingat ya kakang prabu jangan jatuh hati lagi jaga tu mata dan hati hhh

2023-09-02

2

lihat semua
Episodes
1 Pemuji 1: Tamu Lancang
2 Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3 Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4 Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5 Pemuji 5: Joko Tenang
6 Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7 Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8 Pemuji 8: Tamu Agung
9 Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10 Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11 Pemuji 11: Mencari Joko
12 Pemuji 12: Obrolan Rujak
13 Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14 Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15 Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16 Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17 Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18 Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19 Pemuji 19: Bertemu Lagi
20 Pemuji 20: Muara Jerit
21 Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22 Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23 Pemuji 23: Pertolongan Joko
24 Pemuji 24: Mengobati Putri
25 Pemuji 25: Target Lain
26 Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27 Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28 Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29 Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30 Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31 Pemuji 31: Pisah dan Janji
32 Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33 Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34 Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35 Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36 Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37 Pemuji 37: Amarah Prabu
38 Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39 Pemuji 39: Menyergap Joko
40 Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41 Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42 Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43 Pemuji 43: Nyai Bale
44 Pemuji 44: Gusti Raja
45 Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46 Pemuji 46: Kehilangan
47 Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48 Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49 Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50 Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51 Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52 Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53 Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54 Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55 Pemuji 55: Rayuan Joko
56 Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57 Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58 Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59 Pemuji 59: Putri Mahapatih
60 Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61 Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62 Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63 Pemuji 63: Nyaris Gila
64 Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65 Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66 Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67 Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68 Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69 Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70 Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71 Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72 Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73 Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74 Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75 Pemuji 75: Isi Perjanjian
76 Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77 Pemuji 77: Serangan Hantu
78 Pemuji 78: Anak Halus
79 Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80 Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81 Pemuji 81: Rencana Serangan
82 Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83 Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84 Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85 Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86 Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87 Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88 Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89 Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90 Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91 Pemuji 91: Perang
92 Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93 Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94 Pengumuman Duka
95 Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96 Pemuji 95: Pertarungan Langit
97 Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98 Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99 Pengumuman Sanggana7
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Pemuji 1: Tamu Lancang
2
Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3
Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4
Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5
Pemuji 5: Joko Tenang
6
Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7
Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8
Pemuji 8: Tamu Agung
9
Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10
Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11
Pemuji 11: Mencari Joko
12
Pemuji 12: Obrolan Rujak
13
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14
Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15
Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16
Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17
Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18
Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19
Pemuji 19: Bertemu Lagi
20
Pemuji 20: Muara Jerit
21
Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22
Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23
Pemuji 23: Pertolongan Joko
24
Pemuji 24: Mengobati Putri
25
Pemuji 25: Target Lain
26
Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27
Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28
Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29
Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31
Pemuji 31: Pisah dan Janji
32
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34
Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37
Pemuji 37: Amarah Prabu
38
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39
Pemuji 39: Menyergap Joko
40
Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41
Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42
Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43
Pemuji 43: Nyai Bale
44
Pemuji 44: Gusti Raja
45
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46
Pemuji 46: Kehilangan
47
Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50
Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51
Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53
Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54
Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55
Pemuji 55: Rayuan Joko
56
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57
Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59
Pemuji 59: Putri Mahapatih
60
Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61
Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62
Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63
Pemuji 63: Nyaris Gila
64
Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68
Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69
Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73
Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74
Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75
Pemuji 75: Isi Perjanjian
76
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77
Pemuji 77: Serangan Hantu
78
Pemuji 78: Anak Halus
79
Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80
Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81
Pemuji 81: Rencana Serangan
82
Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83
Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84
Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85
Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87
Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90
Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91
Pemuji 91: Perang
92
Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93
Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94
Pengumuman Duka
95
Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96
Pemuji 95: Pertarungan Langit
97
Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98
Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99
Pengumuman Sanggana7

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!