*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Baru kali ini Joko Tenang makan bersama emak-emak. Suasananya ramai dan gembira seperti makan rujak manis gula merah. Namun, dari keakraban dadakan itu, Joko Tenang mendapat informasi tentang jalan untuk masuk ke Istana.
“Nyai-Nyai tidak bersama suami?” tanya Joko Tenang, sambil aktif makan.
“Kami ini istri-istri kesepian yang selalu ditinggal berlayar oleh suami, demi membuat kami tetap berkilau. Hihihi!” jawab Subini.
“Oooh!” desah Joko mengerti bahwa para emak-emak itu adalah istri-istri pelaut.
“Padahal suami kami bisa berlayar di atas kami,” celetuk Rinda.
“Hihihi!” Tertawa kencanglah ketiga wanita itu.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang pula, mengimbangi, agar tawanya ikut up date.
Pelanggan yang lain hanya melirik kesal kepada mereka sebab merasa kebisingan.
Menyadari bahwa pelanggan yang lain mulai terganggu oleh kebisingan mereka, Joko Tenang berinisiatif untuk meredakan kebisingan ketiga emak-emak itu.
“Nyai-Nyai, aku mau bertanya sesuatu yang serius. Mungkin jawaban kalian bisa banyak membantuku,” ujar Joko Tenang yang memang berhasil meredakan tawa ketiga wanita dewasa itu.
“Apa? Bertanyalah kepada kami. Dengan senang hati akan kami bantu, bahkan jika kami memang tidak bisa menjawabnya,” kata Nangita.
“Aku seorang pedagang kayu. Aku ingin menawarkan kayu kepada Prabu Galang. Sebagai pedagang baru, tentunya aku tidak mudah. Mungkin Nyai-Nyai mengenal pejabat yang bisa aku dekati agar tawaran kayuku bisa tembus sampai ke Prabu Galang?”
Nangita dan Subini segera menunjuk Rinda, seolah-olah jawaban dari pertanyaan Joko Tenang ada pada Rinda.
“Adik Rinda adalah salah satu pengawal Menteri Keuangan. Gusti Badaragi sangat dipercaya oleh Gusti Prabu. Bukankah demikian Rinda?” kata Subini.
“Iya, benar. Jika Gusti Badaragi yang berbicara, Gusti Prabu sangat percaya. Karena itulah urusan kepeng diserahkan kepadanya,” kata Rinda. “Tapi hati-hati, Joko. Kata adikku, banyak pedagang yang berdagang dengan Istana justru berakhir di penjara karena Gusti Prabu merasa kecewa.”
“Oh, seperti itu,” ucap Joko Tenang serius menyikapi.
Dia lalu meneguk sedikit teh hangat belimbing wuluhnya untuk membersihkan tenggorokannya sejenak.
“Tapi, tidak ada salahnya jika aku bisa bertemu dengan Menteri Keuangan, agar aku bisa lebih tahu apa yang menjadi keinginan Prabu Galang,” kata Joko.
“Tapi aku harus memberi tahu adikku lebih dulu. Dia baru pulang dari Istana di saat malam,” kata Rinda.
“Tidak masalah, Nyai,” kata Joko Tenang. “Nanti aku akan mencari penginapan.”
“Aku punya penginapan kosong. Di tempatku saja, Joko,” kata Nangita cepat.
“Tidak masalah, Nyai. Aku sangat senang atas keramahan kalian. Aku sangat beruntung karena langsung mendapat kenalan yang akrab, padahal aku orang asing yang masih belum kalian kenal banyak,” tutur Joko Tenang.
“Kalau bagi Subini, dia tetap akan bahagia ditipu, jika orang yang menipunya setampan kau, Joko,” kata Nangita.
“Jangan membuka rahasiaku, Nangita. Nanti Joko benar-benar menipuku, sedangkan aku tidak bisa menolak,” kata Subini.
“Hihihi!” tawa kencang Nangita dan Rinda.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang dengan tenang. “Tenang saja, Nyai. Aku bukan orang jahat.”
“Aku percayaaa!” kata ketiga emak-emak itu kompak senada.
“Hihihi...!” tawa ketiganya cekikikan kemudian. Mereka merasa lucu sendiri.
Tiba-tiba seorang lelaki yang sedang makan di meja lain, berselang dua meja dari meja Joko Tenang, berdiri dan langsung melambungkan sebilah golok ke udara.
Sebagian pelanggan melihat golok itu berputar-putar di udara menuju ke atas Joko Tenang dan ketiga emak-emak yang bersamanya.
Teb!
“Aak!” jerit kencang Subini, Nangita dan Rinda terkejut bukan main, saat tiba-tiba ada golok yang jatuh menancap di tengah-tengah meja makan mereka.
Namun uniknya, meski golok itu menancap dengan keras pada papan meja, tetapi tidak ada sebutir nasi pun, setetes air pun, atau sebuah gelas pun, yang terloncat meninggalkan pijakannya. Entah, apakah itu terhubung karena tangan Joko Tenang memegang salah satu kaki meja.
Namun, ancaman golok itu sukses membuat ketiga wanita Joko Tenang tersebut ketakutan. Terlihat wajah mereka pias dengan mata yang mendelik.
“Tenang, Nyai,” ucap Joko Tenang pelan menenangkan ketiga istri pelaut itu. Dan itu berhasil membuat Subini dan kedua sahabatnya lebih tenang karena merasa punya pelindung.
“Perempuan-perempuan bising!” sebut lelaki pelempar golok.
Dia seorang lelaki besar karena kekekarannya dan memiliki sepasang mata yang lebar dan bulat. Dia mengenakan pakaian warna merah gelap. Dia bernama Dawaru.
“Di tempat ini bukan kalian saja yang makan. Jangan berpikir kalau suara tawa kalian semerdu burung gagak. Kelezatan makananku jadi raib gara-gara mendengar tawa kalian yang menyakiti telingaku!” kata Dawaru marah kepada Joko dan ketiga wanitanya.
Joko Tenang lalu berdiri. Dia mencabut golok di meja dan menghadap kepada pendekar yang marah.
“Maafkan kami kepada semua pelanggan, jika kami membuat gaduh,” ucap Joko Tenang kepada semua pelanggan.
“Ini gara-gara kau, Perempuan Berjakun!” bentak Dawaru.
“Hahaha...!”
Pecahlah tawa para pelanggan mendengar sebutan Dawaru teruntuk Joko Tenang.
Sebagai seorang raja kerajaan besar, sebenarnya Joko Tenang tersinggung dan marah. Namun, dia harus menahan diri karena dia sedang menyamar dalam misi.
“Hahaha!” tawa pendek Joko Tenang menyikapi tawa massa itu. “Aku kembalikan golokmu.”
Joko Tenang melambungkan golok yang dipegangnya ke arah Dawaru. Itu lemparan biasa, sehingga Dawaru bisa menangkapnya dengan mudah.
“Heh!” senyum sinis Dawaru setelah menangkap goloknya. Dia meremehkan Joko Tenang.
“Hahaha!” tawa ketiga rekan Dawaru yang semuanya adalah lelaki.
“Awas jika kalian berulah lagi!” ancam Dawaru sambil menunjuk kepada Joko Tenang.
Joko Tenang mengabaikan dan memilih kembali duduk. Dawaru pun duduk kembali, sembari sekali lagi menengok memandang punggung Joko.
“Tidak apa-apa, Nyai. Mari kita lanjutkan makan ini. Terkadang ada orang yang sengaja mencari perhatian,” kata Joko Tenang.
“Keparat dungu!” maki Dawaru tiba-tiba marah kembali. Dia mendengar perkataan Joko Tenang yang menyindirnya.
Dawaru cepat bangkit dan tahu-tahu goloknya telah melesat cepat lepas dari tangannya. Terkejut Rinda dan Nangita yang melihat lesatan golok ke arah punggung Joko. Beberapa pelanggan lain juga terkejut.
Tek! Tlang!
Namun, mereka harus terkejut dan sebagian merasa lega, terutama kaum wanita.
Ujung golok itu tepat mengenai punggung Joko Tenang, tetapi tidak menancap karena ujung tajam si golok tidak bisa menembus kain Rompi Api Emas yang dikenakan Joko. Golok pun jatuh ke lantai.
Melihat goloknya dipermalukan, Dawaru pun tidak sudi menanggung malu. Dia berjalan cepat mendatangi Joko Tenang dari belakang dengan tangan kekar ingin mencekal leher Joko Tenang.
Tuk tuk tuk!
Namun, sungguh tidak terduga oleh Dawaru dan semua yang menonton. Tahu-tahu Joko Tenang menggerakkan satu tangannya ke belakang yang menotok tiga titik pada tubuh Dawaru, cukup membuat Dawaru mematung dan juga tidak bersuara.
Kini Dawaru dalam posisi berdiri dengan tangan kanan menjulur ke arah belakang Joko Tenang, tapi dia mematung seperti patung.
Melihat gerak cepat tangan Joko, semua orang segera bisa menyimpulkan bahwa Joko Tenang adalah pendekar berkesaktian tinggi. Namun, itu tidak membuat ketiga rekan makan Dawaru tetap duduk tenang. Ketiga rekan Dawaru bangkit berdiri dengan wajah menunjukkan permusuhan.
“Bagaimana, Nyai? Apakah makan kita lanjutkan atau kita sudahi?” tanya Joko Tenang kepada ketiga rekan wanitanya.
“Kita sudahi saja, Joko,” jawab Rinda.
“Baik,” ucap Joko Tenang sepakat. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
kalau slalu bikin bising pasti ya pada marah...salah siapa coba 🤭
2023-08-30
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
hmm, berlayar dan bercocok tanam tuh pastinya😅😅😅
2023-08-20
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
wah wah, emak2 jablay rupanya🤭🤭🤭
2023-08-20
3