*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Selagi suami-suami belum pulang dari melaut yang biasanya memakan waktu sepurnama atau dua purnama, geng emak-emak istri pelaut kembali berkumpul dengan Joko Tenang. Anak-anak di rumah dititpkan kepada pelayan. Kalau anak yang besar-besar biarkan saja, masih aman karena belum ada zaman narkoba, pergaulan bebas, atau musim cabe-cabean.
Kali ini Subini, Nangita dan Rinda mengajak Joko Tenang makan rujak cocol sambal gula aren tanpa cabai rawit, cabai keriting, atau cabai rebonding. Ketiga wanita itu yang mentraktir karena sebelumnya Joko yang mentraktir mereka kemarin hari.
Warung rujak Mak Kudul adalah satu-satunya warung rujak di ibu kota Digdaya. Jauh jika dibandingkan dengan sebuah rumah makan, warung rujak Mak Kudul wujudnya kecil, hanya ada dua set meja berlantai bilah bambu yang jarang-jarang. Di bawah lantai ada kolam ikan kecil.
Meski rujak Mak Kudul enak, tetapi tidak semua menyukai rujak. Itu termasuk salah satu jenis kuliner yang tidak populer di Ibu Kota. Warung rujak itu hanya sesekali saja penuh oleh pelanggan. Pelanggan yang sering mampir biasanya wanita hamil muda.
Joko Tenang dan ketiga rekan wanitanya kini masing-masing menghadapi sehelai daun pisang yang di atasnya menumpuk irisan-irisan beberapa jenis buah, bahkan ada potongan daging kelapa muda. Di tengah-tengah adalah cobekan batu yang penuh oleh sambal gula aren untuk cocolan.
Joko Tenang mau menerima ajakan Subini dan kedua rekannya karena dia sedang menunggu kabar dari adiknya Rinda.
Kemarin sore, setelah berhasil memaksa Wakil Kepala Keamanan Ibu Kota yang bernama Brabean pergi bersama pasukannya dari rumah Nangita, Joko Tenang berkenalan dengan Ronda Galo, pengawal pribadi Menteri Keuangan Badaragi.
Dengan ditemani oleh ketiga istri pelaut, Joko Tenang dan Ronda Galo berbincang-bincang. Joko Tenang menyampaikan tujuannya kepada Ronda Galo.
“Baik. Besok pagi akan aku sampaikan kepada Gusti Badaragi. Besok sore, sepulang dari tugas, aku akan membawa jawaban, apakah Gusti Badaragi bersedia bertemu dengan Kakang atau tidak.”
Itulah jawaban Ronda Galo kepada Joko Tenang.
Sambil menunggu, Joko Tenang bersedia menghabiskan waktunya dengan ketiga emak-emak itu. Hitung-hitung mengumpulkan data intelijen tentang negeri itu dan penguasanya.
“Ini rujak yang enak,” puji Joko Tenang sambil manggut-manggut seperti juri konpetisi memasak.
“Ini memang enak, Joko. Namun, masyrakata Kerajaan Pasir Langit lebih suka makanan laut. Maklum negeri pesisir,” kata Subini.
“Sepertinya rakyat Pasir Langit hidup sejahtera di bawah kepemimpinan Prabu Galang Digdaya,” kata Joko Tenang mulai menggiring arah obrolan.
“Apa yang kau sangka salah besar. Rakyat yang sejahtera hanya mereka yang memiliki hubungan dengan pejabat pemerintah atau prajurit. Rakyat yang tidak memiliki hubungan dengan seorang pun pejabat, hidup dalam pemerasan pajak. Karena itulah, rakyat itu sangat ingin putra-putranya mendaftar di kemiliteran Pasir Langit,” kata Rinda.
“Kenapa bisa seperti itu?” tanya Joko Tenang.
“Sebenarnya berbagai pajak yang dibebankan kepada petani, nelayan, pedagang dan rakyat lainnya itu tinggi. Namun, para pejabat mengakali supaya usaha mereka tidak terkena pajak tinggi. Caranya, mereka tidak membayar penuh, tetapi kekurangannya mereka bebankan kepada rakyat dengan memunculkan biaya tambahan dari pajak tersebut. Biaya tambahan itulah yang dipakai sebagai penambal kekurangan pajak dari para prajurit dan pejabat,” jelas Subini.
“Apakah Prabu Galang tidak tahu tentang ulah para pejabat itu?” tanya Joko Tenang.
“Sepertinya tidak. Terbukti para pejabat baik-baik saja dan kondisi itu tetap berjalan,” kata Subini.
“Karena itulah, Joko, banyak rakyat kecil yang tidak bisa membayar pajak, dipenjara beberapa bulan. Jika keluarganya tidak ada atau tidak bisa menebusnya, akan dihukum mati,” kata Rinda pula.
“Hukum di kerajaan ini kejam juga,” kata Joko Tenang.
“Justru karena kejam itu, pejabat dan rakyat tidak berani membangkang. Tidak ada yang berani menentang peraturan pajak yang tinggi. Sampai-sampai ketika pajak tinggi itu ditambah biaya sampingan, rakyat ya hanya menerima,” kata Nangita pula.
“Tapi, menurut Nyai-Nyai, apakah Prabu Galang itu raja yang baik?” tanya Joko Tenang.
“Kejam,” jawab Rinda singkat.
“Setuju. Gusti Prabu Galang itu kejam,” kata Nangita sepakat.
“Apa yang diperbuat oleh Prabu Galang kepada kalian sehingga menilainya kejam?” tanya Joko Tenang.
“Kami bertiga adalah putri-putri dari orang-orang yang dipancung oleh Gusti Prabu Galang. Ayah-ayah kami dituduh sebagai penyelundup udang dewa ke luar wilayah kerajaan. Hanya berdasarkan tuduhan semata tanpa ada bukti, ayah-ayah kami dihukum pancung. Saat perkara penyelundupan udang dewa menggegerkan negeri ini, Gusti Prabu Galang memancung lebih dua ratus nelayan dan pedagang. Namun, kemudian kami tahu bahwa dalang penyelundupan udang dewa adalah Menteri Pajak yang tidak ada hubungannya dengan ayah-ayah kami,” kisah Nangita.
“Sampai-sampai Putri Ani Saraswani hingga sekarang masih sangat mendendam kepada ayahnya,” kata Rinda, mulai keluar jiwa gosipnya.
“Kau tahu darimana?” Subini justru bertanya, menunjukkan bahwa kadar pengetahuan tentang berita gosip di dalam kepala ketiga wanita itu tidak sama.
“Dari adikku. Dia banyak mendengar isi pembicaraan Gusti Badaragi dengan pejabat lain. Katanya, Putri Ani juga sering datang ke kediaman Gusti Menteri,” jawab Rinda.
“Kenapa Putri mendendam kepada ayahnya? Bukankah tidak ada hubungannya?” tanya Joko Tenang.
“Putri Ani Saraswani adalah kekasih putra Menteri Pajak yang dipancung. Katanya, saat itu, mereka berdua sudah sepakat ingin menikah. Gusti Prabu pun sudah setuju. Namun, karena perkara udang dewa itu, Menteri Pajak dan seluruh keluarganya dihukum pancung, termasuk kekasih Putri Ani itu. Sejak itulah, Putri Ani memusuhi ayahnya dan tidak pernah sudi bertemu,” jelas Rinda.
“Jika ayah-ayah kalian dipancung oleh Prabu Galang, lalu kenapa kalian bisa hidup dengan tenang, bahkan Ronda Galo bisa diterima sebagai seorang prajurit menteri?” tanya Joko lagi.
“Hanya ada dua pilihan yang ditawarkan Gusti Prabu kepada keluarga dari mereka yang dipancung hanya karena tuduhan tanpa bukti. Hidup damai sama seperti rakyat lainnya atau dipenjara yang kemudian di hukum mati. Apalah daya kami,” jawab Subini.
“Kami tidak punya kekuatan apa-apa selain kekuatan untuk bertahan hidup dan menikmati hidup seperti saat ini, Joko,” kata Nangita.
“Aku belum pernah melihat Putri Ani Saraswani. Aku dengar-dengar putri itu sangat cantik?” tanya Joko Tenang.
“Eit! Kau tidak boleh memunculkan diri di depan Gusti Putri, Joko. Kau jauh lebih tampan daripada kekasih Gusti Putri Ani. Aku khawatir Gusti Putri akan jatuh hati kepadamu,” kata Subini.
“Kenapa Nyai-Nyai seyakin itu?” tanya Joko Tenang seraya tersenyum tipis, seolah-olah ada siasat licik di dalam otaknya.
“Jelas kami sangat yakin. Kami saja yang sudah beranak pinak, jatuh hati kepadamu sejak pandangan pertama,” tandas Rinda.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang yang diikuti oleh tawa ramai mereka.
“Eh, Joko!” sebut Subini. “Usiamu itu sudah seharusnya menikah. Atau ... kau sudah punya anak dan istri, tapi kau tidak mau memberi tahu kami?”
“Hahaha!” tawa Joko Tenang pendek. Lalu katanya, “Aku takut jika mengakui yang sebenarnya, Nyai-Nyai nanti kecewa. Sebab, Nyai Rinda barusan mengatakan bahwa sudah jatuh hati kepadaku sejak pandangan pertama.”
“Hihihi!” Ramailah ketiga wanita itu tertawa lagi.
Di warung rujak Mak Kudul ini mereka aman untuk tertawa kencang. Mak Kudul sendiri selaku pemilik tempat, telinganya sudah akrab mendengar tawa ramai trio tersebut. Subini dan keduanya tergolong pelanggan tetap.
“Aku memang sudah beristri dan beranak, Nyai,” ujar Joko Tenang.
“Sudah aku duga,” kata Nangita.
“Tapi istrimu tidak kau bawa?” tanya Rinda.
“Tidak.”
“Berarti aman. Hihihi!” kata Subini lalu cekikikan.
Keempat anak manusia itu benar-benar terlihat akrab dan memang akrab. Mereka senang. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
momoy
tukang rujak nya Mak kudul kurut ya om🤭🤭🙏🙏
2023-09-02
1
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
Joko Tenang benar" tenang dan suka bercanda ya membuat Mak" klepek-klepek wkwkwkw
2023-09-02
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺
alhamdulillah warung rujak saya lumayan populer tidak hanya di kalangan ibu hamil saja, om mau mampir kagak😋
2023-08-23
1