Pemuji 12: Obrolan Rujak

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

Selagi suami-suami belum pulang dari melaut yang biasanya memakan waktu sepurnama atau dua purnama, geng emak-emak istri pelaut kembali berkumpul dengan Joko Tenang. Anak-anak di rumah dititpkan kepada pelayan. Kalau anak yang besar-besar biarkan saja, masih aman karena belum ada zaman narkoba, pergaulan bebas, atau musim cabe-cabean.

Kali ini Subini, Nangita dan Rinda mengajak Joko Tenang makan rujak cocol sambal gula aren tanpa cabai rawit, cabai keriting, atau cabai rebonding. Ketiga wanita itu yang mentraktir karena sebelumnya Joko yang mentraktir mereka kemarin hari.

Warung rujak Mak Kudul adalah satu-satunya warung rujak di ibu kota Digdaya. Jauh jika dibandingkan dengan sebuah rumah makan, warung rujak Mak Kudul wujudnya kecil, hanya ada dua set meja berlantai bilah bambu yang jarang-jarang. Di bawah lantai ada kolam ikan kecil.

Meski rujak Mak Kudul enak, tetapi tidak semua menyukai rujak. Itu termasuk salah satu jenis kuliner yang tidak populer di Ibu Kota. Warung rujak itu hanya sesekali saja penuh oleh pelanggan. Pelanggan yang sering mampir biasanya wanita hamil muda.

Joko Tenang dan ketiga rekan wanitanya kini masing-masing menghadapi sehelai daun pisang yang di atasnya menumpuk irisan-irisan beberapa jenis buah, bahkan ada potongan daging kelapa muda. Di tengah-tengah adalah cobekan batu yang penuh oleh sambal gula aren untuk cocolan.

Joko Tenang mau menerima ajakan Subini dan kedua rekannya karena dia sedang menunggu kabar dari adiknya Rinda.

Kemarin sore, setelah berhasil memaksa Wakil Kepala Keamanan Ibu Kota yang bernama Brabean pergi bersama pasukannya dari rumah Nangita, Joko Tenang berkenalan dengan Ronda Galo, pengawal pribadi Menteri Keuangan Badaragi.

Dengan ditemani oleh ketiga istri pelaut, Joko Tenang dan Ronda Galo berbincang-bincang. Joko Tenang menyampaikan tujuannya kepada Ronda Galo.

“Baik. Besok pagi akan aku sampaikan kepada Gusti Badaragi. Besok sore, sepulang dari tugas, aku akan membawa jawaban, apakah Gusti Badaragi bersedia bertemu dengan Kakang atau tidak.”

Itulah jawaban Ronda Galo kepada Joko Tenang.

Sambil menunggu, Joko Tenang bersedia menghabiskan waktunya dengan ketiga emak-emak itu. Hitung-hitung mengumpulkan data intelijen tentang negeri itu dan penguasanya.

“Ini rujak yang enak,” puji Joko Tenang sambil manggut-manggut seperti juri konpetisi memasak.

“Ini memang enak, Joko. Namun, masyrakata Kerajaan Pasir Langit lebih suka makanan laut. Maklum negeri pesisir,” kata Subini.

“Sepertinya rakyat Pasir Langit hidup sejahtera di bawah kepemimpinan Prabu Galang Digdaya,” kata Joko Tenang mulai menggiring arah obrolan.

“Apa yang kau sangka salah besar. Rakyat yang sejahtera hanya mereka yang memiliki hubungan dengan pejabat pemerintah atau prajurit. Rakyat yang tidak memiliki hubungan dengan seorang pun pejabat, hidup dalam pemerasan pajak. Karena itulah, rakyat itu sangat ingin putra-putranya mendaftar di kemiliteran Pasir Langit,” kata Rinda.

“Kenapa bisa seperti itu?” tanya Joko Tenang.

“Sebenarnya berbagai pajak yang dibebankan kepada petani, nelayan, pedagang dan rakyat lainnya itu tinggi. Namun, para pejabat mengakali supaya usaha mereka tidak terkena pajak tinggi. Caranya, mereka tidak membayar penuh, tetapi kekurangannya mereka bebankan kepada rakyat dengan memunculkan biaya tambahan dari pajak tersebut. Biaya tambahan itulah yang dipakai sebagai penambal kekurangan pajak dari para prajurit dan pejabat,” jelas Subini.

“Apakah Prabu Galang tidak tahu tentang ulah para pejabat itu?” tanya Joko Tenang.

“Sepertinya tidak. Terbukti para pejabat baik-baik saja dan kondisi itu tetap berjalan,” kata Subini.

“Karena itulah, Joko, banyak rakyat kecil yang tidak bisa membayar pajak, dipenjara beberapa bulan. Jika keluarganya tidak ada atau tidak bisa menebusnya, akan dihukum mati,” kata Rinda pula.

“Hukum di kerajaan ini kejam juga,” kata Joko Tenang.

“Justru karena kejam itu, pejabat dan rakyat tidak berani membangkang. Tidak ada yang berani menentang peraturan pajak yang tinggi. Sampai-sampai ketika pajak tinggi itu ditambah biaya sampingan, rakyat ya hanya menerima,” kata Nangita pula.

“Tapi, menurut Nyai-Nyai, apakah Prabu Galang itu raja yang baik?” tanya Joko Tenang.

“Kejam,” jawab Rinda singkat.

“Setuju. Gusti Prabu Galang itu kejam,” kata Nangita sepakat.

“Apa yang diperbuat oleh Prabu Galang kepada kalian sehingga menilainya kejam?” tanya Joko Tenang.

“Kami bertiga adalah putri-putri dari orang-orang yang dipancung oleh Gusti Prabu Galang. Ayah-ayah kami dituduh sebagai penyelundup udang dewa ke luar wilayah kerajaan. Hanya berdasarkan tuduhan semata tanpa ada bukti, ayah-ayah kami dihukum pancung. Saat perkara penyelundupan udang dewa menggegerkan negeri ini, Gusti Prabu Galang memancung lebih dua ratus nelayan dan pedagang. Namun, kemudian kami tahu bahwa dalang penyelundupan udang dewa adalah Menteri Pajak yang tidak ada hubungannya dengan ayah-ayah kami,” kisah Nangita.

“Sampai-sampai Putri Ani Saraswani hingga sekarang masih sangat mendendam kepada ayahnya,” kata Rinda, mulai keluar jiwa gosipnya.

“Kau tahu darimana?” Subini justru bertanya, menunjukkan bahwa kadar pengetahuan tentang berita gosip di dalam kepala ketiga wanita itu tidak sama.

“Dari adikku. Dia banyak mendengar isi pembicaraan Gusti Badaragi dengan pejabat lain. Katanya, Putri Ani juga sering datang ke kediaman Gusti Menteri,” jawab Rinda.

“Kenapa Putri mendendam kepada ayahnya? Bukankah tidak ada hubungannya?” tanya Joko Tenang.

“Putri Ani Saraswani adalah kekasih putra Menteri Pajak yang dipancung. Katanya, saat itu, mereka berdua sudah sepakat ingin menikah. Gusti Prabu pun sudah setuju. Namun, karena perkara udang dewa itu, Menteri Pajak dan seluruh keluarganya dihukum pancung, termasuk kekasih Putri Ani itu. Sejak itulah, Putri Ani memusuhi ayahnya dan tidak pernah sudi bertemu,” jelas Rinda.

“Jika ayah-ayah kalian dipancung oleh Prabu Galang, lalu kenapa kalian bisa hidup dengan tenang, bahkan Ronda Galo bisa diterima sebagai seorang prajurit menteri?” tanya Joko lagi.

“Hanya ada dua pilihan yang ditawarkan Gusti Prabu kepada keluarga dari mereka yang dipancung hanya karena tuduhan tanpa bukti. Hidup damai sama seperti rakyat lainnya atau dipenjara yang kemudian di hukum mati. Apalah daya kami,” jawab Subini.

“Kami tidak punya kekuatan apa-apa selain kekuatan untuk bertahan hidup dan menikmati hidup seperti saat ini, Joko,” kata Nangita.

“Aku belum pernah melihat Putri Ani Saraswani. Aku dengar-dengar putri itu sangat cantik?” tanya Joko Tenang.

“Eit! Kau tidak boleh memunculkan diri di depan Gusti Putri, Joko. Kau jauh lebih tampan daripada kekasih Gusti Putri Ani. Aku khawatir Gusti Putri akan jatuh hati kepadamu,” kata Subini.

“Kenapa Nyai-Nyai seyakin itu?” tanya Joko Tenang seraya tersenyum tipis, seolah-olah ada siasat licik di dalam otaknya.

“Jelas kami sangat yakin. Kami saja yang sudah beranak pinak, jatuh hati kepadamu sejak pandangan pertama,” tandas Rinda.

“Hahaha!” tawa Joko Tenang yang diikuti oleh tawa ramai mereka.

“Eh, Joko!” sebut Subini. “Usiamu itu sudah seharusnya menikah. Atau ... kau sudah punya anak dan istri, tapi kau tidak mau memberi tahu kami?”

“Hahaha!” tawa Joko Tenang pendek. Lalu katanya, “Aku takut jika mengakui yang sebenarnya, Nyai-Nyai nanti kecewa. Sebab, Nyai Rinda barusan mengatakan bahwa sudah jatuh hati kepadaku sejak pandangan pertama.”

“Hihihi!” Ramailah ketiga wanita itu tertawa lagi.

Di warung rujak Mak Kudul ini mereka aman untuk tertawa kencang. Mak Kudul sendiri selaku pemilik tempat, telinganya sudah akrab mendengar tawa ramai trio tersebut. Subini dan keduanya tergolong pelanggan tetap.

“Aku memang sudah beristri dan beranak, Nyai,” ujar Joko Tenang.

“Sudah aku duga,” kata Nangita.

“Tapi istrimu tidak kau bawa?” tanya Rinda.

“Tidak.”

“Berarti aman. Hihihi!” kata Subini lalu cekikikan.

Keempat anak manusia itu benar-benar terlihat akrab dan memang akrab. Mereka senang. (RH)

Terpopuler

Comments

momoy

momoy

tukang rujak nya Mak kudul kurut ya om🤭🤭🙏🙏

2023-09-02

1

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈

Joko Tenang benar" tenang dan suka bercanda ya membuat Mak" klepek-klepek wkwkwkw

2023-09-02

2

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

◌ᷟ⑅⃝ͩ● °°~°°Dita Feryza🌺

alhamdulillah warung rujak saya lumayan populer tidak hanya di kalangan ibu hamil saja, om mau mampir kagak😋

2023-08-23

1

lihat semua
Episodes
1 Pemuji 1: Tamu Lancang
2 Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3 Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4 Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5 Pemuji 5: Joko Tenang
6 Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7 Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8 Pemuji 8: Tamu Agung
9 Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10 Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11 Pemuji 11: Mencari Joko
12 Pemuji 12: Obrolan Rujak
13 Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14 Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15 Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16 Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17 Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18 Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19 Pemuji 19: Bertemu Lagi
20 Pemuji 20: Muara Jerit
21 Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22 Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23 Pemuji 23: Pertolongan Joko
24 Pemuji 24: Mengobati Putri
25 Pemuji 25: Target Lain
26 Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27 Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28 Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29 Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30 Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31 Pemuji 31: Pisah dan Janji
32 Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33 Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34 Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35 Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36 Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37 Pemuji 37: Amarah Prabu
38 Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39 Pemuji 39: Menyergap Joko
40 Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41 Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42 Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43 Pemuji 43: Nyai Bale
44 Pemuji 44: Gusti Raja
45 Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46 Pemuji 46: Kehilangan
47 Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48 Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49 Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50 Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51 Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52 Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53 Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54 Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55 Pemuji 55: Rayuan Joko
56 Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57 Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58 Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59 Pemuji 59: Putri Mahapatih
60 Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61 Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62 Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63 Pemuji 63: Nyaris Gila
64 Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65 Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66 Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67 Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68 Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69 Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70 Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71 Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72 Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73 Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74 Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75 Pemuji 75: Isi Perjanjian
76 Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77 Pemuji 77: Serangan Hantu
78 Pemuji 78: Anak Halus
79 Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80 Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81 Pemuji 81: Rencana Serangan
82 Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83 Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84 Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85 Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86 Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87 Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88 Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89 Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90 Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91 Pemuji 91: Perang
92 Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93 Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94 Pengumuman Duka
95 Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96 Pemuji 95: Pertarungan Langit
97 Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98 Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99 Pengumuman Sanggana7
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Pemuji 1: Tamu Lancang
2
Pemuji 2: Melihat Permaisuri Nara
3
Pemuji 3: Permaisuri Paling Sakti
4
Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan
5
Pemuji 5: Joko Tenang
6
Pemuji 6: Tiga Istri Pelaut
7
Pemuji 7: Menertawakan Pendekar Receh
8
Pemuji 8: Tamu Agung
9
Pemuji 9: Tawaran Kerja Sama
10
Pemuji 10: Bertemu Sahabat Lama
11
Pemuji 11: Mencari Joko
12
Pemuji 12: Obrolan Rujak
13
Pemuji 13: Perintah Rahasia Joko
14
Pemuji 14: Perasaan Putri Ani
15
Pemuji 15: Budidaya Ikan Perut Emas
16
Pemuji 16: Jumpa Mata Samudera
17
Pemuji 17: Bayangan Joko Mengganggu
18
Pemuji 18: Pembunuh Gelap
19
Pemuji 19: Bertemu Lagi
20
Pemuji 20: Muara Jerit
21
Pemuji 21: Tawa Putri Ani
22
Pemuji 22: Serangan Berbahaya
23
Pemuji 23: Pertolongan Joko
24
Pemuji 24: Mengobati Putri
25
Pemuji 25: Target Lain
26
Pemuji 26: Pembunuh yang Hilang
27
Pemuji 27: Kabar Mengejutkan
28
Pemuji 28: Terduga Pembunuh
29
Pemuji 29: Jasa Rompi Merah
30
Pemuji 30: Pasukan Pengaman Putri Datang
31
Pemuji 31: Pisah dan Janji
32
Pemuji 32: Seteru Ayah Anak
33
Pemuji 33: Pengirim Lintas Dunia
34
Pemuji 34: Peringatan Dari Menteri
35
Pemuji 35: Selamat Jalan Agi Lodya
36
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong
37
Pemuji 37: Amarah Prabu
38
Pemuji 38: Kekasih Putri Ani
39
Pemuji 39: Menyergap Joko
40
Pemuji 40: Pelajaran dari Joko
41
Pemuji 41: Kisah Putri Ani
42
Pemuji 42: Jawaban Jujur Joko
43
Pemuji 43: Nyai Bale
44
Pemuji 44: Gusti Raja
45
Pemuji 45: Putri Ani Cinta Joko
46
Pemuji 46: Kehilangan
47
Pemuji 47: Reksa Dipa Rusuh
48
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa
49
Pemuji 49: Putri Ani "Diperkosa"
50
Pemuji 50: Istana Ratu Serigala
51
Pemuji 51: Keterkejutan Para Istri
52
Pemuji 52: Perguruan Tunas Mahkota
53
Pemuji 53: Pangeran Tirta Gambang
54
Pemuji 54: Hutan Malam Abadi
55
Pemuji 55: Rayuan Joko
56
Pemuji 56: Cerita Menyakitkan
57
Pemuji 57: Rincing Masuk Istana
58
Pemuji 58: Interogasi Sang Prabu
59
Pemuji 59: Putri Mahapatih
60
Pemuji 60: Sejajar dengan Ratu
61
Pemuji 61: Curiga Prabu Galang
62
Pemuji 62: Pergerakan Pasukan Kerajaan
63
Pemuji 63: Nyaris Gila
64
Pemuji 64: Joko Tenang, Prabu Dira
65
Pemuji 65: Putri Ani Tunduk
66
Pemuji 66: Pasukan Gajah Besi
67
Pemuji 67: Pertemuan Dua Pasukan
68
Pemuji 68: Perang Perbatasan Timur
69
Pemuji 69: Mendobrak Pasukan Kaki Gunung
70
Pemuji 70: Melawan Panglima Untut
71
Pemuji 71: Pengakuan Putri Ani
72
Pemuji 72: Tipuan Teluk Busung
73
Pemuji 73: Sepakat dengan Adipati
74
Pemuji 74: Perjanjian Muara Jerit
75
Pemuji 75: Isi Perjanjian
76
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai
77
Pemuji 77: Serangan Hantu
78
Pemuji 78: Anak Halus
79
Pemuji 79: Menghadang Rayu Pelangi
80
Pemuji 80: Menculik Mahapatih
81
Pemuji 81: Rencana Serangan
82
Pemuji 82: Jebakan Pinggir Sungai
83
Pemuji 83: Menangkap Sahabat Joko
84
Pemuji 84: Nasib Mahapatih
85
Pemuji 85: Menaklukkan Pasukan Selatan
86
Pemuji 86: Kedatangan Pasukan
87
Pemuji 87: Hukuman dari Joko
88
Pemuji 88: Laporan untuk Prabu Galang
89
Pemuji 89: Memasuki Ibu Kota
90
Pemuji 90: Dua Prabu Bertemu
91
Pemuji 91: Perang
92
Pemuji 92: Pertempuran Pasukan Pendekar
93
Pemuji 93: Satu Lawan Dua
94
Pengumuman Duka
95
Pemuji 94: Perintah Putri Mahkota
96
Pemuji 95: Pertarungan Langit
97
Pemuji 96: Prabu Menang Kalah
98
Pemuji 97: Penguasa Baru (Tamat)
99
Pengumuman Sanggana7

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!