*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Sebelum hari kian gelap, Joko Tenang diajak oleh Menteri Badaragi untuk melihat pabrik Badarkopi yang ada di sisi selatan kediaman besar sang menteri. Tentu Joko Tenang tidak mungkin melakukan pembelian besar jika tidak melihat barang mentahnya.
Ketika mereka sudah hendak sampai, aroma kopi sudah tercium kuat menyambut kedatangan mereka. Asli, Joko Tenang menyukai aroma tersebut. Sebagai orang baru, tentu reaksi Joko Tenang berbeda dengan pemilik kopi dan pengawal pemilik kopi.
Ronda Galo berjalan mengawal di belakang.
“Para pekerjaku bekerja sampai matahari terbenam,” kata Badaragi.
“Aku sangat suka aroma kopi ini,” kata Joko.
“Penyuguhan Badarkopi ada dua macam, yaitu mencampurnya dengan madu Gunung Dewi Runa dan tanpa campuran madu. Yang murni rasa pahit, lebih menyegarkan mata. Jangan heran, jika setelah meminum kopi ini, kau bisa sulit tidur, Joko. Hahaha!” kata Badaragi.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang pula mengimbangi.
Mereka sudah melihat keberadaan sebuah bangunan bambu yang semi terbuka, tapi beratap rumbia. Bangunan itu luas dan memanjang. Ada sejumlah lelaki dan wanita yang sedang bekerja, baik itu yang bekerja di bagian pemilahan biji kopi, di bagian penjemuran, bagian pemanggangan, penggilingan hingga bagian pengemasan.
Salah satu yang harus mereka lewati untuk sampai ke tempat pabrik kopi, mereka melewati jalan yang pada sisi kanannya ada tangga batu yang menuju ke tanah bawah. Di bawah itu ada beberapa kolam ikan.
Karena lewat, pastinya Joko Tenang melihat ke bawah. Dia melihat Putri Ani Saraswani, Badira dan Rincing Kila sedang mengawasi beberapa pekerja lelaki yang sedang mengurus sejumlah ikan seukuran orok manusia yang dijaring dari dalam kolam. Entah, apa yang para pekerja itu perbuat terhadap ikan-ikan besar tersebut.
Ada pula aliran air dari dalam dinding batu buatan sehingga berwujud air terjun mini yang indah dengan dipercantikkan sekelompok tanaman hias.
“Sedang apa Gusti Putri di bawah sana, Gusti?” tanya Joko Tenang, kepo.
“Kolam-kolam itu milik Gusti Putri Ani dan putriku. Mereka mengembangbiakkan ikan perut emas. Harga telurnya jauh lebih mahal dari dagingnya,” jawab Badaragi.
“Oh ya? Aku sepertinya pernah mendengar nama ikan itu, tetapi aku baru tahu jika telurnya bisa lebih mahal dari dagingnya,” kata Joko Tenang.
“Hahaha!” tawa Badaragi. “Tidak percuma kau datang ke Digdaya ini, Joko. Pengetahuanmu tentang makanan lezat semakin bertambah. Telur ikan perut emas sangat lezat diolah jadi jenis makanan apa saja.”
“Aku jadi penasaran. Hahaha!” kata Joko lalu tertawa pendek.
Sementara di bawah sana. Rincing Kila melihat keberadaan Joko Tenang dan Badaragi yang sedang memandangi mereka.
“Gusti, lihat ke atas,” kata Rincing Kila kepada junjungannya.
Putri Ani Saraswani dan Badira segera menengok memandang ke atas.
Deg!
Ber-deg lagi jantung Putri Ani Saraswani ketika dia dan Joko Tenang bertemu pandang. Sebenarnya bukan dia saja yang ber-deg jantungnya, tetapi juga putri Pak Menteri. Hanya tidak saling mengungkapkan.
Melihat sang putri memandang kepada mereka yang di atas tangga, Joko Tenang sedikit membungkuk menjura hormat kepada sang putri sembari tersenyum.
Hormat dan senyum itu seketika memberi serangan rasa ke dalam hati Putri Ani, sampai-sampai dia agak salah tingkah, meski samar. Kondisi itu membuatnya balas tersenyum dan mengangguk kecil.
“Begitu indah,” ucap Joko Tenang pelan. Lalu katanya kepada Badaragi, “Kecantikan dan senyum Gusti Putri begitu indah, Gusti.”
“Ya, kau benar, Joko. Namun, sudah lama dia tidak tertarik dengan seorang lelaki pun,” kata Badaragi. “Jika kau tertarik juga untuk membeli ikan perut emas, kau bisa berbisnis dengan Gusti Putri.”
“Oooh ya. Silakan, Gusti,” ucap Joko Tenang lalu mempersilakan sang menteri melanjutkan perjalanan menuju ke pabrik kopi.
“Tapi aku perlu merasakan dulu selezat apa makanan telur ikan perut emas itu sebelum mempertimbangkan. Jika memang bisa menguntungkan, tentunya aku akan mencoba,” kata Joko Tenang.
“Di ibu kota ini, hanya ada satu tempat yang menyediakan makanan telur ikan perut emas, yaitu di rumah makan Muara Jerit. Hanya Gusti Putri yang memiliki budidaya ikan ini di Ibu Kota, jadi dia pemasok tunggal ke rumah makan itu. Peternak lain ada di wilayah kadipaten, tapi tidak besar. Selain di sini, Gusti Putri juga memiliki tiga tempat lain penangkaran ikan perut emas,” jelas Badaragi.
“Ikan perut emas ini jenis air laut atau air tawar, Gusti?” tanya Joko Tenang.
“Air laut, Joko,” jawab Badaragi.
“Aku melihat air terjun kecil yang keluar dari dinding menjadi air yang mengaliri kolam-kolam?” tanya Joko Tenang.
“Itu air laut, Joko. Kerajaan ini memiliki Bendungan Air Laut. Air di laut diangkat menggunakan beberapa kincir besar yang dituang ke bendungan, yang kemudian dialirkan untuk kolam-kolam di Istana dan Ibu Kota yang memelihara ikan air asin. Tidak masalah jika darat lebih tinggi dari permukaan air laut,” jelas Badaragi.
“Wow! Sistem perairan yang sangat bagus, bisa mengambil air laut untuk mengisi kolam-kolam di daratan,” puji Joko Tenang takjub.
“Itu ide pikiran dari seorang pengembara bermata biru dari negeri di ujung samudera. Pengembara itu tinggal selama dua purnama di sini dan membangun pengairan itu. Sepuluh tahun yang lalu,” kisah Badaragi.
Akhirnya mereka bertiga sampai di pabrik kopi. Badaragi menjelaskan tentang tahapan-tahapan dalam proses pembuatan kopi, dari buah kopi, biji kopi, penyaringan, pemanggangan, penggilingan, hingga pengemasan.
Komoditi kopi yang merupakan minuman mahal saat itu, memiliki kemasan yang mewah juga, yaitu berupa tabung bambu berukir dan dicat warna perak dengan warna ukiran merah.
Badaragi pun menjelaskan hitung-hitungan harganya hingga harga eceran agar Joko Tenang bisa untung banyak dari usaha perkopian.
Setelah melihat wujud akhir dari produk Badarkopi, Joko Tenang pun kemudian menentukan jumlah pembeliannya.
“Untuk pembelian awal, aku membeli sepuluh peti, Gusti. Untuk sementara aku simpan di sini lebih dulu sampai aku menyiapkan jasa pengiriman,” kata Joko Tenang. “Pembayaran akan aku selesaikan besok sore. Aku akan ke mari. Mudah-mudahan ada jawaban dari Gusti Prabu Galang tentang penawaranku.”
“Baik,” ucap Badaragi sepakat.
Setelah menentukan jumlah pembeliannya, Joko Tenang pun izin pamit pulang kepada sang menteri.
Namun, entah karena kebetulan atau memang jodoh, ketika Joko Tenang dan Badaragi melintas di atas tangga batu, Putri Ani Saraswani sedang menaiki tangga.
Melihat pemuda tampan berbibir merah itu melintas di atas, Putri Ani Saraswani jadi menghentikan langkah naiknya. Demikian pula dengan Badira dan Rincing Kila, mereka berdua ikut berhenti dan mendongak.
Lagi-lagi Joko Tenang tersenyum semanis madu Gunung Dewi Runa sembari mengangguk kepada Putri Ani Saraswani.
Ber-deg lagi jantung sang putri mendapat senyuman dari si bibir merah. Serasa melayang hatinya, tapi tidak raganya. Bisa bahaya jika raga sang putri melayang dari tangga. Menteri Badaragi pun mengangguk tanda hormat kepada junjungannya.
Badaragi, Joko Tenang dan Ronda Galo berlalu lebih dulu.
“Ayo naik, Gusti!” bisik Badira sambil mencubit pelan pergelangan kaki Putri Ani, setelah kaum batangan itu pergi.
“Eh!” pekik Putri Ani agak terkejut.
“Pasti Gusti Putri terpaku persendiannya mendapat senyum dari si bibir merah,” kata Rincing Kila menggoda.
“Kau bicara apa?” hardik Putri Ani Saraswani sambil menengok ke bawah. “Apakah kalian tidak aneh, seorang pemuda memakai gincu?”
“Hihihi!” Badira dan Rincing Kila malah tertawa cekikikan. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
momoy
cuma bisa bilang gokil cerita nya siom keren abis,kece badai lah pokok nya
2023-09-02
1
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
hadeh bakalan selusin ni istri Joko klu dia mau menikah dengan putri Ani hhhh
2023-09-02
1
ICʝιвяιℓ ємєяѕση_ADINDA💐
Harusnya mangbTelur yg lebih mahal karena tanpa Telur gak akan jadi anak🤣
2023-08-26
2