Berada disebuah depan mini market kini Dita dan orang yang hampir ia tabrak tadi duduk bersama. Sambil menikmati kopi instan keduanya tampak saling berbicara.
" Sedang apa kamu di sini? Apakah kemarin pulang dengan selamat?"
" Ya, aku pulang dengan selamat. Aku ke sini untuk berlibur."
Dita mengerutkan kedua alis nya. Apakah yang dikatakan Ameer tidak salah. Berlibur? Bukannya kata pria itu dia berasal dari keluarga sederhana? Dita merasa aneh dengan pria yang ada di depannya tersebut.
Sial, aku salah membuat alasan. Dia gadis yang cerdas. Dia pasti akan curiga kepadaku. Aku harus segera mengubah alasanku.
Ameer merutuki dirinya sendiri. Ia sedikit ceroboh tadi. Rupanya hal-hal begini lah yang dikhawatirkan oleh Odion
" Maksudku aku mendapatkan jatah pembuatan tugas akhir di negara bagian Asia Tenggara. Dan aku memilik di sini karena keanekaragaman budaya nya. Ini tentu akan jadi nilai plus untuk tugasku bukan? Apakah Letnan Dita punya waktu untuk menjadi guide tour ku."
" Maaf sepertinya aku tidak bisa. Banyak hal yang harus ku kerjakan."
Raut wajah Ameer seketika berubah. Ia rasa kesempatannya mendekati sang letnan akan menemui jalan buntu. Tapi dia masih memiliki cara lain.
" Aaah Anda pasti sangat sibuk. Tapi bolehkan aku meminta nomor Anda?"
" Ehmmm baiklah."
Dita memberikan nomor ponsel yang satu lagi miliknya. Nomor ponsel yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaannya. Ia tentu tidak boleh memberikan nomor ponsel yang biasanya ia gunakan dalam pekerjaan kepada sembarangan orang. Meskipun ia mengenal Ameer akan tetapi mereka belum mengenal dekat.
" Baiklah, aku harus pergi."
" Oke Letnan Dita, see you next time."
Dita hanya mengangguk lalu melenggang menuju mobilnya dan pergi dari tempat tersebut. Ameer melihat mobil Dita hingga tidak terlihat lagi.
" Sepertinya tidak akan mudah aku mendapatkannya. Tidak masalah, aku tetap akan berusaha. Aku yakin bisa mendapatkan hatinya."
Khaleed tersenyum, pemuda itu jika sudah memiliki keinginan pasti sebisa mungkin akan mewujudkannya. Itu adalah prinsip yang selama ini dipegang oleh pemimpin gangster Vugel Celio tersebut.
*
*
*
Dita sudah berganti pakaian. Ia mengenakan pakaian berwarna hitam semua. Dita juga meninggalkan atribut identitas miliknya di kamar. Ia pergi benar-benar tanpa nama.
" Apakah siap sayang?"
Dika masuk ke kamar sang putri lalu memeluk anak gadis nya tersebut. Selalu ada rasa tidak rela jika putrinya bergi melaksanakan misi. Dika terkadang menyesali dirinya yang memberikan Dita izin untuk menjadi seorang militer.
" Pa, jangan mulai lagi ya."
Dita melihat wajah sang papa yang sudah tidak muda lagi itu. Kerutan mulai nampak di wajah Dika, tapi tetap saja bagi Dita papa nya adalah pria tertampan.
" Enggak sayang, papa hanya ingin kamu selalu berhati-hati dalam bertugas. Jangan tinggalkan ibadah mu. Selalu minta perlindungan-Nya."
Dita mengangguk paham. Kini ia yang memeluk pahlawan dalam hidupnya itu. Dika selalu menjadi pahlawan di hati anak-anak nya. Sosok yang lembut dan penyayang. Seketika Dita mempunyai keinginan, jika ia menikah ia ingin sosok pria itu seperti papa nya.
" Sayang, are you ready?"
" Yes Mom, i'm ready to go."
Dita dan Dika berjalan menuju ke luar kamar. Silvya sudah menunggu, tim yang dipersiapkan ole Silvya dan Arduino pun juga sudah siap dan saat ini mereka sudah ada di sebuah hangar pesawat milik Linford Transportation.
" Ma, apa ini adalah senjata milik uncle Jason?"
" Ya sayang, Uncle Ar meminta itu kepada Uncle Jas. Ada beberapa formula di sana. Salah satunya formula penghapus ingatan. Gunakan itu untuk kelima ilmuan setelah misi mu selesai. Itu akan berfungsi untuk menghapus ingatan beberpa jam sebelum kejadian jadi mereka tidak akan mengingat mu dan tim."
Dita paham dengan penjelasan sang mama. Saat ini Dika dan Silvya mengantarkan Dita menuju lokasi dimana semua orang sudah menunggu di sana. Berkali-kali Dika melihat wajah sang putri dan ditangkap oleh mata Silvya.
" Mas."
" Iya sayang aku tahu."
Silvya tidak ingin Dika melow nanti saat melepaskan Dita. Pria paruh baya itu kemudian menyalakan radio. Sebuah lagu lawas di putar di sana malah semakin menambah suasana hati Dika semakin tidak karuan.
All my bags are packed
I'm ready to go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
Lagu milik Chantal Kreviazuk yang menjadi salah satu original soundtrack sebuah film dengan misi perjalanan pengeboran asteroid itu merupakan lagu perpisahan saat pemeran utamanya akan pergi. Dan, saat ini momennya begitu pas. Dika bahkan sudah meneteskan air matanya.
Silvya menggelengkan kepalanya pelan lalu mematikan radio tersebut. Jika kemarin dia yang tidak rela Dita pergi kini giliran sang suami. Seperti yang pernah dia katakan bahwa melepaskan Fita kali ini malah lebih tenang ketimbang misi kemarin. Bagaimanapun Silvya tentu lebih mengenal kekuatan tim nya.
Bukannya dia meremehkan tim milik Dita, akan tetapi bergerak tanpa ada komando legal tentu lebih leluasa. Itulah yang dipikirkan mantan queen mafia tersebut.
" Pa di film tu yang meninggal banyak kan ya pa."
" Dita!"
Satu suara dengan nada seikit naik satu oktaf dikeluarkan oleh Silvya. Ibu dua anak itu sedikit kesal kepada sang putri yang sengaja meledek papa nya.
" Pa, I will be ok. Apa papa meragukan mama dan uncle Ar serta uncle Jas?"
" No baby. I don't worry about them. But i'm still worry about you."
Dita mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dari sejak dulu papa nya tidak pernah berubah sedikit pun. Gadis itu kemudian mengatakan banyak hal agar sang papa merasa lebih tenang.
Mobil yang dikemudikan Dika langsung menuju ke lapangan udara dan ke hangar tempat tim berkumpul. Setidaknya ada sekita 30 orang yang di sediakan Silvya dan Ar. Tampaknya Ar juga berada di sana untuk ikut mengantar kan sang keponakan. Dita berlari lalu memeluk Ar.
" Oh astaga, keponakan uncle kenapa sudah begitu besar hmmm."
" Aku seorang letnan bukan lagi seorang bayi."
Tawa Ar meledak di sana. Dita juga memeluk Ian, rupanya uncle nya tersebut juga mengantar Dita.
" Abang Smith akan ikut bersama mu," ucap Ian sambil mengusap kepala Dita.
" Benarkah?" Dita terlonjak senang karena putra dari Ian itu akan menemaninya. Smith yang berdiri di sebelah Ian pun mengangguk. Seperti sang papa, Smith tidak hanya mumpuni di bidang pekerjaan kantor. Akan tetapi kemampuannya di lapangan tentu tidak perlu diragukan lagi. Silvya tersenyum senang, paling tidak ada seseorang yang akan dijadikan partner diskusi oleh putrinya.
" Apa Rika tahu,"
" Woo ya tentu tidak tante. Kalo mami tahu bisa berabe," jawab Smith sambil terkekeh kecil. Pemuda 30 tahun itu tentu tahu mami nya akan mencak-mencak jika mengetahui apa yang dia lakukan.
Dita kemudian memberikan arahan kepada semua orang di sana mengenai apa misi kalia ini. Tentu sebelumnya semua nya sudah dijelaskan oleh Silvya dan Ar akan tetapi Dita tetap mengulangnya kembali.
Semuanya kemudian mulai berjalan keluar hangar lengkap dengan membawa senjata mereka dan masuk satu per satu ke dalam pesawat. Dita masuk terakhir, tapi sebelumnya ia kembali pamit kepada kedua orang tuanya dan kedua uncle nya tersebut. Lambaian tangan mengiringi gadis itu masuk ke pesawat. Namun sebuah teriakan seseorang menghentikan Dita yang akan menghilang dari balik pintu.
" Letnan Dita, tunggu !!!"
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Typo
Ameer atau Alsaki
2024-02-20
1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
pasti bang Alsaki nih yg manggil Dita
2023-12-02
0
nandayue
mas al ikut
2023-07-02
1