Alsaki dan Ady menunggu di luar ruangan dengan sangat penasaran. Bagaimana tidak, sudah sekitar satu jam Dita berada di dalam dan belum ada tanda-tanda keluar. Baik Al maupun Ady merasa tidak tidak tenang. Keduanya berjalan kesana-kemari untuk mengurangi rasa itu.
" Siap Laksanakan!"
Suara Dita menggema, dan bisa di dengar oleh Al maupun Ady. Suara pintu di buka oleh Dita dan kedua pria tersebut langsung menghampiri sang Letnan.
" Bagaimana?"
" Kemana?"
Dua pertanyaan berbeda disampaikan oleh Al dan Ady secara bersamaan, namun sepertinya Dita belum mau menjawabnya. Gadis itu tersenyum lalu mengajak mereka berdua untuk kembali pulang terlebih dulu.
Al paham, nampaknya ini bukan sesuatu yang mudah. Maka dari itu Al memilih diam dan menuruti apa yang Dita inginkan. Sedangkan Ady, dia juga tidak banyak bicara. Dia pun hanya bisa menunggu letnan mereka untuk menjelaskan.
" Ini adalah sesuatu yang sedikit berbeda dari misi sebelumnya. Misi kali ini kalian harus pergi tanpa menggunakan identitas kalian. Ada satu hal yang harus ku sampaikan, jika kalian berhasil melaksanakan ini maka kalian semua akan mendapatkan balasan yang sesuai, tapi jika kalian gagal maka kalain hanya akan dinyatakan gugur bukan karena sebuah tugas tapi karena sebuah penyakit."
Kata-kata atasan Dita terngiang sepanjang perjalanan dari mabes ke rumah Al. Perintah misi itu adalah misi bayangan, dimana tidak terdapat dalam job desk mereka. Misi ini adalah misi sukarela atau bantuan. Beresiko dan tanpa pernah akan diketahui oleh siapapun juga meskipun mereka berhasil.
" Bang, antarkan aku ke rumah ya."
" Ya Ta."
Alsaki benar-benar tidak bertanya apapun. Melihat raut wajah Dita yang semakin gelisah pria itu hanya menebak-nebak saja. Sekitar 30 menit, mobil Alsaki sampai di depan rumah Dita. Gadis itu tersenyum ke arah Alsaki dan Adyaksa dan melenggang ke dalam pekarangan rumah lalu masuk ke dalam.
" Sebenanrnya ada apa Al?"
" Entahlah Ad, kita tunggu saja. Tapi jika aku tidak saah ini pasti sesuatu yang sedikit lain dari biasanya."
" Misi rahasia? Bukannya kita sering mendapatkan itu."
" Kau benar, tapi ini mungkin sedikit lain"
Alsaki kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Ia yakin Brahma dan Eka pasti mencari mereka. Pasalanya tadi kedua orang itu tidak tahu jika ketiga orang lainnya pergi dari rumah.
" Bang, mereka kemana sih kok tiba-tiba hilang." Eka yang terkejut mendapati rumah sangat sepi langsung membangunkan Brahma. Pemuda itu terbangun sangat ingin buang air kecil. Ia lantas mencari keberadaan ketiga rekannya namun tidak ada juga.
" Mungkin keluar membeli sesuatu, atau?"
Belum selesai Brahma dengan ucapannya, suara mobil Alsaki terdengar berhenti di depan rumah. Eka dan Brahma pun langsung berlari keluar bertanya apa yang terjadi. Kedua orang itu juga menanyakan keberadaan Dita.
" Tadi tiba-tiba dapat panggilan dari atasan, kita bertiga langsung ke sana. Tapi Dita tidak mengatakan apapun dan sekarang dia pulang ke rumahnya."
Alsaki menjelaskan dengan singkat. baik Eka mupun Brahma tentu tidak langsung paham dengan apa yang dikatakan Alsaki hingga Adyaksa menambhakan.
" Oke kita biarkan saja dulu. Pasti dia sedang berpikir, apapun yang akan jadi keputsan Dita kita hargai. Ingat dia puya tanggung jawab yang lebih besar dari hanya sekedar seorang ketua Tim Bravo dan seorang Letnan."
Kata-kata Brahma selalu bisa membuat mereka berpikir jernih. Tidak dipungkiri memang, usia Brahma yang paling tua diantara mereka membuat pola pikir Brahma juga sangat dewasa. Hal itu tentu bisa menenangkan mereka yang saat ini sedang kalut dengan tugas apa yang sebenarnya diterima oleh sang letnan.
*
*
*
tok tok tok
" Ma ... "
Sesampainya di dalam rumah, Dita langsung meuju ke kamar kedua orang tuanya. Ia mengetuk pintu kamar mama dan papa nya. Dita merasa hal ini perlu dibicarakan kepada kedua mama nya. Ia yakin mama nya punya solusi yang baik.
Tap tap tap
Ceklek
" Hei sayang, baru pulang. Mama pikir mau nginep bersama anggota mu. Ada apa hmm?"
Silvya sedikit mengerutkan kedua alisnya melihat raut wajah sang putri yang tidak biasa tersebut. Ia lalu membawa putrinya masuk ke dalam kamar. Di dalam Dika juga langsung terbangun dan menyalakan lampu kamar. Kedua orang itu saat ini masih diam,menunggu putri bungsu mereka bercerita.
" Dita cuma punya waktu sampai besok jam 7 untuk membuat keputusan. Tapi Dita nggak mau membawa mereka dalam misi kali ini. Misi ini misi abu-abu yang sebenarnya tidak ada juknis nya juga."
Silvya kini paham apa yang menjadi kegelisahan sang putri. Pun dengan Dita. Keduanya saling pandang dan tersenyum. Bagi Silvya ini pasti akan mudah. Ia masih memiliki anggota militan tentunya. Jangan lupakan Arduino, uncle nya Dita itu juga masih kokoh berdiri.
" Mau membawa anggota Wild Eagle dan Black Wolf?" tawar Silvyua yang ditanggapi tatapan tanya dari Dita.
Silvya lalu mengajak purinya keluar kamar dan disusul oleh Dika. Mereka duduk di dapur dengan Silvya membuat teh panas untuk semua orang yang ada di sana.
" Maksud mama bagaimana, aku masih nggak paham."
Silvya tersenyum, ia menyeruput teh panasnya itu terlebih dahulu sebelum memberi penjelasan kepada sang putri. Di sini Dika hanya akan jadi pendengar yang baik karena hal tersebut bukan lah bidangnya.
" Apa Dita lupa kalau mama memiliki Wild Eagle dan Uncel Ar memiliki Balck Wolf? Meskipun organisaisi kami itu tidak lagi bergerak dalam bidang yang lama tetapi kami sampai saat ini masih eksis dan anggota kami semakin bertambah. Wild Eagle dengan jasa penyedia kemanan dan Black Wolf sebagai jasa perlindugan hukum atau pengacara."
Dita tentu ingat jika dua nama yang dikatakan oleh mama nya tersebut adalah mantan klan mafia. Tapi Dita tidak percaya hingga saat ini keduanya masih aktif. Meskipun dengan bidang pekerjaan yang berbeda tapi ternyata bidang tersebut merambah ke dunia internasional.
" Jadi malksud mama?"
" Maksud mama, tidak masalah jika kamu pergi sendiri dan meninggalkan anggota mu karena kamu khawatir mengenai tugas ini. Di sini atasanmu tidak mempermasalahkan cara mu untuk menyelesaikan misi kan? nah mama akan bantu dengan mengirimkan orang-orang mama untuk bersama mu menyelesaikan misi tersebut, dan juga orang-orang Uncle Ar tentunya."
Dita kini akhirnya paham maksud sang mama. Ia seperti mendapatkan durian runtuh saat ini, meskipun Dita tidak suka durian. Tapi perumpamaan tersebutlah yang pas mewakili apa yang saat ini ia rasakan.
" Beritahu kepada atasanmu kamu menerima misi ini sendiri, setelah itu jelaskan pada mama dan Uncel Ar seperti apa situasinya. Mama juga akan meminta tolong kepada Mr. Sun untuk membantu mencari tahu mengenai kondisinya."
Dita mengangguk, ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi sang atasannya
" Malam pak, saya menerima misi tersebut sendiri. Saya tidak akan membawa tim saya."
" Apa kau yakin Dita?"
" Ya, saya sangat yakin."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Typo
semangat Dita pasti akan dgn anggota mama mu juga anggota uncle mu
2024-02-20
1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
pasti nanti Alsaki ikut deh 😅😅trus ini misi apa ya 🤔🤔
2023-12-02
1
annisa
ga bawa tim saya, cuma bawa semua kekuatan keluarga saya , gitu ya Dit
2023-10-26
0