Seminggu berlalu, keadaan Ameer membaik bahkan ia terlihat membantu relawan di dapur umum. Satu hal yang menarik, Ameer pandai memasak. Terlihat pria itu begitu cekatan meracik bumbu dan menggunakan peralatan dapur. Ia juga terlihat mudah beradaptasi dengan relawan yang lain.
Dita yang hendak mengambil minum sore itu sedikit terkejut melihat Ameer disana. Satu hal kelemahan wanita itu yakni memasak, jadi saat melihat pria itu memasak membuat ia sedikit iri. Dita bisa menggunakan semua senjata, banyak ilmu bela diri, lari berkilo-kilo meter atau mengendari motor balap dia bisa. Tapi memasak, Dita sungguh angkat tangan. Sedikit merasa minder dengan sang mama, mama nya begitu pandai dalam memasak.
" Apa kau memasak?"
" Waah Letnan Dita, Anda di sini. Ya saya memasak. Saya lahir di keluarga sederhana dan memiliki banyak adik jadi saya sering membantu ibu saat di dapur."
Dita mengerti, ia menilai Ameer adalah pribadi yang mandiri. Selama di barak militer tersebut, Ameer pun ikut memanggil Dita dengan sebutan letnan alih-alih kak atau nona. Ameer lebih suka memanggil begitu, baginya itu sangat keren.
" Baiklah kalau begitu, terimakasih sudah membantu."
Dita melenggang keluar setelah minum. Ia akan kembali memeriksa keadaan sekitar. Takut serangan dadakan diluncurkan, Dita tetap meminta seluruh anggotanya untuk waspada.
" Letnan Dita! Awas!"
Blaaaammmmm
Duaaaarrr
Bruuuk
" Letnan apa Anda baik-baik saja?"
Sebuah bom kembali dilemparkan. Baru saja Dita akan memeriksa keadaan sekitar tapi ternyata ledakan lebih dulu terjadi. Tubuhnya terpental bersama dengan seorang pria. Dita melihat wajah orang tersebut dengan seksama.
" Kau, apa yang kau lakukan ha!" teriak gadis itu di depan wajah pria yang saat ini memeluk tubuhnya.
" Maaf letnan, saya reflek."
Dita sedikit kesal. Bukannya tidak mau dilindungi tapi dia tentu ingat kalau Ameer masih dalam pemulihan. Dita langsung bangkit dan memeriksa Ameer, ia bernafas lega. Dengan sedikit menahan marah ia memperingatkan Ameer untuk tidak ikut terjun di saat situasi seperti tadi.
" Lain kali jangan melakukan hal yang membahayakan nyawa. Nyawa kalian adalah tanggung jawab kami di sini. Jadi jangan gegabah. Sebaiknya kamu kembali ke dalam."
Ameer mengangguk, Dita kemudian berlari memeriksa apa yang terjadi. Rupanya adalah serangan dadakan yang dilakukan musuh. Dita mengumpat kasar, bukan karena lelah, tapi tak habis pikir dengan orang-orang itu. Tega sekali mereka terus menyakiti warga yang lemah.
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan saling bertautan. Suasana yang tadi tenang kini kembali mencekam. Terlihat beberapa orang mulai mencari tempat perlindungan. Anggota tim Bravo juga tampak membantu beberapa warga dan menggendong anak kecil yang kesusahan untuk berlari.
Sekitar satu jam hujan peluru di daerah itu terjadi. Korban? Tentu ada. Beberapa warga sipil dan anggota militer terkena imbasnya. Dita sangat prihatin melihat kondisi ini.
" Ya Allah, kapan penderitaan mereka ini akan berakhir. Begitu beratnya kehidupan mereka. Sama sekali tidak ada ketenangan untuk mereka."
Baru saja Dita bergumam, ia tiba-tiba dikejutkan oleh Eka yang menggendong seseorang. Gadis itu menajamkan pengelihatannya. Betapa kaget nya dia saat mengetahui sipa ayang digendong oleh Eka tersebut.
" Indra!"
Dita berlari cepat menyusul Eka yang berlari menuju doom medis. Ia bahkan langsung menerobos masuk saat Indra sudah dibaringkan ke atas brangkar.
" Ka, Indra kenapa?"
Dilihtanya Eka hanya terdiam di sana. Sepertinya pemuda itu sedikit syok. Melihat orang tertembak tentu sudah biasa. Tapi melihat temannya sendiri yang tertembak, Eka tentu baru saat ini mengalaminya. Tangan pemuda itu berlumuran darah.
" Dokter, apa ini serius?"
" Jika dilihat dari USG, peluru mengenai organ vital. Kita butuh banyak darah untuk mencegah terjadinya pendarahan."
Tiiiiit
Monitor tersebut berbunyi panjang. Semua orang terkejut. Pun dengan Eka. Ia bahkan memundurkan langkahnya dan terjatuh ke lantai.
Dokter langsung mengambil tindakan. Indra mengalami henti jantung. Keadaan sama seperti Dita waktu itu. Tapi kali ini Indra jelas terkena tembakan.
" Bangun! Lo harus bangun. Bukannya lo mau tunangan. Aisyah pasti nunggu lo. Bangun gue kata. Bangun Indra. Bangsat lo, bangun nggak!"
Eka berteriak memaki temannya yang sedang diberi penanganan oleh dokter. Dita tentu paham bagaimana dekatnya indra dan Eka. Ia pun langsung memeluk tubuh Eka dan membawanya keluar membiarkan dokter fokus untuk menangani Indra.
Eka menangis di pelukan Dita. Anggota Tim Bravo pun mulai berdatangan. Mereka baru tahu apa yang terjadi setelah memastikan serangan tersebut berakhir.
Tidak banyak pertanyaan, melihat Eka yang menangis sudah membuat mereka tahu kalau keadaan Indra pasti buruk.
" Kak, dia mau nikah lo kak. Gimana ini kak. Gimana kalau dia nggak bangun."
" Sttt, doakan yang terbaik. Indra kuat kok. Dia pasti bisa bertahan."
Dita terus menenangkan Eka. Sebenarnya bukan hanya Eka saja yang sedih. Semua anggota tim merasakan hal yang sama.
Ceklek
Dokter keluar dari ruangan tersebut dan menanyakan siapa yang memiliki golongan darah A. Adyaksa dan Alsaki mengangkat tangan. Keduanya langsung masuk untuk pengambilan darah mereka.
Kini giliran Brahma yang menenangkan Eka. Dia bekali-kali mengusap punggung Eka dengan lembut. Dalam keadaan bertugas seperti ini terkena peluru bukan perihal yang mengejutkan. Namun meskipun begitu tetap saja mereka akan merasa sedih saat salah satu dari mereka terkena oleh timah panas tersebut.
Beberapa waktu kemudian Alsaki dan Adyaksa keluar. Tapi mereka juga tidak bisa mengatakan apapun karena tidak diperbolehkan untuk melihat. Setelah darah keduanya diambil, baik Alsaki maupun Adyaksa langsung diminta keluar.
Di dalam ruang operasi tim medis masih berusaha untuk menghentikan pendarahan akibat peluru yang mengenai salah satu organ vital milik Indra. Sekitar 3 jam operasi dilakukan. Mereka pun bernafas lega karena operasi berhasil dilakukan.
" Bagaimana dokter?"
" Semuanya berjalan lancar. Kita tinggal menunggu Letda Indra sadar."
Eka menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Haru bercampur lega dirasakan oleh pria itu. Brahma langsung menepuk bahu Eka pun dengan yang lainnya.
" Aku yakin dia tidak akan kenapa-napa," ucap Adyaksa kepada Eka. Eka pun mengangguk paham.
Dita melihat satu demi satu anggotanya. Menjadi abdi negara adalah pilihan hati dan keteguhan jiwa. Saat seperti ini memanglah akan hadir di kehidupan mereka. Akan tetapi semuanya sudah melekat ke dalam diri.
Setiap pergi bertugas, mereka sudah menyampaikan kepada keluarga mereka mengenai kemungkinan terburuk yakni pulang hanya tinggal nama. Satu hal yang tentu juga sudah dipahami oleh setiap keluarga yang ditinggalkan.
Namun doa selalu teriring untuk mereka agar selamat hingga kembali pulang. Dan tugas mereka adalah tetap menjaga keselamatan diri, meskipun terkadang nyawa berada di ujung tanduk
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
saya mohon Thor kl Dita jngn sampe berjodoh dngn Ameer 🙏🙏🙏
2023-12-02
2
Yurniati
update terus thorr
2023-06-21
1
Yurniati
tetap semangat terus thorr
2023-06-21
1