" Bang, sebenarnya keluarga Bang Alsaki kenapa sih. Kok kayaknya Bang Al kayak males gitu kalau ngomongin soal keluarga."
Dita membuka pembicaraan dengan Brahma saat mereka tengah duduk berdua melihat ketiga orang rekannya bermain di tempat permainan dalam pusat perbelanjaan. Brahma tentu terkejut dengan pertanyaan Dita tersebut. Selama ini Dita tidak pernah tertarik dengan kehidupan pribadi Alsaki, jadi ketika bertanya hal tentang itu terang saja Brahma terkejut.
" Oh iya Ta, ini bukannya salah satu mall milik tante mu ya."
" Baaaang, jangan mengalihkan pembicaraan."
Brahma menggaruk kepala nya yang tidak gatal sambil nyengir. Brahma benar-benar tidak bisa berkutik di depan Dita. Tapi dia juga tidak bisa sembarang menceritakan apa yang sudah Alsaki amanahkan kepadanya.
" Ta, maaf. Bukannya abang nggak mau cerita. Tapi, apa yang Al ceritakan ke abang itu seperti sebuah amanah. Abang nggak bisa menceritakan ke orang lain tanpa izin Al."
Dita membuang nafas nya kasar. Ia tidak bisa memaksa Brahma bercerita karena apa yang dikatakan Brahma tentu benar adanya.
Puas bermain, waktu nya mereka kembali ke rumah masing-masing. Tapi Alsaki tiba-tiba memgajak semua orang untuk mengunjungi rumah barunya. Rumah yang dia bangun selama setahun ini kini sudah jadi.
" Waah lets go lah, kebetulan istri lagi diminta lembur juga," ucap Brahma setuju.
" Aah, aku telpon mama dulu ya. Izin," ucap Dita yang dijawab anggukan kepala semua orang. Mereka cukup paham, jika sedang tidak bertugas letnan mereka ini benar-benar anak mama-papa.
" Udah, yoook gass. Mau beli apa nih."
" Nggak usah beli apa-apa. Nanti di rumah masak aja. Kebetulan aku ada stok bahan makanan di kulkas."
Alsaki kemarin sengaja berbelanja karena memang ingin mengundang rekan-rekannya ke rumah barunya.
Semua takjub dengan rumah yang Alsaki miliki. Meskipun nantinya mereka akan tinggal dimana mereka akan ditugaskan tapi paling tidak memiliki hunian sendiri adalah cita-cita setiap orang.
Rumah minimalis dengan dominasi cat warna putih itu memiliki halaman yang cukup luas. Itu memang cita-citanya. Alsaki berharap jika menikah nanti bisa memiliki banyak anak dan bisa melihat mereka berlarian di halaman.
" Keren Al, sejuk gini hawanya."
Ucapan Adi diikuti anggukan kepala ketiga orang lainnya di situ. Alsaki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria itu malu dan salah tingkah.
" Jadi mau bikin apa untuk makan malam ini?"
Semuanya sibuk di dapur untuk memulai membuat makanan. Wajah Alsaki tampak gembira. Sesekali pria itu mencuri pandang ke arah Dita dan hanya Brahma yang paham akan hal tersebut.
Haaaah, mau sampai kapan Al kamu menahan rasamu. Keburu di samber orang nanti. Haishhh, gemes juga sama nih bocah.
Brahma hanya mendengus kesal sambil bergumam dalam hati. Terlihat sekali binar cinta dimata Alsaki tapi pria itu benar-benar pengecut.
*
*
*
Di sebuah rumah yang Alsaki katakan seperti sebuah neraka dunia itu terlihat suami istri yang tengah bersitegang. Apa lagi jika bukan masalah uang.
Tanti meminta uang kepada Bagio yang baru saja mengambil dana pensiun peninggalan ibu Alsaki. Kali ini Tanti meminta lebih dengan alasan kebutuhan rumah semakin mahal tapi Bagio tidak mau tahu. Apa yang ia berikan dinilai sudah sangat cukup.
" Kenapa kau sekarang jadi pelit sekali sih?!"
" Laah bukannya pelit, tapi ya kita harus bisa menghemat uang sampai nunggu uangnya cair lagi bulan depan. Minta anak-anak itu bekerja, bukan hanya tau minta saja. Mereka sebenarnya yang memberi kita uang bukannya kita terus yang memberi mereka uang."
Bagio menatap kedua putra dan putrinya hasil pernikahannya dengan Tanti. Reno dan Resa hanya memutar bola matanya malas. Untuk usia Reno yang sudah 25 tahun dan Resa yang sudah 23 tahun seharusnya memang mereka masuk dalam usia produktif. Tapi kedua anak Tanti dan Bagio itu tidak. Mereka sepanjang hari hanya di rumah.
Jika Reno sibuk bermain game di ponselnya, maka Resa sibuk dengan pacar-pacar nya yang sering berganti. Para tetangga sudah banyak yang menggunjing tapi keluarga itu sungguh acuh. Cita-cita Resa yang ingin punya suami kaya dan mapan membuat gadis itu enggan bekerja dan malah berburu pria.
" Tck, kalian ini sudah dewasa. Bukannya semakin ngerti meringankan beban tapi malah nambah beban. Memangnya kalian nggak pengen gitu kerja punya uang sendiri. Nggak cuma tiap haru nodong terus minta uang."
Bagio mulia mode ceramahnya. Ya, setiap kali membahas tentang uang maka pria paruh baya itu akan mengulang kalimat yang sama dimana akan ia ucapkan kepada kedua anaknya tersebut. Baik Reno maupun Resa hanya memutar bola matanya jengah. Bahkan tak jarang keduanya mencibir sang ayah.
" Halaah jangan merasa sok paling bijak deh pak. Bapak emang ada kerja? Nggak kan? Bapak juga hanya ngandelin uang dari istri bapak yang sudah mati itu," ucap Reno sengit. Ia tentu tidak suka dikatakan sebagai beban. Meskipun sebenarnya memang real beban keluarga.
" Oh iya bukan nya kemarin bapak nyumpahin Alsaki cepet mati, nah kan mayan tuh kalau Alsaki mati beneran, uang pensiun bakalan ngalir ke bapak lagi. Jadi kita nggak perlu capek kerja," imbuh Resa.
Sungguh keluarga ini tampaknya sudah tak tertolong. Bagaimana bisa dengan entengnya mereka membahas kematian seseorang dan berharap agar hal tersebut datang kepada orang tersebut dengan cepat.
Dan, yang lebih menyakitkan lagi Bagio tampak setuju dengan ucapan putri bungsu nya itu. Yang menjadi pertanyaan, apakah Bagio sama sekali tidak pernah menganggap Alsaki sebagai putranya? Apakah tidak ada rasa sayang terhadap putranya?
Tampaknya hati orang-orang egois dan materialistis seperti mereka sudah dimatikan rasa nya oleh Tuhan. Jadi tidak lagi ada rasa empati di sana. Yang ada hanya sebatas uang, uang, dan uang.
Semuanya kini kembali diam, Reno mengangkat Satu sudut bibirnya saat Bagio diam tanpa kata. Ia sebenarnya sangat iri dengan pencapaian Alsaki. Kakak lelakinya itu seperti mulus-mulus saja dalam perjalanan hidupnya. Berprestasi, sering mendapatkan beasiswa, dan menjadi anggota tentara dengan mudah.
Tapi ya seperti itulah definisi orang yang tidak berusaha dan bersyukur. Mereka selalu akan menanggapi pencapaian orang lain dengan sikap iri dengki tanpa pernah berpikir ada perjuangan keras dibalik apa yang didapat.
" Oh iya, dia kan sekarang punya rumah baru, minta duit aja sama dia. Ya kali dia nggak akan ngasih sih kalau bapak yang minta."
Usul Reno membuat bagio menganggukkan kepala. Ia seperti mendapat angin segar untuk menambah isi dompetnya.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Typo
bener² keluarga gk ada yg bener gak ada akhlak, gak tau diri gak tau malu gak sadar diri, mereka makan hidup pake uang pensiun alm ibunya Alsaki lho
dasar keluarga tamak 😤
2024-02-20
0
N'Dön Jùañ Shakespeare
dasar keluarga laknat 😡
2023-12-16
1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
definisi kl keluarga Alsaki itu keluarga Dajjal perlu di takol pake palu Godam 😠😠😠
2023-12-02
1