Beberapa hari berlalu, gencatan senjata dilakuan. Pihak negara lain mengatakan tidak akan melakukan serangan karena mereka sedang merayakan hari raya negaranya.
Akan tetapi hal tersebut tidak serta merta membuat para relawan baik militer maupun medis melonggarkan keamanan. Mereka tetap berjaga di pos masing-masing. Begitupun dengan Dita. Dita yang sudah terlihat membaik sekarang pun segera melakukan tugas nya kembali.
" Aku akan pergi dulu ke kantor kedutaan untuk membuat laporan. Sekalian mengecek kondisi disepanjang jalan," ucap Dita kepada para anggotanya.
" Apakah mau ditemani?" tawar Alsaki.
Dita menggeleng lalu tersenyum. Gadis itu pun langsung berjalan keluar barak dan menaiki mobil menuju kedutaan. Sejenak Alsaki merasa khawatir terhadap Dita. Bagaimanapun Dita kemarin baru saja mengalami kecelakaan tapi gadis itu memang selalu mendiri dan tidak suka bergantung pada siapapun.
" Dia bisa sendiri, kau tentu tahu itu."
Ucapan Brahma tentu saja benar adanya. Alsaki pun terlihat membuang nafasnya kasar. Ia tahu Dita bisa menghadapi segala kondisi mamun ia tetap khawatir pada gadis itu. Kemandirian Dita lah yang kadang juga membuat Alsaki merasa rendah diri. Sebagai seorang wanita Dita terlalu kuat dan terlalu mandiri.
Tim Bravo. Pict by pint
*
*
*
Blaaaammmm
Seorang terlihat berlari dengan begitu cepat ketika sebuah mobil meledak. Namun beberapa luka tembak mengenai tubuhnya sehingga membuat pergerakannya mulai melambat. Berulang kali melihat ke arah belakang seakan khawatir ada yang mengikutinya.
" La tadaeuhum yatabieuni ( jangan sampai mereka mengikuti ku)."
Pria berbadan kekar itu masih terus berlari. Sesekali ia terjatuh namun masih bisa bangun dan berjalan lagi hingga ia benar-benar jatuh dan tak sadarkan diri.
Dita sedikit heran saat ada mobil yang terbakar. Ia pun turun untuk memeriksa. Tapi tidak ada orang di sana. Dita lalu memeriksa mobil tersebut, rupanya mobil itu adalah mobil pengangkut makanan. Dita kemudian menghubungi salah satu anggotanya untuk mencari tahu asal usul dari mobil bak terbuka itu.
Dita kembali menaiki mobilnya untuk pergi ke tujuan semula. Baru berkendara sejauh 500 meter, Dita melihat seorang pria tergeletak di samping jalan.
Ciiiit
Dita menghentikan mobilnya, ia lalu turun dengan mengambil pistol yang berada di samping tubuhnya untuk berjaga. Dita tentu tetap harus waspada. Ia berjalan pelan menghampiri pria itu.
" Who are you? Hey, can you hear me? Man 'ant?"
Tidak ada jawaban dari orang yang tergeletak di jalan tersebut. Dita semakin mendekat, ia menyentuh kaki orang tersebut dengan kakinya tapi juga tidak ada respon.
" Pingsan atau mati?" gumam Dita pelan.
Gadis itu kembali menyimpan pistolnya. Ia lalu meraba tubuh pria yang pingsan itu mencoba mencari apakah ada kartu identitas dari si pria. Dita menemukan sebuah kartu di saku jaket si pria.
" Ameer Jones, mahasiswa 26 tahun. Kewargenaraan asing, dia bukan dari negara ini. Di berasal dari negara I. Mengapa seorang mahasiswa bisa sampai di sini."
Dita menyimpan kartu mahasiswa pria tersebut lalu mencoba untuk memeriksanya. Tampak beberapa luka tembak dan luka cambuk, tapi pria itu masih bernafas. Dita pun akhirnya membawa pria itu ke mobilnya dan ia tidak jadi pergi kantor pusat. Dita memilih membawa pria berwajah arab mix bule itu ke barak nya.
" Seharusnya aku membawa ke kedutaan. Tapi mungkin dia akan mati kalau membawanya ke sana. Lukanya harus segera diobati. Ini pasti akan jadi maslaah nantinya. Haishh, itu bisa diurus nanti. Nyawa orang lebih penting."
*
*
*
" Kita kehilangan ketua, sinyal kita tidak bisa menangkap keberadaan ketua!"
Dor
Satu tembakan dilepaskan pria dengan brewok di wajahnya. Ia terlihat begitu kesal mendengar kabar dari salah satu anak buahnya tersebut. Satu nyawa melayang karena telah membuat pria itu tidak puas.
Semua bergidik ngeri melihat apa yang terjadi di hadapan mereka. Sebenarnya ini bukan kali pertama pria tersebut melakukannya, namun tetap saja mereka terkejut.
" Odion, jangan berbuat seperti itu lagi. Kau sungguh membuat anak buah kita semakin sedikit. Setiap kau kesal kau membunuh mereka."
Odion, pria berperawakan tinggi besar berwajah timur tengah itu terlihat begitu garang dengan wajah brewok nya. Jasper, sang teman hanya bisa menggeleng pelan melihat Odion yang melenggang pergi dengan kemarahan yang begitu besar.
" Kalian bereskan itu."
" Baik tuan."
Jasper sedikit berjalan cepat mengejar Odion yang sudah lebih dulu pergi. Panggilan Jasper diacuhkan oleh Odion yang masih sangat marah.
" Dion, Odion tunggu. Elaah kenapa sih. Tuan Khaleed pasti tahu resiko apa yang dia lakukan. Jangan terlalu khawatir."
" Tapi baru kali ini kita kehilangan jejaknya. Seharusnya tak ku biarkan ia pergi sendiri. Tuan sungguh nekat."
Odion pria berusia 40 tahun itu terlihat merasa bersalah. Ia tak seharusnya membiarkan sang tuan menerobos sendiri kelompok gangster yang ada di timur tengah itu sendiri. Meskipun wajah Khaleed tidak pernah ada yang melihat akan tetapi Odion tetaplah khawatir.
Keinginan sang tuan mencari tahu rahasia gangster Chernaya Pantera a.k.a Chepa membuat pimpinan gangster Vugel Ceilo itu bergerak sendiri. Meskipun sekeras apapun Odion melarang nyatanya Khaleed tetap pergi.
Odion membuang nafasnya kasar. Ia benar-benar mengkhawatirkan tuannya. Jasper yang melihat Odion gusar hanya menggelengkan kepalanya pelan.
" Dion, dia sudah berusia 26 tahun, bukanlah anak kemarin sore. Dan, dia bisa membunuh orang dengan mudah. Kau seperti ayahnya saja yang begitu khawatir. Odion, Khaleed Hosein Jones adalah ketua Vugel Ceilo yang ditakuti. Meskipun mereka tidak pernah melihat wajahnya, namun hanya mendengar namanya saja mereka bergidik. Sudahlah, nanti juga dia akan mengirim kabar."
Odion terdiam, kata-kata Jasper tentu benar adanya. Persaingan gangster di benua biru ini benar-benar luar biasa. Kejam, keras, sadis dan harus menunjukkan sisi terkuat. Jika tidak maka tidak akan mampu untuk bertahan. Maka dari itu setiap pemimpin gangster berlomba-lomba mencari kelemahan lawan agar bisa membuat lawan mereka kalah dan menjadi sekutu.
Seperti singa jantan yang menandai teritorialnya dengan air seni, para gangster menandai daerahnya dengan mengalahkan pemimpin daerah lain. Mereka akan mengaum, memperingatkan dan mengejar penyusup sehingga tidak ada yang berani mengganggu.
" Khaleed aku harap kau baik-baik saja. Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Obsesimu yang ingin menjadi pemimpin gangster terkuat takutnya malah menyesatkan mu dan menjatuhkan mu. Aku harap itu hanya pemikiranku saja."
Odion termangu, baginya Khaleed bukan hanya sekedar tuannya. Bukan hanya sekedar pimpinan Vugel Ceilo. Baginya Khaleed adalah seseorang yang berarti dalam hidupnya dan harus ia lindungi.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Typo
ketua Odion apakah yg ditolong oleh Gita???
2024-02-19
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
pasti yg ditolong oleh Dita itu Khaleed yg di takuti 🤔🤔😏😏
2023-12-02
1
nandayue
ameer itu khaleed?
2023-06-18
3