Khaleed Hossein Jones/ Ameer Jones
Pict. By pint
Dengan langkah penuh senyum seorang pemuda berwajah timur tengah mix eropa itu melenggang keluar dari bandara dengan menarik kopernya. Ia berhenti sejenak untuk menikmati angin yang berhembus di negara yang ia harapkan bisa bertemu dengan pujaan hatinya.
Khaleed Hosein Jones atau di identitasnya tertulis Ameer Jones mengembang senyum saat kakinya berpijak di negara ini. Tekadnya mencari wanita yang berhasil mencuri hatinya sudah bulat.
" Baiklah waktunya berburu! aku pasti akan mendapatkan mu. Tapi kalau dia udah punya kekasih bagaimana ya? Aaah peduli setan, selama janur kuning belum melengkung aku masih bisa merebutnya. Bahkan jika dia sudah menikah pun akan akan bisa mengambilnya. Apa yang kuinginkan harus kudapatkan. Baiklah Letnan Dita, tunggu aku."
Sungguh tekad yang kuat, Khaleed pun menaiki taksi dan meminta taksi tersebut mencarikannya hotel untuk beristirahat sejenak sebelum ia mendapatkan rumah atau apartemen untuk ia sewa.
" Halo Tuan Odion, pimpinan sudah sampai. Saat ini saya sedang mengikutinya. Sepertinya ia sedang mencari hotel untuk tinggal sementara."
" Bagus, terus awasi dan ikuti. Ingat jangan sampai kehilangan jejaknya."
" Siap tuan dimengerti."
Odion bernafas lega, saat mendengar kabat Khaled tiba dengan selamat. untuk semetara ini ia akan mengesampingkan urusan Khaleed.
" Saat nya fokus ke Vugel Ceilo."
" Odiooan!!! Gawat, gudang kita habis terbakar."
" APA?"
Odion segera berlari menyusul Jasper yang sudah berjalan lebih dulu. Braak! Suara pintu mobil ditutup dengan sangat keras. Jasper langsung menekan pedal gas nya dalam-dalam agar bisa segera sampai di tempat tujuan.
" Siapa yang melakukannya Jas."
" Entahlah Di, yang aku terima, laporan tersebut mengatakan tidak ada apa-apa di sana. Dalam artian tidak ada campur tangan orang lain. Tapi aku tidak percaya ini adalah murni kecelakaan. Mari usut hingga tuntas."
Jasper dan Odion membelalakkan matanya saat sampai di gudang mereka yang benar-benar habis tak bersisa. Anak buah mereka tampak menunduk, ada rasa bersalah yang menggelayut di sana. Tapi mereka berani bersumpah tidka ada kesalahan yang mereka lakukan yang membuat gudang terebut habis.
Tidak ada korban jiwa tapi kerugian yang ditaksir bisa jutaan euro.
" Sial, ini benar-benar sialan. bagiamana bisa semuanya ludes begini hanya dalam hitungan menit."
Jasper dan Odion mencoba mauk dengan hati-hati kedalam gudang tersebut. Senjata api dan obat-obatan terlarang yang siap edar itu benar-benar hangus tak bersisa. keduanya tergugu.
" Apa kau punya nama yang kau curigai?" tanya Odion.
" Entahlah Di, apa ini ulah Cerpa. Tapi apakah dia akan datang lintas banyak negara untuk melakukan ini? Aku masih belum bisa mengerti dan memahami apa yang terjadi. Lalu apakah kita akan melaporkan ini kepada Khaleed. Bocah itu baru saja sampai di sana bukan?"
" Sebaiknya kia hold dulu, nanti aku akan mengatakan setelah lewat beberapa hari. Sukur-sukur kita sudah menemukan biang keladi nya."
Jasper mengangguk paham, mereka tidak boleh gegabah dalam bertindak. lebih baik menyelidiki dulu baru melaporkannya kepada Khaleed. Tanpa mereka sadari salah seorang yang ada di sana tersenyum puas atas apa yang menimpa gudang tersebut.
" Ini belum seberapa. Bahkan aku akan membuat pimpinanmu itu mendekam dalam sel dingin sesegera mungkin."
*
*
*
Alsaki mengangkat Dita yang tertidur pulas ke kamar. Bukan ke kamarnya, tapi ke kamar tamu. Rumah Alsaki memiliki sekitar 3 kamar. Ia memang sengaja membuat kamar lebih dari satu kalau sewaktu-waktu teman-temannya itu menginap. Dan ini terjadi sekarang. Sebenarnya mereka lebih memilih tidur di depan tivi bersama-sama, tapi Alsaki tidak tega jika harus melihat Dita ikut tidur di lantai juga.
Biasanya memang tidak masalah karena jika saat berada di lapangan mereka akan campur jadi satu. Akan tetapi jika saat seperti ini Alsaki tidak bisa membiarkan Dita tidur dilantai bersama pra-pria itu.
" Haish, entah mengapa aku tetap tidak rela kamu tidur dengan banyak pria begitu," gumam Alsaki sambil membaringkan Dita perlahan di atas ranjang.
Pria itu lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh Dita sampai bagian dada. Alsaki duduk sejenak di samping ranjang, melihat wajah Dita dengan seksama.
" Aku emang pengecut Ta, hanya saat seperti ini aku bisa bicara banyak dengan mu mengenai perasaanku. Baiklah, istirahatlah. Aku selalu berdoa semoga kamu selalu bahagia dalam hidupmu."
Alsaki menyingkirkan surai rambut yang mengenai wajah Dita. Sekali lagi, pria itu memandangi wajah cantik sang letnan dengan seksama. Setelah itu barulah Alsaki bangkit dan berjalan keluar kamar lalu menutup pintu kamar tersebut dengan perlahan.
" Apakah hanya Dita saja yang kau angkut ke dalam kamar dan kami tidak?"
Alsaki terkejut saat melihat Ady berdiri di depannya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia bahkan sampai terjingkat mendengar ucapan Ady.
" Kampret lo Ad, bikin gue jantungan."
Adyaksa mendengus kesal, sebenarnya ia juga tahu jika sang teman memendam rasa terhadap letnan mereka. Adyaksa bukan pria bodoh yang belum mengenal cinta. Ia tentu tahu bagaimana seorang pria menatap dan memperlakukan wanita yang di suka bahkan dicintai.
" Stop jangan bahas itu. Gue tahu apa yang bakal lo omongin ke gue dan gue lagi nggak mau bahas hal tersebut."
Adyaksa pun diam, apa yang akan ia katakan ternyata sudah mendapat ultimatum dari Alsaki. Dengan begitu ia pun urung bertanya.
" Oke lah kalau begitu. Gimana kabar keluarga lo?"
" Haish, males pula gue bahas mereka. Dah lah, jangan ngomongin mereka juga. Gue malah kangen sama nenek dan kakek gue. kapan gue bisa balik."
" kayaknya dalam waktu dekat ini nggak bisa deh. Gue denger kabar burung, kita bakalan dikirim secepatnya ke daerah timur. Di sana, ya lo tahu sendiri kan."
Alsaki mengangguk paham, tentu ia akan senang-senang saja jika akan dikirim tugas. Baginya pergi bertugas adalah sebuah hal yang menyenangkan. Ia akan mendapati suasana baru meski itu genting sekalipun.
Saat tengah asik dengan pikirannya masing-masing. Terlihat Dita tiba-tiba keluar dari kamar dan terburu-buru pergi ke luar rumah. Alsaki dan Ady pun bergegas menyusul dan menanyakan apa yang terjadi.
" Panggilan dari pusat, aku harus kesana sekarang."
" Kita temani."
Dita mengangguk, Alsaki langsung mengambil kunci mobil dan menyalakan mobilnya. Dita beserta Ady pun ikut masuk segera masuk kedalam mobil. ketiga orang itu pergi ke markas pusat tanpa membangunkan Brahma dan Eka yang masih tidur di dalam.
" Dini hari begini, ada apa tiba-tiba dipanggil," ucap Alsaki membuka obrolan.
" Entahlah, Atasan hanya mengatakan ini penting dan memanggilku sebagi ketua tim Bravo."
Jika benar apa yang dikatakan Dita, maka tugas selanjutnya bisa dipastikan adalah misi rahasia. Mereka tampaknya akan kembali berpacu dengan adrenalin kembali.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Nur Bahagia
wess dita sama khaleed ajaa 🤩
2024-10-27
1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo Alsaki jngn jadi pengecut donk jujur biar gak nyesel kamunya
2023-12-02
1
Dian Citra Utami
tiap baca jones kenapa lgsung kepikiran jomblo ngenes 🤭 maaf thor 😁
2023-08-22
1