Dita dan Alsaki ternyata harus terjebak di kantor untuk membuat laporan. Satu hal yang membuat mereka sungguh malas. Terlebih Dita, gadis itu sangat tidak suka jika harus berhubungan dan komputer dan kertas. Membuat laporan menurutnya lebih sulit ketimbang menggunakan senjata api.
Keinginan Dita waktu itu menjadi tentara salah satu nya adalah karena dia enggan berhubungan dengan urusan tulis menulis. Melihat mama nya sebagai CEO dimana di meja nya penuh dengan tumpukan kertas membuat Dita bergidik ngeri. Siapa sangka di kemiliteran dia juga harus berhubungan dengan benda-benda itu. Meskipun tidak sering tapi ternyata pekerjaannya tersebut tetap membutuhkan alat tulis.
" Hufttt, malas nya," gumam Dita lirih tapi Alsaki masih bisa mendengarnya. Gumaman Dita yang lebih seperti gerutuan itu membuat Alsaki terkekeh.
" Apa segitu benci nya lihat kertas dan tuts keyboard."
" Bang, Abang Al nggak tahu aja. Aku tuh dari jaman sekolah males banget nulis. Dulu tuh aku lebih milih memfotokopi catetan temen ketimbang nulis sendiri."
Alsaki seketika terbahak mendengar apa yang dikatakan Dita. Ia tentu tidak menyangka akan hal itu. Semua orang di kesatuan tahu, Dita merupakan salah satu prajurit yang terkenal cerdas dan berprestasi.
Di rumah sakit, Indra tengah diperiksa secara intensif. Awal mula semua Tim Bravo sedikit khawatir karena Indra belum sadar selepas operasi. Bahkan saat sampai ke tanah air Indra belum juga sadar. Baru beberapa saat yang lalu pemuda itu mengerjapkan matanya. Terang saja Eka tersenyum lebar saat melihat sang sohib bangun.
" Syukurlah Nyet, Alhamdulillaah lo sadar juga. Gue mikir lo bakalan koma tahu."
" Kita dimana?" tanya Indra dengan terbata.
Eka pun menjelaskan apa yang terjadi, bahwa mereka ditarik mundur dan saat ini sudah berada di tanah air. Indra mengangguk paham.
" Jangan beritahu dia dulu kalau kita sudah pulang."
Eka mengangguk mengerti, Bagaimanapun Indra pasti tidak ingin sang tunangan tahu bahwa dia tengah sakit dan dirawat.
Kabar sadarnya Indra disampaikan Eka melalui grup chat Tim Bravo. Semua tentu sangat senang. Terlebih Dita, gadis itu sungguh sangat lega mendengar berita Indra telah bangun.
" Alhamdulillah," ucap Dita disela-sela kegiatannya membuat laporan.
" Ta, apa akan melaporkan mengenai Ameer?"
" Menurutmu bagaimana bang."
Al sejenak terdiam dan berpikir tentang Ameer. Waktu itu ia sudah mengantarkan Ameer ke depan kedutaan. Jadi dia pikir urusannya akan selesai dan sepertinya tidak perlu menuliskan penemuan mengenai Ameer.
" Sepertinya tidak usah Ta. Aku pikir kita tidak perlu menuliskannya didalam laporan. Malah jadi ribet nggak sih nanti urusannya."
" Oke lah Bang kalau begitu."
Dita sebenarnya juga tidak akan menuliskan perihal Ameer dalam penemuannya. Ia merasa itu bagian dari kegiatan kemanusiaan dan tidak ada hubungannya dengan tugasnya di sana. Namun ia ingin meminta pendapat Alsaki. Siapa sangka pendapat Alsaki sama dengan dirinya.
Setelah magrib semua laporan yang dibutuhkan sudah selesai. Dita menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri untuk menghilangkan kaku-kaku yang dirasakan.
" Mau magriban dulu? baru pulang dan mampir cari makan."
" Boleh."
Keduanya berjalan beriringan menuju ke mushola yang ada dikawasan kantor untuk melaksanakan kewajiban 3 rakaat. Keduanya sama-sama khusyu dengan ibadahnya hingga selesai.
" Ta, mau makan apa?"
" Abang nggak pengen cepet-cepet mau pulang?"
Alsaki menggeleng pelan. Jika anggota tim lain setiap kali selesai bertugas ingin buru-buru pulang, tidak dengan Alsaki. Ia sangat malas untuk pulang. Tidak ada yang tahu, tujuan awal Alsaki bergabung di militer adalah agar tidak selalu berada di rumah. Baginya rumah bukanlah sebuah surga tapi merupakan neraka dunia.
" Kita makan nasi padang aja yuk bang, udah lama nggak makan itu. kangen juga."
" Ok, deal."
Hal ini lah yang disukai Dita dari Alsaki. Pria itu akan mengikuti apapun yang diinginkan Dita. Sebenarnbya Alsaki adalah orang yang paling sering bersama Dita. Jadi kebiasaan Dita, Alsaki sangat paham.
Warung nasi padang yang di datangi oleh Dita dan Alsaki sedikit ramai. Semua mata tertuju kepada keduanya saat mereka masuk ke dalam dan memesan makanan.
Cantik dan tampan, mereka semua mengatakan hal tersebut. Terlebih Dita dan Alsaki masih mengenakan seragam mereka. Sungguh sebuah pemandangan yang menyejukkan mata. Beberapa wanita memandang takjub degan ketampanan dan kegagahan Alsaki. Beberapa juga memuji kecantikan Dita yang terlihat sungguh natural.
Sepertinya hal tersebut sudah biasa didengar oleh keduanya. Buktinya mereka sama sekali tidak terganggu dengan pandangan orang-orang tesebut. Makanan datang dan mereka menikmatinya dengan hikmad.
" Kita dilihatin Ta."
" Bodo amat bang, laper, makan aja udah."
Alsaki tersenyum simpul, Dita adalah wanita tercuek yang pernah ia temui. jika kebanyakan seorang wanita akan makan dengan jaim saat ditempat umum tapi tidak dengan Dita. ia akan makan dengan apa adanya, tapi tetap sopan.
Dita dan Alsaki makan dengan cepat, kebiasaan mereka saat berada di lapangan membuat hal tersebut terbawa ke kehidupan sehari-hari. Keduanya sudah berada di mobil saat ini dan siap kembali ke rumah.
" Abang mau langsung pulang?"
" Iya, tapi pulang ke rumahku sendiri."
Dita mengerutkan keningnya. Diantara Anggotanya hanya Alsaki yang tidak pernah bercerita mengenai kehidupan pribadinya terlebih keluarganya. Dita tentu sedikit penasaran tapi dia ragu untuk bertanya.
Akhirnya Dita pun memilih diam. Ia tahu kemana harus menanyakan hal tersebut. Satu nama langsung terbesit dalam otakknya, Brahma. Ia tahu Brahma dekat dengan semua anggota Tim Bravo. Brahma pasti tahu apa yang terjadi antara Alsaki dan keluarganya.
" Aku tidak mampir ya Ta, salam sama mama dan papa mu."
" Nggak ingin ketemu mereka bang."
Glek, Alsaki kesusahan menelan Saliva nya sendiri. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang saat Dita mengatakan hal tersebut. padahal ia tahu maksud Dita untuk mengajaknya bersilaturahmi saja. Tapi tetap saja Alsaki merasa tidak siap bertemu mama dan papa nya Dita.
Kamprett, berasa ditodong buat ngawinin anaknya. Heeeh pikiran apa ini.
Alsaki menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia mengusir pikiran-pikiranan kacaunya yang muncul tiba-tiba itu.
" Nggak enak Ta, ini badan nggak enak banget udah baunya. Nanti malah di suruh mandi di rumah mu kan repot hahaha."
Dita hanya tersenyum simpul mendengar alasan Alsaki yang menurutnya asal itu. Dita bisa melihat Alsaki sangat segan setiap bertemu dengan kedua orang tuanya.
" Ya udah bang hati-hati. Terimakasih untuk hari ini."
Alsaki mengangguk lalu melajukan kembali mobilnya dan menjauh dari rumah Dita.
" Assalamu'alaikum mama, i'm home!"
" Waalaikumsalam, Alhamdulillah kamu baik-baik saja. Katanya teman kamu ada yang di rawat. Oh iya sama siapa pulangnya."
" Sama bang Al."
Silvya mengangguk paham, tapi satu tanya dalam diri Silvya. Anggota tim Dita yang bernama Alsaki itu selalu canggung jika berhadapan dengannya ataupun Dika. Hal yang sama jika ia bertemu dengan Nataya juga. Intinya pria itu selalu lain jika berhadapan dengan keluarga Dita.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Typo
keluarga Alsaki knpa ya???
2024-02-20
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ada apa dngn keluarga Alsaki ya 🤔🤔🤔
2023-12-02
0
nandayue
boleh tu
2023-06-25
1