" Indra, Eka! sini bantuin bawa nih orang."
Indra dan Eka yang baru saja keluar barak pun langsung menghampiri Dita yang berteriak dari mobilnya. Keduanya terkejut saat melihat seorang pria dengan banyak luka berada di mobil sang letnan.
" Let, dia siapa?"
" Nanti saja tanyanya Indra, Sekarang bantu akau bawa dia ke doom medis. Dia harus segera mendapat pertolongan. Jika tidak nyawanya bisa melayang."
Indra dan Eka saling pandang. Sedetik kemudian kedua prajurit itu langsung mengangkat pria yang tak dikenal tersebut ke doom medis seperti perintah Dita. Dita pun mengekor hingga sampai di tempat medis.
Dita menjelaskan mengenai kondisi pria itu kepada dokter serta identitas yang ia temukan di kantong baju pasien.
Dokter pun paham, mereka langsung melakukan tindakan pertolongan agar Pasien bisa selamat. Beberapa luka tembak diperoleh pria tersebut. Punggungnya juga terdapat lebam biru hasil cambukan.
" Sebenarnya apa yang terjadi pada pria ini. Dia bukannya mahasiswa, tapi dari segi usia dia mungkin mahasiswa pasca sarjana."
Dita bergumam sambil menunggu pria itu ditangani. Indra dan Eka hanya melihta Dita dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Biasanya letnan mereka itu akan hati-hati dengan orang baru. Tapi mengapa sepertinya kali ini Dita dengan mudah membawa pria asing ke barak mereka.
" Apa kita harus melapor kepada kapten," tanya Indra kepada Eka.
" Tidak, jangan. Nanti saja. Pasti nanti Kak Dita bicara sendiri kepada Bang Alsaki. Indra mengangguk mengerti dengan ucapan Eka. Biasanya setiap ada apa-apa Dita selalu berkonsultasi dengan Alsaki. Jadi untuk hal ini pun Dita pasti akan mengatakan sendiri kepada Alsaki.
Setelah sekitar 2 jam dokter akhirnya menyelesaikan pertolongan mereka kepada pria yang diidentitasnya terlulis Ameer Jones.
Dokter mengatakan bahwa Ameer baik-baik saja. Pria itu sepertinya terlalu lemah karena kelelahan dan luka yang ada ditubuhnya. Beruntung 3 peluru yang menembus tubuh pria itu tidak mengenai organ vitalnya sehingga tidak mencelakakan nyawa.
" Syukurlah kalau gitu, bisa aku melihatnya."
" Yes, you can."
Dita masuk ke dalam doom medis. Dilihatnya wajah pria itu. Wajah Ameer tampan khas bule persilangan timur tengah dan eropa. Tapi wajah Ameer didominasi timur tengah.
" Entah mengapa aku membawau kemari. Aku harap kau hanya tersesat di sini, aku akan melaporkan ke kedutaan agar kau bisa kembali ke negara mu."
" Please don't do that."
Tangan Dita seketika di tarik oleh Ameer. Dita tentu terkejut. Bagaimana bisa orang yang beru saja menjalani operasi langsung bisa sadar begitu.
" Are you aware? how could that be? you just had surgery."
" Yes, i can. Aku mohon jangan laporkan ke kedutaan. Aku saat ini sedang melakukan tugas akhir S2 ku. Aku membuat tugas akhir dengan meliput daerah konflik. Aku seorang mahasiswa pasca sarjana jurusan broadcasting. Jika kau melakukan itu maka semua usahaku akan sia-sia."
Dita terdiam sesaat. Dia sedikit iba dengan cerita pria tersebut.
" Oke tapi sekarang ceritakan semuanya. Mengapa kamu bisa mendapatkan luka tembak dan cambukan. Oh aku lupa, nanti saja kau ceritakan itu. Istirahatlah dulu. Aku berjanji tidak akan melaporkanmu."
Dita melenggang keluar dari doom medis tersebut. Ameer tersenyum simpul. Tidak sia-sia dia membuat identitas palsu sebelum melakukan aksinya.
" Cantik dan tangguh. Aku menyukai gadis itu."
🍀🍀🍀
Alsaki langsung menghampiri Dita saat mendengar kabar dari Indra bahwa letnan mereka membawa seorang pria asing ke barak. Alsaki tentu bertanya- tanya, mengapa Dita membawa pria itu ke barak dan bukannya ke kantor pusat.
Bukannya apa-apa, Alsaki hanya takut Dita akan terkena masalah nanti. Terlebih identitas pria itu belum di ketahui secara jelas. Alsaki yang melihat Dita keluar dari doom medis langung berlari menghampiri. Di mulai dengan sikap tegap sempurna serta memberi hormat, Alsaki memanggil Dita.
" Letnan Dita, ada hal yang ingin saya tanyakan. Ini mengenai~"
" Pria itu? Ayo aku jelaskan. Pasti duo bebek itu yang laporan kepadamu kan?"
Alsaki mengangguk, dia tentu siapa yang dimaksud dengan duo bebek. Siapa lagi kalau bukan Indra dan Eka. Alsaki pun mengekor Dita yang sudah jalan terlebih dulu. Ia menuju sebuah bangunan sementara yang difungsikan untuk dapur umum. Dita masuk ke sana dan membuat dua cangkir kopi lalu duduk disebuah bangku.
" Duduklah, dan minumlah. Pria tadi namanya Ameer Jones. Dia seorang mahasiswa pasca sarjana yang sedang membuat tugas akhirnya dengan meliput daerah konflik. Soal luka yang di dapat nanti dia akan menceritakannya kepada ku. Jika memang masih ragu carilah identitasnya lebih lanjut lagi. Aku juga menginginkan itu."
Alsaki bernafas lega. Rupanya Dita juga masih akan mencari tahu kebenaran identitas dari pria asing tersebut.
" Siap letnan, nanti saya akan mencari tahu identitas pria tersebut."
" Kau selalu bisa diandalkan Kapten Alsaki. Terimakasih sebelumnya. "
Dita menenggak habis kopinya dna melenggang pergi. Ia ingin melakukan patroli dan melihat keadaan warga sekitar. Diketahui masih banyak beberapa warga yang terjebak saat dilepaskannya bom kemarin. Keempat anggotanya yang lain pun saat ini sedang membantu warga daerah tersebut.
Srupuuuut glek
" Aku ingin lebih bisa kamu andalkan Letnan Dita. Bahkan aku siap jika kamu bergantung padaku, tapi sepertinya itu hanya akan ada dalam anganku semata."
Alsaki membuang nafasnya perlahan. Ia meletakkan cangkir yang telah kosong itu di atas meja dan berjalan ke luar menyusul teman-temannya yang sedang membantu warga. Alsaki berkali-kali menggelengkan kepalanya saat bayangan Dita masuk ke kepalanya. Entah kapan dia bisa melupakan wanita itu. Wanita pertama yang berhasil membuat hatinya berdegup kencang saat setiap kali duduk berdua bersamanya.
" Ayo angkat bersama, pastikan mereka ibu dan anak itu baik-baik saja," ucap Adyaksa atau Adi kepada beberapa orang di sana.
Rupanya ada seorang wanita dan anak kecil berusia sekitar 4 tahun terjebak di puing-puing reruntuhan rumah. Keduanya masih hidup. Sang ibu melindungi anaknya dengan tubuhnya. Terlihat Adi bersama Brahma menyingkirkan reruntuhan itu satu persatu. Tapi ada sebuah tembok besar yang sulit untuk digeser.
" Apa kita membutuhkan alat berat, Di?"
" Tidak, kita hanya membutuhkan sedikit lebih banyak orang untuk mengangkatnya Bang Brahma."
Dita yang baru sampai dan mengerti akan keadaan tersebut langsung memanggil beberapa orang lagi untuk membantu. Alsaki pun langsung berlari saat dipanggil oleh Dita.
" Sayidati , hal tasmaeinani. Sa'arfae alhajar. Antazar lifatrat 'atwal qalila. (Nyonya, apa anda bisa mendengar ku. Aku akan mengangkat batunya. Bertahanlah sebentar lagi.)"
" Naeam 'afham. (Ya, saya mengerti)"
Dita sedikit meringis saat melihat kaki ibu tersebut terjepit. Terlihat darah keluar dari sana. Bahkan bebatuan dibawahnya terlihat berwarna merah punggung ibu itu pun terluka karena menahan reruntuhan.
Sungguh luar biasa perjuangan seorang ibu dalam melindungi buah hatinya. Ma, terimakasih sudah membesarkan Dita hingga saat ini.
Tidak terasa air mata Dita luruh. Apa yang ia lihat membuatnya teringat kepada Silvya, sang mama.
" Ok , I'll count to three. On the count of three we pick up the wreckage together. one, two, go! (Baiklah aku akan menghitung sampai tiga. Pada hitungan ketiga kita mengangkat reruntuhan itu bersama. satu, dua, go!)"
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sweet Girl
Mau sekarat Sik ro wong ayu Meer...
gasken wes...
2024-05-20
1
Miss Typo
siapa yg akan menjadi jodoh Dita, Ameer atau Alsaki???
2024-02-20
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kok saya lebih setuju Dita sama Alsaki ya drpd sama Ameer 😅😅
2023-12-02
1