" Masih ingat pulang kamu hah!"
Suara teriakan seorang wanita membuat pemuda 28 tahun itu mendengus kesal. Inilah yang dia tidak suka dan membuat dia enggan untuk pulang ke rumah. Rumah yang seharusnya jadi sebuah penghangat dan tujuan setiap selesai melaksanakan tugasnya malah membuat semakin berat saja hidupnya. Lebih baik ia berada di medan perang ketimbang di rumah.
Terkadang ia berpikir, apakah benar ini rumah? Atau hanya bangunan yang diisi oleh orang-orang egois yang berkumpul jadi satu sehingga rasa panas yang dirasa dan bukannya damai.
" Dasar bocah kurang ajar, tidak tahu terimakasih. Apakah begitu balasanmu terhadap orang yang membesarkan mu!"
Alsaki memejamkan matanya menahan amarahnya meledak. Dia tentu tidak ingin lepas kendali. Terlebih saat ini ia masih mengenakan seragam lengkap yang tentu saja ada senjata di sakunya. Jangan sampai hal buruk terjadi. Alsaki harus bisa mengontrol emosinya.
" Aku kemari hanya ingin mengambil barang ku yang tertinggal."
Alsaki melenggang ke dalam kamarnya dan mengambil sisa-sisa barang yang belum sempat ia pindahkan. Sejenak ia duduk di ranjang dan mengambil sebuah foto yang tersimpan rapi di dalam sebuah lemari kecil yang ada di samping tempat tidurnya.
" Bu, kenapa ibu harus pergi cepat meninggalkanku. Apa ibu tahu kelakuan wanita itu tak ubahnya seperti monster. Hahaha iya bu, monster. Itu lho yang mempunyai rupa yang menakutkan."
Alsaki selalu larut sendiri jika memandang foto seorang wanita cantik dengan seorang anak usia 4 tahun yang ia panggil ibu tersebut. Ya, ibu Alsaki sudah tiada sangat lama dan sang ayah menikah kembali setelah beberapa bulan ibu nya tiada. Semenjak itu lah kehidupan rumah yang biasanya penuh damai berubah menjadi neraka.
Bukannya tidak sanggup melawan. Tapi Alsaki masih punya hati untuk tidak menggunakan tangannya menyakiti seorang wanita. Kecuali jika anak wanita itu berulah, Alsaki tidak segan melayangkan tinjuan tangannya.
Alsaki memasukkan foto sang ibu ke dalam tas. Ia menatap kamar nya itu kembali. Kosong, kali ini benar-benar kosong. Ia akan meninggalkan semua nya sekarang.
" Bagus! Pergi saja kamu! Dasar anak tak tahu diri!"
Sebuah ucapan sarkas kembali diterima Alsaki. Kali ini bukan dari wanita monster tapi dari pria yang menyebabkan dirinya ada di dunia ini.
" Bagaimana aku harus tahu diri jika orang yang seharusnya menjadi pelindungku lebih tidak sadar posisi. Perasaan, bukan lagi perasaan. Tapi seingat ku kau tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk memenuhi hidupku. Semua uang milik ibu bahkan rumah ini pun milik ibu. Aku bisa menjadi sampai sekarang juga karena ibu."
Kicep
Pria paruh baya ia diam dan tak lagi bisa bicara banyak atau bahkan menyangkal. Bagaimana mau menyangkal kalau yang diucapkan Alsaki adalah sebuah kebenaran.
Semua yang dinikmati oleh pria yang seharusnya Alsaki panggil ayah itu adalah milik ibu nya.
Ibunya adalah seorang pegawai negeri sipil, setelah ibu Alsaki meninggal tentu dana pensiun itu jatuh ke tangan Bagio sang suami. Bahkan Bagio tidak menikahi Tanti secara negara agar dana pensiun tersebut tidak jatuh ke tangan Alsaki secara langsung. Sungguh perbuatan yang licik.
" See, kalian memang serasi. Aku bersyukur ibu telah pergi lebih dulu. Setidaknya ibu tidak tahu perilaku brengsek pria yang dinikahinya. Dan aku juga cukup bersyukur bahwa gen perilaku busuk mu itu tidak mengalir di tubuhku."
Alsaki melenggang pergi keluar rumah namun ia masih bisa mendengar Bagio meneriakinya.
" Ku harap kau mati saat bertugas! Dasar anak sialan!"
" Ya, lebih baik aku mati saat bertugas. Setidaknya aku bisa menyusul ibu. Dan itu lebih baik dari pada harus hidup dari bayang-bayang kalian."
Tes
Air mata Alsaki keluar tanpa permisi. Ia sungguh tidak menyangka jika Bagio bisa setega itu terhadapnya. Beruntung dulu ada nenek dan kakek dari pihak ibu yang membawanya pergi saat ia masih kecil. Jadi setidaknya mental Alsaki masih terjaga.
Alski kembali ke rumah tersebut saat ia duduk di bangku SMP. Hal tersebut Bagio lah yang meminta. Dengan dalih ingin merawat Alsaki karena merasa bersalah tidak bisa merawat dari kecil, kakek dan nenek Alsaki pun membiarkan cucunya itu dibawa pergi meski rasanya berat. Tapi bagaimanapun Bagio berhak atas Alsaki.
Alsaki kecil tentu bahagia saat Bagio menjemputnya. Ia yang belum tahu apa yang akan terjadi di depannya waktu itu sungguh antusias saat dibawa kembali ke rumah oleh ayahnya.
Namun kebahagiaan Alsaki lenyap saat perlakuan buruk satu demi satu diterimanya dari Tanti. Wanita yang dinikahi ayahnya itu memperlakukan Alsaki dengan tidak baik. Berkali-kali Alsaki berusaha untuk pergi dari rumah tapi tidak bisa karena Tanti mengancam akan menstop uang sekolahnya. Tentu Alsaki kecil tidak bisa berkutik.
Saat itu ia hanya bisa menangis. Mungkin benar dia lemah akan tetapi memang dia waktu itu belum bisa melawan. Alsaki hanya bisa menurut dengan semua perlakuan buruk Tanti yang menjadikan dirinya sebagai layaknya budak di rumah itu. Bahkan Alsaki tidak akan diberi makan jika tidak melakukan pekerjaan rumah dengan baik.
Alsaki bisa mulai melawan saat ia sudah duduk di bangku SMA. Ancaman Tanti dan Bagio tidak berlaku baginya karena saat SMA Alsaki mendapatkan beasiswa penuh. Alsaki yang pandai berenang membuat dia selalu juara di setiap olimpiade. Bahkan Alsaki membawa nama sekolah nya ketika pertandingan nasional dan menempati tingkat pertama.
" Kau sekarang berani melawanku."
" Kenapa tidak, Anda mau mengancam dengan tidak memberi ku uang sekolah. Silahkan. Aku tidak peduli lagi. Jadi sekarang kerjakan pekerjaan Anda sendiri. Aaah iya minta putri kesayangan Anda untuk belajar membereskan rumah biar jadi wanita yang berguna nanti ketika sudah menikah."
Tanti menggertakkan gigi-gigi nya saat Alsaki mengatakan hal tersebut. Ancamannya sungguh tidak lagi berguna. Dan apa yang diucapkan Alsaki tadi cukup menyenggol harga dirinya. Secara tidak langsung Alsaki mengatakan bahwa dirinya tidak berguna.
Kejadian tersebut terus berlanjut. Tanti dan Bagio tidak lagi bisa menyentuh Alsaki. Tapi mereka mempunyai cara lain untuk membuat anak itu mentalnya terganggu yakni dengan terus berbicara kasar dan bahkan memaki.
" Dasar orang tua yang tidak benar. Sepertinya harus mulia keluar dari rumah ini."
Tapi bukannya mentalnya down, Alsaki malah membulatkan tekat nya untuk pergi dari rumah setelah lulus. Tanpa membawa barang nya sama sekali Alsaki pulang ke rumah kakek neneknya dan meminta izin untuk ikut seleksi taruna di akademi militer. Tentu sang kakek setuju. Dengan senang hati kakek nya tersebut mendukung sang cucu. Terlebih kakek Alsaki adalah seorang veteran.
Hebatnya Alsaki, dia tidak bercerita kehidupannya yang menyedihkan bersama sang ayah. Bahkan dia tidak mengatakan apa saja yang ayah nya itu lakukan terhadapnya kepada kakek dan nenek nya. Ia tidak ingin kedua orang yang sudah berusia senja itu memiliki beban pikiran.
Maka dari itu ia sungguh minder dengan keluarga Dita yang harmonis. Untuk menyatakan perasaannya terhadap Dita butuh effort yang lebih. Alsaki takut tabiat buruk ayah dan istrinya itu malah akan menjadi pandangan buruk keluarga Dita terhadapnya.
" Haaah, sepertinya memang seperti punguk merindukan bulan. Kau layaknya bulan yang tidak dapat kuraih Ta. Aku hanya bisa mengagumi indah mu dari bawah sini."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Nur Bahagia
waduh belum apa2 gw dah dilema nih.. mau jadi pendukung nya alsaki yg tentara sadboy atau ameer yg mafia tengil 🤔😅
2024-10-27
0
Reza Imam
nove series keluarga Sylvia Dika apa aja thor
2024-05-03
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Thor nama saya jug Tanti tp jujur saya gak jahat kok 🤭🤭
2023-12-02
1