"Serahkan pada Dena" ucapnya sombong, seraya menepuk dadanya.
Dena mulai fokus, ia menggerakan pencapit tepat di atas boneka yang di inginkan Ita. Setelah di yakin tepat, ia menekan tombol untuk menurunkan mencapit itu dan...
"YEEEEEEE" Ita bersorak girang dan bertepuk tangan, karena boneka yang ia inginkan di dapatkan Dena.
Dena mengambil boneka itu, dan menyerahkannya pada Ita. Tentu saja Ita menerimanya dengan senang hati, selama ini ia menyukai kucing. namun, karena alerginya pada bulu kucing. Sehingga, ia tak berani untuk memelihara kucing.
"Ini beneran buat aku, Den?" tanya Ita tak percaya
"Iya dong" jawab Dena, Ita langsung memeluknya senang. Dena pun menatap Maya dan Kira dan menaikkan kedua alisnya, sehingga membuat ekspresi wajah kedua gadis itu kesal.
"Curang nih Dena" ucap Maya tak terima kalah dan tak suka melihat teteh kesayangannya memeluk Dena.
"Dih, mana ada. Gimana caranya juga gue curang, ngadi-ngadi nih mbaknya kalo ngomong. Udahlah, kalah mah kalah aja. Iya ga teh? " ucap Dena seraya mengangkat dagunya dan bertanya pada Ita, Ita mengangguk.
Maya dan Kira berdecak kesal, Ita langsung memeluk mereka berdua agar tidak merajuk.
"Jadi gimana nih? Siapa yang mau traktir?" tanya Dena
"Ya udah, gue aja yang teraktir" jawab Syahid
"Siaaaappp babang ganteng" ucap Dena semangat dengan tingkah konyolnya.
"Udah mau Ashar loh, shalat dulu kalian. Langsung pergi nonton, masih keburu kayanya" ucap Ita, Syahid dan Sahin langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan mengangguk. Mereka berlima menuju mushola yang ada di mall
tersebut, sedangkan Ita menunggu di depan mushola selama mereka shalat maghrib
Hari ini ia sedang mendapatkan tamu bulanannya, makanya tak ikut bergabung bersama mereka.
Waktu menunjukkan pukul 15.35, mereka berenam kembali berjalan dengan formasi yang sama seperti tadi.
"Terus tiket buat aku gimana?" tanya Dena dengan wajah sedihnya
"Ya udah ayo beli, siapa tau bisa dapet kursi yang ga berjauhan kan?" ajak Maya, ia melihat no kursi miliknya. Sedangkan yang lain memilih masuk terlebih dahulu, begitu juga dengan gadis yang mengikuti mereka.
Dena dan Maya pun pergi ke tempat penjualan tiket, Maya bertanya kursi dekat dengan mereka ada atau tidak. Namun ternyata tidak ada, Dena langsung memasang wajah sedih.
Bagai mendapat keberuntungan, tiba-tiba ada pria yang memberikan tiket yang tepat di sebelah mereka berlima.
"Pakai ini saja, aku tidak jadi nonton. Kekasihku tidak datang" ucap pria itu, Dena tentu saja menerima dengan senang hati.
"Aku ganti uang tiketnya" ucap Dena, ia pun membuka tasnya
"Tidak usah, ambil saja." pria itu pun langsung pergi dengan wajah kecewanya
"Terimakasih" teriak Dena, pria itu hanya mengangkat tangan kanannya dan mengacungkan ibu jari.
"Rejeki ga kemana" celetuk Dena seraya mengibas-ngibaskan tiket tersebut pada wajahnya.
"Halaaahh banya ngemeng, hayu masuk. Yang lain, pasti sudah menunggu di dalam. Filmnya juga sudah di putar 5 menit yang lalu." Maya menyeret Dena untuk masuk ke ruangan, mereka berdua di antar oleh petugas bioskop ke bangkunya.
Maya yang tempatnya berada di antara Syahid dan Ita dan bangku Dena berada di sisi lain Syahid, namun di sana sudah di tempati oleh orang lain.
"Bangku gue itu" ucap Dena pada orang yang menempati kursinya, yang ternyata di tempati oleh gadis yang mengekori Syahid dan Sahin. Syahid yang tadi tidak terlalu memperdulikan siapa yang duduk di sampingnya pun langsung menoleh, tadi ia di sibukkan dengan email masuk dari skekertaris opa nya.
Syahid mengangkat kedua alisnya tidak suka.
"Ya elah, masih banyak kursi lain juga. Cari sono tempat lain" jawab gadis itu
Dena bukanlah gadis penyabar, ia menatap tajam petugas bioskop. Petugas itu pun menelan salivanya dengan susah payah
"Maaf kak, itu memang kursi kakanya. Sedangkan kursi kakak ada di belakang sana." ucap si petugas tersebut
"Apa bedanya sih, yang penting sama-sama duduk dan nonton kan" jawab gadis itu yang kekeh tidak mau pindah.
'*Itu cewek, udah tau salah. Nyolot lagi'
'Iya, malah ganggu kan jadinya. Bukannya cepetan pindah, udah tau bukan tempatnya juga*.'
Syahid memberi kode pada Maya, Maya yang paham langsung bertukar kursi. Ia duduk di tempat Syahid dan mendorong gadis itu keluar.
"Yang jadi masalahnya adalah siapa yang duduk di sebelah gue, dan gue ga kenal sama lu. Pergi sana!!" ucap Maya seraya menarik Dena untuk duduk di sebelahnya
Gadis itu marah tak terima, ia menatap tajam Maya. Namun, sudah banyak sorakan-sorakan pengunjung yang lain. Akhirnya ia memilih duduk di kursi sesuai kursinya.
'Heran ya, ada cewek modelan kaya gitu.'
'Bukan kursinya juga di ambil, kayanya udah biasa jadi tukang rebut milik orang.'
'Cantik juga nggak, ga salah di bioskop pake pakean kurang bahan,'
'Biar bisa meluk yang duduk di sebelah kali, pan banyak yang kaya gitu sekarang mah. Nyari korban Random, dengan dalih kedinginan.'
'IUhhhh'
Gadis itu semakin mengetatkan giginya, ia merasa di permalukan.
Film pun tetap berjalan, kini mereka lebih fokus menatap layar di depannya. Mereka memakan cemilan yang di tawarkan oleh petugas bioskop, sembari matanya tetap menonton. Namun, ternyata ada yang curi-curi pandang. Syahid yang kadang menatap Ita sesekali tersenyum, Maya yang tak sengaja menoleh memergoki hal tersebut.
Namun, ia hanya diam menahan senyum.
Setelah 2 jam lebih, akhirnya film pun selesai. Mereka meregangkan tubuhnya, menunggu pengunjung lain keluar terlebih dahulu.
"Udah jam 18.00, Maghrib nya di mesjid luar aja yuk. Sekalian nyari makan malam, lapar nihh" ucap Kira
Mereka berlima setuju dan segera keluar dari ruangan tersebut, seperti biasa gadis yang sempat berseteru dengan Maya dan Dena tetap mengikuti dari belakang.
'Itu cewek yang ngikutin kalian siapa?' tanya Mei-Mei yang baru saja kembali berkeliling entah darimana.
"Hah?" Maya, Kira dan Ita pun menoleh ke belakang.
"Dih, cewek gila yang di bioskop tadi." ucap Maya, Dena pun ikut menoleh mendengar ucapan Maya. Ia kan tidak melihat ataupun mendengar Mei-Mei
"Dih, cewek KULAI njirrr. Pasti ngikutin si twin dia mah." celetuknya
"Apa lagi KULAI, Den. Kok banyak banget istilah baru sih?" tanya Kira bingung
"Elah, KURANG BELAIAN. Noh, liat aja itu baju. Ga banget" jawab Dena bergidig, Ita dan Maya pun terkikik geli
"Tau tuh, cewek ga jelas. Dari gue beli tiket, ngintilin mulu." ucap Syahid tidak suka
"Fix itu mah, kalian kan target golden premium. Udah ganteng, keliatan banget kalo tajir." ucap Dena, di setujui Kira
"Udah biarin aja, mendingan kita buruan ke mesjid. Keburu Isa, lanjut cari tempat aja buat makan malem." ucap Ita
"Udah bilang kita pulang malem belum ke orang rumah?" tanya Kira
"Sudah" jawab Sahin
"Let's go" ucap keempat gadis tersebut
"Eh, emang lu udah bilang ma bonyok lo Den?" tanya Maya
"Sudiiiinnn, gue ijinnya nginep di rumah klean. Boleh kan?" jawab Dena
"Dih, ada ya yang ijin nginep, tapi belum dapet persetujuan dari yang punya rumah." celetuk Kira
"Adaaaa, gue. Yuk ah, gas keun" ucap Dena tak peduli tatapan sebal Maya dan Kira.
Mereka berlima hanya menghembuskan nafas mereka, walau pecicilan dan juga bar-bar. Dena anak yang menyenangkan, dan gak neko-neko. Sehingga membuat mereka mulai merasa nyaman dengan keberadaannya
...****************...
...Happy Reading all💞💞...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Land19
SKSD banget iiih
2024-12-29
1
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
🤗🤗🥰🥰🥰🥰
2024-01-26
1
Berdo'a saja
Dena bikin yang lain jadi suka
2024-01-18
2