"Maaf pak, beginilah kondisinya. Aahh... maaf silahkan duduk. Kalian, siapa bisa datang bersama bapak kepala sekolah?" tanya sang Ayah
"Ah, iya. Perkenalkan mereka adalah murid kebanggan sekolah kami, dan mereka juga adalah cicit dari pemilik sekolah kita." jawab pak Sugeng, dan hal tersebut tentu saja mengejutkan kedua orang tua Dena.
Mereka berlima memperkenalkan diri mereka, namun mata Kira dan ketiga saudaranya terus menatap ke arah Dena.
"Ya Allah... terimakasih kalian sudah mau menyempatkan waktunya untuk menengok putri kami. Kami benar-benar merasa tersanjung..." ucap sang ayah
"Mmmm... sebenarnya, maksud kedatangan saya dan juga anak-anak adalah karena saya ingin membantu nak Dena." ucap pak Sugeng, kedua orang tua Dena pun mengerutkan dahinya bingung.
"Membantu bagaimana maksud pak Sugeng?" tanya ibunda Dena
Pak Sugeng menghirup udara dan menghembuskannya, ia bingung bagaimana cara menjelaskannya. Karena tidak semua orang percaya dengan hal-hal yang di sebut dengan kelebihan seseorang.
"Maaf, apa bapak dan ibu percaya dengan kemampuan indera keenam?" tanya Sahin to the point
"Itu, kami antara percaya dan tidak. Karena jujur, kami belum pernah melihat hal-hal berbau ghaib dan juga mengenal seseorang yang memiliki kelebihan tersebut. Tapi, bukan berarti kami tidak mempercayai adanya makhluk lain, selain manusia." jawab ayah Dena, Sahin mengangguk.
"Jadi begini pak Teja dan bu Murni, maksud kedatangan saya membawa si kembar adalah untuk membantu Dena. Mereka bisa melihat hal lain yang terjadi saat ini." ucap pak Sugeng
"Benarkah? Kalian mau membantu kami? Saya pernah mendengar bila seluruh keluarga Zandra, memiliki kelebihan yang berbeda-beda. Jadi itu semua benar adanya, MasyaAllah!!" ucap pak Teja
"Bisakah? Bisakah kalian menolong kami? menolong putri ibu?" tanya bu Murni dengan mata yang sudah mengembun, Maya dan Kira mengangguk.
"Kami tidak berjanji, namun kami akan mengusahakan yang terbaik. Dan semua, kembali kepada sang Khaliq. Karena atas ijinNya, kami berhasil atau tidaknya menolong Dena." ucap Kira, kedua orang tua Dena mengangguk cepat.
Kira mendekatkan dirinya, ia menutup mata dan memegang pergelangan tangan Dena.
SYUUUTT
Jiwanya tertarik, kini ia ada di sebuah pegunungan.
'Apa ini gunung yang kemarin di datangi olehnya?' tanya Kira dalam hati
Kira melihat Dena sedang berjalan menuju ke atas, bersama timnya. Terlihat, di sana Dena berbincang, bercanda dan tertawa dengan teman-temannya.
Saat di pos yang di sebut dengan Candi Cetho, mereka pun menghampiri seseorang yang jaga di sana. Mereka meminta ijin untuk mendirikan tenda di sana, seseorang tersebut pun mengijinkannya. Namun, ia berpesan sesuatu pada mereka.
"Kalian boleh mendirikan tenda, tapi ingat bila tengah malam nanti. Saat kalian sudah masuk tenda, bila tiba-tiba kalian mendengar ada suara ramai ataupun kalian merasa bila di luar terlihat terang. INGAT, JANGAN PERNAH KALIAN MENGINTIP ATAUPUN KELUAR DARI TENDA!!!" ucap orang tersebut
"Kenapa pa?" tanya salah satu anggota tim Dena, sebenarnya mereka juga sudah di beri peringatan keras dari kuncen gunung yang di bawah sana. Namun, namanya manusia, pasti rasa penasaran ada.
"Pokoknya jangan, sebaiknya kalian menurut bila tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian." jawabnya, mereka pun mengangguk
Di jalur ini terkenal cukup terjal dan sulit di lalui karena sering di selimuti kabut. Ada banyak cekungan yang sering membuat pendaki gunung bingung hingga tersesat. Padahal saat di jalan menuju tempat ini, mereka mendengar suara riuh layaknya pasar. Bahkan, terdengar ada yang menawarkan barang pada mereka. Namun, disana hanya terdengar tapi tak terlihat.
Dan kuncen gunung mengingatkan untuk membuang apa saja layaknya sedang bertransaksi jual beli di pasar.
Mereka melanjutkan niatnya dan mendirikan tenda di sana.
Waktu pun berganti, malam pun tiba.
Jam 10 malam, mereka masih berkumpul di luar dan menyalakan api unggun. Mereka bercengkrama, bernyanyi dan juga tertawa, sampai tak terasa kini sudah pukul 11.25 malam waktu setempat.
"Sudah malam, sebaiknya kita segera masuk ke dalam. Udara juga semakin dingin, sebaiknya kita segera mengistirahatkan tubuh kita. Agar besok, kita bisa melanjutkan perjalanan dengan kondisi fit. Jangan lupa, bersihkan sampah." titah si ketua, anggotanya mengiyakan.
Setelah selesai membersihkan sampah, mereka semua masuk ke dalam tenda masing-masing. Dan kini Kira ada di dalam tenda milik Dena. Baru juga Dena hendak menutup matanya, tiba-tiba apa yang di ucapkan oleh orang yang menjaga benar-benar kejadian. Hanya dalam persekian detik, keramaian itu terjadi.
Di luar tenda terdengar suara bising dan juga ramai sekali, suara seperti di pasar. Dan suasana di luar sana pun, terlihat terang. Terdengar ada suara yang menawarkan barang dagangannya dan juga tawar menawar antara penjual dan pembeli. Pokonya, benar-benar saat kita berada di pasar tradisional.
Karena penasaran, Dena pun terbangun dan ingin melihat keadaan di luar sana. Ia membuka resleting tenda sedikit, hanya untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Ia terkejut bukan main, di luar sana benar-benar ramai. Banyak orang di sana, ia benar-benar melihat dan mendengar dengan jelas bagaimana interaksi di luar tenda.
"Wahh... ternyata benar, di sini itu sangat ramai." ucapnya pelan
Setelah itu, ia pun menutup kembali tendanya. Dena merebahkan tubuhnya di, walau berisik. Entah kenapa, lambat laun ia pun bisa terlelap. Kira menghembuskan nafasnya dengan pelan, ia tak habis pikir dengan ke keras kepalaan Dena dan ke ingin tahuannya.
Malam berganti pagi, kini mereka bersiap untuk kembali turun. Dena mengatakan apa yang ia lihat semalam
"Aku melihat mereka, dan mereka benar-benar ada. Di sana, benar-benar saaaangat ramai dan juga terang." ucap Dena untuk ke sekian kalinya
"Den, apa kamu tidak takut terjadi sesuatu padamu? Kenapa kamu melanggar apa yang sudah di larang?" tanya salah satu temannya
"Ck, aku yakin. Aku sudah melihatnya semalam, lagi pula tak ada yang terjadi juga kan padaku. Buktinya, aku masih bangun pagi ini dan sekarang sedang berbicara dengan kalian." jawab Dena
Mereka hanya bisa menghembuskan nafas dan juga geleng-geleng kepala, mereka berharap apa yang di khawatirkan mereka tidak sampai kejadian.
Dena merupakan anggota baru, sehingga ia masih banyak penasarannya di banding harus diam saja. Sedangkan yang lainnya sudah banyak mengalami hal-hal yang di luar nalar seperti ini, jujur saja.. mereka juga mendengar keramaian yang terjadi malam tadi. Hanya saja, mereka lebih memilih untuk menurut dengan apa yang di ucapkan oleh penjaga pos tersebut.
"Aku hanya berharap, bila tidak terjadi apapun padamu Na." ucap si ketua seraya menepuk pelan pundak Dena
"Sudah siap?"
"SUDAAAAAHHH"
"Oke, ayo kita kembali untuk ke bawah. Hati-hati, jalanan cukup licin dan juga terjal. Sebaiknya kalian ingat siapa yang ada di depan dan di belakang kalian, agar saat ada yang terpisah. Kita bisa langsung menyadarinya dan langsung mencarinya."
...****************...
...Happy reading all💞💞...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Land19
walaupun penasaran tapi plis deh jangan sampe dilanggar karena petuah akan tetap petuah .
jadinya kaya gini kan
2024-12-29
1
Jue
Seperti rasa ingin tahu berkemungkinan menjadi bahaya kepada diri sendiri
2024-06-18
2
Pisces97
sebenarnya ada orang seperti dena karena sifat penasaran kadang bisa menjerumuskan dalam hal berbahaya
boleh penasaran tapi tau porsi aja sih
apalagi ini tempat² pendaki gunung sopan santun harus dijaga jangan sembarang melanggar
2024-05-12
2