"SUDAAAAAHHH"
"Oke, ayo kita kembali untuk ke bawah. Hati-hati, jalanan cukup licin dan juga terjal. Sebaiknya kalian ingat siapa yang ada di depan dan di belakang kalian, agar saat ada yang terpisah. Kita bisa langsung menyadari dan langsung mencarinya." ucap ketua lagi
"SIAP KAK"
Setelah berpamitan dengan penjaganya, mereka pun melanjutkan perjalanan tersebut. Suasana masih berkabut, tak jauh dari sana. Terjadilah apa yang seperti cerita awal, dimana tali sepatu Dena lepas dan ia berhenti untuk membenarkan tali sepatunya.
.
.
Kira langsung membuka mata dan melepaskan pegangannya dari pergelangan tangan Dena, ia cukup terengah-engah. Karena bayangan hitam yang mengelilingi Dena, terus menganggunya.
"Bagaimana?" tanya Syahid, ia langsung menahan tubuh Kira, agar tidak sampai terjatuh.
Ita? Ia hanya bisa duduk memperhatikan. Apa yang bisa ia bantu? Ita malah takut, akan menganggu apa yang akan di lakukan oleh ke empat saudara tersebut.
"Dia, sudah melanggar apa yang sudah di larang oleh kuncen gunung. Sehingga ada yang tak suka dan ikut pulang dengannya" jawab Kira dengan nafas terengah-engah
"Dan, dia juga sudah di sesatkan oleh salah satu penghuni gunung tersebut." lanjutnya lagi
"Lalu, apa yang harus kami lakukan nak?" tanya sang ibu
"Apa ada sesuatu yang berkaitan dengan gunung tersebut? Foto misalnya?" tanya Maya
"Ada, tapi itu semua ada di ketua tim sepertinya." jawab sang ayah
"Bisa tolong hubungi? Dan minta ia untuk membawa foto-foto selama mereka di sana?" pinta Sahin
Syahid memapah Kira ke arah sofa, ia mendudukan Kira di samping Ita. Ita pun mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Kira, Kira langsung merebahkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di pangkuan Ita. Ita mengusap sayang kepala Kira, Maya terlihat memonyongkan bibirnya karena iri.
"Ish, kau ni. Bukan saatnya untuk cemburu atau iri" tegur Sahin
"Ck" decak Maya
Ayah Dena, langsung menghubungi ketua komit pendaki gunung. Kebetulan Miftah sang ketua, tengah ada di kampus. Ia akan segera ke rumah sakit, setelah urusannya selesai. Ayah Dena meminta cepat dan membawa semua foto-foto yang di minta oleh Maya.
Ibu Dena merasa bersalah, karena menolong Dena. Kini Kira tengah kelelahan dan terlelap di sofa.
"Maaf, karena putri ibu, nona muda jadi kelelahan." ucapnya
"Tidak apa-apa bu" jawab Ita tersenyum lembut
Maya juga kini ada di sebelah lain Ita, ia menyandarkan kepalanya di bahu Ita. Kini Ita bergantian mengusap kepala Maya, karena Kira sudah terlelap.
Seandainya Dena melihat pemandangan ini, ia pasti merasa iri. Karena ia hanyalah anak tunggal, dan juga tak memiliki teman.
Setelah menunggu selama hampir 2 jam, akhirnya orang yang di tunggu mereka pun tiba. Kira sudah terbangun dari tidurnya, malah begitu bangun ia protes laparrr. Hal biasa sebenarnya, begitulah bila Kira atau Maya merasa tenaganya sudah terkuras.
"Assalamu'alaikum" salam Miftah
"Wa'alaikum salam" jawab mereka serentak, ayah Dena langsung mendekati Miftah dan meminta fotonya. Miftah pun memberikan foto tersebut pada ayah Dena, sesekali mata Miftah melirik pada Ita.
Tentu saja, hal itu membuat salah satu prince twin kesal dan mengepalkan kedua tangannya.
Siapa hayo?
"Ini foto yang kamu minta nak." ucap ayahnya Dena, seraya menyerahkan foto tersebut pada Maya.
"Apa kakak juga membawa memory fotonya?" tanya Sahin
Miftah mengangguk dan menyerahkan barang yang di minta Sahin pada Maya. Syahid, Sahin, Maya dan Kira, kini tengah berdiri mengelilingi ranjang Dena.
Satu per satu foto di taruh di atas tubuh Dena, mereka juga tidak hanya diam. Sejak awal, mereka juga terus membacakan ayat-ayat Al Qur'an yang pernah di ajarkan oleh sang oma pada mereka.
Hingga di satu foto, mereka berhenti. Dan bayangan hitam yang mengelilingi Dena, mulai berontak. Bayangan itu kini, berkumpul di satu titik dan membentuk satu sosok.
GENDERUWO
Sosok besar itu kini tengah berdiri di pojok ruangan, ia menatap nyalang pada twin prince dan twin princess.
"ALLAHU AKBAR" teriak Syahid, ia pun menghentakkan tangannya pada sosok itu.
GROAAAAAARRRR
Terdengar teriakan yang cukup memekakan telinga, namun hanya mereka yang mendengar. Tetapi, bukan hanya suara lengkingan saja. Ruangan itu pun ikut bergetar, sehingga orang-orang yang ada di ruangan dapat merasakan getaran tersebut. Kaca retak, gelas yang ada di atas nakas terjatuh dan pecah di atas lantai. Tanpa sadar, pecahan kaca mengenai dan melukai kaki Kira.
Karena sibuk melawan sosok itu, mereka tidak ada yang memperhatikan luka tersebut. Termasuk dengan yang lainnya, Ita masih dengan duduk diamnya. Ia tidak berteriak, tetapi di hatinya terus membacakan ayat suci Al Qur'an.
"Awas deekk" teriak Maya, saat ia melihat pergerakan sosok itu melesat mendekati Sahin.
Sahin menghindar dan menangkap tangan sosok itu, yang hendak mencakar Sahin. Dengan membacakan ayat-ayat suci, sehingga membuat tangan sosok itu mengeluarkan asap.
Sahin langsung mendorong sososk itu, menggunakan tenaga dalamnya.
"Sebaiknya kita membakar media yang menjadikannya bisa ikut sampe di sini." ucap Sahin
Syahid setuju, mereka berempat berpegangan. Dan dengan perlahan keluar api berwarna biru dari tubuh Syahid, ia membuka matanya dan melepaskan pegangan tersebut. Tentunya api biru itu tidaklah melukai saudaranya yang lain, Syahid mengambil satu foto yang di duga penyebabnya.
Entah bagaimana, namun foto tersebut sedikit demi sedikit terbakar. Dan tentu saja, hal tersebut membuat sosok tinggi hitam tersebut mengerang kesakitan. Bersamaan dengan foto yang hangus di tangan Syahid, sosok itu juga ikut hangus terbakar.
"Alhamdulillah" gumam mereka berempat
Di waktu yang bersamaan juga, pelan-pelan mata Dena terbuka.
"Ibu" lirih Dena
"Sayang, anak ibu. Kamu bangun nak" ucap ibunya Dena seraya memeluk tubuh putrinya, di susul oleh sang ayah.
"Ya Allah, nak. Akhirnya kamu bangun juga, ibu dan ayah sangat khawatir nak." ucap ibunya lagi, namun dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.
Pak Sugeng dan Miftah cukup terkejut dengan apa yang mereka saksikan, padahal para dokter saja tidak ada yang menemukan diagnosis secara ilmu kedokteran. Tetapi, kini dengan datangnya ke empat anak ini. Dena tersadar dari tidur yang cukup panjang.
Ayah Dena melerai pelukannya dan mendekati ke empat ketururnan Zandra, ia langusng berlutut. Sehingga membuat Maya dan yang lainnya terkejut bukan main.
"PAK" teriak mereka
"Terimakasih, terimakasih... entah harus bagaimana lagi aku harus mengucapkan rasa syukur dan terimaksih ini pada kalian?" ucap ayah Dena
"Pak, tolong jangan rendahkan diri bapak. Selain kepada sang Pemilik Kehidupan, jangan pernah sekali-kali lagi bapak seperti ini." ucap Kira, ia pun membantu ayah Dena untuk bangun.
Namun, hal itu terhenti saat sang ayah Dena. Melihat ada luka di kaki Kira.
"Nak, kakimu terluka. Sepertinya, karena terekena pecahan beling." ucap ayah Dena
"Eh, iya ternyata. Aku tidak merasakannya tadi, pokonya sekarang bapak bangun dan berdiri.
"Jangan sekali-kali bapak merendahkan diri bapak seperti itu lagi." ucap Sahin, ayah Dena mengangguk
"Maaf, karena sudah membuat kalian tidak nyaman." ucap ayah Dena
"Tidak apa-apa kok pak. Yang penting sekarang Dena sudah baik-baik saja, kalau begitu. Apa kami boleh pamit pulang?" tanya Sahin, ia akan membawa Kira ke ruangan nenek Nala.
"Boleh, tentu saja boleh. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih" ucap ayah Dena
Syahid langsung menggendong Kira, Ita menghampirinya dengan air mata yang menggenang.
"Sakit ya, pasti sakit." ucap Ita dengan nada sedih
"Tidak apa-apa kak, ini cuma luka kecil. Lihat" ucap Maya, sembari menutup luka yang ada di kaki Kira
"Alhamdulillah, ya sudah kami pamit. Assalamu'alaikum." ucap Kira
Kepala sekolah juga berpamitan untuk kembali ke sekolah.
Mata Miftah tak berhenti menatap Ita
...****************...
Happy reading all💞💞
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Land19
huuuft...
dasar nih penginnya Dimanjain sama Ita semuanya. utututuu...
wadaw...
2024-12-29
1
cookie_23
apa dia jodoh ita?
2024-12-14
1
Eli Elieboy Eboy
𝚖𝚒𝚏𝚝𝚊𝚑 𝚑𝚊𝚝𝚒𝟸 𝚕𝚘 𝚕𝚒𝚊𝚝𝚒𝚗 𝚝𝚎𝚑 𝚒𝚝𝚊 𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚝𝚊𝚛 𝚍𝚒 𝚌𝚘𝚕𝚘𝚔 𝚖𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑 𝟷 𝚙𝚛𝚒𝚗𝚌𝚎
2024-07-14
1