'Haish.. lagipula itu tidak akan mungkin Satria Baja Hitam.' ucap Citra kesal
Saga dan Rio dan hanya memutar malas kedua bola matanya, kenapa mereka berdua harus meladeni hantu itu? Sedangkan Al lebih memilih fokus pada jalanan.
Akhirnya Saga dan Rio memilih untuk pulang, karena lebih khawatir dengan kondisi sang bayi. Walau enggan, namun Citra memang harus mengijinkannya bukan? Demi kebaikan putranya.
Setelah menurunkan Rio dan Saga, Al, Ar dan Za langsung lanjut ke rumah sakit.
"Tenang saja, orang rumah tidak akan menyakiti putramu." ucap Za
'Aku percaya itu, hanya saja aku tak bisa membayangkan bila waktuku bersamanya hanya sebentar lagi. Aku ingat, bagaimana aku melindungi perutku saat pria itu memukuli dan juga menendangku. Dengan sekuat tenaga, aku menjauhkan pukulan dan tendangan itu dari janinku yang sedang tumbuh di dalam rahimku. Kalian tentu bisa membayangkannya bukan? Dengan susah payah aku menyeret tubuhku untuk keluar dari kamar penyiksaan itu.'
TES
Air mata Citra menetes dan mengalir deras, Al, Ar dan Za yang mendengarnya merasa sangat sesak. Mereka yang selalu di didik untuk menghormati, menyayangi dan melindungi wanita. Tak percaya bila ada pria yang sebegitu kejamnya, menyakiti wanita. Sosok lemah yang Allah ciptakan dari tulang rusuk pria, namun nyawanya harus berakhir di tangan suaminya sendiri.
Obu Aarav selalu mengatakan 'Jangan sampai kalian menyakiti hati dan raga seorang wanita, karena wanita adalah orang yang melahirkan anakmu dengan rasa sakit dan pengorbanan yang tinggi. Wanita juga yang mengandung kalian selama 9 bulan, melahirkan dan menyusui kalian hingga waktunya. Hati wanita dapat memaafkan, namun untuk melupakan rasa sakit itu tidak akan pernah bisa. Dia akan terus mengingat, kita pun takkan bisa menghapus ingatan dan rasa sakit itu.'
'Aku bersyukur, putraku terlahir dengan normal lengkap dan sehat, tanpa kurang apapun. Selama 8 bulan, aku mencoba untuk terus bertahan agar aku bisa melindungi putraku. Namun, ternyata takdir berkata lain. Waktu kebersamaan dengan putraku, sesingkat ini.' lanjutnya
Tak ada kata yang bisa di ucapkan oleh ketiga pria tampan itu, karena wanita hanya cukup dengan di dengarkan.
Setelah cukup lama, mereka pun sampai di pelataran rumah sakit.
"Dimana?" tanya Al
"Masih di IGD" jawab Ar seraya menaruh kembali ponselnya, setelah tadi ia menghubungi sang ayah
Sepanjang jalan, sebenarnya Citra sangat takut dan cemas dengan kondisi kedua orangtuanya. Apalagi keduanya ada ada riwayat jantung dan darah tinggi.
'Ya Tuhan, semoga kedua orangtuaku baik-baik saja.' ucap Citra pelan
"Aamiin" jawab mereka bertiga
.
.
'Bagaimana?'tanya Citra dengan wajah cemasnya, perasaannya benar-benar campur aduk.
Rendra, Aarav, pak Sugeng, Syahid dan Sahin tak bisa menjawabnya, mereka hanya diam.
'Kenapa kalian diam? Apa yang terjadi pada kedua orangtuaku?' karena gemas tak ada yang menajwab, ia pun berlalu pergi meninggalkan mereka dan menembus masuk ke ruang IGD
Saat Citra masuk, tepat saat dua dokter dan salah satu perawat tengah menutup tubuh ketiga orang yang di kenali oleh Citra. Menggunakan kain putih, sampai ke wajah ketiga orang tersebut. Citra menggelengkan kepalanya tak percaya, tetesan air mata jatuh satu per satu.
'Tidak, itu bukan mereka. Mereka tidak mungkin pergi, mereka tidak mungkin meninggalkan cucunya begitu saja bukan? Benarkan?' ucap Citra pada para dokter, dan sudah jelas jawabannya bila mereka semua tak mendengar apa yang di ucapkan Citra.
Jangankan untuk mendengar, bisa melihat saja mereka tidak mungkin.
'TIDAK, katakan ini semua tidak benar. Kalian pasti sedang bercanda kan? Dokter, suster.. katakan sesuatu.' ucap Citra lagi, ia melupakan bila kini sosoknya tak terlihat.
"Waktu kematian hari Selasa, tanggal xx bulan xx tahun xx, pukul 13.10, 13.02, dan 13.05 waktu setempat." ucap salah satu dokter seraya melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya.
JEDEEERRR
'TIDAK... TIDAK.. ibu, ayah, ma. Kalian tega meninggalkan cucu kalian seorang diri? TIDAK, bangun kalian semua. BANGUN... TIDAAAAKKKK' teriakan Citra membuat lampu di ruang itu berkedip dan beberapa benda di sana pun bergoyang, bahkan ada yang jatuh dari tempatnya.
Kedatangan nya, mungkin bisa di katakan terlambat. Karena arwah orang-orang terkasihnya sudah pergi lebih dulu, dari sebelum ia datang.
Terdengar teriakan kecil di ruangan tersebut, dari pasien lainnya.
Rendra, Afwa, Afwi, Al, Ar dan Za pun masuk ke dalam. Al, Ar dan Za terkejut saat melihat sudah ada tiga jenazah di ruangan tersebut. Sedangkan Afwa dan Afwi mendekati Citra, mencoba menenangkan arwah tersebut.
Pa Sugeng hanya menunggu di luar..
"Tenanglah, jangan membuat keributan di rumah sakit" ucap Afwa, seraya mengeluarkan tenaga dalam dan menyalurkannya pada Citra.
Seketika Citra tersadar dari rasa marah, rasa bingung dan rasa keterkejutannya. Di hari yang sama, namun waktu yang berbeda. Ke empat orang yang ia kasihi, kembali ke pangkuan sang Ilahi. Afwa membawa Citra keluar dari ruangan tersebut dan di ikuti yang lainnya.
'Bagaimana aku bisa tenang? Kau tidak lihat itu, itu mereka orang-orang yang aku sayangi. Kini mereka sudah tak bernyawa, mereka berertiga. Lalu bagaimana dengan putraku? Siapa yang akan mengurus dan menjaganya? Dia masih 8 bulan, dia belum mengerti apapun. Dia.. dia...' tanya Citra dengan suara hampir berbisik dan air mata yang terus mengalir
"Kami yang akan mengurus dan membesarkannya, tenanglah" potong Rendra
Citra langsung mengalihkan tatapannya, kini ia menatap pada Rendra dengan sangat dalam.
"Kami akan membesarkan dan juga menyayanginya, seperti kami menyayangi keluarga kami." lanjut Aarav, Citra pun menatap Aarav
Citra terdiam dan menundukkan kepalanya, benarkah apa yang ia dengar?
'Apa kalian serius mau menjadikan putraku salah satu anggota keluarga kalian?' tanya Citra putus asa
"Ya, serahkan putramu pada kami. Percayalah, kami akan menjadikannya orang hebat kelak." jawab Afwa
'Tapi, ia masih mempunyai seorang ayah. Bagaimana caranya kalian menangguhkan hak asuh putraku, aku takut ia akan mengambil putraku dan memperlakukannya tidak baik.'
"Karena itu kami masih membutuhkan bantuan mu, kami akan membuat surat adopsi untuk putramu." ucap Aarav
'Lalu?' tanya Citra bingung
"Tentunya kami membutuhkan tanda tangan ayah dari anakmu, dengan membantumu bertemu dengannya. Aku ingin kamu membuat dia menyerahkan putranya pada kami, dan menandatangani beberapa perjanjian. Kami harus menghindari hal buruk yang mungkin akan terjadi ke depannya bukan?"
'Ahhh... aku mengerti, aku pun tak mau bila putraku kelak. Di jadikan alat untuk merongrong harta kalian. Kapan kita akan bertemu dengannya?'
"Besok, sekarang kita akan mengurus jenazah hingga mereka semua di makamkan. Termasuk jenazahmu..." jawab Afwa, Citra kembali meneteskan air matanya.
Citra mengangguk setuju, tentu saja ia harus setuju. Jangan sampai putranya hidup terlantar, apalagi bila kelak saat Irwan bebas dari penjara dan mengganggu kehidupan putranya.
'Terimakasih, aku tidak tau harus berucap apalagi. Kalian sudah ikhlas membantuku merawat putraku, dan sekarang harus kembali di repotkan dengan mengurus jenazahku, kedua orangtuaku dan juga kedua mertuaku.'
"Tak masalah, sebaiknya kita segera mengurus jenazahnya. Tak baik menunda-nunda pemakaman jenazah." jawab Aarav
...****************...
.........Happy Reading
all
💞💞.........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Land19
edaaaaann karna terlalu shock jadinya gitu mendadak terkena serangan jantung.
2024-12-29
1
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Pemeranna di bikin meninggal semua, biar ga lieur nya mak, kebanyakan tokoh 😁🥰🥰
2024-01-26
1
Berdo'a saja
meninggal karena kaget tidak percaya kok bisa jadi jantungan
2024-01-18
2