"Sebenarnya apa yang sudah kalian lakukan hah? Kenapa Kira bisa terluka?" omel Nala, namun tangannya sedang sibuk membalut luka Kira.
"Ishhh... kenapa oma cerewet sekali?" tanya Maya
"Kamu... sebenarnya ibumu ngidam apa semasa hamil?" gerutu Nala karena kesal di katai cerewet oleh cucunya
"Oma, apa luka Kira baik-baik saja?" tanya Ita masih merasa cemas
"Tidak apa-apa sayang, untuk tidak sampai di jahit. Kalo sampe di jahit, oma akan menjahitnya sampai ke mulut." jawab Nala, Ita tertawa kecil mendengar jawaban itu. Sedangkan Kira mengerucutkan bibirnya, tak terima mau di jahit.
"Oma, kalo ngomong ke teh Ita lembut. Tapi kalo ke Maya sama Kira, teriak-teriak." protes Maya, Nala hanya memutar malas bola matanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, hmm?" tanya Nala lagi dengan nada lebih lembut
Selesai membalut, ia pun duduk di samping cucunya.
"Kami baru pulang menengok salah satu murid di sekolah oma, karena sakitnya tidak dapat dokter ketahui. Sehingga pak Sugeng, meminta kami untuk melihat dan menemukan penyebabnya." jawab Ita
"Apa yang kalian maksud adalah pasien yang bernama Dena? Yang baru di temukan pagi tadi itu kan?" tanya Nala lagi
Mereka berlima mengangguk serentak, Nala pun ikut mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Apa sekarang sudah selesai?" di jawab lagi dengan anggukan
"Jadi benar, ada sebab di luar kedokteran?" lagi-lagi mengngguk, membuat Nala kesal
"Kalian gagu?" mereka mengangguk, setelah sadar dengan pertanyaan Nala, mereka langsung menggelengkan kepalanya.
"Ck, kalian benar-benar menyebalkan sekali. Jadi gimana ceritanya? Jangan jawab dengan mengangguk, karena oma tidak akan paham." ucap Nala
Maya pun menceritakan dari awal mereka masuk ke ruangan Dena, lalu di lanjut oleh Kira yang melihat apa penyebabnya. Sampai akhirnya, mereka bisa mendapatkan penyebabnya dan langsung memusnahkan media tersebut.
"Makanya oma Yumi selalu mengingatkan bukan? Untuk selalu jaga sopan santun di daerah orang lain, menghargai peraturan daerah tersebut. Inilah akibatnya, bila abai." ucap Nala, setelah ia selesai mendengarkan cerita mereka.
"Oma Nala benar, kita harus bisa menjaga sikap kita. Oya, bukankah sekolah ada rencana akan pergi ke Kalimantan bukan? Apa itu benar?" ucap Ita seraya bertanya.
DEG
"Kalimantan? Mau apa kalian ke sana? Jauh banget mainnya?" tanya Nala was was, ia ingat dengan apa yang terjadi Alice dulu. Hal yang hampir merenggut nyawa Alice dan juga twin prince
"Entah, kalau tidak salah Darmawisata kan?" jawab Maya dan di angguki Kira
"Kenapa harus sampai ke sana? Apa tidak ada tempat lain yang lebih menyenangkan?" tanya Nala dengan wajah cemas
Maya dan Kira mengedikkan kedua bahunya.
"Kami akan baik-baik saja oma, bukankah makhluk itu sudah tiada? Lagipula itu baru rencana, belum ada keputusan akan kemananya." ucap Syahid menenangkan Nala
"Sudah tiada bukan berarti sudah tidak ada sayang, makhluk itu bukan hanya 1. Karena yang menganut ilmu hitam itu banyak, bukan hanya seorang. Dan setahu oma, Kuyang itu turun temurun." jawab Nala
"InsyaAllah, kami akan baik-baik saja oma." ucap Sahin, sedangkan Ita hanya diam karena memang belum tau ceritanya.
"Oma lebih berharap bila kalian batal ke Kalimantan, itu akan lebih menenangkan." ucap Nala
.
.
"Bu, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Dena ada di rumah sakit?" tanya Dena, kondisinya kini baik-baik saja. Bahkan sangat baik, seolah tak terjadi apapun sebelumnya.
"Apa yang kamu ingat terakhir kali?" bukannya menjawab, sang ibu malah bertanya balik pada Dena. Dena terdiam, ia mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelumnya.
"Saat itu, aku seperti terkurung dalam hutan bu. Di sana, ada persimpangan. Pertama Dena ambil jalur kanan, namun Dena kembali ke jalan yang sama. Dena pun mencoba kembali dengan mengambil jalan kiri, tapi lagi-lagi Dena kembali. Dena sempat putus asa, karena Dena sudah benar-benar lelah dan juga lemah. Dena pun memohon pada Allah bu, Dena ingin pulang. Dengan Bismillah, Dena mengambil jalan terakhir yaitu lurus. Dan Alhamdulillah, Dena pun bisa mendengr suara orang-orang yang mencari Dena. Setelah Dena melihat ada yang mendekat, Dena pun tak ingat apa-apa lagi." jawab Dena, membuat kedua orangtuanya sempat menahan nafas saat mendengar cerita sang anak.
Begitu juga dengan Miftah, ia sudah bergabung di komunitas ini selama 4 tahun dan juga sudah mendaki beberapa gunung. Tapi, baru kali ini ia langsung berhadapan dengan orang yang mengalami hal mistis di gunung. Walaupun seniornya sering bercerita banyaknya kejadian di luar nalar, bila sudah di gunung.
"Ngomong-ngomong, kenapa sampai banyak yang mencari Dena bu? Berapa lama memang Dena menghilang?" tanya Dena
"Tiga hari" jawab sang ayah
"HAH?!" teriak Dena terkejut
"Tiga hari? Masa sih yah? Perasaan hanya beberapa jam Dena tersesat di sana." lanjutnya
"Dena, apa kamu melanggar apa yang di katakan penjaga saat itu?" tanya Miftah
"Apa?" tanyanya
"Pasar Hantu?" tanya Miftah balik
"Ahhh... bukankah Dena sudah menceritakannya kak waktu itu? Dena kan bercerita sampai berulang kali, bila malam itu benar-benar ada pasar di tempat kita mendirikan tenda." jawab Dena, kedua orangtua Dena pun menghembuskan nafasnya.
"Nak, bukan ayah melarang kamu untuk mendaki gunung. Hanya saja, di setiap tempat. Entah itu gunung, laut, pulau, gedung, rumah, dan apapun itu. Pasti memiliki peraturan dan larangannya masing-masing, setiap daerah pasti mempunyai hal yang tidak boleh di langgar oleh pendatang. Ayah kan pernah bilang padamu, saat pertama kali kamu meminta ijin pada ayah dan ibu untuk bergabung dengan komunitas pendaki gunung. Jagalah adab dalam mendatangi tempat baru, jaga sikap, berlakulah yang sopan dan ikuti peraturan yang ada." jelas sang ayah
"Dan ini adalah salah satu bukti, bila ada yang tidak menyukaimu saat kamu melanggar apa yang di ucapkan oleh penjaga di pos tersebut." lanjut sang ibu
Dena menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah. Karena rasa pensarannya yang tinggi, ia sampai menyusahkan banyak orang. Terutama, ia sudah membuat kedua orangtuanya khawatir sampai menangis. Dan yang palin utama, hal yang membuat ia menunduk adalah..... kedua orangtuanya menegur dirinya, di depan orang yang ia sukai.
'Oooohhh tidak, mau di simpan dimana mukaku ini?' gumamnya dalam hati
"Maafkan Dena, ibu.. ayah. Dena janji tidak akan mengulang kesalahan yang sama, tapi Dena mohon jangan larang Dena untuk kembali mendaki." ucap Dena seraya memohon dengan mata berkaca-kaca.
Ingin menangis antara malu dan juga takut, bila ia akan di larang untuk kembali mengikuti kegiatan mendaki gunung. Itu adalah jalan satu-satunya, untuk Dena mendekati seniornya itu.
Melihat wajah memelas Dena, kedua orangtuanya pun tak kuasa untuk menolak.
"Ya bu ya... yah ya ayah ya." ucap Dena lagi
"Untuk sekarang ayah dan ibu, belum mengijinkan mu untuk kembali mendaki." ucap Sang ibu
"Ibuuuu" rengek Dena
"Beristirahatlah sebentar ya, tunggu sampai hati ibu benar-benar merasa tenang. Cukup sekali ibu, merasa jantung ibu akan lepas kemarin." ucap ibu tegas
"Tapi masih bolehkan bu, kalo nanti ikut lagi?" tanya Dena
"Boleh, tapi tunggu sampai kami merasa tenang." jawab sang ayah
"Terimaksih ayah, ibu." ucap Dena tersenyum senang, Miftah menggelengkan kepalanya.
...****************...
...Happy reading all💞💞💞...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Land19
ini lagi ikut komunitas ada maksud dan tujuan tertentu karena ada yg disukai .
jangan terlalu menaruh hati pada seseorang den, karna ga tau hati itu udah ada isinya apa belom
biarlah menjadi temen
2024-12-29
1
Pisces97
dena kalau ingin ikut gabung komunitas pendaki itu dari hati bukan karena menyukai seseorang....
apalagi yang kamu kejar² malah menyukai Ita ... adiknya iren
kamu tau apa beda kamu sama Ita dia lebih dewasa sebelum waktunya.
laki² akan tertarik sama karakter dewasa'nya
2024-05-12
1
Oi Min
Dena.....sakke hlooo.....niat melu grup pendakian gur pengen cedak kro senior inceran,tp sayang......seniornya malah tertarik ma Ita......wkwkwkwk....
2024-02-12
1