"Sepetinya bila pak Sugeng tidak menghubungi ayah, kalian akan diam saja?" tanya Afwa pada ke lima orang yang kini sedang duduk diam menghadapnya.
"Kenapa? Kenapa kalian tidak mengatakannya?" tanya Alice
"Kami, hanya takut bila pipi, ayah dan bunda tak mengijinkan kami." jawab Sahin
"Apa karena kejadian dulu? Dan larangan Karyawisata, saat kalian masih SMP?" tanya Abi
Syahid dan Sahin menganggukan kepalanya.
"Apa kalian ingin ikut?" tanya Alice
Mereka diam, tak menjawab. Karena mereka tak ingin membuat keluarganya khawatir. Afwa, Afwi, Alice dan Abi menghembuskan nafasnya pelan.
"Bila kalian ingin ikut, pergilah. Bunda mengijinkannnya" ucap Alice, Syahid, Sahin, Maya, Kira dan Ita pun langsung menengadahkan kepala mereka dan menatap ke empat orang dewasa di hadapannya.
Kenapa Ita juga ikut berada di sana? Karena ia hanya akan ikuti apa keputusan di keluarga Zandra, bila mereka mengijinkan twin prince dan twin princess. Maka ia pun akan ikut, karena ijin kakak dan ibunya juga menurut ijin mereka semua.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Kira takut-takut
"Tentu saja, selama kalian bisa menjaga sikap dan saling melindungi. Kami tidak melarangnya, nikmati masa-masa SMA dengan bahagia. Kami tidak ingin mengekang kalian, karena masalah terdahulu. Semua sudah takdirnya, dan kami hanya bisa lebih waspada saja. Kami melarang kalian saat SMP, karena kalian belum berani melepas kalian tanpa pengawasan kami. Sekarang kalian sudah besar, sudah mengerti apa arti tanggung jawab dengan izin yang kami berikan. Dan kalian juga sudah bisa menjaga kepercayaan kami, bukan?" jawab Afwa
Tentu saja, jawaban itu menjadi angin segar untuk mereka berlima. Mereka tersenyum bahagia dan mengangguk, ternyata pak Sugeng menghubungi sang ayah bermanfaat juga.
"Baik, kami akan menuruti nasihat ayah, pipi dan bunda." ucap mereka
"Baiklah, kalau begitu besok serahkan surat ijin ini pada wali kelas kalian. Ingat, jaga diri, jaga sikap dan adab. Setiap daerah mempunyai peraturan masing-masing, hormati ketentuan mereka." ucap Afwi menasehati
"SIAP" jawab mereka semangat, ke empat orang dewasa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kelima anak muda itu pun langsung keluar dari ruang kerja si kembar, dengan perasaan bahagia.
"Ternyata, pak Sugeng paham juga." celetuk Maya
"Iya bener, padahal kita sedang menyiapkan mental untuk meminta ijin. Ternyata, semuanya di permudah." jawab Kira yang kini tengah di gendong belakang oleh Syahid
"Aku berat ya?" tanya Kira
"Sedikit"
"Ck... bohong kek sekali-kali, 'nggak kok, kamu seringan kapas'." gerutu Kira dengan menirukan suara Syahid.
"PRET... seringan kapas apanya? Kamu ga sadar se chubby apa pipimu?" sela Maya
"MAYAAA" teriak Kira, membuat Syahid sedikit memiringkan kepalanya karena suara cempreng Kira.
"Jangan teriak dekat telingaku." ucap Syahid kesal
"Maaf" jawab Kira cemberut, Ita hanya menghembuskan nafasnya pelan. Beginilah setiap hari, selalu berdebat dengan hal-hal kecil. Tapi, walau begitu, mereka tetap menyayangi satu sama lainnya.
Kira memang chubby, tapi tubuhnya tidak gemuk juga tidak kurus. Bisa di bilang, ideal lahh. Malah jadinya lucu, karena pipinya yang chubby dan kemerah-merahan. Cantik, para wanita di keluarga Zandra tak ada yang gagal. Begitu juga dengan para prianya, selalu menjadi favorit laaan jenis mereka. Walau sikap mereka sangat dingin...
.
.
"Hai Den" sapa Ita
"Eh, teh Ita, kalian baru pada datang?" tanya Dena, di angguki Maya, Kira dan Ita. Jangan tanya Syahid dan Sahin si beruang kutub, tentunya mereka always stay cool.
Kini, ia oun ikut memanggil teh Ita, karena twin princess dan twin prince.
"Kamu ikut darmawisata ke Surabaya, Den?" tanya Kira, Dena langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan wajahnya pun langsung berubah menjadi sedih.
"Ayah dan ibu tidak mengijinkan aku ikut." jawab Dena
"Apa karena insiden kemarin?" tanya Ita
"Ya, padahal mah ya. Ini kan cuma sekali, kita bisa pergi bareng temen sekolah. Yaa... walau aku ga punya temen di kelas sih. Tapi, aku rasa ada kenang-kenangan di masa SMA tidak terlalu buruk." jawab Dena mencebikkan bibirnya, karena kesal.
"Tidak punya teman? Apa itu alasan kamu ikut komunitas pendaki gunung?" tanya Maya seraya mengerutkan dahinya.
"Yup. Di komunitas ini, aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa dengan bebas mengekspresikan diriku, mereka semua solid dan menerima aku yang kadang kekanak-kanakan, bar-bar, ceplas ceplos. Pokonya, tidak harus menjadi yang irang lain inginkan. Dan... alasan lainnya, karena ada crush aku di sana." jawab Dena tersenyum lebar
Mereka berlima bisa melihat kebahagiaan di mata Dena.
"Cieeeee.... jangan-jangan kakak laki-laki yang kemarin itu ya." celetuk Maya
BLUSH
"Ko, kalian bisa tau sih?" tanya Dena cengo
"Hah, jadi bener? Aku cuma nebak loh tadi." jawab Maya terkikik geli, melihat ekspresi wajah Dena.
"Ishhh...."
KRIIIIIIING
Bel pun berbunyi, mereka yang jalannya lambat. Langsung berlarian masuk ke kelas, Dena yang masuk kelas berbeda pun melambaikan tangannya pada Ita dan yang lain.
"Huft, untung tidak terlambat." ucap Kira
"Makanya jangan gibah kalo di jalan." ucap Sahin
"Mana ada kita gibah, kita kan ngomongin masalah Darmawisata." ucap Maya
"Iya nih, Sahin mah kalo ngomong suka ngasal." sambung Kira
"Selamat pagi anak-anak" sapa guru yang baru saja masuk.
"PAGI PAAAAAAK" jawab anak sekelas
'Tolong'
"Hah?" ucap Ita bingung, membuat empat bersaudara itu langsung mengalihkan pandangannya pada Ita.
Mereka belum menyadari, bila ada sosok lain di ruangan ini.
"Apa?" tanya Kira berbisik
"Itu tadi, aku denger suara meminta tolong. Apa kalian tidak mendengarnya?" Maya, Kira, Sahin dan Syahid pun menggeleng serempak
"EHEM, kalo kalian mau berbicara. Silahkan keluar dari kelas ini." tegur sang guru
Mereka pun langsung kembali ke posisi semula, saat menatap ke depan. Empat bersaudara itu terkejut, namun tidak dengan Ita. Karena ia tak melihat apa yang di lihat oleh ke empat bersaudara itu.
DEG
"Apa kalian melihatnya?" tanya Kira berbisik, namun matanya fokus melihat guru.
Ingin tak melihat sosok yang ada di samping guru tersebut, tapi terlihat.
"Tentu saja, kita pasti melihatnya." jawab Syahid ikut berbisik
"Aku tidak" ucap Ita
"Seperti yang bapak bilang minggu kemarin, kita ulangan hari ini." ucap guru tersebut
"HUUUUU.... kirain batal pak" teriak para murid
"Kalau kalian tidak ingin ikut ulangan, silahkan.. pintu kelas terbuka lebar." jawab guru tersebut
Semua murid pun terdiam, walau hatinya menggerutu kesal.
Guru tersebut mengeluarkan lembaran soal dari tasnya, lalu ia bagikan ke murid yang duduk di depan. Agar mereka estafet kan ke belakang.
"Sudah pasti yang dapat nilai bagus hanya mereka berlima bukan?" gumam salah satu
...****************...
......Happy Reading
all💞💞......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Land19
wes ga papa den.
mungkin emak bapakmu masih sedikit trauma takut kalo kejadian itu terulang lagi
2024-12-29
1
Ita Xiaomi
Ortu ku jg selalu berpesan begitu.
2024-05-23
2
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Ada ga sih aslina keluarga kaya jandra
2024-01-26
1