Yuan Shi meminta Xiao Yan menyeret mayat itu secara diam-diam. Kemudian ia meminta Qing 'Er dan pelayan Chun untuk pergi ke istana utama dan menunggu di kamar miliknya. Yuan Shi berjalan dengan penuh amarah menuju paviliun milik ibu suri, menerobos masuk tanpa memberi salam. Ibu suri memicing tajam ke arah Yuan Shi dan langsung berdiri mengarahkan telunjuk pada anak tirinya itu.
"Berlutut di hadapanku! Beraninya kamu berjalan masuk tanpa menghormati ibumu, apakah ini semua demi si ratu buangan yang kini berubah menjadi monster liar itu?" tanya ibu suri dengan mata yang membulat tajam.
Yuan Shi mengisyaratkan pada Xiao Yan untuk membawa mayat pembunuh bayaran tadi masuk dan melemparkannya tepat di kaki ibu suri. Wu Zhao membelalak sempurna dan mulai salah tingkah.
"Beraninya ibu suri membayar pembunuh untuk melukai ratuku!" geram Yuan Shi.
"Yuan Shi, kamu sungguh keterlaluan! Menuduh ibumu tanpa bukti adalah kesalahan yang keji, para tetua istana pasti menghukummu dengan berat!" gempar ibu suri dengan nada tingginya. "Sekarang kamu minta kaki tanganmu ini membawa kembali mayat itu dan berlututlah selama tiga hari di sini memikirkan kesalahanmu!" lanjutnya.
Tidak lama Wu Zetian datang dengan wajah cemas dan melihat Yuan Shi sedang berlutut di depan ibu suri. "Ibu suri, aku mohon jangan menghukum Kak Yuan. Aku akan merasa sangat sedih, Kak Yuan pasti punya alasan dibaliknya." Wu Zetian ikut bersimpuh di samping kaisar. "Kak Yuan, minta maaflah pada ibu suri. Jangan hanya karena Kak Qing kakak menjadi anak durhaka," lanjutnya menoleh ke arah kaisar.
Yuan Shi menggenggam erat penuh kekesalan, dua anggota Klan Wu ini sungguh menguji kesabarannya. Menurut Yuan Shi, lebih baik saling menghantam dengan batu ketimbang terlibat dengan drama wanita licik dan manipulatif seperti mereka.
"Karena Tian 'Er yang memohon padaku, aku lepaskan kamu dari hukuman ini dengan syarat, membawa Tian 'Er ke Beiming dan pisahkan kereta kudanya dengan ratumu itu. Kamu harus selalu mendampinginya!" Pinta ibu suri.
Yuan Shi berdiri dan menunduk tanpa kata. "Terserah ibu suri saja," jawabnya kemudian melenggang pergi dan mengabaikan Wu Zetian.
Ibu suri dan Wu Zetian bertukar tatap sembari menyeringai. "Sayang sekali, pembunuh bayaran itu bahkan tidak sedikitpun melukai kulit Qing 'Er."
"Benar ibu suri, menurut laporan mereka Qing 'Er memiliki ilmu bela diri tersembunyi. Kita harus menyewa pembunuh bayaran dengan level tertinggi," usul Wu Zetian.
"Benar, jika mereka berdua mulai berkomplot membangun negeri bersama dan mulai memberontak padaku. Kita pasti tidak akan memiliki celah untuk memerintah kekaisaran. Apa kamu sungguh mencintai anak itu?" tanya ibu suri dengan datar menatap Tian 'Er.
Wu Zetian terlihat gugup. "Pada Kak Yuan? Ibu suri tahu sejak kecil dialah yang paling menyayangiku dibanding kakak yang lainnya."
"Pilihlah, ingin kekuasaan atau anak itu?" Ibu suri mengesap teh hangatnya yang baru saja dibawakan oleh pelayan pribadinya.
"Tentu saja aku lebih ingin kejayaan klan ketimbang yang lainnya," jawab Wu Zetian.
"Bagus, jika dia mulai memberontak kita habisi saja keduanya." kata ibu suri sembari tersenyum puas.
Yuan Shi berjalan sembari mengeratkan pedangnya kemudian memasuki istana utama. Sedangkan Qing 'Er yang sedang menunggu Yuan Shi, mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur dan bersiap istirahat di ranjang kaisar. Selang beberapa saat, Yuan Shi memasuki kamarnya dan Pelayan Chun pun izin ke luar dari sana meninggalkan mereka berdua.
Qing 'Er duduk di ranjang Yuan Shi dan memperhatikan raut wajah kesal pria itu. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Yuan Shi, menyentuh lembut pipi Yuan Shi agar pria itu menoleh ke arahnya. "Kamu nampak sangat kesal," kata Qing 'Er.
Yuan Shi melihat telapak tangan Qing 'Er yang terluka akibat memegang pisau untuk membunuh orang sebelumnya. Lalu kaisar meraih tangan Qing 'Er dan mendekatkan telapak tangan tersebut pada ujung bibirnya, mengecup lukanya dengan lembut. "Maafkan aku perihal sebelumnya," ujar Yuan Shi.
"Apa kamu percaya bahwa aku di sini untuk membantumu?" tanya Qing 'Er sembari menengadah menatap Yuan Shi.
Pria itu lagi-lagi menatap Qing 'Er dalam. "Kamu bukan Qing 'Er ku yang dulu!" ucapan Yuan Shi membuat Qing 'Er membelalak.
"Karena, Qing 'Erku dulu tidak akan mau ikut campur dalam hal apapun apalagi menghiburku seperti sekarang." Yuan Shi menyentuh lembut pipi Qing 'Er.
Liu Qing merasa terkesan dengan segala ucapan Yuan Shi. Menatapnya dengan mata yang berbinar seolah telah jatuh cinta dibuatnya. "Aku memang bukan dirinya lagi, aku yang kini pasti akan mendukungmu dan membantumu memberantas ular liar bahkan jika harus berdiri di lembah penuh duri sekalipun!"
Yuan Shi tertawa kecil. "Kamu sungguh pandai mencuri hatiku, aku mencintaimu. Jangan pernah mau berdiri di lembah penuh duri sekalipun bersamaku seperti sebelumnya, pergilah selagi kamu bisa karena jika tidak akan sangat menyakitkan bagiku jika kamu terluka."
Qing 'Er menaikan kakinya agar dirinya mencapai bibir Yuan Shi dan menekan leher pria itu seraya menyatukan kedua bibir mereka. Yuan Shi memegang lembut pinggang Qing 'Er dan sepersekian detik penyatuan lembut berubah menjadi aksi erotik yang penuh gairah, malam yang panjang dilewati keduanya.
~
Beberapa hari telah berlalu dan hari ini saatnya Kaisar Yuan Shi berangkat ke Beiming untuk melihat hasil panen rakyatnya. Wu Zetian sudah lebih dulu menaiki kereta kuda milik kaisar sedangkan Yuan Shi sendiri masih menunggu Qing 'Er agar ia bisa melihat wanitanya itu menaiki kereta kuda dengan aman.
Yuan Shi memberi isyarat pada Xiao Yan dari kejauhan untuk terus mengawasi kereta kuda permaisuri. Namun ia juga menempatkan Ji untuk mengawal kereta Qing 'Er, kemudian dirinya naik ke kereta kuda bersama Wu Zetian.
Awal perjalanan cukup lancar dan tidak ada gangguan bagi Yuan Shi dan Liu Qing, namun tepat memasuki perbatasan Beiming kereta kuda keduanya terpisah di jalan bercabang. Yuan Shi belum tahu kejadian itu, sedangkan Wu Zetian menyeringai karena ini saatnya pembunuh bayaran beraksi menculik Qing 'Er.
Demi mengalihkan perhatian Yuan Shi, wanita itu memakai segala bujuk rayu pada kaisar bahkan menggodanya dengan terang-terangan. Menyentuh dada kaisar dan memojokan pria itu ke kursi di dalam kereta kuda. "Kaisar pasti lelah, apa ingin minum atau memakan buah?"
"Tidak perlu, bagaimana bisa kutelan jika aku tidak tahu bagaimana keadaan permaisuriku." jawab Yuan Shi sembari bersandar.
"Kak Yuan tidak perlu berlebihan kereta kuda permaisuri masih di belakang kereta kita, jadi tidak perlu terlalu khawatir!" Wu Zetian kembali menggoda Yuan Shi dan menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu.
Di keadaan lain, Qing 'Er merasakan hal yang aneh ketika kereta kudanya terhenti di tengah jalan. Jenderal Ji nampak terkejut ketika dirinya sudah terkepung oleh beberapa orang pembunuh bayaran yang datang begitu banyak. Mereka semua menggunakan pedang yang berkilauan, dari gerak-gerik mereka sudah terlihat jelas betapa profesionalnya mereka apalagi ketika mulai menyerang.
Xiao Yan yang mengawasi dari kejauhan melihat marabahaya yang sedang menimpa ratu sehingga ia segera bergabung bersama Ji. Xiao Yan memakai topeng penutup setengah wajahnya, kemudian dengan sigap mengeluarkan pedang yang ia miliki. Ji dan dan Xiao Yan mulai menyerang beberapa orang tersebut.
"Ratu, bagaimana ini?" tanya Pelayan Chun dengan panik.
"Tenang saja, Ji dan Xiao Yan pasti bisa mengatasinya!" jawab Qing 'Er dengan santai.
Namun, Pelayan Chun masih dibuat panik karena pembunuh bayaran itu datang semakin banyak dan semakin sadis menyerang kedua pria di luaran kereta. Sistem Nemo muncul untuk melihat kegaduhan yang ada dan menoleh ke arah Qing 'Er dengan heran.
"Nona Su, apa kamu tidak berniat membantu?" tanya Nemo.
"Cih, semuanya aku yang lakukan! Lalu apa tugasmu? Biarkan saja dulu!" jawab Qing 'Er.
Tidak lama goyangan terjadi pada kereta kuda yang ditumpangi Ratu Liu Qing, Pelayan Chun semakin panik dan takut salah seorang pembunuh menyakiti permaisurinya. "Pelayan Chun, aku akan ke luar melawan mereka kamu cari kesempatan untuk kabur dan melapor pada kaisar!"
"Ta--tapi, Permaisuri hamba tidak bisa meninggalkanmu melawan mereka!" ujar Pelayan Chun.
Tidak lama seorang pria bercadar hitam dengan pakaian serba hitamnya menyembulkan kepala ke dalam kereta kuda Qing 'Er, seketika tendangan mematikan melayang ke arah wajah pria itu sampai ia terpelanting ke tengah Jenderal Ji dan Xiao Yan. Kedua pria itu membelalak ketika melihat Qing 'Er dengan aura yang begitu kuat melangkah ke luar dan maju mendekati mereka.
Sebuah pedang berkilau keluar dari tangan kanannya dan cambuk di tangan kirinya. "Pelayan Chun, selamatkan dirimu dan ikuti perintahku!"
"Baik, Yang Mulia." Pelayan Chun lari tergesa-gesa menjauhi keributan di sana dan segera menyusul kereta kuda kaisar dengan cepat.
Qing 'Er melayangkan cambukannya ke salah satu pembunuh yang hendak mengayunkan pedangnya ke arah Xiao Yan. Cambuk itu tepat melilit ke leher sang pembunuh kemudian Liu Qing dengan mudah menarik pria tersebut dan langsung menyayat bagian perutnya tanpa ampun.
Jenderal Ji sembari melawan para pembunuh sesekali menatap Qing 'Er dengan heran. Kini, mereka bertiga berdiri sejajar dengan Qing 'Er yang berada di antara keduanya. "Xiao Yan, pergilah beritahu kaisar!"
"Ratu Qing, hamba tidak mungkin berani meninggalkanmu!" kata Xiao Yan.
Qing 'Er melirik tajam. "ini perintah!" pintanya dengan tegas.
"Baik, Yang Mulia." Xiao Yan lari dengan kecepatan kilat menyusul kereta kuda milik kaisar.
Sedangkan Jenderal Ji dan Qing 'Er masih saling membelakangi dan melawan pembunuh bayaran tingkat atas dengan sekuat tenaga. "Nemo, aku butuh bola bubuk mesiu sekarang!" pinta Qing 'Er dengan siaga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Wanda Wanda i
bantai bantai bantai
2023-09-12
2