Bab 17 - Perjalanan ke Beiming

Yuan Shi meminta Xiao Yan menyeret mayat itu secara diam-diam. Kemudian ia meminta Qing 'Er dan pelayan Chun untuk pergi ke istana utama dan menunggu di kamar miliknya. Yuan Shi berjalan dengan penuh amarah menuju paviliun milik ibu suri, menerobos masuk tanpa memberi salam. Ibu suri memicing tajam ke arah Yuan Shi dan langsung berdiri mengarahkan telunjuk pada anak tirinya itu.

"Berlutut di hadapanku! Beraninya kamu berjalan masuk tanpa menghormati ibumu, apakah ini semua demi si ratu buangan yang kini berubah menjadi monster liar itu?" tanya ibu suri dengan mata yang membulat tajam.

Yuan Shi mengisyaratkan pada Xiao Yan untuk membawa mayat pembunuh bayaran tadi masuk dan melemparkannya tepat di kaki ibu suri. Wu Zhao membelalak sempurna dan mulai salah tingkah.

"Beraninya ibu suri membayar pembunuh untuk melukai ratuku!" geram Yuan Shi.

"Yuan Shi, kamu sungguh keterlaluan! Menuduh ibumu tanpa bukti adalah kesalahan yang keji, para tetua istana pasti menghukummu dengan berat!" gempar ibu suri dengan nada tingginya. "Sekarang kamu minta kaki tanganmu ini membawa kembali mayat itu dan berlututlah selama tiga hari di sini memikirkan kesalahanmu!" lanjutnya.

Tidak lama Wu Zetian datang dengan wajah cemas dan melihat Yuan Shi sedang berlutut di depan ibu suri. "Ibu suri, aku mohon jangan menghukum Kak Yuan. Aku akan merasa sangat sedih, Kak Yuan pasti punya alasan dibaliknya." Wu Zetian ikut bersimpuh di samping kaisar. "Kak Yuan, minta maaflah pada ibu suri. Jangan hanya karena Kak Qing kakak menjadi anak durhaka," lanjutnya menoleh ke arah kaisar.

Yuan Shi menggenggam erat penuh kekesalan, dua anggota Klan Wu ini sungguh menguji kesabarannya. Menurut Yuan Shi, lebih baik saling menghantam dengan batu ketimbang terlibat dengan drama wanita licik dan manipulatif seperti mereka.

"Karena Tian 'Er yang memohon padaku, aku lepaskan kamu dari hukuman ini dengan syarat, membawa Tian 'Er ke Beiming dan pisahkan kereta kudanya dengan ratumu itu. Kamu harus selalu mendampinginya!" Pinta ibu suri.

Yuan Shi berdiri dan menunduk tanpa kata. "Terserah ibu suri saja," jawabnya kemudian melenggang pergi dan mengabaikan Wu Zetian.

Ibu suri dan Wu Zetian bertukar tatap sembari menyeringai. "Sayang sekali, pembunuh bayaran itu bahkan tidak sedikitpun melukai kulit Qing 'Er."

"Benar ibu suri, menurut laporan mereka Qing 'Er memiliki ilmu bela diri tersembunyi. Kita harus menyewa pembunuh bayaran dengan level tertinggi," usul Wu Zetian.

"Benar, jika mereka berdua mulai berkomplot membangun negeri bersama dan mulai memberontak padaku. Kita pasti tidak akan memiliki celah untuk memerintah kekaisaran. Apa kamu sungguh mencintai anak itu?" tanya ibu suri dengan datar menatap Tian 'Er.

Wu Zetian terlihat gugup. "Pada Kak Yuan? Ibu suri tahu sejak kecil dialah yang paling menyayangiku dibanding kakak yang lainnya."

"Pilihlah, ingin kekuasaan atau anak itu?" Ibu suri mengesap teh hangatnya yang baru saja dibawakan oleh pelayan pribadinya.

"Tentu saja aku lebih ingin kejayaan klan ketimbang yang lainnya," jawab Wu Zetian.

"Bagus, jika dia mulai memberontak kita habisi saja keduanya." kata ibu suri sembari tersenyum puas.

Yuan Shi berjalan sembari mengeratkan pedangnya kemudian memasuki istana utama. Sedangkan Qing 'Er yang sedang menunggu Yuan Shi, mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur dan bersiap istirahat di ranjang kaisar. Selang beberapa saat, Yuan Shi memasuki kamarnya dan Pelayan Chun pun izin ke luar dari sana meninggalkan mereka berdua.

Qing 'Er duduk di ranjang Yuan Shi dan memperhatikan raut wajah kesal pria itu. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Yuan Shi, menyentuh lembut pipi Yuan Shi agar pria itu menoleh ke arahnya. "Kamu nampak sangat kesal," kata Qing 'Er.

Yuan Shi melihat telapak tangan Qing 'Er yang terluka akibat memegang pisau untuk membunuh orang sebelumnya. Lalu kaisar meraih tangan Qing 'Er dan mendekatkan telapak tangan tersebut pada ujung bibirnya, mengecup lukanya dengan lembut. "Maafkan aku perihal sebelumnya," ujar Yuan Shi.

"Apa kamu percaya bahwa aku di sini untuk membantumu?" tanya Qing 'Er sembari menengadah menatap Yuan Shi.

Pria itu lagi-lagi menatap Qing 'Er dalam. "Kamu bukan Qing 'Er ku yang dulu!" ucapan Yuan Shi membuat Qing 'Er membelalak.

"Karena, Qing 'Erku dulu tidak akan mau ikut campur dalam hal apapun apalagi menghiburku seperti sekarang." Yuan Shi menyentuh lembut pipi Qing 'Er.

Liu Qing merasa terkesan dengan segala ucapan Yuan Shi. Menatapnya dengan mata yang berbinar seolah telah jatuh cinta dibuatnya. "Aku memang bukan dirinya lagi, aku yang kini pasti akan mendukungmu dan membantumu memberantas ular liar bahkan jika harus berdiri di lembah penuh duri sekalipun!"

Yuan Shi tertawa kecil. "Kamu sungguh pandai mencuri hatiku, aku mencintaimu. Jangan pernah mau berdiri di lembah penuh duri sekalipun bersamaku seperti sebelumnya, pergilah selagi kamu bisa karena jika tidak akan sangat menyakitkan bagiku jika kamu terluka."

Qing 'Er menaikan kakinya agar dirinya mencapai bibir Yuan Shi dan menekan leher pria itu seraya menyatukan kedua bibir mereka. Yuan Shi memegang lembut pinggang Qing 'Er dan sepersekian detik penyatuan lembut berubah menjadi aksi erotik yang penuh gairah, malam yang panjang dilewati keduanya.

~

Beberapa hari telah berlalu dan hari ini saatnya Kaisar Yuan Shi berangkat ke Beiming untuk melihat hasil panen rakyatnya. Wu Zetian sudah lebih dulu menaiki kereta kuda milik kaisar sedangkan Yuan Shi sendiri masih menunggu Qing 'Er agar ia bisa melihat wanitanya itu menaiki kereta kuda dengan aman.

Yuan Shi memberi isyarat pada Xiao Yan dari kejauhan untuk terus mengawasi kereta kuda permaisuri. Namun ia juga menempatkan Ji untuk mengawal kereta Qing 'Er, kemudian dirinya naik ke kereta kuda bersama Wu Zetian.

Awal perjalanan cukup lancar dan tidak ada gangguan bagi Yuan Shi dan Liu Qing, namun tepat memasuki perbatasan Beiming kereta kuda keduanya terpisah di jalan bercabang. Yuan Shi belum tahu kejadian itu, sedangkan Wu Zetian menyeringai karena ini saatnya pembunuh bayaran beraksi menculik Qing 'Er.

Demi mengalihkan perhatian Yuan Shi, wanita itu memakai segala bujuk rayu pada kaisar bahkan menggodanya dengan terang-terangan. Menyentuh dada kaisar dan memojokan pria itu ke kursi di dalam kereta kuda. "Kaisar pasti lelah, apa ingin minum atau memakan buah?"

"Tidak perlu, bagaimana bisa kutelan jika aku tidak tahu bagaimana keadaan permaisuriku." jawab Yuan Shi sembari bersandar.

"Kak Yuan tidak perlu berlebihan kereta kuda permaisuri masih di belakang kereta kita, jadi tidak perlu terlalu khawatir!" Wu Zetian kembali menggoda Yuan Shi dan menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu.

Di keadaan lain, Qing 'Er merasakan hal yang aneh ketika kereta kudanya terhenti di tengah jalan. Jenderal Ji nampak terkejut ketika dirinya sudah terkepung oleh beberapa orang pembunuh bayaran yang datang begitu banyak. Mereka semua menggunakan pedang yang berkilauan, dari gerak-gerik mereka sudah terlihat jelas betapa profesionalnya mereka apalagi ketika mulai menyerang.

Xiao Yan yang mengawasi dari kejauhan melihat marabahaya yang sedang menimpa ratu sehingga ia segera bergabung bersama Ji. Xiao Yan memakai topeng penutup setengah wajahnya, kemudian dengan sigap mengeluarkan pedang yang ia miliki. Ji dan dan Xiao Yan mulai menyerang beberapa orang tersebut.

"Ratu, bagaimana ini?" tanya Pelayan Chun dengan panik.

"Tenang saja, Ji dan Xiao Yan pasti bisa mengatasinya!" jawab Qing 'Er dengan santai.

Namun, Pelayan Chun masih dibuat panik karena pembunuh bayaran itu datang semakin banyak dan semakin sadis menyerang kedua pria di luaran kereta. Sistem Nemo muncul untuk melihat kegaduhan yang ada dan menoleh ke arah Qing 'Er dengan heran.

"Nona Su, apa kamu tidak berniat membantu?" tanya Nemo.

"Cih, semuanya aku yang lakukan! Lalu apa tugasmu? Biarkan saja dulu!" jawab Qing 'Er.

Tidak lama goyangan terjadi pada kereta kuda yang ditumpangi Ratu Liu Qing, Pelayan Chun semakin panik dan takut salah seorang pembunuh menyakiti permaisurinya. "Pelayan Chun, aku akan ke luar melawan mereka kamu cari kesempatan untuk kabur dan melapor pada kaisar!"

"Ta--tapi, Permaisuri hamba tidak bisa meninggalkanmu melawan mereka!" ujar Pelayan Chun.

Tidak lama seorang pria bercadar hitam dengan pakaian serba hitamnya menyembulkan kepala ke dalam kereta kuda Qing 'Er, seketika tendangan mematikan melayang ke arah wajah pria itu sampai ia terpelanting ke tengah Jenderal Ji dan Xiao Yan. Kedua pria itu membelalak ketika melihat Qing 'Er dengan aura yang begitu kuat melangkah ke luar dan maju mendekati mereka.

Sebuah pedang berkilau keluar dari tangan kanannya dan cambuk di tangan kirinya. "Pelayan Chun, selamatkan dirimu dan ikuti perintahku!"

"Baik, Yang Mulia." Pelayan Chun lari tergesa-gesa menjauhi keributan di sana dan segera menyusul kereta kuda kaisar dengan cepat.

Qing 'Er melayangkan cambukannya ke salah satu pembunuh yang hendak mengayunkan pedangnya ke arah Xiao Yan. Cambuk itu tepat melilit ke leher sang pembunuh kemudian Liu Qing dengan mudah menarik pria tersebut dan langsung menyayat bagian perutnya tanpa ampun.

Jenderal Ji sembari melawan para pembunuh sesekali menatap Qing 'Er dengan heran. Kini, mereka bertiga berdiri sejajar dengan Qing 'Er yang berada di antara keduanya. "Xiao Yan, pergilah beritahu kaisar!"

"Ratu Qing, hamba tidak mungkin berani meninggalkanmu!" kata Xiao Yan.

Qing 'Er melirik tajam. "ini perintah!" pintanya dengan tegas.

"Baik, Yang Mulia." Xiao Yan lari dengan kecepatan kilat menyusul kereta kuda milik kaisar.

Sedangkan Jenderal Ji dan Qing 'Er masih saling membelakangi dan melawan pembunuh bayaran tingkat atas dengan sekuat tenaga. "Nemo, aku butuh bola bubuk mesiu sekarang!" pinta Qing 'Er dengan siaga.

Terpopuler

Comments

Wanda Wanda i

Wanda Wanda i

bantai bantai bantai

2023-09-12

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Terjebak di Dinasti Xia
2 Bab 2 - Mendapat ingatan pemilik asli
3 Bab 3 - Pulang ke rumah
4 Bab 4 - Pasar Tradisional
5 Bab 5 - Kecurigaan Yuan Shi
6 Bab 6 - Mata-mata
7 Bab 7 - Persiapan acara
8 Bab 8 - Mengelilingi istana utama
9 Bab 9 - Ancaman Ibu Suri
10 Bab 10 - Menikmati kembang api
11 Bab 11 - Rumah Hiburan
12 Bab 12 - Perjanjian Suami Istri
13 Bab 13 - Istana Dingin
14 Bab 14 - Restoran baru
15 Bab 15 - Eksperimen gagal
16 Bab 16 - Pembunuh bayaran
17 Bab 17 - Perjalanan ke Beiming
18 Bab 18 - Bola bubuk mesiu
19 Bab 19 - Kerajaan Beiming
20 Bab 20 - Dupa harum
21 Bab 21 - Senjata makan tuan
22 Bab 22 - Garis antara bumi dan surga
23 Bab 23 - Perbukitan Beiming
24 Bab 24 - Utusan Dewa
25 Bab 25 - Tenda kaisar
26 Bab 26 - Pulang
27 Bab 27 - Pengasingan Barat
28 Bab 28 - Rumor ahli sihir
29 Bab 29 - Jebakan Ibu Suri
30 Bab 30 - Kolam Pemandian
31 Bab 31 - Kutukan langit
32 Bab 32 - Paviliun baru
33 Bab 33 - Kilas balik
34 Bab 34 - Kepergian Su Mian
35 Bab 35 - Berkhianat
36 Bab 36 - Istana yang kacau
37 Bab 37 - Perpisahan
38 Bab 38 - Kematian Ji
39 Bab 39 - Malam bersama Tian 'Er
40 Bab 40 - Jebakan
41 Bab 41 - Pewaris Takhta
42 Bab 42 - Kabar baik
43 Bab 43 - Kekecewaan rakyat
44 Bab 44 - Suku Huo
45 Bab 45 - Perjalanan menuju penjara usang 1
46 Bab 46 - Perjalanan menuju penjara usang 2
47 Bab 47 - Pertolongan tak terduga
48 Bab 48 - Pertemuan kembali
49 Bab 49 - Pernyataan cinta
50 Bab 50 - Malam bersama
51 Bab 51 - Penginapan
52 Bab 52 - Tidak ada tempat aman
53 Bab 53 - Kediaman Jenderal Ye
54 Bab 54 - Lukisan
55 Bab 55 - H-4 Penobatan
56 Bab 56 - Perjalanan kembali
57 Bab 57 - H-3 Penobatan
58 Bab 58 - H-2 Penobatan
59 Bab 59 - Istana Yuanqing
60 Bab 60 - Akhir peperangan
61 Bab 61 - Permaisuri
62 Bab 62 - Hari bahagia
63 Bab 63 - Kepergian Yuan Shi
64 Bab 64 - Akademi Yuanqing
65 Bab 65 - Kelahiran Pewaris Takhta
66 Bab 66 - Rumor Panas
67 Bab 67 - Selir Murong
68 Bab 68 - Perayaan besar
69 Bab 69 - Aula leluhur
70 Bab 70 - Menonaktifkan sistem
71 Bab 71 - Ruang Kaisar
72 Bab 72 - Hadiah Istimewa
73 Bab 73 - Pergi dalam dekapanmu
74 Bab 74 - Tahun-tahun di Xia
75 Bab 75 - Su Mian
76 Bab 76 - Sang Putri Mahkota
77 Bab 77 - Peninggalan Sejarah
78 Bab 78 - Aku ingat
79 Bab 79 - Side story of Su Mian Xi Yuan
80 Bab 80 - Epilog
81 PROMOSI NOVEL
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 - Terjebak di Dinasti Xia
2
Bab 2 - Mendapat ingatan pemilik asli
3
Bab 3 - Pulang ke rumah
4
Bab 4 - Pasar Tradisional
5
Bab 5 - Kecurigaan Yuan Shi
6
Bab 6 - Mata-mata
7
Bab 7 - Persiapan acara
8
Bab 8 - Mengelilingi istana utama
9
Bab 9 - Ancaman Ibu Suri
10
Bab 10 - Menikmati kembang api
11
Bab 11 - Rumah Hiburan
12
Bab 12 - Perjanjian Suami Istri
13
Bab 13 - Istana Dingin
14
Bab 14 - Restoran baru
15
Bab 15 - Eksperimen gagal
16
Bab 16 - Pembunuh bayaran
17
Bab 17 - Perjalanan ke Beiming
18
Bab 18 - Bola bubuk mesiu
19
Bab 19 - Kerajaan Beiming
20
Bab 20 - Dupa harum
21
Bab 21 - Senjata makan tuan
22
Bab 22 - Garis antara bumi dan surga
23
Bab 23 - Perbukitan Beiming
24
Bab 24 - Utusan Dewa
25
Bab 25 - Tenda kaisar
26
Bab 26 - Pulang
27
Bab 27 - Pengasingan Barat
28
Bab 28 - Rumor ahli sihir
29
Bab 29 - Jebakan Ibu Suri
30
Bab 30 - Kolam Pemandian
31
Bab 31 - Kutukan langit
32
Bab 32 - Paviliun baru
33
Bab 33 - Kilas balik
34
Bab 34 - Kepergian Su Mian
35
Bab 35 - Berkhianat
36
Bab 36 - Istana yang kacau
37
Bab 37 - Perpisahan
38
Bab 38 - Kematian Ji
39
Bab 39 - Malam bersama Tian 'Er
40
Bab 40 - Jebakan
41
Bab 41 - Pewaris Takhta
42
Bab 42 - Kabar baik
43
Bab 43 - Kekecewaan rakyat
44
Bab 44 - Suku Huo
45
Bab 45 - Perjalanan menuju penjara usang 1
46
Bab 46 - Perjalanan menuju penjara usang 2
47
Bab 47 - Pertolongan tak terduga
48
Bab 48 - Pertemuan kembali
49
Bab 49 - Pernyataan cinta
50
Bab 50 - Malam bersama
51
Bab 51 - Penginapan
52
Bab 52 - Tidak ada tempat aman
53
Bab 53 - Kediaman Jenderal Ye
54
Bab 54 - Lukisan
55
Bab 55 - H-4 Penobatan
56
Bab 56 - Perjalanan kembali
57
Bab 57 - H-3 Penobatan
58
Bab 58 - H-2 Penobatan
59
Bab 59 - Istana Yuanqing
60
Bab 60 - Akhir peperangan
61
Bab 61 - Permaisuri
62
Bab 62 - Hari bahagia
63
Bab 63 - Kepergian Yuan Shi
64
Bab 64 - Akademi Yuanqing
65
Bab 65 - Kelahiran Pewaris Takhta
66
Bab 66 - Rumor Panas
67
Bab 67 - Selir Murong
68
Bab 68 - Perayaan besar
69
Bab 69 - Aula leluhur
70
Bab 70 - Menonaktifkan sistem
71
Bab 71 - Ruang Kaisar
72
Bab 72 - Hadiah Istimewa
73
Bab 73 - Pergi dalam dekapanmu
74
Bab 74 - Tahun-tahun di Xia
75
Bab 75 - Su Mian
76
Bab 76 - Sang Putri Mahkota
77
Bab 77 - Peninggalan Sejarah
78
Bab 78 - Aku ingat
79
Bab 79 - Side story of Su Mian Xi Yuan
80
Bab 80 - Epilog
81
PROMOSI NOVEL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!