Di dalam genggaman tangan Liu Qing kini sudah terdapat bola bubuk mesiu, demi mengalihkan perhatian para pembunuh dan Jenderal Ji akhirnya Qing 'Er lari tidak terlalu jauh ke dalam hutan. Semua para pembunuh bayaran mengikutinya dan langsung mengepungnya. Hal itu ia lakukan karena butuh bantuan Nemo sang sistem untuk membuat jebakan.
Setelah terkepung oleh pembunuh bayaran rasanya seperti deja vu bagi Su Mian, ia tertawa kecil. Kali ini tentunya ia akan menang, dibanding para bandar narkoba bersenjata laras panjang dengan para pembunuh bayaran berpedang. Ia yakin bisa lebih baik dan lebih cepat memusnahkan orang-orang ini, ketimbang sebelumnya.
Jenderal Ji ikut berlari mengejar Qing 'Er, setelah sampai di sana dia melihat Qing 'Er yang nampak santai juga tersenyum halus ke arah para pembunuh. Kemudian ia melihat Qing 'Er melompat ke arahnya seolah menjauhkan diri dari jebakan yang telah dibuat. Jenderal Ji termenung namun dengan sigap menangkap Qing 'Er hingga keduanya terjatuh dan berguling bersama.
"Nemo, sekarang!" pinta Qing 'Er di dalam hatinya.
Nemo melemparkan korek api tepat ke atas tumpukan bola bubuk mesiu di tengah para pembunuh bayaran. Ledakan dahsyat pun tak terelakan lagi, Qing 'Er dan Ji saling melindungi dan bersembunyi di balik pepohonan.
Di sisi lain, Xiao Yan dan Pelayan Chun sudah melaporkannya pada Kaisar Yuan Shi. Mereka kemudian bergegas menunggangi kuda meninggalkan Wu Zetian di tengah perjalanan. Dalam beberapa puluh meter Yuan Shi mendengar ledakan dahsyat dari arah Qing 'Er berada. Pria itu terdiam dan terlihat cemas setengah mati memikirkan permaisurinya, dia berjanji jika sesuatu hal terjadi pada Qing 'Er maka dia akan membunuh ibu suri dengan tangannya sendiri.
Sesampainya di tempat kejadian, Yuan Shi melihat mayat para pembunuh bayaran berceceran sedangkan pemandangan lain membuatnya terdiam seribu bahasa. Jenderal Ji memeluk Qing 'Er dengan erat dan khawatir, rasanya kaki Yuan Shi terasa lemas tidak berdaya. Bukan karena cemburu, melainkan karena merasa telah gagal menjaga permaisurinya sendiri. Walaupun Qing 'Er baik-baik saja, Yuan Shi tetap merasa tidak pantas bersamanya.
Yuan Shi mematung dan tidak berniat menginterupsi aksi keduanya, namun ketika Qing 'Er menoleh ke arah Yuan Shi ia hanya dapat tersenyum getir pada permaisurinya. Yuan Shi berbalik dan hendak memberikan waktu untuk kedua orang tersebut, namun saat ia melangkah sebuah tangan melingkar di pinggangnya. "Kamu datang," ucap Qing 'Er lirih.
Yuan Shi berbalik dan langsung memeluk Qing 'Er disaksikan Ji, Pelayan Chun dan Xiao Yan. Jantungnya berdebar kencang kemudian menatap wajah nan cantik itu dengan seksama. Melihat kembali cerminan seseorang di dalamnya. "Syukurlah kamu selamat," katanya dan kembali memeluk.
Setelah pelukan yang cukup lama, Qing 'Er hampir kehabisan napas hingga ia memukul bahu Yuan Shi beberapa kali agar mau melepaskan pelukannya. Yuan Shi tertawa kecil, kemudian mengelus lembut pucuk rambut sang istri. "Mari lanjutkan perjalanan, sisanya biar prajurit Beiming yang membereskan!"
Qing 'Er mengangguk, kemudian dirinya dan Yuan Shi menaiki kereta kuda bersama. Kali ini, Xiao Yan yang menjadi kusir dan Pelayan Chun menemani di sampingnya. Sedangkan Ji, menunggangi kudanya dan mengikat beberapa kuda lain di belakangnya bak seorang penggembala.
Qing 'Er menatap Yuan Shi yang memalingkan wajah darinya. Ia tahu, Yuan Shi sedang menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menjaga pemilik asli tubuh. "Jangan merasa bersalah, aku baik-baik saja!"
"Maafkan aku, berada di sampingku hanya akan membahayakan dirimu saja. Seharusnya, sejak awal aku tidak membuatmu menanggung resiko ini." kata Yuan Shi menatap Qing 'Er dengan lekat.
Qing 'Er tertawa kecil. "Sudah kubilang aku memiliki banyak siasat yang jarang dimiliki siapapun, kaisar tidak perlu khawatir."
"Perihal ledakan tadi, adakah yang ingin kamu jelaskan padaku?" tanya Yuan Shi pada Qing 'Er.
"Kaisar, aku sangat lelah. Apakah harus langsung diinterogasi seperti ini?" Qing 'Er menatap Yuan Shi dan semakin mendekat ke arahnya.
Pria itu mendengus pelan kemudian menutup matanya sejenak kemudian kembali menatap Qing 'Er. Qing 'Er secara lembut berinisiatif mengecup bibir Yuan Shi yang manis. Memberikan sedikit sengatan listrik pada diri Yuan Shi yang kini mulai menekankan tangannya pada leher Qing 'Er.
Dengan irama kereta kuda yang beriringan, aktivitas keduanya sangat samar terdengar. Yuan Shi menaikan tubuh Qing 'Er kepangkuannya dan menelusuri setiap jengkal tubuh Sang Permaisuri dengan sentuhan lembut menggelitik. Mata Qing 'Er kini sepenuhnya milik Su Mian, kedua bola mata berwarna merah mendominasi pemilik asli tubuh. Yuan Shi membuka matanya melihat betapa indahnya bola mata merah menyala yang ada di depannya kini, ia membuka tali pakaiannya dengan cepat sembari terus menerobos masuk ke dalam tatapan Qing 'Er.
Su Mian mulai mendominasi kegiatan mereka yang menguras tenaga, suara terengah-engah keduanya terdengar samar di telinga orang-orang di luar. Membuat pipi Xiao Yan dan Pelayan Chun memerah bak tomat matang, sedangkan Ji hanya bisa menghela napas panjang kemudian melaju cepat dengan kudanya menjauh beberapa meter sampai suara itu tidak terdengar lagi ke telinganya.
Setelah cukup lama memadu kasih, Qing 'Er tersenyum puas sembari menyatukan keningnya dengan Yuan Shi. Tersenyum lembut pada pria itu, lalu merapikan pakaiannya dan membantu Yuan Shi mengikat tali pakaiannya juga. Yuan Shi dengan mata yang berbinar dan pipi kemerahan memeluk erat Qing 'Er dan enggan melepasnya, dia merasa ikatan ini mungkin tidak akan pernah ia lepaskan sampai kapanpun.
Perasaan lengkap yang dibawa Qing 'Er pada dirinya cukup untuk membuat pria itu teguh dalam rencana pembalasan dendamnya terhadap Klan Wu. Cepat atau lambat, ia pasti akan memusnahkan seluruh keturunan Klan Wu dan tetuanya. Yuan Shi menatap Qing 'Er yang nampak kelelahan, pria itu kemudian memintanya bersandar ke bahu kekar miliknya. "Beristirahatlah!"
"Aku mengantuk, kamu harus membangunkanku jika sudah sampai di Beiming!" pinta Qing 'Er.
"Tentu saja, beristirahatlah!" jawab Yuan Shi yang kini merangkul Qing 'Er yang berlaih duduk di sampingnya. Membiarkan wanita itu bersandar di bahunya selama mungkin.
Perjalanan ke Beiming cukup melelahkan, kereta kuda Wu Zetian pasti sudah lebih dulu sampai di sana. Selang beberapa lama pula, akhirnya mereka semua pun sampai di Beiming dan terdengar sorak gembira rakyat Beiming yang menyambut kedatangan kaisar. Yuan Shi yang masih enggan turun karena sedang memperhatikan Qing 'Er yang tertidur meminta orang di luar untuk tidak berisik dengan memberi isyarat pada Xiao Yan.
Dari kejauhan Yun Shan yang tidak lain Pangeran Beiming hanya memperhatikan sebuah energi luar dari kereta kuda milik Yuan Shi dengan raut wajah yang datar dan tidak mengenakan. "Dia ingin mengacaukan dunia," gumam pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments