Angga tiba di stasiun kota jam dua belas siang. Tepat sesuai dengan jadwal, dia segera mencari taxi online melalui aplikasi. Namun yang aneh, meskipun sudah cukup lama dia memesan via aplikasi, taxi online yang mereka harapkan, tak kunjung didapatkan. Bahkan tidak ada seorangpun driver taxi online yang mau menerima ordernya.
"Sial, aku lupa meminta Yono untuk menjemput kami. Tempat itu jauh dari peradaban, sudah pasti tidak ada yang mau mengantarkan kami ke desa Herly."
"Kenapa aku sangat ceroboh hari ini, harusnya aku bisa lebih fokus, sehingga kejadian semacam ini, tak perlu terjadi pada kami."
"Bagaimana kalau aku tidak bisa mendapatkan kendaraan sekarang, signal di desa Herly tidak bagus, dan saat ini sudah jam dua belas, apa mungkin dia mau menjemput kami?"
Angga menggerutu sendiri, pemuda itu merasa konyol, karena ia tidak menghubungi Herly lebih dulu. Om Bandi melihat bahasa tubuh Angga yang tampak gelisah, dia pun lalu mengajak Angga mencari rumah makan untuk istirahat makan siang, dan mencari informasi rental mobil terdekat.
Sementara itu Angga masih terus mencoba menghubungi Herly, dan Yono. Dia meminta om Bandi untuk menunggu sebentar, sampai dia dapat mengusahakan transportasi untuk mereka.
"Sudahlah Ngga kita cari makan siang dulu saja, mungkin kita bisa cari informasi mobil rent car di rumah makan, kalau tidak dapat juga, ya... terpaksa kita menginap semalam disini."
"Besok pagi pagi sekali, baru kita cari angkutan ke desa temanmu. Kamu masih ingat rute ke desa itu kan Ngga?"
Angga terkejut, dia baru sadar kalau dirinya tak begitu mengingat arah ke desa Herly. Pikiran Angga kacau, dia bingung harus bagaimana saat ini. Om Bandi lalu membujuk Angga mencari rumah makan terdekat.
Angga tidak bisa menolak lagi. Dia terpaksa harus mengikuti saran om Bandi untuk mencari warung, perut pemuda itu memang sudah terasa lapar, jadi mereka putuskan untuk mencari warung atau rumah makan terdekat.
"Ya sudah om, kita cari warung atau rumah makan, semoga om Bandi benar, kita bisa tanya tempat rent car mobil disana."
Setelah berjalan cukup jauh keluar stasiun, mereka menemukan satu rumah makan yang cukup ramai di sekitar stasiun tersebut. Setelah memesan makanan, Angga duduk di dekat jendela sembari mencoba menghubungi Herly dan Yono.
Jam dua siang, akhirnya telepon genggam Angga berdering. Suara Yono terdengar di ujung telepon. Mereka langsung berkomunikasi secara intent, dan Angga merasa lega karena Yono sedang dalam perjalanan menuju stasiun kota. Ia berjanji akan menjemput Angga dalam waktu satu jam.
"Akhirnya Kita akan di jemput om. Yono supir Herly meminta kita untuk tetap disini, menunggunya."
"Ok... syukurlah, tadinya om pikir kita tidak akan bisa kesana, untung temanmu itu mengangkat telepon, jadi kita tak perlu tersesat."
Om Bandi merasa senang dengan kabar tersebut. Pria itu kemudian memesan makanan ringan dan dua gelas kopi, sambil minta izin pada pemilik rumah makan untuk berada disana lebih lama, karena mereka sedang menunggu jemputan.
Seperti janji Yono, tepat jam tiga sore, mobil yang dikendarai Yono, parkir di depan rumah makan. Ia segera masuk dan melihat Angga baru saja menyelesaikan tagihan rumah makan.
Dengan sigap pemuda desa itu membantu Angga memasukkan barang bawaan mereka ke bagasi. Tapi kemudian Angga terkejut, karena ia melihat Ryo dan Jaka berada di dalam mobil.
"Kalian berdua kenapa bisa ada disini, mau kemana kalian?"
"Kita jalan dulu saja Ngga, nanti akan aku ceritakan semuanya, tapi sekarang kita cari penginapan di sekitar sini."
"Kamu tidak akan mungkin sampai di desa sebelum magrib, jadi ikuti saja kata kata ku. Aku berjanji, nanti begitu kita sampai dipenginapan, aku bakal ceritakan semua yang terjadi di desa."
Yono membawa mereka ke sebuah losmen kecil. Angga yang tidak sabar mendengarkan keterangan dari Ryo dan Jaka, lalu mengajak mereka duduk di cafetaria yang berada tepat samping losmen. Sedangkan om Bandi pergi ke meja resepsionis untuk memesan tiga buah kamar.
"Katakan sekarang apa yang terjadi disana, kenapa kalian bisa sampai disini, dan Bagus, apa yang terjadi dengan anak itu, kenapa kalian tak bersamanya?"
Jaka dan Ryo saling memandang, kemudian Jaka meminta agar Ryo yang bicara soal apa yang terjadi di desa itu pagi ini.
"Begini Ngga, sebelumnya aku mau minta maaf dulu sama kamu, sebab kami meninggalkan Bagus bersama Herly disana. Tapi terus terang saja, ini bukan kemauan kita, Bagus yang memutuskan untuk tetap tinggal di desa menemani Herly."
"Selama kamu pergi dari desa itu, ada banyak hal ganjil yang terjadi, dan puncaknya pada hari ini. Tadi pagi saat aku dan Jaka memeriksa ruangan di rumah itu, aku merasa diriku sedang diawasi oleh sesutu, kadang kala aku merasa ada orang yang meniup telingaku."
"Saat itu aku masih bertahan, tapi yang di alami Jaka membuat kami menyerah. Aku tidak mau mengambil resiko berat dengan mempertaruhkan nyawa kami di rumah angker itu Ngga."
"Kaki Jaka di cengkram oleh sosok mahluk penghuni rumah Herly, beruntung ada Bagus. Dia menyembuhkan luka memar di kaki Jaka, kalau tidak, mungkin dia sudah tidak bisa jalan sekarang."
"Gangguan mahluk di rumah itu sudah dalam taraf tidak wajar. Dia mulai melakukan kontak fisik, oleh karena itu aku memutuskan untuk pulang."
"Hari ini Herly telah memberikan jawaban kepada pengacara, bahwa ia akan mempertahankan seluruh aset milik romo, apapun resikonya."
"Aku tidak bersama dia saat itu, tapi Bagus sempat mendengarkan, apa yang mereka bicarakan, dan jujur aku kaget mendengar ini, dari anak itu. Bagus mengatakan, kalau leluhur Herly, mereka adalah pelaku pesugihan."
"Parahnya Bagus menemukan satu tempat di bawah tanah, yang mana tempat itu digunakan untuk ritual tumbal manusia, dan bila keluarga Herly ingin selamat, mau tak mau ia harus melaksanakan upacara saat purnama penuh tujuh tahun sekali, jika tidak, maka mereka yang akan jadi tumbal iblis berikutnya."
Mendengar cerita Ryo, Angga jadi resah, semua ini sama seperti yang ada dalam mimpinya. Bahkan om Bandi mengatakan hal serupa, saat mereka berada di kereta.
"Berarti Herly, istrinya, dan Bagus berada dalam bahaya sekarang, Seharusnya kamu tidak mengajak aku kemari, istri Herly sedang hamil saat ini, mahluk itu bisa merampas janin dari kandungan Yasmin."
"Kita harus pergi ke desa sekarang juga, kalau tidak, mereka semua bakal celaka, terutama bayi dalam kandungan Yasmin, kita harus bisa mencegah musibah ini Yo."
Angga segera bangkit dari tempat duduknya, dan pergi dari cafetaria, namun om Bandi berdiri di depan pintu, dan mencegahnya.
"Tenang dulu Ngga, kamu jangan gegabah. Masalah gaib seperti ini harus di pikirkan masak masak. Perkara gaib bukan hal remeh yang bisa kamu anggap enteng. Salah salah kita semua yang akan jadi tumbalnya."
"Benar kata bapak mas Angga. Kita tidak bisa pulang ke desa sore ini, terlalu berbahaya, hutan yang akan kita lewati dihuni oleh banyak lelembut, saya tidak berani kalau melewati hutan saat malam begini, takutnya malah pindah alam mas."
"Soal ibu Yasmin, mas Angga tidak perlu khawatir, sebab hari ini saya sudah antar beliau ke pondok pesantren."
"Pondok tempat pak Herly belajar semasa SMA. Saya yakin pak Herly tahu yang akan dilakukan gurunya untuk menjaga bu Yasmin."
Ucapan Yono membuat Angga jadi lebih tenang, dan mau mendengar nasehat om Bandi. Sore itu mereka membahas seputar sejarah dari keluarga Herly, mereka menyusun kembali cerita untuk menyimpulkan apa yang harus dilakukan untuk mencegah musibah itu terjadi.
"Ini sudah jadi keputusan Herly, yang bisa kita lakukan adalah menjaga temanmu itu, sampai ritual untuk melepas perjanjian berhasil. Dia harus mampu menyelesaikan ritualnya."
Tapi yang masalah utama, adalah sumber kutukan wanita bernama Darsih. Kita semua tidak tahu, bagaimana caranya menangkal kutukan itu."
Mereka termenung, masing masing berpikir keras, bagaimana caranya agar Herly bisa melakukan ritual, tanpa terganggu oleh wanita yang bernama Darsih.
"Percuma dipikirkan sekarang, kita harus tahu sejarah wanita ini, baru kita bisa menentukan langkah apa yang tepat untuk menyegel kutukan Darsih."
Om Bandi melihat jam tangannya. Sudah jam tujuh malam, Pria itu kemudian mengajak mereka untuk makan malam. Setelah itu istirahat, agar mereka bisa bangun pagi pagi sekali, dan berangkat ke desa Herly setelah mereka selesai sholat subuh.
Tepat jam delapan malam, mereka kembali ke kamar masing masing. Om Bandi dengan Angga, Ryo dan Jaka satu kamar, sedangkan Yono tidur seorang diri.
Tanpa ada beban sedikitpun Yono langsung tertidur pulas, sedang Angga masih sibuk mencari artikel tentang mistik melalui internet. Sementara om Bandi bermeditasi di ranjangnya, berharap menemukan petunjuk tentang kasus Herly.
Sedangkan di kamar lain, Ryo dan Jaka masih mengobrol tentang kejadian yang menimpa mereka hari ini.
Meskipun Ryo dan Jaka masih trauma, dan takut untuk kembali, namun kedua sahabat itu akhirnya memutuskan tidak jadi pulang ke Jakarta, dan malah ingin kembali ke desa bersama dengan Angga.
"Walaupun kedengarannya konyol, tapi aku akan ikut dengan Angga Jak, kalau kamu mau pulang besok pagi silahkan, aku cuma ingin minta tolong, jika nanti kami tidak kembai dengan selamat, tolong sampaikan permintaan maafku kepada mama papa."
"Dan ini kunci berangkas, di dalam ada beberapa surat berharga, dan sertifikat restoran, kamu lanjutkan bisnis kita ok..."
"Wow... Wow... Drama banget lu, kata siapa aku mau pulang sendiri, kalau kamu tidak pulang, maka aku juga tidak, kita pergi sama sama, jadi pulang juga sama sama bro."
"Apapun yang terjadi kita hadapi berdua, walaupun firasatku buruk soal keputusan kita, tapi sudahlah semoga saja apa yang kita lakukan mengurangi dosa dosa kita di masa lalu bray."
Ryo tertawa getir, mereka saling berpelukkan, lalu tidur di ranjang masing masing. Malam semakin larut, Om Bandi telah selesai dengan meditasinya, dia tersenyum melihat Angga yang tertidur lelap, sambil menggenggam ponselnya.
"Semoga saja kami belum terlambat menolong anak itu."
Om Bandi bergumam lirih, menghela nafas, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. Ada rasa khawatir dalam dirinya. Tapi ia harus mendukung keputusan Angga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kardi Kardi
semoga di perlancar segala urusannya. amin
2023-10-29
1