Bab 17 Peta Desa Leluhur

Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, saat mobil mini bus yang di kemudikan Yono tiba di halaman parkir rumah besar bergaya gotik milik keluarga Herly. Tepat di depan teras Yono menghentikan mobilnya. Dengan buru buru pemuda desa itu, segera membuka pintu mobil untuk pengacara keluarga majikannya.

Hari ini tepat di hari ke tiga, waktu yang telah dijanjikan Herly kepada pengacara keluarga, untuk memberi jawaban atas surat wasiat romo.

Sementara Yono mengantar tamu naik ke teras rumah, di dalam Herly bersama istri, dan kedua orang temannya, sedang sibuk mencari peta desa leluhur keluarga Herly di semua ruangan yang ada di rumah besar itu.

Hanya Bagus yang tidak terlibat, dia lebih memilih mengamati sekeliling rumah, yang menurut pandangan matanya menyimpan rahasia besar, di balik kokohnya dinding bangunan tua itu.

"Apa sebenarnya yang di lakukan orang tua itu, kenapa energi rumah ini sangat pekat, harusnya aku pergi saja sekarang selagi sempat, tapi kenapa rasanya aku malah terikat di tempat ini."

"Sepertinya ada aura jahat yang ada di salah satu sudut rumah Herly yang tidak ingin kami cepat cepat pergi dari rumah ini."

Bagus baru akan berjalan menuju ke halaman belakang, namun suara Yono membuatnya tertahan, lalu berbalik arah, kembali menuju teras depan.

"Mas Bagus sedang apa di sana, halaman belakang itu, hanya kebun yang di kelola oleh warga desa."

"Kalau mau mencari pemadangan indah, mas Bagus pergi saja ke sungai dekat sawah warga. Disana pemandangannya cantik, banyak burung, dan ayam hutan berkeliaran di sebrang sungai."

"Kalau beruntung sampean bisa juga bertemu bidadari desa kami."

Bagus diam tak mau menanggapi seloroh yang di lontarkan Yono. Dia hanya tersenyum sinis, lalu datang menghampiri Yono yang sedang mengawal pengacara romo menuju ruang tamu.

"Bapak tunggu sebentar, saya akan panggilkan pak Herly."

Pengacara hanya mengangguk, dan mengambil tempat duduk di depan lukisan wajah romo. Sementara Yono berjalan menuju ruang tengah untuk memanggil Herly.

Di ruangan kosong, tempat romo biasa meletakkan sesajen, Herly sedang membuka laci lemari untuk mencari keberadaan peta tanah leluhurnya. Ia cepat cepat pergi ke luar saat mendengar suara Yono yang datang mencarinya.

"Apa pak pengacara sudah datang Yon?"

Suara Herly mengagetkan Yono. Pemuda desa itu langsung menoleh ke arah belakang, dan mengurungkan langkah kakinya yang hendak masuk ke kamar romo.

"Iya pak, pengacara ndoro kakung sudah datang, beliau menunggu bapak di ruang tamu sekarang."

Herly menuruni anak tangga, untuk menemui pengacara. Dari belakang Yasmin yang juga baru saja keluar dari kamar, terlihat mengikuti Herly menuju ruang tamu.

Sedangkan Ryo, dan Jaka masih memeriksa semua ruangan di rumah itu. Mereka berharap bisa menemukan peta desa, yang di sembunyikan romo di suatu tempat.

"Selamat datang pak pengacara, maaf membuat anda menunggu lama. Sebenarnya saya sedang mencari peta letak desa leluhur kami, tapi entahlah... saya belum bisa menemukan dimana romo menyimpan arsip keluarga kami."

Pengacara hanya tersenyum, dia meletakkan cangkir teh di meja, kemudian berdiri menjabat tangan Herly, dan keduanya duduk saling berhadap hadapan, lalu memulai percakapan serius di antara mereka.

"Jadi bagaimana mas Herly, apa panjenengan sudah mengambil keputusan tentang surat wasiat mendiang romo?"

"Apakah sudah ada kandidat, calon yang wetonnya cocok untuk ambil alih properti, dan menerima beban ritual itu?"

Herly terdiam sejenak sembari memainkan jarinya, dia masih akan mempertimbangkan ulang, apa yang akan ia putuskan, sebelum memberikan jawaban final kepada pengacara mendiang romonya.

"Jadi begini pak pengacara, saya dan istri, kami berdua memutuskan akan meninggalkan desa ini, namun masalah properti romo, tetap akan kami pertahankan. Jujur saja, saya tidak ingin menumbalkan orang lain untuk mengambil alih tanggung jawab keluarga, yang mana sudah menjadi satu resiko bagi saya untuk menerima beban itu."

Wajah pengacara romo mendadak berubah jadi kaku, senyumnya tidak lagi menghias bibir. Tampak sekali, kalau pria paruh baya itu tidak suka dengan keputusan yang telah di ambil oleh Herly.

Meskipun keputusan yang bakal di ambil oleh Herly, adalah tanggung jawabnya secara pribadi, namun pengacara keluarga, sepertinya tidak ingin Herly bersikap gegabah dalam membuat keputusan yang bertentangan dengan isi wasiat romonya.

Pria paruh baya itu coba untuk menasehati Herly, agar dia mau merubah keputusannya, dan mematuhi syarat dalam surat wasiat romo.

"Maafkan saya mas Herly, tidak bermaksud lancang untuk ikut campur dalam masalah ini, tapi tolong anda pikirkan ulang, apa yang anda putuskan ini."

"Tolong pikirkan istri dan calon buah hati anda, kutukan ini tidak main main mas, sangat berbahaya jika sampai jatuh kepada mereka."

"Saya pastikan tidak ada orang yang dapat menjamin keselamatan anda, bila ritual itu tidak segera di alihkan kepada orang lain!"

Perkataan pengacara benar benar membuat Herly jadi bimbang. Satu sisi dia tidak ingin mengorbankan keluarganya, tapi di sisi lain, dia juga tidak tega membuat keluarga orang lain celaka karena masalah ritual ini.

Cukup lama Herly terdiam dalam keragu raguan, dia masih berpikir dan menimbang nimbang apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Sempat terbersit keinginan untuk merubah keputusannya, namun hati nurani Herly melarang pria muda itu untuk melakukannya.

Yasmin kemudian menggenggam jemari Herly sembil menatap lekat wajah suaminya. Dia coba untuk menenangkan hati Herly, dan Sejenak saling memandang, Yasmin lalu mengangguk, seakan akan dia memberi kode, agar Herly tetap teguh pada keputusannya.

"Sudahlah pak pengacara, suami saya sudah membuat keputusan, kami sudah memikirkan ini masak masak. Kami akan mencari jalan lain untuk mengatasi masalah ini."

"Kami berdua yakin, di luar sana pasti masih ada orang lain yang mengerti soal masalah ini, dan kami berdua akan mengusahakan jalan lain sebagai alternatif."

Yasmin meyakinkan pengacara, kalau dirinya telah memberikan dukungan penuh kepada Herly untuk membuat keputusannya sendiri.

Sang pengacara hanya bisa terdiam mendengar keputusan pasangan muda itu. Dia hanya menggeleng gelengkan kepalanya, sembari menyodorkan beberapa dokumen terkait seluruh harta benda yang akan menjadi warisan Herly.

"Baik, saya tidak ingin menekan kalian lagi. Sejujurnya romo anda minta, agar saya tidak memberikan hak mencairkan aset aset lain di bank, sebelum anda menyetujui syarat dalam surat wasiat ini."

"Tapi ya sudahlah, kalian sudah mantap dengan keputusan itu. Mau apa lagi, dengan ini tugas saya sebagai pengacara keluarga kalian berakhir sampai disini."

"Kelak apapun yang terjadi pada keluarga kalian, itu semua sudah berada di luar kuasa saya."

"Waktu kalian tidak banyak, jika ini adalah keputusan akhir kalian, mulai sekarang cari orang yang bisa memutuskan kutukan itu, sebab bulan purnama penuh akan datang sebentar lagi. Waktu yang kalian punya hanya sampai bulan mati, setelah itu kalian harus ritual tumbal, atau kalian yang akan jadi tumbal mereka."

Mendengarnya nyali Herly menjadi ciut, tapi dia tidak bisa lagi menarik keputusan yang telah di buat. Tanda tangan telah di bubuhkan, yang terlintas dalam benak Herly, dia harus cepat cepat bertindak sebelum semuanya terlambat.

"Mau tidak mau, aku harus segera memindahkan Yasmin ke kota lain. Mereka berdua harus aman dari incaran iblis iblis itu."

Pengacara memasukkan berkas yang telah di tanda tangani Herly ke dalam tasnya, dia memberikan salinan berkas, dan satu buah map hijau, lalu segera berpamitan.

"Map itu berisi beberapa lembar foto, silsilah keluarga, dan peta lokasi desa yang kalian cari, konon menurut romo anda, para leluhur anda masih meninggalkan hartanya di desa itu."

"Tapi yang perlu di ketahui kutukan wanita itu masih berlaku kepada keluarga kalian sampai sekarang. Jadi terserah, saran saya jangan bertindak bodoh, jika masih bisa pergi menghindar, maka lebih baik, kalian pergi sejauh mungkin, selagi kalian punya kesempatan."

"Baiklah, rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk anda. Sebaiknya saya permisi sekarang, hutan itu masih mencari mangsa, dan saya tidak ingin menjadi salah satu dari mereka yang sial."

"Terima kasih atas dukungannya pak pengacara, di lain waktu, saya harap kita bisa bekerja sama lagi. Tentunya dalam situasi yang lebih baik dari sekarang."

Pengacara itu menjabat tangan Herly, kemudian dia cepat cepat pergi menuju mobil, di iringi Yono yang berjalan di belakangnya.

Herly menarik nafas panjang, dia menatap wajah Yasmin, yang tetap tersenyum, walaupun dia tahu istrinya menyimpan kekhawatiran dalam hatinya.

Mereka berdua berjalan ke teras untuk mengantar pengacara pergi dari kediaman mereka. Setelah melambaikan tangan sembari mengulas senyum ramah, kedua pasangan muda itu, masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu, tanpa mengatakan apa apa lagi.

Tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka, yang ada hanya hening. Yasmin menyandarkan kepalanya di bahu Herly, seolah olah dia ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama suami tercinta.

Sementara di luar, Bagus yang dari sejak awal menguping obrolan mereka, jadi sedikit prihatin dengan keadaan ini. Bibir pria muda itu komat kamit seperti melantunkan doa untuk Herly dan keluarga kecilnya.

"Semoga yang aku takutkan tidak menimpa kalian. Aku tahu kamu orang baik, tapi seharusnya kalian tidak keras kepala."

Bagus beranjak dari tempatnya berdiri. Ia memilih pergi mencari udara segar di luar, agar syaraf syaraf di otaknya tidak terlalu tegang dengan keadaan genting yang menimpa keluarga temannya saat ini.

Episodes
1 Bab I Cuti
2 Bab 2 Teror Dalam Kereta
3 Bab 3 Pertanda
4 Bab 4 Bagus
5 Bab 5 Romo
6 Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7 Bab 7 Wasiat Romo
8 Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9 Bab 9 Ritual Terakhir
10 Bab 10 Penasaran
11 Bab11 Loak buku
12 Bab 12 Sebuah Teka teki
13 Bab 13 Peringatan
14 Bab 14 Ganjil
15 Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16 Bab 16 Sebuah Firasat
17 Bab 17 Peta Desa Leluhur
18 Bab 18 Rahasia Romo
19 Bab 19 Ruang Rahasia
20 Bab 20 Terlambat
21 Bab 21 Merangkai Kenangan
22 Bab 22 Malam Genting
23 Bab 23 Hilang
24 Bab 24 Mengejar Herly
25 Bab 25 Menapak Kenangan
26 Bab 26 Ibu
27 Bab 27 Desa di Balik Kabut
28 Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29 Bab 29 Rumah Joglo
30 Bab 30 Firasat Yasmin
31 Bab 31 Hujan Darah
32 Bab 32 Tersesat
33 Bab 33 Petunjuk Kakak
34 Bab 34 Wanita yang Terbakar
35 Bab 35 Menit menit Penentuan
36 Bab 36 Balas Dendam Darsih
37 Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38 Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39 Bab 39 Pindah Alam
40 Bab 40 Kebaya Hitam
41 Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42 Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43 Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44 Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45 45 Segel Mati
46 Bab 46 Tangisan Yasmin
47 Bab 47 Keteguhan Hati
48 Bab 48 Gadis Misterius
49 Bab 49 Karyawan Baru
50 Bab 50 Namaku Ayunindya
51 Bab 51 Rumah Kosong
52 Bab 52 Lamaran Gaib
53 Bab 53 Jelang Pernikahan
54 Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55 Bab 55 Pernikahan beda Alam
56 Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57 Bab 57 Bersiasat
58 Bab 58 Rahasia Angga
59 Bab 59 Pria Misterius
60 Bab 60 Ruqyah
61 Bab 61 Mimpi Yasmin
62 Bab 62 Pesan dari Bagus
63 Bab 63 Mengejar Yasmin
64 Bab 64 Peringatan dari Herly
65 Bab 65 Janji Angga
66 Bab 66 Tapa Hening
67 Bab 67 Rahasia Angga
68 Bab 68 Bayangan Misterius
69 Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70 Bab 70 Memburu Bagus
71 Bab 71 Memori yang Hilang
72 Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73 Bab 73 Kemunculan Herly
74 Bab 74 Perburuan
75 Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76 Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77 Bab 77 Sosok Penolong
78 Bab 78 Pertarungan Terakhir
79 Bab 79 Kekalahan
80 Bab 80 Kemenangan Sumpah
81 Bab 81 Babak Baru
82 Bab 82 Jodoh yang Hilang
83 Bab 83 Hati untuk Angga
84 Bab 84 Penampakan di Cermin
85 Bab 85 Dia Bukan Ayu
86 Bab 86 Kuntilanak Merah
87 Bab 87 Kamuflase
88 Bab 88 Serangan Fisik
89 Bab 89 Penjara Roh
90 Bab 90 Tabir Misteri
91 Bab 91 Labirin
92 Bab 92 Dasimah
93 Bab 93 Kematian Dasimah
94 Bab 94 Kabar Baik
95 Bab 95 Aji Malih Jiwo
96 Bab 96 Bayangan Hitam
97 Bab 97 Penumpang Gelap
98 Bab 98 Mahluk Bayangan
99 Bab 99 Jebakan
100 Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101 Bab 101 Gerbang Neraka
102 Bab 102. Nyekar
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab I Cuti
2
Bab 2 Teror Dalam Kereta
3
Bab 3 Pertanda
4
Bab 4 Bagus
5
Bab 5 Romo
6
Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7
Bab 7 Wasiat Romo
8
Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9
Bab 9 Ritual Terakhir
10
Bab 10 Penasaran
11
Bab11 Loak buku
12
Bab 12 Sebuah Teka teki
13
Bab 13 Peringatan
14
Bab 14 Ganjil
15
Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16
Bab 16 Sebuah Firasat
17
Bab 17 Peta Desa Leluhur
18
Bab 18 Rahasia Romo
19
Bab 19 Ruang Rahasia
20
Bab 20 Terlambat
21
Bab 21 Merangkai Kenangan
22
Bab 22 Malam Genting
23
Bab 23 Hilang
24
Bab 24 Mengejar Herly
25
Bab 25 Menapak Kenangan
26
Bab 26 Ibu
27
Bab 27 Desa di Balik Kabut
28
Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29
Bab 29 Rumah Joglo
30
Bab 30 Firasat Yasmin
31
Bab 31 Hujan Darah
32
Bab 32 Tersesat
33
Bab 33 Petunjuk Kakak
34
Bab 34 Wanita yang Terbakar
35
Bab 35 Menit menit Penentuan
36
Bab 36 Balas Dendam Darsih
37
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38
Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39
Bab 39 Pindah Alam
40
Bab 40 Kebaya Hitam
41
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44
Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45
45 Segel Mati
46
Bab 46 Tangisan Yasmin
47
Bab 47 Keteguhan Hati
48
Bab 48 Gadis Misterius
49
Bab 49 Karyawan Baru
50
Bab 50 Namaku Ayunindya
51
Bab 51 Rumah Kosong
52
Bab 52 Lamaran Gaib
53
Bab 53 Jelang Pernikahan
54
Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55
Bab 55 Pernikahan beda Alam
56
Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57
Bab 57 Bersiasat
58
Bab 58 Rahasia Angga
59
Bab 59 Pria Misterius
60
Bab 60 Ruqyah
61
Bab 61 Mimpi Yasmin
62
Bab 62 Pesan dari Bagus
63
Bab 63 Mengejar Yasmin
64
Bab 64 Peringatan dari Herly
65
Bab 65 Janji Angga
66
Bab 66 Tapa Hening
67
Bab 67 Rahasia Angga
68
Bab 68 Bayangan Misterius
69
Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70
Bab 70 Memburu Bagus
71
Bab 71 Memori yang Hilang
72
Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73
Bab 73 Kemunculan Herly
74
Bab 74 Perburuan
75
Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76
Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77
Bab 77 Sosok Penolong
78
Bab 78 Pertarungan Terakhir
79
Bab 79 Kekalahan
80
Bab 80 Kemenangan Sumpah
81
Bab 81 Babak Baru
82
Bab 82 Jodoh yang Hilang
83
Bab 83 Hati untuk Angga
84
Bab 84 Penampakan di Cermin
85
Bab 85 Dia Bukan Ayu
86
Bab 86 Kuntilanak Merah
87
Bab 87 Kamuflase
88
Bab 88 Serangan Fisik
89
Bab 89 Penjara Roh
90
Bab 90 Tabir Misteri
91
Bab 91 Labirin
92
Bab 92 Dasimah
93
Bab 93 Kematian Dasimah
94
Bab 94 Kabar Baik
95
Bab 95 Aji Malih Jiwo
96
Bab 96 Bayangan Hitam
97
Bab 97 Penumpang Gelap
98
Bab 98 Mahluk Bayangan
99
Bab 99 Jebakan
100
Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101
Bab 101 Gerbang Neraka
102
Bab 102. Nyekar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!