Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, saat mobil mini bus yang di kemudikan Yono tiba di halaman parkir rumah besar bergaya gotik milik keluarga Herly. Tepat di depan teras Yono menghentikan mobilnya. Dengan buru buru pemuda desa itu, segera membuka pintu mobil untuk pengacara keluarga majikannya.
Hari ini tepat di hari ke tiga, waktu yang telah dijanjikan Herly kepada pengacara keluarga, untuk memberi jawaban atas surat wasiat romo.
Sementara Yono mengantar tamu naik ke teras rumah, di dalam Herly bersama istri, dan kedua orang temannya, sedang sibuk mencari peta desa leluhur keluarga Herly di semua ruangan yang ada di rumah besar itu.
Hanya Bagus yang tidak terlibat, dia lebih memilih mengamati sekeliling rumah, yang menurut pandangan matanya menyimpan rahasia besar, di balik kokohnya dinding bangunan tua itu.
"Apa sebenarnya yang di lakukan orang tua itu, kenapa energi rumah ini sangat pekat, harusnya aku pergi saja sekarang selagi sempat, tapi kenapa rasanya aku malah terikat di tempat ini."
"Sepertinya ada aura jahat yang ada di salah satu sudut rumah Herly yang tidak ingin kami cepat cepat pergi dari rumah ini."
Bagus baru akan berjalan menuju ke halaman belakang, namun suara Yono membuatnya tertahan, lalu berbalik arah, kembali menuju teras depan.
"Mas Bagus sedang apa di sana, halaman belakang itu, hanya kebun yang di kelola oleh warga desa."
"Kalau mau mencari pemadangan indah, mas Bagus pergi saja ke sungai dekat sawah warga. Disana pemandangannya cantik, banyak burung, dan ayam hutan berkeliaran di sebrang sungai."
"Kalau beruntung sampean bisa juga bertemu bidadari desa kami."
Bagus diam tak mau menanggapi seloroh yang di lontarkan Yono. Dia hanya tersenyum sinis, lalu datang menghampiri Yono yang sedang mengawal pengacara romo menuju ruang tamu.
"Bapak tunggu sebentar, saya akan panggilkan pak Herly."
Pengacara hanya mengangguk, dan mengambil tempat duduk di depan lukisan wajah romo. Sementara Yono berjalan menuju ruang tengah untuk memanggil Herly.
Di ruangan kosong, tempat romo biasa meletakkan sesajen, Herly sedang membuka laci lemari untuk mencari keberadaan peta tanah leluhurnya. Ia cepat cepat pergi ke luar saat mendengar suara Yono yang datang mencarinya.
"Apa pak pengacara sudah datang Yon?"
Suara Herly mengagetkan Yono. Pemuda desa itu langsung menoleh ke arah belakang, dan mengurungkan langkah kakinya yang hendak masuk ke kamar romo.
"Iya pak, pengacara ndoro kakung sudah datang, beliau menunggu bapak di ruang tamu sekarang."
Herly menuruni anak tangga, untuk menemui pengacara. Dari belakang Yasmin yang juga baru saja keluar dari kamar, terlihat mengikuti Herly menuju ruang tamu.
Sedangkan Ryo, dan Jaka masih memeriksa semua ruangan di rumah itu. Mereka berharap bisa menemukan peta desa, yang di sembunyikan romo di suatu tempat.
"Selamat datang pak pengacara, maaf membuat anda menunggu lama. Sebenarnya saya sedang mencari peta letak desa leluhur kami, tapi entahlah... saya belum bisa menemukan dimana romo menyimpan arsip keluarga kami."
Pengacara hanya tersenyum, dia meletakkan cangkir teh di meja, kemudian berdiri menjabat tangan Herly, dan keduanya duduk saling berhadap hadapan, lalu memulai percakapan serius di antara mereka.
"Jadi bagaimana mas Herly, apa panjenengan sudah mengambil keputusan tentang surat wasiat mendiang romo?"
"Apakah sudah ada kandidat, calon yang wetonnya cocok untuk ambil alih properti, dan menerima beban ritual itu?"
Herly terdiam sejenak sembari memainkan jarinya, dia masih akan mempertimbangkan ulang, apa yang akan ia putuskan, sebelum memberikan jawaban final kepada pengacara mendiang romonya.
"Jadi begini pak pengacara, saya dan istri, kami berdua memutuskan akan meninggalkan desa ini, namun masalah properti romo, tetap akan kami pertahankan. Jujur saja, saya tidak ingin menumbalkan orang lain untuk mengambil alih tanggung jawab keluarga, yang mana sudah menjadi satu resiko bagi saya untuk menerima beban itu."
Wajah pengacara romo mendadak berubah jadi kaku, senyumnya tidak lagi menghias bibir. Tampak sekali, kalau pria paruh baya itu tidak suka dengan keputusan yang telah di ambil oleh Herly.
Meskipun keputusan yang bakal di ambil oleh Herly, adalah tanggung jawabnya secara pribadi, namun pengacara keluarga, sepertinya tidak ingin Herly bersikap gegabah dalam membuat keputusan yang bertentangan dengan isi wasiat romonya.
Pria paruh baya itu coba untuk menasehati Herly, agar dia mau merubah keputusannya, dan mematuhi syarat dalam surat wasiat romo.
"Maafkan saya mas Herly, tidak bermaksud lancang untuk ikut campur dalam masalah ini, tapi tolong anda pikirkan ulang, apa yang anda putuskan ini."
"Tolong pikirkan istri dan calon buah hati anda, kutukan ini tidak main main mas, sangat berbahaya jika sampai jatuh kepada mereka."
"Saya pastikan tidak ada orang yang dapat menjamin keselamatan anda, bila ritual itu tidak segera di alihkan kepada orang lain!"
Perkataan pengacara benar benar membuat Herly jadi bimbang. Satu sisi dia tidak ingin mengorbankan keluarganya, tapi di sisi lain, dia juga tidak tega membuat keluarga orang lain celaka karena masalah ritual ini.
Cukup lama Herly terdiam dalam keragu raguan, dia masih berpikir dan menimbang nimbang apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Sempat terbersit keinginan untuk merubah keputusannya, namun hati nurani Herly melarang pria muda itu untuk melakukannya.
Yasmin kemudian menggenggam jemari Herly sembil menatap lekat wajah suaminya. Dia coba untuk menenangkan hati Herly, dan Sejenak saling memandang, Yasmin lalu mengangguk, seakan akan dia memberi kode, agar Herly tetap teguh pada keputusannya.
"Sudahlah pak pengacara, suami saya sudah membuat keputusan, kami sudah memikirkan ini masak masak. Kami akan mencari jalan lain untuk mengatasi masalah ini."
"Kami berdua yakin, di luar sana pasti masih ada orang lain yang mengerti soal masalah ini, dan kami berdua akan mengusahakan jalan lain sebagai alternatif."
Yasmin meyakinkan pengacara, kalau dirinya telah memberikan dukungan penuh kepada Herly untuk membuat keputusannya sendiri.
Sang pengacara hanya bisa terdiam mendengar keputusan pasangan muda itu. Dia hanya menggeleng gelengkan kepalanya, sembari menyodorkan beberapa dokumen terkait seluruh harta benda yang akan menjadi warisan Herly.
"Baik, saya tidak ingin menekan kalian lagi. Sejujurnya romo anda minta, agar saya tidak memberikan hak mencairkan aset aset lain di bank, sebelum anda menyetujui syarat dalam surat wasiat ini."
"Tapi ya sudahlah, kalian sudah mantap dengan keputusan itu. Mau apa lagi, dengan ini tugas saya sebagai pengacara keluarga kalian berakhir sampai disini."
"Kelak apapun yang terjadi pada keluarga kalian, itu semua sudah berada di luar kuasa saya."
"Waktu kalian tidak banyak, jika ini adalah keputusan akhir kalian, mulai sekarang cari orang yang bisa memutuskan kutukan itu, sebab bulan purnama penuh akan datang sebentar lagi. Waktu yang kalian punya hanya sampai bulan mati, setelah itu kalian harus ritual tumbal, atau kalian yang akan jadi tumbal mereka."
Mendengarnya nyali Herly menjadi ciut, tapi dia tidak bisa lagi menarik keputusan yang telah di buat. Tanda tangan telah di bubuhkan, yang terlintas dalam benak Herly, dia harus cepat cepat bertindak sebelum semuanya terlambat.
"Mau tidak mau, aku harus segera memindahkan Yasmin ke kota lain. Mereka berdua harus aman dari incaran iblis iblis itu."
Pengacara memasukkan berkas yang telah di tanda tangani Herly ke dalam tasnya, dia memberikan salinan berkas, dan satu buah map hijau, lalu segera berpamitan.
"Map itu berisi beberapa lembar foto, silsilah keluarga, dan peta lokasi desa yang kalian cari, konon menurut romo anda, para leluhur anda masih meninggalkan hartanya di desa itu."
"Tapi yang perlu di ketahui kutukan wanita itu masih berlaku kepada keluarga kalian sampai sekarang. Jadi terserah, saran saya jangan bertindak bodoh, jika masih bisa pergi menghindar, maka lebih baik, kalian pergi sejauh mungkin, selagi kalian punya kesempatan."
"Baiklah, rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk anda. Sebaiknya saya permisi sekarang, hutan itu masih mencari mangsa, dan saya tidak ingin menjadi salah satu dari mereka yang sial."
"Terima kasih atas dukungannya pak pengacara, di lain waktu, saya harap kita bisa bekerja sama lagi. Tentunya dalam situasi yang lebih baik dari sekarang."
Pengacara itu menjabat tangan Herly, kemudian dia cepat cepat pergi menuju mobil, di iringi Yono yang berjalan di belakangnya.
Herly menarik nafas panjang, dia menatap wajah Yasmin, yang tetap tersenyum, walaupun dia tahu istrinya menyimpan kekhawatiran dalam hatinya.
Mereka berdua berjalan ke teras untuk mengantar pengacara pergi dari kediaman mereka. Setelah melambaikan tangan sembari mengulas senyum ramah, kedua pasangan muda itu, masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu, tanpa mengatakan apa apa lagi.
Tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka, yang ada hanya hening. Yasmin menyandarkan kepalanya di bahu Herly, seolah olah dia ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama suami tercinta.
Sementara di luar, Bagus yang dari sejak awal menguping obrolan mereka, jadi sedikit prihatin dengan keadaan ini. Bibir pria muda itu komat kamit seperti melantunkan doa untuk Herly dan keluarga kecilnya.
"Semoga yang aku takutkan tidak menimpa kalian. Aku tahu kamu orang baik, tapi seharusnya kalian tidak keras kepala."
Bagus beranjak dari tempatnya berdiri. Ia memilih pergi mencari udara segar di luar, agar syaraf syaraf di otaknya tidak terlalu tegang dengan keadaan genting yang menimpa keluarga temannya saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments