Jam sepuluh pagi, pengacara romo kembali ke rumah keluarga Herly ia masih berharap agar Herly dapat menyelesaikan ritual dan mencari orang lain untuk menerima hak atas rumah, sawah, kebun, dan peternakan milik romo.
Tapi sekali lagi Herly meminta waktu kepada pengacara, karena dia belum siap mental untuk melakukan semua itu. Herly juga harus meyakinkan Yasmin agar ia berbesar hati untuk merelakan semua harta benda dan kenangan mereka.
"Berikan saya waktu berpikir dalam waktu tiga hari ini pak pengacara. Saya harus bisa membujuk istri, agar bersedia pindah dari sini. Maklum saja, kami berdua punya banyak kenangan yang tertinggal di rumah ini."
"Walaupun saya tidak lahir disini, tapi jujur saja sebagian besar hidup saya dihabiskan bersama romo disini."
"Ada bantak hal penting yang sulit untuk dilepaskan begitu saja. Mereka para warga desa, sudah menerima kami untuk tinggal. Seluruh warga bergantung pada kami."
"Saya tidak mungkin mengabaikan orang orang yang menggantungkan hidupnya dari bisnis keluarga kami. Tidak penduduk desa ini saja, tapi juga desa lain, kolega di kota, dan masih banyak lagi yang harus saya pertimbangkan, agar bisnis kami ini tetap dapat berjalan.
Orang yang akan menerima warisan romo, haruslah orang baik, pintar, dan mampu menjaga harta peninggalan kami, sehingga mereka yang bekerja pada romo tetap sejahtera, walaupun harta di desa ini sudah bukan milik kami lagi."
"Saya mengerti hal itu mas Herly, tapi romo anda pasti sudah memikirkan segalanya. Menurut saya beliau hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kalian."
"Anda adalah satu satunya penerus yang tersisa, sehingga Romo merasa perlu melakukan sesuatu untuk menjaga garis keturunannya. Karena itu, beliau memutuskan agar kalian hijrah, dan menghibahkan semua properti kepada orang lain yang sanggup menerima beban ritual."
"Menurut hemat saya, romo anda tulus melakukan ini untuk melindungi mas Herly dan yonya dari sesuatu yang mengancam nyawa kalian. Jadi saran saya putuskan secepatnya, agar semuanya berakhir baik untuk kalian."
"Jangan sia siakan usaha romo anda, beliau telah memikirkan hal ini sejak lama, semuanya untuk kebaikan anda dan keluarga."
Mereka terlibat percakapan serius selama beberapa menit, kemudian pengacara setuju untuk memberikan waktu selama tiga hari kepada Herly untuk membuat keputusan final.
Setelah berjabat tangan pengacara pamit untuk kembali ke kota. Herly hanya bisa mengantarkan tamunya sampai di anak tangga teras rumah, dan mobil pengacara perlahan lahan melaju meninggalkan rumah.
Angga yang sudah bertekat ingin mencari tahu rahasia di balik wasiat romo, kemudian pergi menemui Herly untuk meminta izin meninggalkan rumah itu. Dia mengatakan akan menyelesaikan satu urusan di kota Malang.
Begitu masalahnya beres Angga berjanji akan kembali ke desa dalam waktu tiga hari. Saat itu dia berjanji akan membantu Herly menuntaskan semua urusan, dan mengajak mereka pindah ke Jakarta.
"Her, maaf aku harus pergi ke Malang, sebab cuti besarku hanya tersisa lima belas hari lagi, aku janji setelah menyelesaikan urusan di kota Malang aku akan segera kembali ke desa ini."
"Tidak apa apa Ngga, kamu tidak perlu merasa tidak enak hati begitu, kapanpun kamu mau kembali kemari hubungi saja aku. Selagi kami masih belum meninggalkan desa ini, aku pasti akan tetap menyambutmu di rumah kami."
Angga memeluk Herly dengan erat, usai berpamitan kepada semua teman temannya, Angga segera pergi masuk ke dalam mobil. Yono yang akan mengantarkan Angga ke stasiun kota pagi ini juga.
Yono melajukan mobilnya, Angga melambaikan tangan kepada mereka semua. Herly melepaskan kepergian Angga dengan senyum tersungging di bibirnya.
Baru saja beberapa puluh meter mobil yang di kemudikan Yono keluar dari halaman rumah Herly, tapi Angga sudah merasa tidak enak hati. Tiba tiba matanya menangkap keganjilan yang terjadi di sekitar rumah besar itu.
Angga melihat orang orang berjubah hitam sepertinya sedang mengawasi rumah Herly dari jarak yang cukup jauh. Meskipun tidak yakin namun ia merasa Herly sedang dalam bahaya sekarang.
Mobil terus melaju tapi Angga tak henti hentinya menengok ke arah belakang. Dia terus melihat orang orang berjubah melalui kaca spion.
"Aku rasa gerak gerik Herly sedang dipantau oleh sekelompok orang di luar sana. Apakah ini alasan romo menyuruh kami menjaga Herly?"
"Yon sebaiknya, kamu bilang kepada Herly agar selalu waspada, entah ini cuma satu kebetulan atau tiak, tapi saya rasa orang orang itu, punya niat buruk kepada majikanmu."
Yono langsung melihat kebelakang, pemuda itu sempat berhenti untuk memastikan apa yang telah di lihat Angga. Berulang kali Yono melihat lewat kaca spion, tapi tidak melihat apa apa di belakangnya.
Tak ingin tersugesti negatif, Yono lantas mengabaikan ucapan Angga, dia melajukan mobilnya dengan kencang agar bisa pulang ke desa sebelum petang.
Empat jam perjalanan mereka, tapi tidak ada satu percakapan di antra mereka. Angga memilih tidur, untuk memulihkan tenaganya. Selama dua hari ini Angga tidak pernah bisa tidur nyenyak di rumah besat itu. Dia selalu saja dibayangi rasa was was saat berada di rumah Herly.
Jam dua siang mereka sampai di stasiun kota. Yono memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk, dan segera membangunkan Angga yang tengah tertidur lelap di kursi penumpang.
"Mas... mas Angga, kita sudah sampai di stasiun mas."
Angga mengusap wajahnya, lalu melihat ke sekitar. Dia bergegas turun dan melemaskan otot ototnya yang kaku. Untuk sesaat, Angga melihat aktifitas orang yang sedang berlalu lalang. Ia lalu berterima kasih seraya menitip pesan kepada Yono.
"Terima kasih Yon, kamu sudah repot repot mengantar saya. Kalau boleh saya titip pesan untuk Herly, katakan padanya untuk hati hati malam ini, kalau mungkin jangan tidur terlalu lelap."
"Tadi saya melihat beberapa orang sedang mengawasi rumah, takutnya mereka punya niat tidak baik kepada Herly."
"Satu lagi Yon, tolong sampaikan kepada Bagus, bilang padanya untuk menjaga Herly sekeluarga. Jika mungkin, minta mereka agar tetap terjaga malam ini."
"Saya yakin mahluk hitam itu akan datang lagi. Entah mengapa saya punya firasat yang kuat soal ini."
"Baik mas, saya akan ingat pesan Mas Angga. Nanti sampai di rumah pasti akan segera saya sampaikan kepada bapak."
"Kalau begitu saya permisi sekarang, takut kemalaman saat melintas hutan. Permisi mas."
Angga menjabat tangan Yono, kemudian pemuda itu cepat cepat pergi meninggalkan stasiun. Sementara Angga membeli tiket ke Malang. Ia akan menemui seorang family yang mengerti tentang budaya dan kearifan lokal.
"Semoga saja ada jalan keluar untuk melepaskan Herly dari kewajiban ritual itu. Aku takut ini adalah jebakan setan untuk menjerat anak keturunan keluarga Herly."
Angga bergegas naik ke dalam gerbong kereta, dan lima menit kemudian kereta diberangkatkan menuju kota Malang. Selama dalam perjalanan Angga terus berdoa agar pamannya punya solusi untuk Herly.
Jam tujuh malam Angga tiba di stasiun kota Malang. Dia menyempatkan diri untuk pergi ke warung makan untuk mengisi perutnya yang sudah mulai keroncongan.
Setelah kenyang dia langsung memesan taxi online, lalu berangkat ke rumah pamannya yang berada dipinggiran kota. Tak lama Angga sudah sampai di depan sebuah rumah yang berada di dalam gang sempit.
"Assalamualaikum, om Bandi, om... Ini saya Angga!"
Seorang pria berusia empat puluh dua tahun mengintip dari balik tirai, wajahnya terlihat kesal karena ada tamu yang datang di jam jam istirahat malamnya.
"Siapa sih, malam malam bertamu, nggak tahu apa, ini sudah jam sepuluh malam?"
Pria bernama Bandi lalu segera membuka pintu dan melihat pemuda tampan berdiri di depan pintu pagar dengan menjinjing koper kecil di tangan kanannya.
"Angga... kamu ini Angga kan, ya Allah Ngga, sudah lama sekali sejak terakhir kamu main kesini. Sekarang sudah dewasa, sudah jadi pemuda gagah."
Angga tersenyum mencium tangan, adik bungsu sang ibu lalu memeluknya dengan hangat. Bandi mengajak Angga ke dalam dan mereka menghabiskan malam dengan reuni keluarga.
"Sudah malam Ngga, kamu pasti capek, besok saja kita sambung ngobrolnya. Kebetulan om Bandi besok libur, jadi kita akan jalan jalan."
Angga mengangguk, ia mengiyakan saja ucapan om Bandi dan langsung beristirahat di kamar yang biasa ia tempati bila sedang berkunjung ke kota Malam.
"Aku harus cerita, tapi mulai dari mana ya?"
"Apa sebaiknya aku terus terang saja sama om Bandi?"
Angga masih bingung menceritakan kasus Herly kepada omnya. Tapi kemudian dia memutuskan akan terus terang kepada om Bandi tentang kasus perjanjian darah yang dilakoni keluarga Herly.
Dari om Bandi Angga berharap, dia akan punya jawaban tentang bagaimana cara memutus rantai kontrak yang telah terjalin lama dan turun temurun diwariskan oleh keluarga Herly.
Pagi pagi sekali Angga terbangun dari tidur. Om Bandi telah sibuk dengan rutinitasnya di dapur. Pria yang memilih hidup melajang itu, sangat senang menyalurkan hobi memasak di dapur.
Sudah tiga tahun sejak anak dan istrinya tewas dalam sebuah kelakaan, om Bandi menggeluti dunia masak memasak. Hari ini dia memasak nasi goreng spesial untuk kemenakan yang sudah lama sekali tidak datang berkunjung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ifan K.
Siap tar di perbaiki ya lak thank you
2023-11-22
0