Bab 10 Penasaran

Jam sepuluh pagi, pengacara romo kembali ke rumah keluarga Herly ia masih berharap agar Herly dapat menyelesaikan ritual dan mencari orang lain untuk menerima hak atas rumah, sawah, kebun, dan peternakan milik romo.

Tapi sekali lagi Herly meminta waktu kepada pengacara, karena dia belum siap mental untuk melakukan semua itu. Herly juga harus meyakinkan Yasmin agar ia berbesar hati untuk merelakan semua harta benda dan kenangan mereka.

"Berikan saya waktu berpikir dalam waktu tiga hari ini pak pengacara. Saya harus bisa membujuk istri, agar bersedia pindah dari sini. Maklum saja, kami berdua punya banyak kenangan yang tertinggal di rumah ini."

"Walaupun saya tidak lahir disini, tapi jujur saja sebagian besar hidup saya dihabiskan bersama romo disini."

"Ada bantak hal penting yang sulit untuk dilepaskan begitu saja. Mereka para warga desa, sudah menerima kami untuk tinggal. Seluruh warga bergantung pada kami."

"Saya tidak mungkin mengabaikan orang orang yang menggantungkan hidupnya dari bisnis keluarga kami. Tidak penduduk desa ini saja, tapi juga desa lain, kolega di kota, dan masih banyak lagi yang harus saya pertimbangkan, agar bisnis kami ini tetap dapat berjalan.

Orang yang akan menerima warisan romo, haruslah orang baik, pintar, dan mampu menjaga harta peninggalan kami, sehingga mereka yang bekerja pada romo tetap sejahtera, walaupun harta di desa ini sudah bukan milik kami lagi."

"Saya mengerti hal itu mas Herly, tapi romo anda pasti sudah memikirkan segalanya. Menurut saya beliau hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kalian."

"Anda adalah satu satunya penerus yang tersisa, sehingga Romo merasa perlu melakukan sesuatu untuk menjaga garis keturunannya. Karena itu, beliau memutuskan agar kalian hijrah, dan menghibahkan semua properti kepada orang lain yang sanggup menerima beban ritual."

"Menurut hemat saya, romo anda tulus melakukan ini untuk melindungi mas Herly dan yonya dari sesuatu yang mengancam nyawa kalian. Jadi saran saya putuskan secepatnya, agar semuanya berakhir baik untuk kalian."

"Jangan sia siakan usaha romo anda, beliau telah memikirkan hal ini sejak lama, semuanya untuk kebaikan anda dan keluarga."

Mereka terlibat percakapan serius selama beberapa menit, kemudian pengacara setuju untuk memberikan waktu selama tiga hari kepada Herly untuk membuat keputusan final.

Setelah berjabat tangan pengacara pamit untuk kembali ke kota. Herly hanya bisa mengantarkan tamunya sampai di anak tangga teras rumah, dan mobil pengacara perlahan lahan melaju meninggalkan rumah.

Angga yang sudah bertekat ingin mencari tahu rahasia di balik wasiat romo, kemudian pergi menemui Herly untuk meminta izin meninggalkan rumah itu. Dia mengatakan akan menyelesaikan satu urusan di kota Malang.

Begitu masalahnya beres Angga berjanji akan kembali ke desa dalam waktu tiga hari. Saat itu dia berjanji akan membantu Herly menuntaskan semua urusan, dan mengajak mereka pindah ke Jakarta.

"Her, maaf aku harus pergi ke Malang, sebab cuti besarku hanya tersisa lima belas hari lagi, aku janji setelah menyelesaikan urusan di kota Malang aku akan segera kembali ke desa ini."

"Tidak apa apa Ngga, kamu tidak perlu merasa tidak enak hati begitu, kapanpun kamu mau kembali kemari hubungi saja aku. Selagi kami masih belum meninggalkan desa ini, aku pasti akan tetap menyambutmu di rumah kami."

Angga memeluk Herly dengan erat, usai berpamitan kepada semua teman temannya, Angga segera pergi masuk ke dalam mobil. Yono yang akan mengantarkan Angga ke stasiun kota pagi ini juga.

Yono melajukan mobilnya, Angga melambaikan tangan kepada mereka semua. Herly melepaskan kepergian Angga dengan senyum tersungging di bibirnya.

Baru saja beberapa puluh meter mobil yang di kemudikan Yono keluar dari halaman rumah Herly, tapi Angga sudah merasa tidak enak hati. Tiba tiba matanya menangkap keganjilan yang terjadi di sekitar rumah besar itu.

Angga melihat orang orang berjubah hitam sepertinya sedang mengawasi rumah Herly dari jarak yang cukup jauh. Meskipun tidak yakin namun ia merasa Herly sedang dalam bahaya sekarang.

Mobil terus melaju tapi Angga tak henti hentinya menengok ke arah belakang. Dia terus melihat orang orang berjubah melalui kaca spion.

"Aku rasa gerak gerik Herly sedang dipantau oleh sekelompok orang di luar sana. Apakah ini alasan romo menyuruh kami menjaga Herly?"

"Yon sebaiknya, kamu bilang kepada Herly agar selalu waspada, entah ini cuma satu kebetulan atau tiak, tapi saya rasa orang orang itu, punya niat buruk kepada majikanmu."

Yono langsung melihat kebelakang, pemuda itu sempat berhenti untuk memastikan apa yang telah di lihat Angga. Berulang kali Yono melihat lewat kaca spion, tapi tidak melihat apa apa di belakangnya.

Tak ingin tersugesti negatif, Yono lantas mengabaikan ucapan Angga, dia melajukan mobilnya dengan kencang agar bisa pulang ke desa sebelum petang.

Empat jam perjalanan mereka, tapi tidak ada satu percakapan di antra mereka. Angga memilih tidur, untuk memulihkan tenaganya. Selama dua hari ini Angga tidak pernah bisa tidur nyenyak di rumah besat itu. Dia selalu saja dibayangi rasa was was saat berada di rumah Herly.

Jam dua siang mereka sampai di stasiun kota. Yono memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk, dan segera membangunkan Angga yang tengah tertidur lelap di kursi penumpang.

"Mas... mas Angga, kita sudah sampai di stasiun mas."

Angga mengusap wajahnya, lalu melihat ke sekitar. Dia bergegas turun dan melemaskan otot ototnya yang kaku. Untuk sesaat, Angga melihat aktifitas orang yang sedang berlalu lalang. Ia lalu berterima kasih seraya menitip pesan kepada Yono.

"Terima kasih Yon, kamu sudah repot repot mengantar saya. Kalau boleh saya titip pesan untuk Herly, katakan padanya untuk hati hati malam ini, kalau mungkin jangan tidur terlalu lelap."

"Tadi saya melihat beberapa orang sedang mengawasi rumah, takutnya mereka punya niat tidak baik kepada Herly."

"Satu lagi Yon, tolong sampaikan kepada Bagus, bilang padanya untuk menjaga Herly sekeluarga. Jika mungkin, minta mereka agar tetap terjaga malam ini."

"Saya yakin mahluk hitam itu akan datang lagi. Entah mengapa saya punya firasat yang kuat soal ini."

"Baik mas, saya akan ingat pesan Mas Angga. Nanti sampai di rumah pasti akan segera saya sampaikan kepada bapak."

"Kalau begitu saya permisi sekarang, takut kemalaman saat melintas hutan. Permisi mas."

Angga menjabat tangan Yono, kemudian pemuda itu cepat cepat pergi meninggalkan stasiun. Sementara Angga membeli tiket ke Malang. Ia akan menemui seorang family yang mengerti tentang budaya dan kearifan lokal.

"Semoga saja ada jalan keluar untuk melepaskan Herly dari kewajiban ritual itu. Aku takut ini adalah jebakan setan untuk menjerat anak keturunan keluarga Herly."

Angga bergegas naik ke dalam gerbong kereta, dan lima menit kemudian kereta diberangkatkan menuju kota Malang. Selama dalam perjalanan Angga terus berdoa agar pamannya punya solusi untuk Herly.

Jam tujuh malam Angga tiba di stasiun kota Malang. Dia menyempatkan diri untuk pergi ke warung makan untuk mengisi perutnya yang sudah mulai keroncongan.

Setelah kenyang dia langsung memesan taxi online, lalu berangkat ke rumah pamannya yang berada dipinggiran kota. Tak lama Angga sudah sampai di depan sebuah rumah yang berada di dalam gang sempit.

"Assalamualaikum, om Bandi, om... Ini saya Angga!"

Seorang pria berusia empat puluh dua tahun mengintip dari balik tirai, wajahnya terlihat kesal karena ada tamu yang datang di jam jam istirahat malamnya.

"Siapa sih, malam malam bertamu, nggak tahu apa, ini sudah jam sepuluh malam?"

Pria bernama Bandi lalu segera membuka pintu dan melihat pemuda tampan berdiri di depan pintu pagar dengan menjinjing koper kecil di tangan kanannya.

"Angga... kamu ini Angga kan, ya Allah Ngga, sudah lama sekali sejak terakhir kamu main kesini. Sekarang sudah dewasa, sudah jadi pemuda gagah."

Angga tersenyum mencium tangan, adik bungsu sang ibu lalu memeluknya dengan hangat. Bandi mengajak Angga ke dalam dan mereka menghabiskan malam dengan reuni keluarga.

"Sudah malam Ngga, kamu pasti capek, besok saja kita sambung ngobrolnya. Kebetulan om Bandi besok libur, jadi kita akan jalan jalan."

Angga mengangguk, ia mengiyakan saja ucapan om Bandi dan langsung beristirahat di kamar yang biasa ia tempati bila sedang berkunjung ke kota Malam.

"Aku harus cerita, tapi mulai dari mana ya?"

"Apa sebaiknya aku terus terang saja sama om Bandi?"

Angga masih bingung menceritakan kasus Herly kepada omnya. Tapi kemudian dia memutuskan akan terus terang kepada om Bandi tentang kasus perjanjian darah yang dilakoni keluarga Herly.

Dari om Bandi Angga berharap, dia akan punya jawaban tentang bagaimana cara memutus rantai kontrak yang telah terjalin lama dan turun temurun diwariskan oleh keluarga Herly.

Pagi pagi sekali Angga terbangun dari tidur. Om Bandi telah sibuk dengan rutinitasnya di dapur. Pria yang memilih hidup melajang itu, sangat senang menyalurkan hobi memasak di dapur.

Sudah tiga tahun sejak anak dan istrinya tewas dalam sebuah kelakaan, om Bandi menggeluti dunia masak memasak. Hari ini dia memasak nasi goreng spesial untuk kemenakan yang sudah lama sekali tidak datang berkunjung.

Terpopuler

Comments

Ifan K.

Ifan K.

Siap tar di perbaiki ya lak thank you

2023-11-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab I Cuti
2 Bab 2 Teror Dalam Kereta
3 Bab 3 Pertanda
4 Bab 4 Bagus
5 Bab 5 Romo
6 Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7 Bab 7 Wasiat Romo
8 Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9 Bab 9 Ritual Terakhir
10 Bab 10 Penasaran
11 Bab11 Loak buku
12 Bab 12 Sebuah Teka teki
13 Bab 13 Peringatan
14 Bab 14 Ganjil
15 Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16 Bab 16 Sebuah Firasat
17 Bab 17 Peta Desa Leluhur
18 Bab 18 Rahasia Romo
19 Bab 19 Ruang Rahasia
20 Bab 20 Terlambat
21 Bab 21 Merangkai Kenangan
22 Bab 22 Malam Genting
23 Bab 23 Hilang
24 Bab 24 Mengejar Herly
25 Bab 25 Menapak Kenangan
26 Bab 26 Ibu
27 Bab 27 Desa di Balik Kabut
28 Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29 Bab 29 Rumah Joglo
30 Bab 30 Firasat Yasmin
31 Bab 31 Hujan Darah
32 Bab 32 Tersesat
33 Bab 33 Petunjuk Kakak
34 Bab 34 Wanita yang Terbakar
35 Bab 35 Menit menit Penentuan
36 Bab 36 Balas Dendam Darsih
37 Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38 Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39 Bab 39 Pindah Alam
40 Bab 40 Kebaya Hitam
41 Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42 Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43 Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44 Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45 45 Segel Mati
46 Bab 46 Tangisan Yasmin
47 Bab 47 Keteguhan Hati
48 Bab 48 Gadis Misterius
49 Bab 49 Karyawan Baru
50 Bab 50 Namaku Ayunindya
51 Bab 51 Rumah Kosong
52 Bab 52 Lamaran Gaib
53 Bab 53 Jelang Pernikahan
54 Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55 Bab 55 Pernikahan beda Alam
56 Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57 Bab 57 Bersiasat
58 Bab 58 Rahasia Angga
59 Bab 59 Pria Misterius
60 Bab 60 Ruqyah
61 Bab 61 Mimpi Yasmin
62 Bab 62 Pesan dari Bagus
63 Bab 63 Mengejar Yasmin
64 Bab 64 Peringatan dari Herly
65 Bab 65 Janji Angga
66 Bab 66 Tapa Hening
67 Bab 67 Rahasia Angga
68 Bab 68 Bayangan Misterius
69 Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70 Bab 70 Memburu Bagus
71 Bab 71 Memori yang Hilang
72 Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73 Bab 73 Kemunculan Herly
74 Bab 74 Perburuan
75 Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76 Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77 Bab 77 Sosok Penolong
78 Bab 78 Pertarungan Terakhir
79 Bab 79 Kekalahan
80 Bab 80 Kemenangan Sumpah
81 Bab 81 Babak Baru
82 Bab 82 Jodoh yang Hilang
83 Bab 83 Hati untuk Angga
84 Bab 84 Penampakan di Cermin
85 Bab 85 Dia Bukan Ayu
86 Bab 86 Kuntilanak Merah
87 Bab 87 Kamuflase
88 Bab 88 Serangan Fisik
89 Bab 89 Penjara Roh
90 Bab 90 Tabir Misteri
91 Bab 91 Labirin
92 Bab 92 Dasimah
93 Bab 93 Kematian Dasimah
94 Bab 94 Kabar Baik
95 Bab 95 Aji Malih Jiwo
96 Bab 96 Bayangan Hitam
97 Bab 97 Penumpang Gelap
98 Bab 98 Mahluk Bayangan
99 Bab 99 Jebakan
100 Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101 Bab 101 Gerbang Neraka
102 Bab 102. Nyekar
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab I Cuti
2
Bab 2 Teror Dalam Kereta
3
Bab 3 Pertanda
4
Bab 4 Bagus
5
Bab 5 Romo
6
Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7
Bab 7 Wasiat Romo
8
Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9
Bab 9 Ritual Terakhir
10
Bab 10 Penasaran
11
Bab11 Loak buku
12
Bab 12 Sebuah Teka teki
13
Bab 13 Peringatan
14
Bab 14 Ganjil
15
Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16
Bab 16 Sebuah Firasat
17
Bab 17 Peta Desa Leluhur
18
Bab 18 Rahasia Romo
19
Bab 19 Ruang Rahasia
20
Bab 20 Terlambat
21
Bab 21 Merangkai Kenangan
22
Bab 22 Malam Genting
23
Bab 23 Hilang
24
Bab 24 Mengejar Herly
25
Bab 25 Menapak Kenangan
26
Bab 26 Ibu
27
Bab 27 Desa di Balik Kabut
28
Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29
Bab 29 Rumah Joglo
30
Bab 30 Firasat Yasmin
31
Bab 31 Hujan Darah
32
Bab 32 Tersesat
33
Bab 33 Petunjuk Kakak
34
Bab 34 Wanita yang Terbakar
35
Bab 35 Menit menit Penentuan
36
Bab 36 Balas Dendam Darsih
37
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38
Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39
Bab 39 Pindah Alam
40
Bab 40 Kebaya Hitam
41
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44
Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45
45 Segel Mati
46
Bab 46 Tangisan Yasmin
47
Bab 47 Keteguhan Hati
48
Bab 48 Gadis Misterius
49
Bab 49 Karyawan Baru
50
Bab 50 Namaku Ayunindya
51
Bab 51 Rumah Kosong
52
Bab 52 Lamaran Gaib
53
Bab 53 Jelang Pernikahan
54
Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55
Bab 55 Pernikahan beda Alam
56
Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57
Bab 57 Bersiasat
58
Bab 58 Rahasia Angga
59
Bab 59 Pria Misterius
60
Bab 60 Ruqyah
61
Bab 61 Mimpi Yasmin
62
Bab 62 Pesan dari Bagus
63
Bab 63 Mengejar Yasmin
64
Bab 64 Peringatan dari Herly
65
Bab 65 Janji Angga
66
Bab 66 Tapa Hening
67
Bab 67 Rahasia Angga
68
Bab 68 Bayangan Misterius
69
Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70
Bab 70 Memburu Bagus
71
Bab 71 Memori yang Hilang
72
Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73
Bab 73 Kemunculan Herly
74
Bab 74 Perburuan
75
Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76
Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77
Bab 77 Sosok Penolong
78
Bab 78 Pertarungan Terakhir
79
Bab 79 Kekalahan
80
Bab 80 Kemenangan Sumpah
81
Bab 81 Babak Baru
82
Bab 82 Jodoh yang Hilang
83
Bab 83 Hati untuk Angga
84
Bab 84 Penampakan di Cermin
85
Bab 85 Dia Bukan Ayu
86
Bab 86 Kuntilanak Merah
87
Bab 87 Kamuflase
88
Bab 88 Serangan Fisik
89
Bab 89 Penjara Roh
90
Bab 90 Tabir Misteri
91
Bab 91 Labirin
92
Bab 92 Dasimah
93
Bab 93 Kematian Dasimah
94
Bab 94 Kabar Baik
95
Bab 95 Aji Malih Jiwo
96
Bab 96 Bayangan Hitam
97
Bab 97 Penumpang Gelap
98
Bab 98 Mahluk Bayangan
99
Bab 99 Jebakan
100
Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101
Bab 101 Gerbang Neraka
102
Bab 102. Nyekar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!