Matahari mulai condong ke barat, burung burung telah kembali ke sarangnya. Herly masih berdiri di depan pintu menanti kabar dari orang orang yang mengantarkan jenazah sang romo.
"Ada apa Her, kenapa kamu gelisah. Dari tadi kami perhatikan, kamu terus saja berjalan mondar mandir seperti orang galau yang sedang mencemaskan sesutu, Ada apa sebenarnya, apa yang membuatmu resah kawan?"
"Kalau kamu perlu teman untuk bicara, jangan pernah ragu ragu mengungkapkanya kepada kami. Kita ini sahabat, barang kali saja kami bisa beri solusi."
Angga mendekati Herly, untuk mencari tahu apa yang jadi beban pikiran temanya. Sejak jenazah ayahnya diberangkatkan, Herly tak sedikitpun menyapa ke tiga orang temannya. Pria muda itu lebih suka memilih mengunci diri di dalam kamar, memikirkan apakah akan membuat ritual sesuai isi wasiat romo, ataukah dia akan tetap pada pendiriannya untuk menolak syarat melaksanakan ritual.
Herly sendiri tidak pernah tahu apa yang di lakukan romonya selama ini. Sejak kecil ia di didik patuh, dan tidak pernah bertanya untuk apa dan mengapa. Romo hanya menjejali Herly dengan berbagai wejangan dan filosofi hidup lewat para tokoh satria pewayangan yang mengajarkan pentingnya tata kerama dan budi pekerti sebagai aturan hidup.
Selebihnya hanyalah dongeng indah masa lalu, pengantar tidur. Sejak Bunda dan kakak sulungnya meninggal, Herly hanya punya romo yang membesarkannya dalam lingkar budaya jawa yang kental.
Herly tidak pernah tahu menau tentang sosok romo yang sebenarnya. Dia juga tidak pernah bertanya tentang sejarah keluarga mereka, dan mengapa romo lebih memilih tinggal di desa terpencil, padahal ia tahu romo bisa saja memiliki kehidupan yang serba mewah di kota besar.
Tapi tidak, romonya tidak mau melakukan semua itu. Dia memilih membangun rumah besar dengan banyak kamar, dan lebih suka mengundang koleganya menepi sejenak dari keramaian kota yang melelahkan. Herly sendiri bahkan tidak pernah tahu mengapa romonya membiarkan satu kamar kosong di lantai tiga. Dia cukup mematuhi larangan sang romo, agar tidak menyentuh ruang tersebut.
Sekarang setelah romo tiada, Herly harus masuk untuk melakukan satu ritual terakhir, dan mencari orang yang akan menjadi pewaris rumah, sawah, kebu, dan peternakan yang sudah dibangun susah payah oleh romonya.
Lebih tidak masuk akal lagi, karena orang yang akan menjadi pewaris seluruh kekayaan romo, harus mau menerima beban ritual yang Herly sendiri, juga tidak tahu untuk apa ritual itu dilakukan.
Herly berpikir ia harus membagi bebannya dengan orang lain. Dia memutuskan akan membahas semua tentang wasiat romo ini, kepada istri dan empat orang temannya.
Setelah pengajian di gelar, Herly mengajak istri dan teman temannya untuk duduk santai di ruang tengah. Ia akan coba untuk membicarakan soal wasiat romo, dan bagaimana dia harus menyikapinya.
"Sebelumnya aku minta maaf teman teman, karena meninggalnya romo, kalian harus tinggal lebih lama disini. Jujur saja aku tidak punya pilihan. Sejak kedatangan pengacara romo, aku terus memikirkan isi wasiat ini."
Herly lalu menyerahkan sebendel kertas kepada Angga. Pemuda itu membaca garis besar isi wasiat, lalu membaginya kepada yang lain untuk sama sama memahami isinya.
Bagus adalah orang terakhir yang membaca isi surat wasiat, dan memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengetahui detil isinya.
"Jadi apa pendapat kalian setelah tahu detil isi wasiat romoku. Menurut kalian apakah aku harus melakukan ritual untuk memenuhi isi wasiat terakhir romo, atau mengabaikan saja?"
Semua orang terdiam, masing masing punya pendapat dalam benak mereka. Angga, Ryo, Jaka, dan Bagus, menunggu salah seorang dari mereka bicara lebih dulu. Namun tidak satupun dari mereka yang mulai bicara.
Yasmin sebagai istri, dan orang yang paling dekat dengan sosok Herly, kemudian angkat bicara. Perempuan sederhana itu dengan tegas mengatakan kalau dirinya tidak setuju Herly melakukan ritual yang tidak jelas untuk apa harus dilakukan.
"Sebaiknya mas Herly jangan turuti ritual itu. Akan lebih baik bila kita meneruskan semua yang sudah dibangun oleh romo. Sebagai istri, aku pribadi tidak keberatan, kalau harus tinggal disini seumur hidup. Asal kita terus sama sama aku ikhlas mas."
Angga, Ryo, dan Jaka langsung menyetujui pendapat Yasmin. Sebagai orang awam, yang tidak punya beground pengetahuan tentang budaya jawa, mereka berpendapat semua yang ada sekarang adalah milik sah Herly sebagai pewaris tunggal. Jadi mereka berpikir, untuk apa Herly harus repot repot melaksanakan wasiat yang kesannya ribet dan konyol.
Tetapi kemudian segala penilaian mereka berubah saat Bagus mulai bicara dari sisi lain yang menggambarkan sosok berbeda dari sang romo.
"Kamu tetap harus melakukan ritual terakhir itu Her, ini semua demi memutuskan segala pejanjian darah yang mengikat antara garis keturunan leluhurmu dengan mereka."
"Romomu punya maksud baik, beliau tidak ingin kamu mewarisi penderitaannya. Itu sebabnya dia ingin kamu mewariskan rumah ini kepada orang lain, yang sanggup jadi penerus."
"Romomu ingin kalian memulai hidup baru di tempat lain, tanpa harus menanggung lagi beban dosa masa lalu. Terus terang saja aku berpikir romo sedang melakukan sebuah pengorbanan."
"Menurutku beliau ingin agar mata rantai dari kutukan itu putus hanya sampai pada dirinya."
"Semuanya untuk kelangsungan hidup anak cucu keturunannya. Jangan lupa kamu anak laki satu satunya yang akan melanjutkan terah keluarga, karena itu romo, suruh kamu meninggalkan semua keterikatan dengan tempat ini."
"Itu juga alasan kenapa beliau meminta, kamu mengundang kami. Beliau ingin memastikan agar kamu punya orang orang yang akan membantumu melewati badai."
"Melepaskan perjanjian darah yang sudah turun temurun tidak mudah, mereka tidak akan membiarkan kamu melepaskan ikatan sampai keturunan kalian habis."
Mendengar paparan panjang Bagus, semua orang yang ada di ruangan itu tercengang. Mereka tidak menyangka, arti penting ritual itu akan memiliki makna yang dalam seperti yang diungkapkan Bagus.
Pelan pelan Herly mulai memahami arti dari pengajaran sang romo, kenapa orang tuanya menjauhkan Herly dari kehidupan pribadi romonya, dan alasan alasan yang baru ia mengerti dari paparan Bagus.
Suasana mendadak menjadi hening, Herly melirik Yasmin, seolah ingin agar istrinya mengatakan sesuatu yang akan mengukung tindakan Herly selanjutnya.
Yasmin sendiri bingung, ia mulai bimbang, jika benar ada kutukan di rumah itu, maka ia harus mendukung Herly untuk mengalihkan kepemilikan rumah kepada orang yang mau ambil resiko untuk sebuah arti kenyamanan semu.
"Aku setuju kita pergi dari rumah ini mas, kamu suruh Yono saja yang cari orang untuk melakukan ritual, yang penting jangan kamu."
Yasmin memberi isyarat kepada Herly, kalau saat ini dia sedang mengandung. Herly yang melihat istrinya mengelus elus perutnya jadi faham ketakutan Yasmin, tapi Herly masih bingung, ia tidak tahu, apakah ritual dapat di wakilkan?
Herly tersenyum membelai rambut istrinya. Lalu bersama dengan ke empat temannya, Herly memberanikan diri membuka ruangan kosong di pojok kamar romo.
Setelah bertahun tahun tidak mengetahui isi ruangan itu, akhirnya untuk pertama kalinya Herly membuka ruangan misterius yang dulu terlarang untuk siapapun.
Aroma menyengat langsung menyebar kala pintu itu terbuka. Semua orang bisa melihat benda benda ritual yang mulai usang dan berdebu. Bagus langsung menebak bahwa romo sudah tidak lagi melakukan ritual sejak lama.
Tak heran penyakit mistik menjangkiti pria tua itu. Rupanya romo membiarkan tubuh dan jiwanya digerogoti mahluk yang jadi perewangan keluarga mereka.
"Jika ingin memutus perjanjian ini, kamu harus melakukan ritual bersama orang yang ingin melakukannya."
"Jika tidak bayangan hitam yang sempat di lihat Angga, akan terus mengikuti kalian sampai kapanpun, kecuali mahluk itu sudah bertemu majikan barunya."
Herly berada dalam dilema, ia tak ingin jadi sesat dan mengorbankan keluarganya. Tapi dia juga tak mungkin mengorbankan orang lain demi keegoisan pribadi.
Yasmin menatap lekat wajah suaminya, ia seolah memohon agar Herly tidak berbuat salah, seperti yang sudah dilakukan para leluhurnya.
"Aku yakin pasti ada jalan lain, dan kita akan menemukan caranya."
Herly menutup lagi ruangan itu, dan mereka tidak lagi menempati semua ruang di lantai tiga. Herly memilih menggunakan salah satu kamar di lantai dua, agar ia bisa lebih dekat dengan teman temannya.
Di kamar Angga mulai berpikir kemungkinan mengembalikan kutukan ke tempat asalnya. Dia akan coba untuk mencari tahu sendiri lewat media sosial, dan browsing di internet.
"Aku harus menuntaskan masalah Herly sebelum kembali ke Jakarta."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments