Bab 9 Ritual Terakhir

Matahari mulai condong ke barat, burung burung telah kembali ke sarangnya. Herly masih berdiri di depan pintu menanti kabar dari orang orang yang mengantarkan jenazah sang romo.

"Ada apa Her, kenapa kamu gelisah. Dari tadi kami perhatikan, kamu terus saja berjalan mondar mandir seperti orang galau yang sedang mencemaskan sesutu, Ada apa sebenarnya, apa yang membuatmu resah kawan?"

"Kalau kamu perlu teman untuk bicara, jangan pernah ragu ragu mengungkapkanya kepada kami. Kita ini sahabat, barang kali saja kami bisa beri solusi."

Angga mendekati Herly, untuk mencari tahu apa yang jadi beban pikiran temanya. Sejak jenazah ayahnya diberangkatkan, Herly tak sedikitpun menyapa ke tiga orang temannya. Pria muda itu lebih suka memilih mengunci diri di dalam kamar, memikirkan apakah akan membuat ritual sesuai isi wasiat romo, ataukah dia akan tetap pada pendiriannya untuk menolak syarat melaksanakan ritual.

Herly sendiri tidak pernah tahu apa yang di lakukan romonya selama ini. Sejak kecil ia di didik patuh, dan tidak pernah bertanya untuk apa dan mengapa. Romo hanya menjejali Herly dengan berbagai wejangan dan filosofi hidup lewat para tokoh satria pewayangan yang mengajarkan pentingnya tata kerama dan budi pekerti sebagai aturan hidup.

Selebihnya hanyalah dongeng indah masa lalu, pengantar tidur. Sejak Bunda dan kakak sulungnya meninggal, Herly hanya punya romo yang membesarkannya dalam lingkar budaya jawa yang kental.

Herly tidak pernah tahu menau tentang sosok romo yang sebenarnya. Dia juga tidak pernah bertanya tentang sejarah keluarga mereka, dan mengapa romo lebih memilih tinggal di desa terpencil, padahal ia tahu romo bisa saja memiliki kehidupan yang serba mewah di kota besar.

Tapi tidak, romonya tidak mau melakukan semua itu. Dia memilih membangun rumah besar dengan banyak kamar, dan lebih suka mengundang koleganya menepi sejenak dari keramaian kota yang melelahkan. Herly sendiri bahkan tidak pernah tahu mengapa romonya membiarkan satu kamar kosong di lantai tiga. Dia cukup mematuhi larangan sang romo, agar tidak menyentuh ruang tersebut.

Sekarang setelah romo tiada, Herly harus masuk untuk melakukan satu ritual terakhir, dan mencari orang yang akan menjadi pewaris rumah, sawah, kebu, dan peternakan yang sudah dibangun susah payah oleh romonya.

Lebih tidak masuk akal lagi, karena orang yang akan menjadi pewaris seluruh kekayaan romo, harus mau menerima beban ritual yang Herly sendiri, juga tidak tahu untuk apa ritual itu dilakukan.

Herly berpikir ia harus membagi bebannya dengan orang lain. Dia memutuskan akan membahas semua tentang wasiat romo ini, kepada istri dan empat orang temannya.

Setelah pengajian di gelar, Herly mengajak istri dan teman temannya untuk duduk santai di ruang tengah. Ia akan coba untuk membicarakan soal wasiat romo, dan bagaimana dia harus menyikapinya.

"Sebelumnya aku minta maaf teman teman, karena meninggalnya romo, kalian harus tinggal lebih lama disini. Jujur saja aku tidak punya pilihan. Sejak kedatangan pengacara romo, aku terus memikirkan isi wasiat ini."

Herly lalu menyerahkan sebendel kertas kepada Angga. Pemuda itu membaca garis besar isi wasiat, lalu membaginya kepada yang lain untuk sama sama memahami isinya.

Bagus adalah orang terakhir yang membaca isi surat wasiat, dan memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengetahui detil isinya.

"Jadi apa pendapat kalian setelah tahu detil isi wasiat romoku. Menurut kalian apakah aku harus melakukan ritual untuk memenuhi isi wasiat terakhir romo, atau mengabaikan saja?"

Semua orang terdiam, masing masing punya pendapat dalam benak mereka. Angga, Ryo, Jaka, dan Bagus, menunggu salah seorang dari mereka bicara lebih dulu. Namun tidak satupun dari mereka yang mulai bicara.

Yasmin sebagai istri, dan orang yang paling dekat dengan sosok Herly, kemudian angkat bicara. Perempuan sederhana itu dengan tegas mengatakan kalau dirinya tidak setuju Herly melakukan ritual yang tidak jelas untuk apa harus dilakukan.

"Sebaiknya mas Herly jangan turuti ritual itu. Akan lebih baik bila kita meneruskan semua yang sudah dibangun oleh romo. Sebagai istri, aku pribadi tidak keberatan, kalau harus tinggal disini seumur hidup. Asal kita terus sama sama aku ikhlas mas."

Angga, Ryo, dan Jaka langsung menyetujui pendapat Yasmin. Sebagai orang awam, yang tidak punya beground pengetahuan tentang budaya jawa, mereka berpendapat semua yang ada sekarang adalah milik sah Herly sebagai pewaris tunggal. Jadi mereka berpikir, untuk apa Herly harus repot repot melaksanakan wasiat yang kesannya ribet dan konyol.

Tetapi kemudian segala penilaian mereka berubah saat Bagus mulai bicara dari sisi lain yang menggambarkan sosok berbeda dari sang romo.

"Kamu tetap harus melakukan ritual terakhir itu Her, ini semua demi memutuskan segala pejanjian darah yang mengikat antara garis keturunan leluhurmu dengan mereka."

"Romomu punya maksud baik, beliau tidak ingin kamu mewarisi penderitaannya. Itu sebabnya dia ingin kamu mewariskan rumah ini kepada orang lain, yang sanggup jadi penerus."

"Romomu ingin kalian memulai hidup baru di tempat lain, tanpa harus menanggung lagi beban dosa masa lalu. Terus terang saja aku berpikir romo sedang melakukan sebuah pengorbanan."

"Menurutku beliau ingin agar mata rantai dari kutukan itu putus hanya sampai pada dirinya."

"Semuanya untuk kelangsungan hidup anak cucu keturunannya. Jangan lupa kamu anak laki satu satunya yang akan melanjutkan terah keluarga, karena itu romo, suruh kamu meninggalkan semua keterikatan dengan tempat ini."

"Itu juga alasan kenapa beliau meminta, kamu mengundang kami. Beliau ingin memastikan agar kamu punya orang orang yang akan membantumu melewati badai."

"Melepaskan perjanjian darah yang sudah turun temurun tidak mudah, mereka tidak akan membiarkan kamu melepaskan ikatan sampai keturunan kalian habis."

Mendengar paparan panjang Bagus, semua orang yang ada di ruangan itu tercengang. Mereka tidak menyangka, arti penting ritual itu akan memiliki makna yang dalam seperti yang diungkapkan Bagus.

Pelan pelan Herly mulai memahami arti dari pengajaran sang romo, kenapa orang tuanya menjauhkan Herly dari kehidupan pribadi romonya, dan alasan alasan yang baru ia mengerti dari paparan Bagus.

Suasana mendadak menjadi hening, Herly melirik Yasmin, seolah ingin agar istrinya mengatakan sesuatu yang akan mengukung tindakan Herly selanjutnya.

Yasmin sendiri bingung, ia mulai bimbang, jika benar ada kutukan di rumah itu, maka ia harus mendukung Herly untuk mengalihkan kepemilikan rumah kepada orang yang mau ambil resiko untuk sebuah arti kenyamanan semu.

"Aku setuju kita pergi dari rumah ini mas, kamu suruh Yono saja yang cari orang untuk melakukan ritual, yang penting jangan kamu."

Yasmin memberi isyarat kepada Herly, kalau saat ini dia sedang mengandung. Herly yang melihat istrinya mengelus elus perutnya jadi faham ketakutan Yasmin, tapi Herly masih bingung, ia tidak tahu, apakah ritual dapat di wakilkan?

Herly tersenyum membelai rambut istrinya. Lalu bersama dengan ke empat temannya, Herly memberanikan diri membuka ruangan kosong di pojok kamar romo.

Setelah bertahun tahun tidak mengetahui isi ruangan itu, akhirnya untuk pertama kalinya Herly membuka ruangan misterius yang dulu terlarang untuk siapapun.

Aroma menyengat langsung menyebar kala pintu itu terbuka. Semua orang bisa melihat benda benda ritual yang mulai usang dan berdebu. Bagus langsung menebak bahwa romo sudah tidak lagi melakukan ritual sejak lama.

Tak heran penyakit mistik menjangkiti pria tua itu. Rupanya romo membiarkan tubuh dan jiwanya digerogoti mahluk yang jadi perewangan keluarga mereka.

"Jika ingin memutus perjanjian ini, kamu harus melakukan ritual bersama orang yang ingin melakukannya."

"Jika tidak bayangan hitam yang sempat di lihat Angga, akan terus mengikuti kalian sampai kapanpun, kecuali mahluk itu sudah bertemu majikan barunya."

Herly berada dalam dilema, ia tak ingin jadi sesat dan mengorbankan keluarganya. Tapi dia juga tak mungkin mengorbankan orang lain demi keegoisan pribadi.

Yasmin menatap lekat wajah suaminya, ia seolah memohon agar Herly tidak berbuat salah, seperti yang sudah dilakukan para leluhurnya.

"Aku yakin pasti ada jalan lain, dan kita akan menemukan caranya."

Herly menutup lagi ruangan itu, dan mereka tidak lagi menempati semua ruang di lantai tiga. Herly memilih menggunakan salah satu kamar di lantai dua, agar ia bisa lebih dekat dengan teman temannya.

Di kamar Angga mulai berpikir kemungkinan mengembalikan kutukan ke tempat asalnya. Dia akan coba untuk mencari tahu sendiri lewat media sosial, dan browsing di internet.

"Aku harus menuntaskan masalah Herly sebelum kembali ke Jakarta."

Episodes
1 Bab I Cuti
2 Bab 2 Teror Dalam Kereta
3 Bab 3 Pertanda
4 Bab 4 Bagus
5 Bab 5 Romo
6 Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7 Bab 7 Wasiat Romo
8 Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9 Bab 9 Ritual Terakhir
10 Bab 10 Penasaran
11 Bab11 Loak buku
12 Bab 12 Sebuah Teka teki
13 Bab 13 Peringatan
14 Bab 14 Ganjil
15 Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16 Bab 16 Sebuah Firasat
17 Bab 17 Peta Desa Leluhur
18 Bab 18 Rahasia Romo
19 Bab 19 Ruang Rahasia
20 Bab 20 Terlambat
21 Bab 21 Merangkai Kenangan
22 Bab 22 Malam Genting
23 Bab 23 Hilang
24 Bab 24 Mengejar Herly
25 Bab 25 Menapak Kenangan
26 Bab 26 Ibu
27 Bab 27 Desa di Balik Kabut
28 Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29 Bab 29 Rumah Joglo
30 Bab 30 Firasat Yasmin
31 Bab 31 Hujan Darah
32 Bab 32 Tersesat
33 Bab 33 Petunjuk Kakak
34 Bab 34 Wanita yang Terbakar
35 Bab 35 Menit menit Penentuan
36 Bab 36 Balas Dendam Darsih
37 Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38 Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39 Bab 39 Pindah Alam
40 Bab 40 Kebaya Hitam
41 Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42 Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43 Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44 Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45 45 Segel Mati
46 Bab 46 Tangisan Yasmin
47 Bab 47 Keteguhan Hati
48 Bab 48 Gadis Misterius
49 Bab 49 Karyawan Baru
50 Bab 50 Namaku Ayunindya
51 Bab 51 Rumah Kosong
52 Bab 52 Lamaran Gaib
53 Bab 53 Jelang Pernikahan
54 Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55 Bab 55 Pernikahan beda Alam
56 Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57 Bab 57 Bersiasat
58 Bab 58 Rahasia Angga
59 Bab 59 Pria Misterius
60 Bab 60 Ruqyah
61 Bab 61 Mimpi Yasmin
62 Bab 62 Pesan dari Bagus
63 Bab 63 Mengejar Yasmin
64 Bab 64 Peringatan dari Herly
65 Bab 65 Janji Angga
66 Bab 66 Tapa Hening
67 Bab 67 Rahasia Angga
68 Bab 68 Bayangan Misterius
69 Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70 Bab 70 Memburu Bagus
71 Bab 71 Memori yang Hilang
72 Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73 Bab 73 Kemunculan Herly
74 Bab 74 Perburuan
75 Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76 Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77 Bab 77 Sosok Penolong
78 Bab 78 Pertarungan Terakhir
79 Bab 79 Kekalahan
80 Bab 80 Kemenangan Sumpah
81 Bab 81 Babak Baru
82 Bab 82 Jodoh yang Hilang
83 Bab 83 Hati untuk Angga
84 Bab 84 Penampakan di Cermin
85 Bab 85 Dia Bukan Ayu
86 Bab 86 Kuntilanak Merah
87 Bab 87 Kamuflase
88 Bab 88 Serangan Fisik
89 Bab 89 Penjara Roh
90 Bab 90 Tabir Misteri
91 Bab 91 Labirin
92 Bab 92 Dasimah
93 Bab 93 Kematian Dasimah
94 Bab 94 Kabar Baik
95 Bab 95 Aji Malih Jiwo
96 Bab 96 Bayangan Hitam
97 Bab 97 Penumpang Gelap
98 Bab 98 Mahluk Bayangan
99 Bab 99 Jebakan
100 Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101 Bab 101 Gerbang Neraka
102 Bab 102. Nyekar
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab I Cuti
2
Bab 2 Teror Dalam Kereta
3
Bab 3 Pertanda
4
Bab 4 Bagus
5
Bab 5 Romo
6
Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7
Bab 7 Wasiat Romo
8
Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9
Bab 9 Ritual Terakhir
10
Bab 10 Penasaran
11
Bab11 Loak buku
12
Bab 12 Sebuah Teka teki
13
Bab 13 Peringatan
14
Bab 14 Ganjil
15
Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16
Bab 16 Sebuah Firasat
17
Bab 17 Peta Desa Leluhur
18
Bab 18 Rahasia Romo
19
Bab 19 Ruang Rahasia
20
Bab 20 Terlambat
21
Bab 21 Merangkai Kenangan
22
Bab 22 Malam Genting
23
Bab 23 Hilang
24
Bab 24 Mengejar Herly
25
Bab 25 Menapak Kenangan
26
Bab 26 Ibu
27
Bab 27 Desa di Balik Kabut
28
Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29
Bab 29 Rumah Joglo
30
Bab 30 Firasat Yasmin
31
Bab 31 Hujan Darah
32
Bab 32 Tersesat
33
Bab 33 Petunjuk Kakak
34
Bab 34 Wanita yang Terbakar
35
Bab 35 Menit menit Penentuan
36
Bab 36 Balas Dendam Darsih
37
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38
Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39
Bab 39 Pindah Alam
40
Bab 40 Kebaya Hitam
41
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44
Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45
45 Segel Mati
46
Bab 46 Tangisan Yasmin
47
Bab 47 Keteguhan Hati
48
Bab 48 Gadis Misterius
49
Bab 49 Karyawan Baru
50
Bab 50 Namaku Ayunindya
51
Bab 51 Rumah Kosong
52
Bab 52 Lamaran Gaib
53
Bab 53 Jelang Pernikahan
54
Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55
Bab 55 Pernikahan beda Alam
56
Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57
Bab 57 Bersiasat
58
Bab 58 Rahasia Angga
59
Bab 59 Pria Misterius
60
Bab 60 Ruqyah
61
Bab 61 Mimpi Yasmin
62
Bab 62 Pesan dari Bagus
63
Bab 63 Mengejar Yasmin
64
Bab 64 Peringatan dari Herly
65
Bab 65 Janji Angga
66
Bab 66 Tapa Hening
67
Bab 67 Rahasia Angga
68
Bab 68 Bayangan Misterius
69
Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70
Bab 70 Memburu Bagus
71
Bab 71 Memori yang Hilang
72
Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73
Bab 73 Kemunculan Herly
74
Bab 74 Perburuan
75
Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76
Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77
Bab 77 Sosok Penolong
78
Bab 78 Pertarungan Terakhir
79
Bab 79 Kekalahan
80
Bab 80 Kemenangan Sumpah
81
Bab 81 Babak Baru
82
Bab 82 Jodoh yang Hilang
83
Bab 83 Hati untuk Angga
84
Bab 84 Penampakan di Cermin
85
Bab 85 Dia Bukan Ayu
86
Bab 86 Kuntilanak Merah
87
Bab 87 Kamuflase
88
Bab 88 Serangan Fisik
89
Bab 89 Penjara Roh
90
Bab 90 Tabir Misteri
91
Bab 91 Labirin
92
Bab 92 Dasimah
93
Bab 93 Kematian Dasimah
94
Bab 94 Kabar Baik
95
Bab 95 Aji Malih Jiwo
96
Bab 96 Bayangan Hitam
97
Bab 97 Penumpang Gelap
98
Bab 98 Mahluk Bayangan
99
Bab 99 Jebakan
100
Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101
Bab 101 Gerbang Neraka
102
Bab 102. Nyekar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!