Angga mengambil piring dengan ragu ragu. Matanya melirik ke arah Ryo yang lebih dulu mengambil nasi dan lauk pauk yang tersaji di meja panjang. Sedangkan Jaka seperti tidak selera untuk makan. Dia meletakkan ayam goreng di piring, dan tak menyentuh yang lain.
"Herly bilang Bagus sudah tiba lebih dulu disini, tapi aku tidak melihat kehadirannya di meja makan."
Angga mengutarakan kecurigaan atas ketidak hadiran Bagus. Ryo yang tadinya tidak punya pikiran buruk, jadi terpengaruh. Dia jadi berpikir ulang tentang maksud dari undangan Herly.
"Ok kita jangan negatif thinking dulu bro, mungkin saja Herly memang punya selera yang unik dalam menata rumah."
"Kita tunggu saja tuan rumahnya kembali, biar nanti dia jelaskan semuanya. Tadi aku juga tidak mau berpikiran negatif. Tapi aku rasa terlalu banyak hal ganjil yang sudah kita alami."
"Jujur Aku juga penasaran dengan Bagus. Sudah lebih dati lima belas menit sejak kita masuk rumah ini, tapi anak itu tak juga menyambut kita."
Ditengah tengah obrolan serius mereka, tiba tiba saja Herly sudah kembali ke maja makan. Pria muda itu, melihat Angga belum juga menyentuh satupun hidangan yang tersedia di meja makan.
"Makanan ini bersih Ngga. Aku tidak punya niat mengundang kalian datang kemari untuk di racuni."
"Mungkin kalian bingung, karena aku baru mengundang kalian berkunjung, setelah tiga tahun lebih kelulusan kita."
"Ya... selain rumah ini jauh dari kota, kita memang tidak terlalu akrab waktu kuliah. Tapi mau bagaimana lagi, teman yang aku kenal baik hanya kalian berempat. Itu alasan mengapa aku mengirim undangan, agar kalian datang berkunjung kemari."
"Syukurnya kalian mau datang. Romoku sudah sepuh, beliau cerita kalau dia punya warisan di desa kelahirannya, karena itu sebelum mangkat beliau ingin kembali ke rumah masa kecil, dan minta agar nanti, bisa di makamkan bersama leluhur kami disana."
"Tapi sebelum itu terjadi, Romo ingin melihat aku punya teman. Jadi beliau bisa tenang sebelum beliau tutup usia."
"Entahlah, aku juga tak faham isi pikiran beliau. Seperti kalian lihat, hidupku cukup makmur. Tapi romo punya pikirannya sendiri soal arti pertemanan. Menurut romo, cuma teman baik yang bisa menolong saat kita terjatuh."
"Jadi aku mengalah saja, tidak ada salahnya menyenangkan hati orang tua. Karena itu, aku mengundang kalian untuk bertemu beliau."
"Tapi sebelum itu, kalian makan malam dulu. Hidangan ini sudah di sajikan khusus untuk kalian. Tidak sopan rasanya membiarkan tamu yang baru datang dari jauh dalam keadaan lapar."
Herly duduk di kursi ujung meja panjang, ia mengambil nasi, lauk pauk, dan sayur yang tersaji tanpa ragu. Melihat itu Jaka jadi tidak enak hati. Dia langsung mengambil semua hidangan dan memakannya.
Demikian pula dengan Rangga. Meskipun alasan Herly agak klise, tapi dia tak punya cukup bukti untuk tetap curiga kepada teman kuliah yang lama sekali mereka tak berjumpa. Angga pun langsung makan untuk menghormati tuan rumah. Suasana canggung sedikit mencair, mereka makan malam sambil mengenang masa lalu.
"Oh iya Her, ini tentang Bagus, sejak tadi aku belum melihat anak itu, apa benar dia sudah datang kesini, kalau iya, lalu kemana dia?"
Angga kembali bertanya tentang kehadiran teman mereka yang bernama Bagus. Rupanya Angga ingin menuntaskan rasa curiga di dalam hatinya. Herly tersenyum lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah tangga.
Sosok pria turun dari arah tangga dengan pakaian serba hitam. Senyum sinis tampak mengembang di bibirnya. Pria itu adalah Bagus, teman seangkatan mereka.
"Hallo kawan kawan, akhirnya kita jumpa lagi disini. Aku sudah lama menunggu kehadiran kalian."
Bagus berjalan menuju meja makan, dan duduk di dekat Herly. Angga menatap Bagus dengan tatapan aneh. Penampilan Bagus sangat berbeda dari apa yang pernah dia ingat sebelumnya.
"Ada apa Ngga, kenapa kamu menatapku dengan tatapan aneh begitu?"
"Oh... tidak... tidak apa apa, aku cuma takjub dengan dandanan mu yang baru."
Angga terlihat kikuk, dia merasa serba salah di hadapan Bagus. Sejujurnya Angga masih penasaran dengan kehidupan Bagus selama ini. Dulu tampilan Bagus menjadi kiblat berpakain teman teman di kampus. Tapi sekarang dia justru terlihat kaku dengan stelan serba hitam.
Untuk sejenak suasana menjadi hening, semua orang menikmati hidangan yang tersaji dengan sedikit canggung. Kemudian Ryo mencoba memecahkan suasana canggung di ruang makan itu, dengan membuka percakapan kembali.
"Ngomong ngomong istrimu dimana Her, kenapa tidak dikenalkan kepada kami?"
"Kenalkan sama kita dong, ajak makan sama sama disini, biar suasanya lebih hangat."
"Yasmin Ada di atas, dia sedang mengurus segala keperluan romoku. Nanti setelah makan, aku antarkan kalian ke kamar masing masing, baru kita akan menemui romo, sekalian aku kenalkan kalian dengan Yasmin."
Ryo mengangguk dan percakapan selesai. Suasana kembali hening, mereka segera menghabiskan makan malam agar cepat terbebas dari situasi canggung yang terasa menekan batin.
"Ayo teman teman aku antar kaian ke kamar masing masing. Sebentar lagi romo akan istirahat, jadi kita akan menemui beliau lebih dulu. Setelahnya baru kalian istirahat di kamar masing masing."
"Besok pagi aku ajak kalian melihat lihat desa ini. Aku jamin kalian akan suka berada disini."
Herly memandu teman temannya menuju kamar tamu yang telah di sediakan. Mereka meletakkan barang bawaan masing masing, lalu mengikuti Herly menuju lantai tiga rumah itu.
Hanya ada tiga buah kamar di lantai tiga. Satu kamar besar di tempati romo, satu kamar lagi di tempati Herly dan istri, dan satu kamar lagi, sengaja dibiarkan dalam keadaan kosong, terkunci, dan tidak boleh dimasuki oleh siapapun.
Herly membuka pintu kamar romo. Seorang pria tua renta, duduk di kursi roda ditemani seorang wanita muda berparas ayu. Herly masuk, mengenalkan teman temannya.
"Romo perkenalkan ini teman temanku, mereka jauh jauh datang dari Jakarta, khusus ingin bertemu dengan romo."
Herly mempersilahkan Angga dan teman teman masuk ke dalam kamar. Sosok pria yang di panggil romo oleh Herly, terlihat sangat layu menatap kosong dalam remang cahaya lampu kamar.
Tampilan fisik pria tua itu sangat mengerikan, tubuhnya kurus kering, hanya tinggal tulang yang berbalut kulit. Matanya sayu, nafasnya pendek tersengal sengal.
Romo meminta semua orang mendekat dengan isyarat tangan. Herly meminta teman temannya untuk datang merapat.
"Kalian teman teman baik Herly, tolong bantu saya jaga dia, temani Herly ya nak. Anak ini sudah tidak punya siapa siapa, hanya ada saya, yang juga tidak akan lama lagi menyusul ibunya."
"Herly..., umur romo sudah tinggal sepenggal, nanti kalau romo tiada, kamu kirimkan saja beberapa orang untuk memakamkan romo di desa leluhur kita, biar romo bisa kumpul lagi sama ibu, dan semua saudara saudaramu disana."
"Ingat kamu suruh orang saja, tidak usah ikut menghadiri pemakaman romo. Kelak tidak perlu juga datang kesana lagi untuk nyekar, atau demi alasan lainnya."
"Romo lelah, mau istirahat, kalian juga pasti ingin istirahat, perjalanan kemari sangat jauh, jadi lebih baik istirahatlah."
Wasiat romo terdengar ganjil di telinga Herly dan teman temannya. Tapi sebagai anak yang baik, Herly tidak berani untuk bertanya apa lagi membantah ucapan ayahnya.
Herly menggendong romonya ke tempat tidur, lalu mencium kening pria renta itu. Setelahnya mereka keluar kamar. Herly mengajak tamu tamunya ke ruang tengah. Disana ia mengenalkan Yasmin istrinya, kepada Angga dan teman teman.
"Kenalkan saya Yasmin, istri Herly, kami menikah setahun lalu, dan alhamdulillah masih di izinkan berdua saja, kami belum punya momongan."
Wanita muda bernama Yasmin menjabat tangan teman teman Herly, sambil memperkenalkan diri. Paras ayu Yasmin membuat Ryo jadi iri dengan kemujuran Herly.
"Aku nggak nyangka kamu pandai memilih istri Her, kalau tahu begini, aku juga ingin cari kembang desa sini untuk jadi pendamping."
Ryo berkelakar menggoda Herly. Yasmin tersenyum malu, ia segera meminta izin untuk membereskan meja makan, sedangkan Herly mengajak tamunya ngobrol santai di ruang tengah, sambil mengenang masa lalu mereka.
Angga yang masih agak penasaran dengan sosok misterius Bagus, lalu coba coba mengulik kehidupan pribadinya. Dia gatal ingin tahu, apa yang menyebabkan temannya itu berubah drastis.
"Tiga tahun ini kegiatanmu apa Gus, lama tak dengar kabar, tahu tahu saja ketemu muka, kamu sudah dengan tampilan yang berbeda. Berubah total tiga ratus enam puluh derajat."
"Yang aku ingat, kamu dulu cowok populer di kampus. Dandanan Color full, yang jadi kiblat fashion teman teman. Sekarang kamu berbeda, aku sampai pangling, sebenarnya apa yang terjadi?"
Angga mulai mengulik kehidupan pribadi Bagus. Mimik wajah Bagus tampak tidak suka ada orang lain yang mengusik pribadinya. Tapi karena Angga adalah orang yang paling dekat dengannya, jadi dia tak keberatan untuk bercerita tentang masa lalunya.
"Usai lulus kuliah, aku bergabung dengan group band di cafe. Seperti katamu, kami memang sangat populer, pundi pundi mengalir, dan aku terjerembab dalam pergaulan bebas. Sampai akhirnya pada satu waktu aku bertemu Diana, gadis cantik yang buat aku kepincut. Aku memutuskan untuk meninggalkan dunia gelamor yang hitam."
"Tapi orang orang di pergaulanku yang lama, sepertinya tidak rela aku bahagia, seorang perempuan dari masa laluku datang lagi dan merenggut Diana dari hidupku. Aku hancur, hatiku luluh lantah."
Angga cukup kaget mendengar kisah kelam Bagus. Kehilangan orang yang dicintai memang bukan sesuatu yang mudah, butuh waktu lama untuk sembuh dari luka itu.
"Lalu apa yang kamu lakukan setelah Diana pergi Gus?"
"Aku marah, aku balas dendam Ngga, sebagaimana Diana dan calon putri kami mati, aku juga melakukan hal yang sama pada orang yang merenggut kebahagian kami."
Angga bergidik ngeri mendengar penuturan Bagus. Dia tidak ingin tahu cara Bagus balas dendam, tapi Bagus justru memberi tahu kepada Angga apa yang dia lakukan pada wanita itu.
"Kamu tahu apa yang aku lakukan kepada wanita jalang itu Ngga?"
"Aku membuatnya menderita. Sama dengan yang aku rasakan. Santet yang aku kirimkan menggrogoti tubuhnya sampai dia mati!"
Rahang Bagus menebal, matanya melotot menahan marah. Angga tahu dia telah salah mengorek luka lama. Dia lalu meminta maaf dan segera mengalihkan percakapan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
nahhh tiba2 sinis kenapa tuhh.....
2025-01-27
0
Niswah
ngeri ya,
2024-01-30
0