Bab 4 Bagus

Angga mengambil piring dengan ragu ragu. Matanya melirik ke arah Ryo yang lebih dulu mengambil nasi dan lauk pauk yang tersaji di meja panjang. Sedangkan Jaka seperti tidak selera untuk makan. Dia meletakkan ayam goreng di piring, dan tak menyentuh yang lain.

"Herly bilang Bagus sudah tiba lebih dulu disini, tapi aku tidak melihat kehadirannya di meja makan."

Angga mengutarakan kecurigaan atas ketidak hadiran Bagus. Ryo yang tadinya tidak punya pikiran buruk, jadi terpengaruh. Dia jadi berpikir ulang tentang maksud dari undangan Herly.

"Ok kita jangan negatif thinking dulu bro, mungkin saja Herly memang punya selera yang unik dalam menata rumah."

"Kita tunggu saja tuan rumahnya kembali, biar nanti dia jelaskan semuanya. Tadi aku juga tidak mau berpikiran negatif. Tapi aku rasa terlalu banyak hal ganjil yang sudah kita alami."

"Jujur Aku juga penasaran dengan Bagus. Sudah lebih dati lima belas menit sejak kita masuk rumah ini, tapi anak itu tak juga menyambut kita."

Ditengah tengah obrolan serius mereka, tiba tiba saja Herly sudah kembali ke maja makan. Pria muda itu, melihat Angga belum juga menyentuh satupun hidangan yang tersedia di meja makan.

"Makanan ini bersih Ngga. Aku tidak punya niat mengundang kalian datang kemari untuk di racuni."

"Mungkin kalian bingung, karena aku baru mengundang kalian berkunjung, setelah tiga tahun lebih kelulusan kita."

"Ya... selain rumah ini jauh dari kota, kita memang tidak terlalu akrab waktu kuliah. Tapi mau bagaimana lagi, teman yang aku kenal baik hanya kalian berempat. Itu alasan mengapa aku mengirim undangan, agar kalian datang berkunjung kemari."

"Syukurnya kalian mau datang. Romoku sudah sepuh, beliau cerita kalau dia punya warisan di desa kelahirannya, karena itu sebelum mangkat beliau ingin kembali ke rumah masa kecil, dan minta agar nanti, bisa di makamkan bersama leluhur kami disana."

"Tapi sebelum itu terjadi, Romo ingin melihat aku punya teman. Jadi beliau bisa tenang sebelum beliau tutup usia."

"Entahlah, aku juga tak faham isi pikiran beliau. Seperti kalian lihat, hidupku cukup makmur. Tapi romo punya pikirannya sendiri soal arti pertemanan. Menurut romo, cuma teman baik yang bisa menolong saat kita terjatuh."

"Jadi aku mengalah saja, tidak ada salahnya menyenangkan hati orang tua. Karena itu, aku mengundang kalian untuk bertemu beliau."

"Tapi sebelum itu, kalian makan malam dulu. Hidangan ini sudah di sajikan khusus untuk kalian. Tidak sopan rasanya membiarkan tamu yang baru datang dari jauh dalam keadaan lapar."

Herly duduk di kursi ujung meja panjang, ia mengambil nasi, lauk pauk, dan sayur yang tersaji tanpa ragu. Melihat itu Jaka jadi tidak enak hati. Dia langsung mengambil semua hidangan dan memakannya.

Demikian pula dengan Rangga. Meskipun alasan Herly agak klise, tapi dia tak punya cukup bukti untuk tetap curiga kepada teman kuliah yang lama sekali mereka tak berjumpa. Angga pun langsung makan untuk menghormati tuan rumah. Suasana canggung sedikit mencair, mereka makan malam sambil mengenang masa lalu.

"Oh iya Her, ini tentang Bagus, sejak tadi aku belum melihat anak itu, apa benar dia sudah datang kesini, kalau iya, lalu kemana dia?"

Angga kembali bertanya tentang kehadiran teman mereka yang bernama Bagus. Rupanya Angga ingin menuntaskan rasa curiga di dalam hatinya. Herly tersenyum lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah tangga.

Sosok pria turun dari arah tangga dengan pakaian serba hitam. Senyum sinis tampak mengembang di bibirnya. Pria itu adalah Bagus, teman seangkatan mereka.

"Hallo kawan kawan, akhirnya kita jumpa lagi disini. Aku sudah lama menunggu kehadiran kalian."

Bagus berjalan menuju meja makan, dan duduk di dekat Herly. Angga menatap Bagus dengan tatapan aneh. Penampilan Bagus sangat berbeda dari apa yang pernah dia ingat sebelumnya.

"Ada apa Ngga, kenapa kamu menatapku dengan tatapan aneh begitu?"

"Oh... tidak... tidak apa apa, aku cuma takjub dengan dandanan mu yang baru."

Angga terlihat kikuk, dia merasa serba salah di hadapan Bagus. Sejujurnya Angga masih penasaran dengan kehidupan Bagus selama ini. Dulu tampilan Bagus menjadi kiblat berpakain teman teman di kampus. Tapi sekarang dia justru terlihat kaku dengan stelan serba hitam.

Untuk sejenak suasana menjadi hening, semua orang menikmati hidangan yang tersaji dengan sedikit canggung. Kemudian Ryo mencoba memecahkan suasana canggung di ruang makan itu, dengan membuka percakapan kembali.

"Ngomong ngomong istrimu dimana Her, kenapa tidak dikenalkan kepada kami?"

"Kenalkan sama kita dong, ajak makan sama sama disini, biar suasanya lebih hangat."

"Yasmin Ada di atas, dia sedang mengurus segala keperluan romoku. Nanti setelah makan, aku antarkan kalian ke kamar masing masing, baru kita akan menemui romo, sekalian aku kenalkan kalian dengan Yasmin."

Ryo mengangguk dan percakapan selesai. Suasana kembali hening, mereka segera menghabiskan makan malam agar cepat terbebas dari situasi canggung yang terasa menekan batin.

"Ayo teman teman aku antar kaian ke kamar masing masing. Sebentar lagi romo akan istirahat, jadi kita akan menemui beliau lebih dulu. Setelahnya baru kalian istirahat di kamar masing masing."

"Besok pagi aku ajak kalian melihat lihat desa ini. Aku jamin kalian akan suka berada disini."

Herly memandu teman temannya menuju kamar tamu yang telah di sediakan. Mereka meletakkan barang bawaan masing masing, lalu mengikuti Herly menuju lantai tiga rumah itu.

Hanya ada tiga buah kamar di lantai tiga. Satu kamar besar di tempati romo, satu kamar lagi di tempati Herly dan istri, dan satu kamar lagi, sengaja dibiarkan dalam keadaan kosong, terkunci, dan tidak boleh dimasuki oleh siapapun.

Herly membuka pintu kamar romo. Seorang pria tua renta, duduk di kursi roda ditemani seorang wanita muda berparas ayu. Herly masuk, mengenalkan teman temannya.

"Romo perkenalkan ini teman temanku, mereka jauh jauh datang dari Jakarta, khusus ingin bertemu dengan romo."

Herly mempersilahkan Angga dan teman teman masuk ke dalam kamar. Sosok pria yang di panggil romo oleh Herly, terlihat sangat layu menatap kosong dalam remang cahaya lampu kamar.

Tampilan fisik pria tua itu sangat mengerikan, tubuhnya kurus kering, hanya tinggal tulang yang berbalut kulit. Matanya sayu, nafasnya pendek tersengal sengal.

Romo meminta semua orang mendekat dengan isyarat tangan. Herly meminta teman temannya untuk datang merapat.

"Kalian teman teman baik Herly, tolong bantu saya jaga dia, temani Herly ya nak. Anak ini sudah tidak punya siapa siapa, hanya ada saya, yang juga tidak akan lama lagi menyusul ibunya."

"Herly..., umur romo sudah tinggal sepenggal, nanti kalau romo tiada, kamu kirimkan saja beberapa orang untuk memakamkan romo di desa leluhur kita, biar romo bisa kumpul lagi sama ibu, dan semua saudara saudaramu disana."

"Ingat kamu suruh orang saja, tidak usah ikut menghadiri pemakaman romo. Kelak tidak perlu juga datang kesana lagi untuk nyekar, atau demi alasan lainnya."

"Romo lelah, mau istirahat, kalian juga pasti ingin istirahat, perjalanan kemari sangat jauh, jadi lebih baik istirahatlah."

Wasiat romo terdengar ganjil di telinga Herly dan teman temannya. Tapi sebagai anak yang baik, Herly tidak berani untuk bertanya apa lagi membantah ucapan ayahnya.

Herly menggendong romonya ke tempat tidur, lalu mencium kening pria renta itu. Setelahnya mereka keluar kamar. Herly mengajak tamu tamunya ke ruang tengah. Disana ia mengenalkan Yasmin istrinya, kepada Angga dan teman teman.

"Kenalkan saya Yasmin, istri Herly, kami menikah setahun lalu, dan alhamdulillah masih di izinkan berdua saja, kami belum punya momongan."

Wanita muda bernama Yasmin menjabat tangan teman teman Herly, sambil memperkenalkan diri. Paras ayu Yasmin membuat Ryo jadi iri dengan kemujuran Herly.

"Aku nggak nyangka kamu pandai memilih istri Her, kalau tahu begini, aku juga ingin cari kembang desa sini untuk jadi pendamping."

Ryo berkelakar menggoda Herly. Yasmin tersenyum malu, ia segera meminta izin untuk membereskan meja makan, sedangkan Herly mengajak tamunya ngobrol santai di ruang tengah, sambil mengenang masa lalu mereka.

Angga yang masih agak penasaran dengan sosok misterius Bagus, lalu coba coba mengulik kehidupan pribadinya. Dia gatal ingin tahu, apa yang menyebabkan temannya itu berubah drastis.

"Tiga tahun ini kegiatanmu apa Gus, lama tak dengar kabar, tahu tahu saja ketemu muka, kamu sudah dengan tampilan yang berbeda. Berubah total tiga ratus enam puluh derajat."

"Yang aku ingat, kamu dulu cowok populer di kampus. Dandanan Color full, yang jadi kiblat fashion teman teman. Sekarang kamu berbeda, aku sampai pangling, sebenarnya apa yang terjadi?"

Angga mulai mengulik kehidupan pribadi Bagus. Mimik wajah Bagus tampak tidak suka ada orang lain yang mengusik pribadinya. Tapi karena Angga adalah orang yang paling dekat dengannya, jadi dia tak keberatan untuk bercerita tentang masa lalunya.

"Usai lulus kuliah, aku bergabung dengan group band di cafe. Seperti katamu, kami memang sangat populer, pundi pundi mengalir, dan aku terjerembab dalam pergaulan bebas. Sampai akhirnya pada satu waktu aku bertemu Diana, gadis cantik yang buat aku kepincut. Aku memutuskan untuk meninggalkan dunia gelamor yang hitam."

"Tapi orang orang di pergaulanku yang lama, sepertinya tidak rela aku bahagia, seorang perempuan dari masa laluku datang lagi dan merenggut Diana dari hidupku. Aku hancur, hatiku luluh lantah."

Angga cukup kaget mendengar kisah kelam Bagus. Kehilangan orang yang dicintai memang bukan sesuatu yang mudah, butuh waktu lama untuk sembuh dari luka itu.

"Lalu apa yang kamu lakukan setelah Diana pergi Gus?"

"Aku marah, aku balas dendam Ngga, sebagaimana Diana dan calon putri kami mati, aku juga melakukan hal yang sama pada orang yang merenggut kebahagian kami."

Angga bergidik ngeri mendengar penuturan Bagus. Dia tidak ingin tahu cara Bagus balas dendam, tapi Bagus justru memberi tahu kepada Angga apa yang dia lakukan pada wanita itu.

"Kamu tahu apa yang aku lakukan kepada wanita jalang itu Ngga?"

"Aku membuatnya menderita. Sama dengan yang aku rasakan. Santet yang aku kirimkan menggrogoti tubuhnya sampai dia mati!"

Rahang Bagus menebal, matanya melotot menahan marah. Angga tahu dia telah salah mengorek luka lama. Dia lalu meminta maaf dan segera mengalihkan percakapan mereka.

Terpopuler

Comments

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

nahhh tiba2 sinis kenapa tuhh.....

2025-01-27

0

Niswah

Niswah

ngeri ya,

2024-01-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab I Cuti
2 Bab 2 Teror Dalam Kereta
3 Bab 3 Pertanda
4 Bab 4 Bagus
5 Bab 5 Romo
6 Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7 Bab 7 Wasiat Romo
8 Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9 Bab 9 Ritual Terakhir
10 Bab 10 Penasaran
11 Bab11 Loak buku
12 Bab 12 Sebuah Teka teki
13 Bab 13 Peringatan
14 Bab 14 Ganjil
15 Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16 Bab 16 Sebuah Firasat
17 Bab 17 Peta Desa Leluhur
18 Bab 18 Rahasia Romo
19 Bab 19 Ruang Rahasia
20 Bab 20 Terlambat
21 Bab 21 Merangkai Kenangan
22 Bab 22 Malam Genting
23 Bab 23 Hilang
24 Bab 24 Mengejar Herly
25 Bab 25 Menapak Kenangan
26 Bab 26 Ibu
27 Bab 27 Desa di Balik Kabut
28 Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29 Bab 29 Rumah Joglo
30 Bab 30 Firasat Yasmin
31 Bab 31 Hujan Darah
32 Bab 32 Tersesat
33 Bab 33 Petunjuk Kakak
34 Bab 34 Wanita yang Terbakar
35 Bab 35 Menit menit Penentuan
36 Bab 36 Balas Dendam Darsih
37 Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38 Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39 Bab 39 Pindah Alam
40 Bab 40 Kebaya Hitam
41 Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42 Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43 Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44 Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45 45 Segel Mati
46 Bab 46 Tangisan Yasmin
47 Bab 47 Keteguhan Hati
48 Bab 48 Gadis Misterius
49 Bab 49 Karyawan Baru
50 Bab 50 Namaku Ayunindya
51 Bab 51 Rumah Kosong
52 Bab 52 Lamaran Gaib
53 Bab 53 Jelang Pernikahan
54 Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55 Bab 55 Pernikahan beda Alam
56 Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57 Bab 57 Bersiasat
58 Bab 58 Rahasia Angga
59 Bab 59 Pria Misterius
60 Bab 60 Ruqyah
61 Bab 61 Mimpi Yasmin
62 Bab 62 Pesan dari Bagus
63 Bab 63 Mengejar Yasmin
64 Bab 64 Peringatan dari Herly
65 Bab 65 Janji Angga
66 Bab 66 Tapa Hening
67 Bab 67 Rahasia Angga
68 Bab 68 Bayangan Misterius
69 Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70 Bab 70 Memburu Bagus
71 Bab 71 Memori yang Hilang
72 Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73 Bab 73 Kemunculan Herly
74 Bab 74 Perburuan
75 Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76 Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77 Bab 77 Sosok Penolong
78 Bab 78 Pertarungan Terakhir
79 Bab 79 Kekalahan
80 Bab 80 Kemenangan Sumpah
81 Bab 81 Babak Baru
82 Bab 82 Jodoh yang Hilang
83 Bab 83 Hati untuk Angga
84 Bab 84 Penampakan di Cermin
85 Bab 85 Dia Bukan Ayu
86 Bab 86 Kuntilanak Merah
87 Bab 87 Kamuflase
88 Bab 88 Serangan Fisik
89 Bab 89 Penjara Roh
90 Bab 90 Tabir Misteri
91 Bab 91 Labirin
92 Bab 92 Dasimah
93 Bab 93 Kematian Dasimah
94 Bab 94 Kabar Baik
95 Bab 95 Aji Malih Jiwo
96 Bab 96 Bayangan Hitam
97 Bab 97 Penumpang Gelap
98 Bab 98 Mahluk Bayangan
99 Bab 99 Jebakan
100 Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101 Bab 101 Gerbang Neraka
102 Bab 102. Nyekar
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab I Cuti
2
Bab 2 Teror Dalam Kereta
3
Bab 3 Pertanda
4
Bab 4 Bagus
5
Bab 5 Romo
6
Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7
Bab 7 Wasiat Romo
8
Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9
Bab 9 Ritual Terakhir
10
Bab 10 Penasaran
11
Bab11 Loak buku
12
Bab 12 Sebuah Teka teki
13
Bab 13 Peringatan
14
Bab 14 Ganjil
15
Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16
Bab 16 Sebuah Firasat
17
Bab 17 Peta Desa Leluhur
18
Bab 18 Rahasia Romo
19
Bab 19 Ruang Rahasia
20
Bab 20 Terlambat
21
Bab 21 Merangkai Kenangan
22
Bab 22 Malam Genting
23
Bab 23 Hilang
24
Bab 24 Mengejar Herly
25
Bab 25 Menapak Kenangan
26
Bab 26 Ibu
27
Bab 27 Desa di Balik Kabut
28
Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29
Bab 29 Rumah Joglo
30
Bab 30 Firasat Yasmin
31
Bab 31 Hujan Darah
32
Bab 32 Tersesat
33
Bab 33 Petunjuk Kakak
34
Bab 34 Wanita yang Terbakar
35
Bab 35 Menit menit Penentuan
36
Bab 36 Balas Dendam Darsih
37
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38
Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39
Bab 39 Pindah Alam
40
Bab 40 Kebaya Hitam
41
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44
Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45
45 Segel Mati
46
Bab 46 Tangisan Yasmin
47
Bab 47 Keteguhan Hati
48
Bab 48 Gadis Misterius
49
Bab 49 Karyawan Baru
50
Bab 50 Namaku Ayunindya
51
Bab 51 Rumah Kosong
52
Bab 52 Lamaran Gaib
53
Bab 53 Jelang Pernikahan
54
Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55
Bab 55 Pernikahan beda Alam
56
Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57
Bab 57 Bersiasat
58
Bab 58 Rahasia Angga
59
Bab 59 Pria Misterius
60
Bab 60 Ruqyah
61
Bab 61 Mimpi Yasmin
62
Bab 62 Pesan dari Bagus
63
Bab 63 Mengejar Yasmin
64
Bab 64 Peringatan dari Herly
65
Bab 65 Janji Angga
66
Bab 66 Tapa Hening
67
Bab 67 Rahasia Angga
68
Bab 68 Bayangan Misterius
69
Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70
Bab 70 Memburu Bagus
71
Bab 71 Memori yang Hilang
72
Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73
Bab 73 Kemunculan Herly
74
Bab 74 Perburuan
75
Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76
Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77
Bab 77 Sosok Penolong
78
Bab 78 Pertarungan Terakhir
79
Bab 79 Kekalahan
80
Bab 80 Kemenangan Sumpah
81
Bab 81 Babak Baru
82
Bab 82 Jodoh yang Hilang
83
Bab 83 Hati untuk Angga
84
Bab 84 Penampakan di Cermin
85
Bab 85 Dia Bukan Ayu
86
Bab 86 Kuntilanak Merah
87
Bab 87 Kamuflase
88
Bab 88 Serangan Fisik
89
Bab 89 Penjara Roh
90
Bab 90 Tabir Misteri
91
Bab 91 Labirin
92
Bab 92 Dasimah
93
Bab 93 Kematian Dasimah
94
Bab 94 Kabar Baik
95
Bab 95 Aji Malih Jiwo
96
Bab 96 Bayangan Hitam
97
Bab 97 Penumpang Gelap
98
Bab 98 Mahluk Bayangan
99
Bab 99 Jebakan
100
Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101
Bab 101 Gerbang Neraka
102
Bab 102. Nyekar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!