Bab 13 Peringatan

Petugas perpustakaan bernama Ema masih membaca buku, dan menterjemahkan isinya untuk Angga. Namun pemuda tampan itu tidak menyimak sama sekali apa yang di bacakan Ema untuknya.

Angga masih sibuk berkutat pada pikirannya sendiri, tapi om Bandi yang dari tadi hanya terlihat acuh tak acuh, diam diam fokus menyimak. Dia menggaris bawahi beberapa kalimat penting yang menurutnya merupakan kunci dari akar permasalahan yang sedang di hadapi oleh Angga.

Matahari semakin redup, om Bandi melihat jam tangannya. Jam menunjukkan pukul empat sore. Sudah waktunya perpustakaan tutup. Om Bandi meminta agar Angga tidak lagi membaca, dia mengajak pemuda itu untuk meninggalkan perpustakaan.

"Ngga sudah sore, sebaiknya kita pulang sekarang, perpustakaan ini akan tutup sebentar lagi, tentang masalah temanmu itu kita bahas lagi nanti di rumah."

"Mbak Ema terima kasih atas kerja samanya, untuk selanjutnya kami akan mendiskusikan isi buku ini di rumah."

Ema tersenyum kecil mendengar ucapan om Bandi, wanita ramah itu segera menutup buku, lalu berdiri sembari merapihkan beberapa buah buku yang tadi di baca Angga.

"Ah biar saya saja yang merapihkan buku bukunya mbak, saya masih ingat susunan dan letaknya."

Angga tersadar dari lamunan, dan dengan kikuk bergegas membantu Ema mengembalikan buku buku yang terserak di meja.

"Sudah tidak usah, biarkan saja pak, ini juga bagian dari tugas saya, jika masih butuh bantuan jangan segan segan datang berkunjung kemari, saya siap membantu sebisanya."

Angga tersenyum sungkan sambil menggaruk keningnya, dia merasa tidak enak hati karena telah berlaku tidak etis kepada orang yang telah dengan sukarela memberikan bantuan padanya.

"Sekali lagi terima kasih mbak Ema, tanpa bantuan anda, mungkin hari ini pencarian kami masih nol, belum akan menemukan jawaban apapun. Dengan bantuan anda, kami jadi punya sedikit titik terang perihal teka teki di balik misteri mistik yang coba saya pecahkan."

"Lain kali saya pasti akan datang berkunjung lagi kemari, semoga saat itu, saya hanya berkunjung tanpa membawa masalah baru. Jadi tolong maafkan sikap kami tadi ya mbak."

"Tidak apa apa pak, saya mengerti, kapanpun datang lagi kemari, jujur saja kami senang sekali menerima kunjungan anda, karena di zaman modern seperti sekarang ini, masih ada orang orang seperti anda yang perduli dengan sejarah dan budaya bangsa."

Angga dan om Bandi tersenyum simpul sembari menangkupkan kedua telapak tangan mereka di depan dada, kemudian keduanya berpamitan.

Mereka segera pergi meninggalkan perpustakaan di kawal oleh seorang security yang mengantar sampai teras perpustakaan.

Om Bandi tersenyum kepada security, dan sebentar kemudian motor lawasnya berlalu dari pergi meninggalkan halaman parkir perpustakaan daerah.

Di perjalanan pulang Angga masih berpikir apakah dia akan mencoba untuk membujuk Herly agar tidak melakukan ritual, atau memutuskan untuk pergi bersama Herly ke desa leluhurnya, dan kemudian mereka akan membatalkan semua perjanjian darah yang mengikat Herly sebagai pewaris terah leluhur.

"Kalau kamu memang tetap ingin membantu temanmu itu, om Bandi tidak akan mencegah kamu lagi. Tapi om Bandi ikut dengan kamu. Kita berdua akan bantu dia."

"Ingat semuanya punya resiko dan masalah ini bukan perkara mudah, sekali melangkah masuk, kamu tidak bisa keluar lagi."

Angga terkejut, dia tidak percaya kalau om Bandi akan mendukung tekadnya. Dengan semangat baru yang menggebu gebu, Angga ingin segera memecahkan teka teki di balik riwayat hitam sejarah leluhur Herly.

"Terima kasih om, saya janji akan berhati hati dalam masalah ini, om Bandi tidak usah khawatir."

"Jangan terlalu semangat, kita tidak tahu seperti apa masalah temanmu itu Ngga, jujur om agak khawatir, tapi mau bilang apa lagi, kamu tidak mau mendengarkan nasehat om, jadi terpaksa om akan ikut dengan kamu ke Banyuwangi."

Angga terdiam, dalam hati ia ingin memekik sekencang kencangnya, tapi ia tak ingin terlihat konyol di hadapan om Bandi.

"Terima kasih om, saya tidak tahu harus bicara apa, dari semuanya om Bandi yang terbaik."

Jam empat sore saat mereka tiba di rumah, sambil makan mereka mulai mendiskusikan tentang apa itu yang di sebut perjanjian darah, bagaimana ritualnya bekerja, dan yang terpenting bagi mereka bagaimana memutus perjanjian darah yang telah berlaku semenjak nenek moyang Herly.

"Dari beberapa penjelasan Ema tadi, om Bandi sempat menyimak empat kalimat penting yang harus teman mu lakukan Ngga."

"Pertama dia harus cari orang yang memiliki weton sama dengan Herly yang mampu menundukkan ingon yang telah lama mengikuti mereka."

"Kedua ritual pengalihan perjanjian pelepasan harus dilakukan tepat sebelum perjanjian tumbal, atau dia sendiri yang akan menjadi tumbal ingon berikutnya."

"Tentu ini akan sangat berbahaya, untuk teman mu, dia atau anaknya akan tersandra hingga mati. Tubuh Herly akan di gerogoti sampai habis dan kemudian, istrinya, berlanjut ke anak anak, sampai pewaris mereka benar benar habis."

Mendengar penuturan om Bandi, Angga bergidik ngeri, dia jadi ingat kondisi romo yang tampak sangat menderita, tubuhnya kurus kering, lemah, kantung mata cekung, dan kulit yang membiru. Angga berfikir kalau saat itu romo telah membuat keputusan menumbalkan dirinya sendiri demi menyelamatkan Herly dari kutukan yang diwariskan oleh leluhur mereka.

"Aku faham sekarang kenapa romo menyuruh Herly mengundang kami, kenapa dia ingin agar Herly punya teman, alasannya mungkin sangat sederhana, dia ingin kami menjaga putranya, atau bahkan lebih dari itu mungkin juga ada salah seorang dari kami yang bisa meneruskan ritual seperti dalam surat wasiat."

"Tapi apa itu mungkin, apa ini salah satu skenario yang di susun oleh romo?"

"Atau Herly memang sudah tahu, dan terlibat, jika pikiranku benar, maka Ryo, Jaka, dan Bagus dalam bahaya. Bila salah satu dari mereka punya weton yang sama dengan Herly bukan tidak mungkin dia akan menumbalkan satu diantaranya."

Angga terus berkutat pada pikiran sendiri, ada kekhawatiran dalam dirinya. Berbagai spekulasi berputar di otak Angga, dia menduga ada yang tak beres dengan diri Herly dan itu membuatnya jadi semakin tegang, di tambah lagi orang orang misterius yang di lihatnya saat dia pergi meninggalkan desa. Angga semakin curiga kalau kemunculan mereka bukan sebuah kebetulan.

Angga jadi gelisah dan ingin segera kembali ke desa Herly untuk cari tahu kebenaran di balik isi surat wasiat yang di tinggalkan oleh sang romo.

"Hey... Angga... kok kamu malah melamun, mau tahu catatan ke tiga enggak?"

" Oh... Iya... ya... om apa yang ke tiga om, teruskan saja saja, saya masih menyimaknya."

Om Bandi merasa keponakannya sudah sangat serius dalam kasus Herly, dan dia berpikir tidak bisa lagi membujuk Angga dengan tekad bulatnya.

"Yang ke tiga, dia harus mencari orang yang bisa mengulur waktu, tapi ini juga tidak bisa berlangsung lama. Teman mu harus cepat cari penerus, atau dia melakukan ritual dan melanjutkan perjanjian sesat yang diwariskan kepadanya."

"Atau dia harus memutus perjanjian di tempat ritual itu di buat, dan dia sebaiknya tahu tata caranya."

"Om rasa memutuskan perjanjian adalah jalan yang terbaik untuknya, karena jika tidak, cepat atau lambat keturunannya akan menjadi korban. Ini seperti lingkaran setan yang tak mungkin terputus, kecuali mereka semua telah tidak ada lagi."

"Kalau begitu om, saya harus cepat cepat kembali ke Banyuwangi, teman teman saya di sana mungkin saja sedang dalam bahaya saat ini."

Om Bandi tidak lantas menjawab, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar kosong yang berada di dekat dapur. Pria itu lalu menarik sebuah peti besi, lalu mengambil sesuatu yang di bungkus dengan kain kuning.

"Aku tidak menyangka kalau akan menggunakan pusaka ini lagi, anak itu memang keras kepala, semoga keputusanku untuk mendukungnya kali ini tidak salah."

Om Bandi menghela nafas panjang lalu keluar dari kamar sembari menenteng dua benda di tangan kanannya.

"Ini adalah pusaka milik buyut kita, karena sekarang om Bandi adalah satu satunya anak laki di keluarga, maka om yang merawat pusaka ini sekarang. Dulu pakde mu yang menjaga pusaka buyut, tapi beliau sudah tiada, jadi om yang merawat benda ini sekarang, kelak kamu juga yang merawatnya."

Om Bandi lalu memberikan pusaka di tangannya kepada Angga sambil komat kamit membaca doa. Pria itu lalu membelai kepala Angga dan tersenyum.

"Semoga Allah menjaga mu, besok pagi kita ke stasiun, sebainya kamu istirahat lebih awal, om mau keluar cari udara segar kamu tunggu saja di rumah jangan pergi kemana mana."

Om Bandi lalu melangkah menuju ruang tamu, kemudian pergi keluar dan mengunci pintu dari luar. Meski tidak mengerti sikap om Bandi, tapi Angga tak ingin bertanya ataupun membantah. Ia memilih masuk ke kamar untuk berkemas.

"Pusaka leluhur, di zaman modern seperti sekarang, masih ada orang yang memelihara budaya. Semoga saja keputusanku tepat kali ini."

"Sesuai janji ku besok, aku akan kembali ke desa mu Her, semoga tidak terjadi sesuatu disana sampai kami berdua tiba."

Terpopuler

Comments

Aishnina(✿ ♥‿♥)

Aishnina(✿ ♥‿♥)

ceritanya menarik...

2024-07-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab I Cuti
2 Bab 2 Teror Dalam Kereta
3 Bab 3 Pertanda
4 Bab 4 Bagus
5 Bab 5 Romo
6 Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7 Bab 7 Wasiat Romo
8 Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9 Bab 9 Ritual Terakhir
10 Bab 10 Penasaran
11 Bab11 Loak buku
12 Bab 12 Sebuah Teka teki
13 Bab 13 Peringatan
14 Bab 14 Ganjil
15 Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16 Bab 16 Sebuah Firasat
17 Bab 17 Peta Desa Leluhur
18 Bab 18 Rahasia Romo
19 Bab 19 Ruang Rahasia
20 Bab 20 Terlambat
21 Bab 21 Merangkai Kenangan
22 Bab 22 Malam Genting
23 Bab 23 Hilang
24 Bab 24 Mengejar Herly
25 Bab 25 Menapak Kenangan
26 Bab 26 Ibu
27 Bab 27 Desa di Balik Kabut
28 Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29 Bab 29 Rumah Joglo
30 Bab 30 Firasat Yasmin
31 Bab 31 Hujan Darah
32 Bab 32 Tersesat
33 Bab 33 Petunjuk Kakak
34 Bab 34 Wanita yang Terbakar
35 Bab 35 Menit menit Penentuan
36 Bab 36 Balas Dendam Darsih
37 Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38 Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39 Bab 39 Pindah Alam
40 Bab 40 Kebaya Hitam
41 Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42 Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43 Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44 Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45 45 Segel Mati
46 Bab 46 Tangisan Yasmin
47 Bab 47 Keteguhan Hati
48 Bab 48 Gadis Misterius
49 Bab 49 Karyawan Baru
50 Bab 50 Namaku Ayunindya
51 Bab 51 Rumah Kosong
52 Bab 52 Lamaran Gaib
53 Bab 53 Jelang Pernikahan
54 Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55 Bab 55 Pernikahan beda Alam
56 Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57 Bab 57 Bersiasat
58 Bab 58 Rahasia Angga
59 Bab 59 Pria Misterius
60 Bab 60 Ruqyah
61 Bab 61 Mimpi Yasmin
62 Bab 62 Pesan dari Bagus
63 Bab 63 Mengejar Yasmin
64 Bab 64 Peringatan dari Herly
65 Bab 65 Janji Angga
66 Bab 66 Tapa Hening
67 Bab 67 Rahasia Angga
68 Bab 68 Bayangan Misterius
69 Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70 Bab 70 Memburu Bagus
71 Bab 71 Memori yang Hilang
72 Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73 Bab 73 Kemunculan Herly
74 Bab 74 Perburuan
75 Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76 Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77 Bab 77 Sosok Penolong
78 Bab 78 Pertarungan Terakhir
79 Bab 79 Kekalahan
80 Bab 80 Kemenangan Sumpah
81 Bab 81 Babak Baru
82 Bab 82 Jodoh yang Hilang
83 Bab 83 Hati untuk Angga
84 Bab 84 Penampakan di Cermin
85 Bab 85 Dia Bukan Ayu
86 Bab 86 Kuntilanak Merah
87 Bab 87 Kamuflase
88 Bab 88 Serangan Fisik
89 Bab 89 Penjara Roh
90 Bab 90 Tabir Misteri
91 Bab 91 Labirin
92 Bab 92 Dasimah
93 Bab 93 Kematian Dasimah
94 Bab 94 Kabar Baik
95 Bab 95 Aji Malih Jiwo
96 Bab 96 Bayangan Hitam
97 Bab 97 Penumpang Gelap
98 Bab 98 Mahluk Bayangan
99 Bab 99 Jebakan
100 Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101 Bab 101 Gerbang Neraka
102 Bab 102. Nyekar
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab I Cuti
2
Bab 2 Teror Dalam Kereta
3
Bab 3 Pertanda
4
Bab 4 Bagus
5
Bab 5 Romo
6
Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7
Bab 7 Wasiat Romo
8
Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9
Bab 9 Ritual Terakhir
10
Bab 10 Penasaran
11
Bab11 Loak buku
12
Bab 12 Sebuah Teka teki
13
Bab 13 Peringatan
14
Bab 14 Ganjil
15
Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16
Bab 16 Sebuah Firasat
17
Bab 17 Peta Desa Leluhur
18
Bab 18 Rahasia Romo
19
Bab 19 Ruang Rahasia
20
Bab 20 Terlambat
21
Bab 21 Merangkai Kenangan
22
Bab 22 Malam Genting
23
Bab 23 Hilang
24
Bab 24 Mengejar Herly
25
Bab 25 Menapak Kenangan
26
Bab 26 Ibu
27
Bab 27 Desa di Balik Kabut
28
Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29
Bab 29 Rumah Joglo
30
Bab 30 Firasat Yasmin
31
Bab 31 Hujan Darah
32
Bab 32 Tersesat
33
Bab 33 Petunjuk Kakak
34
Bab 34 Wanita yang Terbakar
35
Bab 35 Menit menit Penentuan
36
Bab 36 Balas Dendam Darsih
37
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38
Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39
Bab 39 Pindah Alam
40
Bab 40 Kebaya Hitam
41
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44
Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45
45 Segel Mati
46
Bab 46 Tangisan Yasmin
47
Bab 47 Keteguhan Hati
48
Bab 48 Gadis Misterius
49
Bab 49 Karyawan Baru
50
Bab 50 Namaku Ayunindya
51
Bab 51 Rumah Kosong
52
Bab 52 Lamaran Gaib
53
Bab 53 Jelang Pernikahan
54
Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55
Bab 55 Pernikahan beda Alam
56
Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57
Bab 57 Bersiasat
58
Bab 58 Rahasia Angga
59
Bab 59 Pria Misterius
60
Bab 60 Ruqyah
61
Bab 61 Mimpi Yasmin
62
Bab 62 Pesan dari Bagus
63
Bab 63 Mengejar Yasmin
64
Bab 64 Peringatan dari Herly
65
Bab 65 Janji Angga
66
Bab 66 Tapa Hening
67
Bab 67 Rahasia Angga
68
Bab 68 Bayangan Misterius
69
Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70
Bab 70 Memburu Bagus
71
Bab 71 Memori yang Hilang
72
Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73
Bab 73 Kemunculan Herly
74
Bab 74 Perburuan
75
Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76
Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77
Bab 77 Sosok Penolong
78
Bab 78 Pertarungan Terakhir
79
Bab 79 Kekalahan
80
Bab 80 Kemenangan Sumpah
81
Bab 81 Babak Baru
82
Bab 82 Jodoh yang Hilang
83
Bab 83 Hati untuk Angga
84
Bab 84 Penampakan di Cermin
85
Bab 85 Dia Bukan Ayu
86
Bab 86 Kuntilanak Merah
87
Bab 87 Kamuflase
88
Bab 88 Serangan Fisik
89
Bab 89 Penjara Roh
90
Bab 90 Tabir Misteri
91
Bab 91 Labirin
92
Bab 92 Dasimah
93
Bab 93 Kematian Dasimah
94
Bab 94 Kabar Baik
95
Bab 95 Aji Malih Jiwo
96
Bab 96 Bayangan Hitam
97
Bab 97 Penumpang Gelap
98
Bab 98 Mahluk Bayangan
99
Bab 99 Jebakan
100
Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101
Bab 101 Gerbang Neraka
102
Bab 102. Nyekar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!