Petugas perpustakaan bernama Ema masih membaca buku, dan menterjemahkan isinya untuk Angga. Namun pemuda tampan itu tidak menyimak sama sekali apa yang di bacakan Ema untuknya.
Angga masih sibuk berkutat pada pikirannya sendiri, tapi om Bandi yang dari tadi hanya terlihat acuh tak acuh, diam diam fokus menyimak. Dia menggaris bawahi beberapa kalimat penting yang menurutnya merupakan kunci dari akar permasalahan yang sedang di hadapi oleh Angga.
Matahari semakin redup, om Bandi melihat jam tangannya. Jam menunjukkan pukul empat sore. Sudah waktunya perpustakaan tutup. Om Bandi meminta agar Angga tidak lagi membaca, dia mengajak pemuda itu untuk meninggalkan perpustakaan.
"Ngga sudah sore, sebaiknya kita pulang sekarang, perpustakaan ini akan tutup sebentar lagi, tentang masalah temanmu itu kita bahas lagi nanti di rumah."
"Mbak Ema terima kasih atas kerja samanya, untuk selanjutnya kami akan mendiskusikan isi buku ini di rumah."
Ema tersenyum kecil mendengar ucapan om Bandi, wanita ramah itu segera menutup buku, lalu berdiri sembari merapihkan beberapa buah buku yang tadi di baca Angga.
"Ah biar saya saja yang merapihkan buku bukunya mbak, saya masih ingat susunan dan letaknya."
Angga tersadar dari lamunan, dan dengan kikuk bergegas membantu Ema mengembalikan buku buku yang terserak di meja.
"Sudah tidak usah, biarkan saja pak, ini juga bagian dari tugas saya, jika masih butuh bantuan jangan segan segan datang berkunjung kemari, saya siap membantu sebisanya."
Angga tersenyum sungkan sambil menggaruk keningnya, dia merasa tidak enak hati karena telah berlaku tidak etis kepada orang yang telah dengan sukarela memberikan bantuan padanya.
"Sekali lagi terima kasih mbak Ema, tanpa bantuan anda, mungkin hari ini pencarian kami masih nol, belum akan menemukan jawaban apapun. Dengan bantuan anda, kami jadi punya sedikit titik terang perihal teka teki di balik misteri mistik yang coba saya pecahkan."
"Lain kali saya pasti akan datang berkunjung lagi kemari, semoga saat itu, saya hanya berkunjung tanpa membawa masalah baru. Jadi tolong maafkan sikap kami tadi ya mbak."
"Tidak apa apa pak, saya mengerti, kapanpun datang lagi kemari, jujur saja kami senang sekali menerima kunjungan anda, karena di zaman modern seperti sekarang ini, masih ada orang orang seperti anda yang perduli dengan sejarah dan budaya bangsa."
Angga dan om Bandi tersenyum simpul sembari menangkupkan kedua telapak tangan mereka di depan dada, kemudian keduanya berpamitan.
Mereka segera pergi meninggalkan perpustakaan di kawal oleh seorang security yang mengantar sampai teras perpustakaan.
Om Bandi tersenyum kepada security, dan sebentar kemudian motor lawasnya berlalu dari pergi meninggalkan halaman parkir perpustakaan daerah.
Di perjalanan pulang Angga masih berpikir apakah dia akan mencoba untuk membujuk Herly agar tidak melakukan ritual, atau memutuskan untuk pergi bersama Herly ke desa leluhurnya, dan kemudian mereka akan membatalkan semua perjanjian darah yang mengikat Herly sebagai pewaris terah leluhur.
"Kalau kamu memang tetap ingin membantu temanmu itu, om Bandi tidak akan mencegah kamu lagi. Tapi om Bandi ikut dengan kamu. Kita berdua akan bantu dia."
"Ingat semuanya punya resiko dan masalah ini bukan perkara mudah, sekali melangkah masuk, kamu tidak bisa keluar lagi."
Angga terkejut, dia tidak percaya kalau om Bandi akan mendukung tekadnya. Dengan semangat baru yang menggebu gebu, Angga ingin segera memecahkan teka teki di balik riwayat hitam sejarah leluhur Herly.
"Terima kasih om, saya janji akan berhati hati dalam masalah ini, om Bandi tidak usah khawatir."
"Jangan terlalu semangat, kita tidak tahu seperti apa masalah temanmu itu Ngga, jujur om agak khawatir, tapi mau bilang apa lagi, kamu tidak mau mendengarkan nasehat om, jadi terpaksa om akan ikut dengan kamu ke Banyuwangi."
Angga terdiam, dalam hati ia ingin memekik sekencang kencangnya, tapi ia tak ingin terlihat konyol di hadapan om Bandi.
"Terima kasih om, saya tidak tahu harus bicara apa, dari semuanya om Bandi yang terbaik."
Jam empat sore saat mereka tiba di rumah, sambil makan mereka mulai mendiskusikan tentang apa itu yang di sebut perjanjian darah, bagaimana ritualnya bekerja, dan yang terpenting bagi mereka bagaimana memutus perjanjian darah yang telah berlaku semenjak nenek moyang Herly.
"Dari beberapa penjelasan Ema tadi, om Bandi sempat menyimak empat kalimat penting yang harus teman mu lakukan Ngga."
"Pertama dia harus cari orang yang memiliki weton sama dengan Herly yang mampu menundukkan ingon yang telah lama mengikuti mereka."
"Kedua ritual pengalihan perjanjian pelepasan harus dilakukan tepat sebelum perjanjian tumbal, atau dia sendiri yang akan menjadi tumbal ingon berikutnya."
"Tentu ini akan sangat berbahaya, untuk teman mu, dia atau anaknya akan tersandra hingga mati. Tubuh Herly akan di gerogoti sampai habis dan kemudian, istrinya, berlanjut ke anak anak, sampai pewaris mereka benar benar habis."
Mendengar penuturan om Bandi, Angga bergidik ngeri, dia jadi ingat kondisi romo yang tampak sangat menderita, tubuhnya kurus kering, lemah, kantung mata cekung, dan kulit yang membiru. Angga berfikir kalau saat itu romo telah membuat keputusan menumbalkan dirinya sendiri demi menyelamatkan Herly dari kutukan yang diwariskan oleh leluhur mereka.
"Aku faham sekarang kenapa romo menyuruh Herly mengundang kami, kenapa dia ingin agar Herly punya teman, alasannya mungkin sangat sederhana, dia ingin kami menjaga putranya, atau bahkan lebih dari itu mungkin juga ada salah seorang dari kami yang bisa meneruskan ritual seperti dalam surat wasiat."
"Tapi apa itu mungkin, apa ini salah satu skenario yang di susun oleh romo?"
"Atau Herly memang sudah tahu, dan terlibat, jika pikiranku benar, maka Ryo, Jaka, dan Bagus dalam bahaya. Bila salah satu dari mereka punya weton yang sama dengan Herly bukan tidak mungkin dia akan menumbalkan satu diantaranya."
Angga terus berkutat pada pikiran sendiri, ada kekhawatiran dalam dirinya. Berbagai spekulasi berputar di otak Angga, dia menduga ada yang tak beres dengan diri Herly dan itu membuatnya jadi semakin tegang, di tambah lagi orang orang misterius yang di lihatnya saat dia pergi meninggalkan desa. Angga semakin curiga kalau kemunculan mereka bukan sebuah kebetulan.
Angga jadi gelisah dan ingin segera kembali ke desa Herly untuk cari tahu kebenaran di balik isi surat wasiat yang di tinggalkan oleh sang romo.
"Hey... Angga... kok kamu malah melamun, mau tahu catatan ke tiga enggak?"
" Oh... Iya... ya... om apa yang ke tiga om, teruskan saja saja, saya masih menyimaknya."
Om Bandi merasa keponakannya sudah sangat serius dalam kasus Herly, dan dia berpikir tidak bisa lagi membujuk Angga dengan tekad bulatnya.
"Yang ke tiga, dia harus mencari orang yang bisa mengulur waktu, tapi ini juga tidak bisa berlangsung lama. Teman mu harus cepat cari penerus, atau dia melakukan ritual dan melanjutkan perjanjian sesat yang diwariskan kepadanya."
"Atau dia harus memutus perjanjian di tempat ritual itu di buat, dan dia sebaiknya tahu tata caranya."
"Om rasa memutuskan perjanjian adalah jalan yang terbaik untuknya, karena jika tidak, cepat atau lambat keturunannya akan menjadi korban. Ini seperti lingkaran setan yang tak mungkin terputus, kecuali mereka semua telah tidak ada lagi."
"Kalau begitu om, saya harus cepat cepat kembali ke Banyuwangi, teman teman saya di sana mungkin saja sedang dalam bahaya saat ini."
Om Bandi tidak lantas menjawab, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar kosong yang berada di dekat dapur. Pria itu lalu menarik sebuah peti besi, lalu mengambil sesuatu yang di bungkus dengan kain kuning.
"Aku tidak menyangka kalau akan menggunakan pusaka ini lagi, anak itu memang keras kepala, semoga keputusanku untuk mendukungnya kali ini tidak salah."
Om Bandi menghela nafas panjang lalu keluar dari kamar sembari menenteng dua benda di tangan kanannya.
"Ini adalah pusaka milik buyut kita, karena sekarang om Bandi adalah satu satunya anak laki di keluarga, maka om yang merawat pusaka ini sekarang. Dulu pakde mu yang menjaga pusaka buyut, tapi beliau sudah tiada, jadi om yang merawat benda ini sekarang, kelak kamu juga yang merawatnya."
Om Bandi lalu memberikan pusaka di tangannya kepada Angga sambil komat kamit membaca doa. Pria itu lalu membelai kepala Angga dan tersenyum.
"Semoga Allah menjaga mu, besok pagi kita ke stasiun, sebainya kamu istirahat lebih awal, om mau keluar cari udara segar kamu tunggu saja di rumah jangan pergi kemana mana."
Om Bandi lalu melangkah menuju ruang tamu, kemudian pergi keluar dan mengunci pintu dari luar. Meski tidak mengerti sikap om Bandi, tapi Angga tak ingin bertanya ataupun membantah. Ia memilih masuk ke kamar untuk berkemas.
"Pusaka leluhur, di zaman modern seperti sekarang, masih ada orang yang memelihara budaya. Semoga saja keputusanku tepat kali ini."
"Sesuai janji ku besok, aku akan kembali ke desa mu Her, semoga tidak terjadi sesuatu disana sampai kami berdua tiba."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Aishnina(✿ ♥‿♥)
ceritanya menarik...
2024-07-07
0