Pagi pagi sekali om Bandi sudah bangun, usai sholat, pria itu segera berkemas, dan memasak makanan untuk bekal mereka. Angga yang baru saja bangun, buru buru pergi ke dapur untuk membantu, namun om Bandi menolak dan menyuruh keponakannya itu untuk segera mandi, agar mereka bisa sampai di stasiun lebih awal.
"Kamu mandi duluan saja Ngga, biar urusan ini om tangani sendiri, kita harus pergi ke stasiun lebih awal, om merasa ada yang kurang baik bakal terjadi."
"Apapun nanti keadaanya om Bandi berdoa, semoga kita bisa tiba di desa teman mu lebih cepat, paling tidak sebelum waktu surup."
"Entah mengapa hawa pagi ini terasa terlalu dingin, sangat tenang, tapi malah membuat hati om jadi gundah."
"Sudah lama selali, sejak terakhir om merasakan suasana seperti saat ini."
"Firasat om mengatakan akan ada banyak gangguan dalam perjalanan kita, tapi om pesankan, kamu tidak usah menghiraukan gangguan itu, fokus saja pada tujuan mu."
Angga diam, dia tidak menanggapi ucapan om Bandi. Dalam benaknya, pemuda itu sedang berfikir keras, ia membatin dalam hati, ada perasaan khawatir yang menggelayuti ruang kalbunya.
"Desa itu memang indah, warganya ramah, namun entah mengapa aku merasa terlalu banyak misteri yang menyelimutinya."
"Jika benar nenek moyang Herly melakukan ritual pesugihan dengan perjanjian darah seperti di buku itu, maka keselamatan mereka saat ini sedang dipertaruhkan."
"Oh.. Tuhan, semoga kalian semua baik baik saja teman teman."
Angga menarik nafas dalam dalam, nafasnya begitu berat, dadanya terasa sesak, ia masih tertekun di ruang tamu, saat tiba tiba tangan om Bandi terasa meraih lengannya dengan sedikit kasar, dan setengah menyeret pemuda itu untuk segera keluar dari rumah.
"Ayo Ngga, cepat masuk ke mobil, taxinya sudah menunggu kita dari tadi lho!"
"Kamu ini kenapa Ngga, dari tadi om perhatikan kamu melamun saja, seperti orang linglung, apa yang sedang kamu cemaskan?"
"Saya memikirkan buku itu om, ada banyak simbol, pemujaan, gambar iblis, dan penyiksaan. Saya khawatir ritual kuno itu benar benar ada, dan leluhur Herly memang melakukan perjanjian itu."
"Jika perkiraan saya benar, romo sengaja menumbalkan diri sendiri untuk memutuskan kontrak darah dengan iblis, dan belum tuntas sekarang, maka artinya keluarga Herly, Ryo, Jaka, dan Bagus, mereka semua dalam bahaya om."
"Waktu untuk membuat keputusan jatuh tepat pada hari ini, dan artinya Herly harus segera memberikan jawaban, apakah dia akan bersedia menerima, atau menolak isi wasiat dengan segala resiko yang melekat kepadanya sebagai pewaris terah keluarga mereka."
"Saat ini istri Herly sedang hamil, saya khawatir orang orang itu akan melakukan sesuatu yang buruk kepada mereka, terutama sekali pada calon bayinya."
Ucapan Angga membuat om Bandi jadi tegang, dia tahu persis tentang ritual darah. Mereka membuat perjanjian dengan jin dari golongan iblis yang secara strata sosialnya, mereka berasal dari kafilah tinggi, dan berusia ribuan tahun.
Perjanjian yang tidak biasa, butuh beberapa ritual, dan korban tumbal. Tidak sembarang orang mampu memenuhi persyaratan. Hanya ada sedikit orang dengan hati keras, yang berhasil melakukannya.
"Sial, kenapa anak ini harus masuk dalam lingkaran setan seperti ini. Kalau terjadi sesuatu kepada kami, aku harus bilang apa pada orang tuanya?"
Om Bandi menggerutu sendiri dalam hati, sementara taxi online yang membawa mereka, telah sampai di halaman parkir stasiun.
Mereka bergegas turun dan masuk ke ruang tunggu penumpang, tidak seperti hari hari biasanya, suasana di dalam stasiun cendrung lengang, hanya ada sedikit, penumpang yang berlalu lalang petugas stasiun, dan tenaga kebersihan yang masih sibuk membersihkan ruang tunggu.
"Ini perasaan ku saja, atau memang ada yang ganjil dengan stasiun ini, kenapa suasananya jadi aneh dan dingin begini?"
"Orang orang disana juga, seolah olah mereka tidak memiliki jiwa, masing masing beraktifitas normal, tapi tampak kaku seperti tak punya gairah menjalani hidup sama sekali, ada apa dengan mereka?"
"Apa sebenarnya yang terjadi pada ku hari ini, aku yang aneh atau mereka, kenapa semuanya mendadak jadi terasa di luar nalar bagi ku?"
Angga merasa heran, dia sadar ada yang ganjil pada dirinya. Matanya terus mengawasi aktifitas orang orang di sekitar, yang menurutnya waktu berjalan lebih lambat, sampai matanya tertuju pada sosok di sebrang rel kereta.
"Wanita berkebaya hitam itu lagi, dia manusia atau bukan, jangan jangan kami berada di dimensi yang berbeda saat ini?"
"Angga... Ngga... Hey, ayo naik ke gerbong, keretanya, akan berangkat lima menit lagi."
Suara om Bandi mengejutkan Angga, dan wanita berkebaya hitam yang di lihatnya di seberang rel telah menghilang, suasana stasiun kembali normal dalam pandangan Angga.
"Berengsek, ada apa dengan kepala ku, yang tadi itu hanya halusinasi, atau mahluk mahluk penghuni di stasiun ini memang mengacaukan logika ku?"
Angga menggerutu lirih sambil memukul dahinya, ia bergegas lari mengikuti om Bandi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kereta.
Sesuai jadwal kereta berangkat tepat waktu, Angga duduk dengan gelisah, fenomena ganjil yang baru saja terjadi masih menghantui pikirannya.
"Aku melihat wanita itu sudah dua kali ini, siapa dia sebenarnya, ada apa dengan pengelihatan ku?"
"Aku rasa kesehatan mental ku baik baik saja, yang tadi itu nyata, bukan sekedar ilusi. Aku yakin wanita itu ada disana menatapku tajam, apa sebenarnya semua ini?"
Om Bandi memperhatikan sikap Angga yang sejak pagi ini agak aneh menurutnya. Dia tahu persis keponakannya itu sedang gelisah, namun dia tak ingin membahasnya sekarang, karena tersugesti bisa saja mempengaruhi penilaian orang dan mengurangi obyektifitasnya.
"Kita sarapan dulu Ngga, soal teman mu, tidak usah terlalu di fikirkan, kita dalam perjalanan untuk membantunya, jadi kamu harusnya lebih tenang."
Angga tersenyum getir, bayangan wanita tua berkebaya hitam masih tak bisa hilang dari kepalanya. Tapi meski demikian, dia tetap mencoba untuk tenang dan menghabiskan roti isi yang di sodorkan om Bandi.
"Kereta akan berhenti di stasiun kecil, apa kamu butuh sesuatu Ngga?"
"Tidak om, saya tidak butuh apa apa lagi, mungkin lebih baik saya tidur saja, biar perjalanan ini tidak terasa melelahkan."
Habis menegak air di botol mineral, Angga meminta izin kepada om Bandi untuk tidur, rasa kantuk yang tiba tiba datang, membuatnya tak sabar bersandar di dinding kaca kereta, dan sebentar kemudian, dia terlelap dengan mudah.
Sementara itu om Bandi membuka tas ranselnya, lalu mengambil buku tua yang di beli Angga di kios loak, perlahan dia memahami isi tulisan sansekerta yang sebagian seperti sebuah mantra dalam bahasa jawa kuno yang sudah nyaris punah.
"Buku ini sangat berbahaya, orang orang serakah yang mengejar olah kanuragan, dan kekayaan bisa terjebak, mereka bisa menyalah gunakan buku kuno ini untuk tujuan sesat."
"Ritual ritual menjijikkan, apa benar ada orang yang sanggup berbuat keji seperti ini?"
"Memakan janin keturunannya sendiri, ini sungguh tidak masuk di akal, hanya orang yang tidak waras yang sanggup berbuat begini."
"Bagaimana menghentikan semua ini, apa dengan membalik mantra semua masalah akan selesai, aku rasa tak semudah itu, iblis tak akan melepaskan pengikutnya dengan mudah."
"Ya Tuhan lindungi kami, anak itu cuma ingin berbuat baik untuk membantu temannya, berikan dia kemudahan."
Kereta sudah berhenti di stasiun bayangan, sementara om Bandi masih sibuk meneliti isi buku, dan mencari jalan keluar untuk membebaskan Herly dari kutukan yang sudah turun temurun melekat pada terah keluarga mereka.
"Jika saja Angga tahu, kalau satu satunya jalan melepas perjanjian, hanya bisa di lakukan di tempat asal usul perjanjian, dan mengurungnya disana, dia pasti akan kecewa, tapi aku tak mungkin mengatakan ini kepadanya."
"Apa boleh buat, aku harus mencari petunjuk lebih dalam, mungkin ada alternatif yang lebih baik, agar tidak mengorbankan siapapun."
Om bandi menatap lekat wajah Angga, lalu memejamkan matanya, dan duduk bersila dengan sikap sempurna. Deru mesin lokomotif kereta yang mulai berjalan, tak lagi terdengar di telinganya.
Om Bandi berada dalam puncak hening yang membawanya ke era lampau di dimensi yang berbeda. Pria itu terus masuk lebih dalam ke alam leluhur sampai kesadarannya benar benar hilang.
Sementara itu kereta tetap melaju kencang, para penumpang yang baru saja naik di stasiun kecil, riuh dengan percakapan diantara mereka, kecuali Angga dan om Bandi, masing masing terhanyut dalam hening di dunianya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ree Prasetya
seruuu n deh degan...
2025-01-13
0
Aishnina(✿ ♥‿♥)
novel se keren ini
tp sepi yg like
aku jg baru nemu sih heheh
2024-07-07
0
Niswah
seruuuuu
2024-01-30
1