Bab 14 Ganjil

Pagi pagi sekali om Bandi sudah bangun, usai sholat, pria itu segera berkemas, dan memasak makanan untuk bekal mereka. Angga yang baru saja bangun, buru buru pergi ke dapur untuk membantu, namun om Bandi menolak dan menyuruh keponakannya itu untuk segera mandi, agar mereka bisa sampai di stasiun lebih awal.

"Kamu mandi duluan saja Ngga, biar urusan ini om tangani sendiri, kita harus pergi ke stasiun lebih awal, om merasa ada yang kurang baik bakal terjadi."

"Apapun nanti keadaanya om Bandi berdoa, semoga kita bisa tiba di desa teman mu lebih cepat, paling tidak sebelum waktu surup."

"Entah mengapa hawa pagi ini terasa terlalu dingin, sangat tenang, tapi malah membuat hati om jadi gundah."

"Sudah lama selali, sejak terakhir om merasakan suasana seperti saat ini."

"Firasat om mengatakan akan ada banyak gangguan dalam perjalanan kita, tapi om pesankan, kamu tidak usah menghiraukan gangguan itu, fokus saja pada tujuan mu."

Angga diam, dia tidak menanggapi ucapan om Bandi. Dalam benaknya, pemuda itu sedang berfikir keras, ia membatin dalam hati, ada perasaan khawatir yang menggelayuti ruang kalbunya.

"Desa itu memang indah, warganya ramah, namun entah mengapa aku merasa terlalu banyak misteri yang menyelimutinya."

"Jika benar nenek moyang Herly melakukan ritual pesugihan dengan perjanjian darah seperti di buku itu, maka keselamatan mereka saat ini sedang dipertaruhkan."

"Oh.. Tuhan, semoga kalian semua baik baik saja teman teman."

Angga menarik nafas dalam dalam, nafasnya begitu berat, dadanya terasa sesak, ia masih tertekun di ruang tamu, saat tiba tiba tangan om Bandi terasa meraih lengannya dengan sedikit kasar, dan setengah menyeret pemuda itu untuk segera keluar dari rumah.

"Ayo Ngga, cepat masuk ke mobil, taxinya sudah menunggu kita dari tadi lho!"

"Kamu ini kenapa Ngga, dari tadi om perhatikan kamu melamun saja, seperti orang linglung, apa yang sedang kamu cemaskan?"

"Saya memikirkan buku itu om, ada banyak simbol, pemujaan, gambar iblis, dan penyiksaan. Saya khawatir ritual kuno itu benar benar ada, dan leluhur Herly memang melakukan perjanjian itu."

"Jika perkiraan saya benar, romo sengaja menumbalkan diri sendiri untuk memutuskan kontrak darah dengan iblis, dan belum tuntas sekarang, maka artinya keluarga Herly, Ryo, Jaka, dan Bagus, mereka semua dalam bahaya om."

"Waktu untuk membuat keputusan jatuh tepat pada hari ini, dan artinya Herly harus segera memberikan jawaban, apakah dia akan bersedia menerima, atau menolak isi wasiat dengan segala resiko yang melekat kepadanya sebagai pewaris terah keluarga mereka."

"Saat ini istri Herly sedang hamil, saya khawatir orang orang itu akan melakukan sesuatu yang buruk kepada mereka, terutama sekali pada calon bayinya."

Ucapan Angga membuat om Bandi jadi tegang, dia tahu persis tentang ritual darah. Mereka membuat perjanjian dengan jin dari golongan iblis yang secara strata sosialnya, mereka berasal dari kafilah tinggi, dan berusia ribuan tahun.

Perjanjian yang tidak biasa, butuh beberapa ritual, dan korban tumbal. Tidak sembarang orang mampu memenuhi persyaratan. Hanya ada sedikit orang dengan hati keras, yang berhasil melakukannya.

"Sial, kenapa anak ini harus masuk dalam lingkaran setan seperti ini. Kalau terjadi sesuatu kepada kami, aku harus bilang apa pada orang tuanya?"

Om Bandi menggerutu sendiri dalam hati, sementara taxi online yang membawa mereka, telah sampai di halaman parkir stasiun.

Mereka bergegas turun dan masuk ke ruang tunggu penumpang, tidak seperti hari hari biasanya, suasana di dalam stasiun cendrung lengang, hanya ada sedikit, penumpang yang berlalu lalang petugas stasiun, dan tenaga kebersihan yang masih sibuk membersihkan ruang tunggu.

"Ini perasaan ku saja, atau memang ada yang ganjil dengan stasiun ini, kenapa suasananya jadi aneh dan dingin begini?"

"Orang orang disana juga, seolah olah mereka tidak memiliki jiwa, masing masing beraktifitas normal, tapi tampak kaku seperti tak punya gairah menjalani hidup sama sekali, ada apa dengan mereka?"

"Apa sebenarnya yang terjadi pada ku hari ini, aku yang aneh atau mereka, kenapa semuanya mendadak jadi terasa di luar nalar bagi ku?"

Angga merasa heran, dia sadar ada yang ganjil pada dirinya. Matanya terus mengawasi aktifitas orang orang di sekitar, yang menurutnya waktu berjalan lebih lambat, sampai matanya tertuju pada sosok di sebrang rel kereta.

"Wanita berkebaya hitam itu lagi, dia manusia atau bukan, jangan jangan kami berada di dimensi yang berbeda saat ini?"

"Angga... Ngga... Hey, ayo naik ke gerbong, keretanya, akan berangkat lima menit lagi."

Suara om Bandi mengejutkan Angga, dan wanita berkebaya hitam yang di lihatnya di seberang rel telah menghilang, suasana stasiun kembali normal dalam pandangan Angga.

"Berengsek, ada apa dengan kepala ku, yang tadi itu hanya halusinasi, atau mahluk mahluk penghuni di stasiun ini memang mengacaukan logika ku?"

Angga menggerutu lirih sambil memukul dahinya, ia bergegas lari mengikuti om Bandi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kereta.

Sesuai jadwal kereta berangkat tepat waktu, Angga duduk dengan gelisah, fenomena ganjil yang baru saja terjadi masih menghantui pikirannya.

"Aku melihat wanita itu sudah dua kali ini, siapa dia sebenarnya, ada apa dengan pengelihatan ku?"

"Aku rasa kesehatan mental ku baik baik saja, yang tadi itu nyata, bukan sekedar ilusi. Aku yakin wanita itu ada disana menatapku tajam, apa sebenarnya semua ini?"

Om Bandi memperhatikan sikap Angga yang sejak pagi ini agak aneh menurutnya. Dia tahu persis keponakannya itu sedang gelisah, namun dia tak ingin membahasnya sekarang, karena tersugesti bisa saja mempengaruhi penilaian orang dan mengurangi obyektifitasnya.

"Kita sarapan dulu Ngga, soal teman mu, tidak usah terlalu di fikirkan, kita dalam perjalanan untuk membantunya, jadi kamu harusnya lebih tenang."

Angga tersenyum getir, bayangan wanita tua berkebaya hitam masih tak bisa hilang dari kepalanya. Tapi meski demikian, dia tetap mencoba untuk tenang dan menghabiskan roti isi yang di sodorkan om Bandi.

"Kereta akan berhenti di stasiun kecil, apa kamu butuh sesuatu Ngga?"

"Tidak om, saya tidak butuh apa apa lagi, mungkin lebih baik saya tidur saja, biar perjalanan ini tidak terasa melelahkan."

Habis menegak air di botol mineral, Angga meminta izin kepada om Bandi untuk tidur, rasa kantuk yang tiba tiba datang, membuatnya tak sabar bersandar di dinding kaca kereta, dan sebentar kemudian, dia terlelap dengan mudah.

Sementara itu om Bandi membuka tas ranselnya, lalu mengambil buku tua yang di beli Angga di kios loak, perlahan dia memahami isi tulisan sansekerta yang sebagian seperti sebuah mantra dalam bahasa jawa kuno yang sudah nyaris punah.

"Buku ini sangat berbahaya, orang orang serakah yang mengejar olah kanuragan, dan kekayaan bisa terjebak, mereka bisa menyalah gunakan buku kuno ini untuk tujuan sesat."

"Ritual ritual menjijikkan, apa benar ada orang yang sanggup berbuat keji seperti ini?"

"Memakan janin keturunannya sendiri, ini sungguh tidak masuk di akal, hanya orang yang tidak waras yang sanggup berbuat begini."

"Bagaimana menghentikan semua ini, apa dengan membalik mantra semua masalah akan selesai, aku rasa tak semudah itu, iblis tak akan melepaskan pengikutnya dengan mudah."

"Ya Tuhan lindungi kami, anak itu cuma ingin berbuat baik untuk membantu temannya, berikan dia kemudahan."

Kereta sudah berhenti di stasiun bayangan, sementara om Bandi masih sibuk meneliti isi buku, dan mencari jalan keluar untuk membebaskan Herly dari kutukan yang sudah turun temurun melekat pada terah keluarga mereka.

"Jika saja Angga tahu, kalau satu satunya jalan melepas perjanjian, hanya bisa di lakukan di tempat asal usul perjanjian, dan mengurungnya disana, dia pasti akan kecewa, tapi aku tak mungkin mengatakan ini kepadanya."

"Apa boleh buat, aku harus mencari petunjuk lebih dalam, mungkin ada alternatif yang lebih baik, agar tidak mengorbankan siapapun."

Om bandi menatap lekat wajah Angga, lalu memejamkan matanya, dan duduk bersila dengan sikap sempurna. Deru mesin lokomotif kereta yang mulai berjalan, tak lagi terdengar di telinganya.

Om Bandi berada dalam puncak hening yang membawanya ke era lampau di dimensi yang berbeda. Pria itu terus masuk lebih dalam ke alam leluhur sampai kesadarannya benar benar hilang.

Sementara itu kereta tetap melaju kencang, para penumpang yang baru saja naik di stasiun kecil, riuh dengan percakapan diantara mereka, kecuali Angga dan om Bandi, masing masing terhanyut dalam hening di dunianya sendiri.

Terpopuler

Comments

Ree Prasetya

Ree Prasetya

seruuu n deh degan...

2025-01-13

0

Aishnina(✿ ♥‿♥)

Aishnina(✿ ♥‿♥)

novel se keren ini
tp sepi yg like
aku jg baru nemu sih heheh

2024-07-07

0

Niswah

Niswah

seruuuuu

2024-01-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab I Cuti
2 Bab 2 Teror Dalam Kereta
3 Bab 3 Pertanda
4 Bab 4 Bagus
5 Bab 5 Romo
6 Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7 Bab 7 Wasiat Romo
8 Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9 Bab 9 Ritual Terakhir
10 Bab 10 Penasaran
11 Bab11 Loak buku
12 Bab 12 Sebuah Teka teki
13 Bab 13 Peringatan
14 Bab 14 Ganjil
15 Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16 Bab 16 Sebuah Firasat
17 Bab 17 Peta Desa Leluhur
18 Bab 18 Rahasia Romo
19 Bab 19 Ruang Rahasia
20 Bab 20 Terlambat
21 Bab 21 Merangkai Kenangan
22 Bab 22 Malam Genting
23 Bab 23 Hilang
24 Bab 24 Mengejar Herly
25 Bab 25 Menapak Kenangan
26 Bab 26 Ibu
27 Bab 27 Desa di Balik Kabut
28 Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29 Bab 29 Rumah Joglo
30 Bab 30 Firasat Yasmin
31 Bab 31 Hujan Darah
32 Bab 32 Tersesat
33 Bab 33 Petunjuk Kakak
34 Bab 34 Wanita yang Terbakar
35 Bab 35 Menit menit Penentuan
36 Bab 36 Balas Dendam Darsih
37 Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38 Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39 Bab 39 Pindah Alam
40 Bab 40 Kebaya Hitam
41 Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42 Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43 Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44 Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45 45 Segel Mati
46 Bab 46 Tangisan Yasmin
47 Bab 47 Keteguhan Hati
48 Bab 48 Gadis Misterius
49 Bab 49 Karyawan Baru
50 Bab 50 Namaku Ayunindya
51 Bab 51 Rumah Kosong
52 Bab 52 Lamaran Gaib
53 Bab 53 Jelang Pernikahan
54 Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55 Bab 55 Pernikahan beda Alam
56 Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57 Bab 57 Bersiasat
58 Bab 58 Rahasia Angga
59 Bab 59 Pria Misterius
60 Bab 60 Ruqyah
61 Bab 61 Mimpi Yasmin
62 Bab 62 Pesan dari Bagus
63 Bab 63 Mengejar Yasmin
64 Bab 64 Peringatan dari Herly
65 Bab 65 Janji Angga
66 Bab 66 Tapa Hening
67 Bab 67 Rahasia Angga
68 Bab 68 Bayangan Misterius
69 Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70 Bab 70 Memburu Bagus
71 Bab 71 Memori yang Hilang
72 Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73 Bab 73 Kemunculan Herly
74 Bab 74 Perburuan
75 Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76 Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77 Bab 77 Sosok Penolong
78 Bab 78 Pertarungan Terakhir
79 Bab 79 Kekalahan
80 Bab 80 Kemenangan Sumpah
81 Bab 81 Babak Baru
82 Bab 82 Jodoh yang Hilang
83 Bab 83 Hati untuk Angga
84 Bab 84 Penampakan di Cermin
85 Bab 85 Dia Bukan Ayu
86 Bab 86 Kuntilanak Merah
87 Bab 87 Kamuflase
88 Bab 88 Serangan Fisik
89 Bab 89 Penjara Roh
90 Bab 90 Tabir Misteri
91 Bab 91 Labirin
92 Bab 92 Dasimah
93 Bab 93 Kematian Dasimah
94 Bab 94 Kabar Baik
95 Bab 95 Aji Malih Jiwo
96 Bab 96 Bayangan Hitam
97 Bab 97 Penumpang Gelap
98 Bab 98 Mahluk Bayangan
99 Bab 99 Jebakan
100 Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101 Bab 101 Gerbang Neraka
102 Bab 102. Nyekar
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab I Cuti
2
Bab 2 Teror Dalam Kereta
3
Bab 3 Pertanda
4
Bab 4 Bagus
5
Bab 5 Romo
6
Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7
Bab 7 Wasiat Romo
8
Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9
Bab 9 Ritual Terakhir
10
Bab 10 Penasaran
11
Bab11 Loak buku
12
Bab 12 Sebuah Teka teki
13
Bab 13 Peringatan
14
Bab 14 Ganjil
15
Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16
Bab 16 Sebuah Firasat
17
Bab 17 Peta Desa Leluhur
18
Bab 18 Rahasia Romo
19
Bab 19 Ruang Rahasia
20
Bab 20 Terlambat
21
Bab 21 Merangkai Kenangan
22
Bab 22 Malam Genting
23
Bab 23 Hilang
24
Bab 24 Mengejar Herly
25
Bab 25 Menapak Kenangan
26
Bab 26 Ibu
27
Bab 27 Desa di Balik Kabut
28
Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29
Bab 29 Rumah Joglo
30
Bab 30 Firasat Yasmin
31
Bab 31 Hujan Darah
32
Bab 32 Tersesat
33
Bab 33 Petunjuk Kakak
34
Bab 34 Wanita yang Terbakar
35
Bab 35 Menit menit Penentuan
36
Bab 36 Balas Dendam Darsih
37
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38
Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39
Bab 39 Pindah Alam
40
Bab 40 Kebaya Hitam
41
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44
Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45
45 Segel Mati
46
Bab 46 Tangisan Yasmin
47
Bab 47 Keteguhan Hati
48
Bab 48 Gadis Misterius
49
Bab 49 Karyawan Baru
50
Bab 50 Namaku Ayunindya
51
Bab 51 Rumah Kosong
52
Bab 52 Lamaran Gaib
53
Bab 53 Jelang Pernikahan
54
Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55
Bab 55 Pernikahan beda Alam
56
Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57
Bab 57 Bersiasat
58
Bab 58 Rahasia Angga
59
Bab 59 Pria Misterius
60
Bab 60 Ruqyah
61
Bab 61 Mimpi Yasmin
62
Bab 62 Pesan dari Bagus
63
Bab 63 Mengejar Yasmin
64
Bab 64 Peringatan dari Herly
65
Bab 65 Janji Angga
66
Bab 66 Tapa Hening
67
Bab 67 Rahasia Angga
68
Bab 68 Bayangan Misterius
69
Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70
Bab 70 Memburu Bagus
71
Bab 71 Memori yang Hilang
72
Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73
Bab 73 Kemunculan Herly
74
Bab 74 Perburuan
75
Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76
Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77
Bab 77 Sosok Penolong
78
Bab 78 Pertarungan Terakhir
79
Bab 79 Kekalahan
80
Bab 80 Kemenangan Sumpah
81
Bab 81 Babak Baru
82
Bab 82 Jodoh yang Hilang
83
Bab 83 Hati untuk Angga
84
Bab 84 Penampakan di Cermin
85
Bab 85 Dia Bukan Ayu
86
Bab 86 Kuntilanak Merah
87
Bab 87 Kamuflase
88
Bab 88 Serangan Fisik
89
Bab 89 Penjara Roh
90
Bab 90 Tabir Misteri
91
Bab 91 Labirin
92
Bab 92 Dasimah
93
Bab 93 Kematian Dasimah
94
Bab 94 Kabar Baik
95
Bab 95 Aji Malih Jiwo
96
Bab 96 Bayangan Hitam
97
Bab 97 Penumpang Gelap
98
Bab 98 Mahluk Bayangan
99
Bab 99 Jebakan
100
Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101
Bab 101 Gerbang Neraka
102
Bab 102. Nyekar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!