Bagus terus berjalan menelusuri halaman belakang, seperti ada satu kekuatan yang mendorong pemuda itu untuk pergi, masuk lebih dalam ke area perkebunan.
"Ada apa di belakang bangunan ini kenapa aku selalu ingin masuk ke perkebunan itu?"
Semakin penasaran Bagus terus mengikuti perasaannya. Tanpa di sadari sosok bayangan hitam ada di balik rimbun pohon mengawasi langkahnya.
Semakin jauh masuk ke area kebun, Bagus semakin penasaran. Dia berhenti di sebuah lubang yang di tutup dengan papan kayu. Kakinya menginjak injak papan kayu dan mengetahui ada sesuatu di bawah sana.
Kemudian dia sadar, kalau dirinya saat ini tidak sendiri. Ada orang lain yang mengintainya dari satu tempat yang tersembunyi.
"Aneh, rasa rasanya aku sedang di buntuti seseorang, tapi dimana dia bersembunyi?"
Bagus mengawasi sekelilingnya, mata pemuda itu liar mencari, tapi dia tidak merasakan ada gerakan yang mencurigakan.
Karena penasaran Bagus berjalan memutar, lalu bersembunyi sambil berharap orang yang menguntitnya keluar. Tapi itu tidak terjadi. Cukup lama ia bersembunyi, namun tidak ada orang yang muncul disana.
Bagus lalu memutuskan membuka papan kayu itu. Dia sangat yakin ada sesuatu di bawah sana yang tersembunyi, dan dirahasiakan dari semua orang. Bahkan mungkin saja Herly tidak mengetahuinya.
Dengan belatinya Bagus berusaha membuka segel papan kayu, dan berlahan lahan, dia mulai berhasil mencongkelnya. Bagus terkejut, karena di balik papan kayu itu, ada anak tangga menuju satu tempat.
Karena penasaran, dia membuka papan kayu, kemudian mengintip ke bawah anak tangga tersebut.
"Benar dugaan ku, ada sesuatu yang di sembunyikan romo disini. Tapi tempat apa ini?"
Bagus menuruni anak tangga dan melewati lorong gelap. Dengan pemantik api yang selalu ia bawa. Bagus berjalan masuk ke dalam, dan ia menemukan sebuah obor yang terletak di dinding gua. Bagus lulu menyalakan obor terbut, dan dia melangkah masuk lebih dalam.
"Ini tempat ritual persembahan, ada
meja altar dan bekas lilin. Banyak tulang belulang manusia yang ditumpuk disana. Pantas saja aura rumah itu jadi dingin dan angker. Ternyata ayah Herly sudah lama memenjarakan jiwa jiwa orang yang dia tumbalkan."
"Ini tengkorak bayi, apa romo juga sesadis itu, aku harus keluar dari tempat ini, hawa di gua ini sudah mulai panas, sepertinya ada yang tak beres dengan tempat ini."
Bagus buru buru lari kembali naik ke atas. Di ujung anak tangga Herly telah berdiri menunggu dengan rasa resah. Tampak sekali Herly sedang gelisah menunggu Bagus muncul dari lorong gelap di bawah.
Sementara itu Bagus terus berlari, sosok mirip laba laba mengejar, hendak menerkamnya. Beruntung Bagus berhasil menggapai anak tangga. Cahaya matahari membuat mahluk itu kembali masuk ke dalam gelap.
"Lancang kamu Gus, tidak ada yang boleh masuk ke sana, kamu sudah membebaskan sesuatu yang jahat dari gua itu!"
Herly di bantu beberapa pekerja lalu segera menutup kembali lubang itu dengan papan kayu. Kali ini mereka menyegelnya dengan rantai besi.
Bagus yang kesal lalu mendorong Herly hingga pria kurus itu nyaris jatuh tersungkur ke tanah. Tapi ia beruntung karena salah seorang pekerja refleks menahan tubuhnya.
"Jadi selama ini, kamu bagian dari semua ini Her, kamu sudah tahu kalau romomu melakukan ritual sesat, iya kan?"
"Jaga kata katamu brengsek, aku sudah cukup sabar dengan sikap angkuhmu selama ini, tapi kali ini kamu sudah terlalu kelewatan Gus!"
"Jangan pernah menuduh romoku sekeji itu, kamu pikir siapa dirimu!"
Herly balik mendorong Bagus, lalu menunjuk wajahnya. Herly benar benar murka, emosinya tidak bisa di bendung lagi. Pria itu tidak suka ada orang yang menghina romo di depan matanya.
"Heh... kamu pikir aku bodoh, kamu kira aku buta, sampai sampai tidak bisa membedakan, mana yang benar dan salah?"
"Kamu tahu apa yang aku lihat di bawah sana, tempat itu adalah altar pemujaan iblis, dan apa kamu tahu yang aku temukan?"
"Dibawah sana banyak tercecer darah kering, tumpukan tulang tulang manusia, dan bahkan ada tengkorak bayi disana, apa namanya itu hah...?"
"Aku jadi mengerti semuanya sekarang, tak heran rumah itu diselimuti aura aura hitam. Apa kamu tahu, hari ini Jaka telah mendapatkan serangan dari sesok mistik di rumahmu?"
Fakta fakta yang diungkap Bagus membuat Herly tercengang, ia tak sadar selama ini ada yang tak beres di keluarga mereka. Dia jadi faham alasan kenapa pengacara keluarga mereka mendesaknya untuk cari orang lain untuk menerima beban ritual.
Ternyata masalah di balik surat wasiat romonya tidak sesederhana yang Herly pikirkan. Dia baru ingat tentang ritual tumbal purnama yang dikatakan pengacara itu.
"Jadi ritual tumbal itu benar adanya, aku tak tahu sama sekali masalah ini Gus, selama ini aku tidak tahu ada hal besar yang di sembunyikan romo."
"Kami selalu diwanti wanti untuk tidak datang kemari karena romo ku mengatakan lubang itu tempat terkutuk, ada roh jahat yang di ikat disana."
"Itu kenapa tidak ada orang yang boleh membuka lubang itu. Jujur aku sama sekali tidak tahu tentang isi lubang ini, karena lubang yang ditutup papan kayu ini memang sudah ada sejak aku lahir Gus."
Bagus masih belum yakin dengan pemaparan Herly, karena dia juga ikut mendengar percakapan Herly dengan pengacara romonya. Pria paruh baya itu jelas mengatakan perihal tumbal yang harus Herly lakukan, jika dia tak mau melepas hak atas properti di desa itu kepada orang lain.
Di tengah perdebatan mereka, tiba tiba dari balik pepohonan, seorang pria tua, muncul membawa sebuah keris di tangan kanannya. Ia datang menghampiri Herly dan Bagus yang nyaris baku hantam.
"Herly berkata benar anak muda, bukan dia, ataupun ayahnya yang melakukan ritual itu, tapi kakeknya. Setelah kakeknya tiada, aku yang menjaga mereka dari kutukan itu."
"Aku yang mengurung mereka disana, ayah Herly hanya wajib menyediakan sesajen agar mahluk mahluk itu tak mengganggu."
"Aku juga yang melanjutkan tumbal. Raden tidak tahu tentang masalah ini, karena kami menyembunyikan semuanya dari raden, dan warga desa ini. Semuanya untuk menjaga ketentraman desa."
Herly terkejut, dia dan warga desa tak pernah mengenal sosok pria misterius yang saat ini, tiba tiba saja muncul di hadapan mereka.
"Kakek ini siapa, kenapa anda bisa ada disini, dan mengetahui banyak rahasia keluarga kami, yang bahkan saya sendiri baru tahu sekarang."
"Tolong jawab saya, ada hubungan apa kakek dengan keluarga saya?"
"Aku Anom, anak terakhir keturunan abdi dalem kadipaten, yang sudah sejak turun temurun kami bertugas menjaga keluarga raden."
"Kakek Raden sudah menganggap saya sebagai adiknya sendiri, kami yang membawa kalian kemari, dan aku yang melarang romomu pergi dari desa ini, Darsih bisa mencium aroma keturunan adipati jika romo pergi meninggalkan desa ini."
"Kutukan Darsih itu masih berlaku, karenanya aku melarang romomu pergi. Sedang kamu berbeda, kamu bisa bebas keluar masuk desa ini, karena kamu lahir disini. Danyang desa ini melindungi tubuhmu ngger."
"Tapi bukan berarti kalian aman, itu sebabnya tumbal diberikan. Romo raden keras kepala, dia sudah tidak mau melanjutkan semua ini, jadi dia mengorbankan diri sendiri."
"Aku tidak bisa mencegahnya lagi. Mungkin ini sudah jalan takdirnya. Sekeras apapun kami berusaha, tapi takdir punya jalannya sendiri."
"Ya sudah, mungkin memang harus begini, supaya dendam masa lalu bisa terbayar lunas."
"Wong urip kae ngelakoni, opo sing wis dadi takdire, kabeh wis onok ceritane, awak iki mek iso upoyo, lan gusti pangeran sing dadi penentu nasib menungso."
Orang hidup itu menjalani apa yang jadi takdirnya, semua sudah ada ceritanya, kita hanya bisa berusaha, tapi nasib manusia Tuhan yang menentukan.
"Kalau kamu memang sudah yakin akan meutus perjanjian darah dengan para ingon, maka itu hanya bisa di lakukan di desa leluhurmu Ngger."
"Bawa tiga benda ini. Botol itu berisi darah sang adipati, tumpahkan di cawan ini, lalu baca mantra di kertas itu, saat melakukan ritual."
"Itu jalan satu satunya untuk lepas dari ikatan perjanjian, jangan lupa, bawa sajen yang biasa diletakkan oleh romomu."
"Isi sajen harus lengkap jangan ada yang kurang, atau semuanya akan menjadi sia sia."
"Ritual tidak akan berjalan dengan mudah, jadi siapkan mental, dan imanmu, hanya dengan keteguhan hati, kamu bisa melalui semua cobaan ini."
Herly menerima ketiga benda itu dengan ragu. Dia masih belum percaya dengan sosok kakek di depannya. Namun Herly tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau dia harus melakukan semua itu agar bisa terlepas dari kutukan.
"Terima kasih untuk semua yang kakek lakukan demi keluarga kami, sungguh, saya tidak bisa membalas jasa kakek, selain berterima kasih.
"Sudahlah tak usah berterima kasih tubuhku sama kotornya dengan para leluhur kita. Sudah waktunya membersihkan diri, semoga gusti pangeran memberi pengampunan."
Pria berpakaian serba hitam itu memberikan kerisnya kepada Herly, kemudian pergi begitu saja. Herly yang tidak mengerti untuk apa keris itu. Lalu cepat cepat lari mengejar pria tua, yang meskipun telah renta, namun pria tua itu berjalan sangat cepat.
"Kakek maafkan saya, tapi jujur saya tidak tahu untuk apa anda memberikan keris ini kepada saya?"
"Kamu itu akan pulang ke tanah leluhur ngger, tanah yang terkutuk. Kutukan Darsih tetap melekat pada keturunan adipati. Dia pasti tidak akan melepaskanmu."
"Keris itu untuk berjaga jaga, aku akan mendoakanmu dari sini. Semoga kamu berhasil dalam ritual pelepasan itu."
Herly terdiam sembari menatap keris yang diberikan padanya, sementara kakek tua itu telah menghilang dari pandangan mata Herly.
Bagus menepuk pundak Herly, dia merasa tidak enak hati, karena telah menuduh Herly dan romonya. Walaupun agak segan, tapi Bagus akhirnya meminta maaf kepada Herly atas kesalah fahaman yang terjadi di antara mereka.
"Her aku benar benar minta maaf, jujur aku tidak mengira masalah keluargamu begitu rumit. Aku janji akan temani kamu ke desa nenek moyangmu."
"Kita selesaikan masalah ini sama sama, setelah itu kita mulai semua dari awal. Semoga saja tidak ada kendala saat melakukan ritual pelepasan."
"Terima kasih Gus, aku juga minta maaf, karena telah membuat kalian masuk dalam masalah keluargaku. Tapi kamu tidak usah ikut campur dalam masalah ini."
"Besok pagi Yono akan mengantar kalian ke stasiun, masalah ini biar aku tangani sendiri saja Gus."
Bagus tak menjawab, namun dia sudah bertekat akan tetap pergi menemani Herly, apapun resikonya.
"Keris itu milik adipati tusukkan itu di jantung Darsih, hanya pusaka kanjeng adipati yang bisa membunuh mahluk terkutuk itu!"
Tiba tiba suara kakek itu terdengar lagi. Herly mencari kesana kemari tapi dia tak menemukan sosoknya.
Mereka semua lalu kembali pulang ke rumah, Herly meminta agar dua orang pekerja yang ikut dengannya merahasiakan semua yang terjadi di perkebunan hari ini. Herly tidak mau masyarakat jadi takut bekerja, dan malah mengganggu kehidupan warga desa yang tentram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kardi Kardi
scream storiesss/Frown/
2023-10-29
1