Ryo dan Jaka masih memeriksa setiap ruangan di rumah itu. Walau Ryo sebenarnya agak takut berada di ruangan kamar, yang menurut dia, setiap ruangan di rumah Herly menyimpan aura yang membuat bulu kuduknya bergidik, namun dia tetap masuk mencari benda yang diinginkan Herly.
Sesekali Ryo, merasakan kehadiran orang lain di dekatnya, saat dirinya masuk ke dalam sebuah kamar di lantai dua.
Ada kalanya dia merasa kupingnya seperti di tiup seseorang, namun saat menoleh tak ada siapa siapa di dekatnya. Ryo mencoba untuk tetap tenang meski ia merasa keganjilan kian nyata menteror mentalnya.
"Aku harusnya tidak sendiri. Rumah ini memiliki nyawa, aku harus pergi sekarang, kalau tidak penghuni di rumah Herly bisa membuat ku mati berdiri."
Ryo mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Dia lalu cepat cepat keluar dari kamar untuk mencari Jaka. Sementara di ujung lorong Jaka melakukan hal yang sama, pemuda itu keluar kamar sambil berlari ke arah tangga.
Tampak ketegangan di wajahnya, Ryo sadar, temannya itu pasti telah melihat sesuatu yang membuatnya sampai ketakutan.
"Hey... hey... pelan pelan Jak, apa yang terjadi, kenapa muka mu jadi pucat begitu, ada apa disana?"
"Ada sesuatu di ruangan dekat jendela besar itu Yo, seperti tangan dari sosok mahluk, aku benar benar melihatnya, jari tangan mahluk itu mencengkram kuat pergelangan kaki ku."
"Ini... coba kamu lihat bekas memar di kaki ku, apa kamu pikir ini hanya halusinasi ku saja, no man, ini real. Rumah ini sudah nggak beres Yo. Dari awal aku sudah yakin kalau rumah Herly ini angker. Kita pulang sekarang, kalau kamu mau tinggal lebih lama di rumah ini silahkan, terserah kamu saja, tapi aku mau pulang sekarang!"
Ryo melihat bekas memar di kaki Jaka, dan ini yang pertama kali, mahluk di rumah itu melakukan kontak fisik dengan mereka. Ryo tidak bisa mengabaikan fakta ini, dia hanya diam mengikuti Jaka yang sedang berkemas di kamar mereka.
"Ada apa ini, kenapa Jaka berteriak teriak begitu, suara mu terdengar sampai ke bawah Jak, ada apa bro, apa yang terjadi?"
Ryo dan Jaka spontan menoleh ke pintu kamar mereka. Bagus berdiri tepat di depan pintu, seolah sedang menghalangi niat mereka berdua yang ingin pergi dari rumah Herly.
"Rumah ini makin lama semakin berbahaya Gus, kita tidak bisa tinggal lebih lama lagi disini. Ini... coba kamu lihat bekas memar di kaki Jaka, lukanya itu nyata Gus, luka memar itu mirip cengkraman jari tangan manusia , apa menurut mu ini normal?"
"Aku dan Jaka, kami berdua akan pulang ke Jakarta hari ini, mahluk di rumah Herly sudah mulai brutal, sepertinya mereka semua tidak suka dengan kehadiran kita di rumah ini, aku sarankan kamu ikut kami sekarang, atau hal buruk akan menimpa kita di rumah ini."
"Benar kata Ryo Gus, sebelum benar benar jatuh korban jiwa, sebaiknya kita tinggalkan segera rumah terkutuk ini. Kami tidak mau mati sia sia disini."
Bagus tidak merespon ucapan Ryo, dan Jaka. Ia melangkah mendekati Jaka, dan langsung berjongkok memeriksa pergelangan kakinya yang berwarna hitam kebiruan.
Entah apa yang di bacanya, namun setelah Bagus mengusap usap pergelangan kaki Jaka, bekas luka memar itu tiba tiba langsung hilang seketika.
"Kalau kalian mau pergi silahkan, Herly juga menghendaki kita pergi meninggalkan rumah ini secepat mungkin. Tapi kamu perlu ingat, beberapa jam lalu, saat kita berada di meja makan kamu yang bilang akan bertahan di rumah ini sampai masalah Herly tuntas."
"Lalu Sekarang tiba tiba saja kalian mau meninggalkan Herly gara gara setan rumah ini?"
Bagus tersenyum mengejek, sambil berdiri dia pergi meninggalkan Ryo dan Jaka yang sedang berkemas. Di ruang tengah. Di depan tangga Bagus berpapasan dengan Herly dan Yasmin, tapi dia tak menyapa mereka. Pemuda itu hanya senyum simpul, kemudian berlalu begitu saja tanpa basa basi sedikitpun.
Herly dan Yasmin hanya tersenyum. Mereka mulai bisa membiasakan diri dengan sikap angkuh Bagus. Secara pribadi Herly tidak pernah menganggap sikap Bagus sebagai satu hal yang serius. Itu sebabnya dia dan Yasmin bersikap biasa saja.
Mereka berjalan santai beriringan, menuju kamarnya di lantai Tiga. Herly merasa perlu membahas kepindahan Yasmin ke pondok pesantren gurunya besok pagi.
"Besok pagi aku mau, kamu berangkat pagi pagi sekali. Yono akan mengantar mu, sekalian dia mengantarkan tamu tamu kita ke stasiun."
"Sampai disana sampaikan salam ku kepada mereka. Kamu ceritakan semua keadaan disini kepada romo kyai, semoga saja beliau punya jalan keluar mengenai masalah kita ini."
"Tapi mas, saya nggak enak kalau tidak sama sampean, pondok pesantren itu belum pernah kita datangi berdua, hanya sampean yang mengenal mereka."
"Sudahlah, aku sudah mengabari romo dan nyai, kamu hanya perlu menyebut nama ku, mereka pasti faham."
Yasmin dan Herly larut dalam percakapan mereka, sementara Bagus berwisata di dalam rumah Herly, benda benda antik yang terpajang rapi dari ruang tamu sampai ke ruang makan membuat Bagus takjub dan penasaran dengan sosok romo.
Bagus terus mengamati benda benda pusaka di rumah itu, sambil membayangkan bagaimana sosok romo semasa hidupnya. Langkah kakinya tanpa sadar membawa Bagus ke area belakang, menyusuri lorong sampai ke tempat yang lebih mirip gudang makanan.
Bagus berhenti sejenak disana. Matanya tertarik pada lukisan besar yang menggambarkan kehidupan masyarakat jawa di masa lalu. Setelah sempat meraba lukisan di dinding, pemuda dingin itu pergi ke arah dapur, tempat yang sangat ingin ia kunjungi sejak pertama kali datang menginjakkan kakinya di rumah Herly.
Saat Bagus tiba di area dapur yang ternyata sangat luas, dia melihat beberapa orang wanita muda dari desa itu, tengah mengobrol sambil membicarakan sesuatu. Bagus berhenti dan mencuri dengar apa yang tengah mereka bicarakan.
Seorang wanita yang tampak lebih tua dari yang lain, mengutarakan ketakutannya pada rumah keluarga Herly. Menurutnya, sejak kematian romo, hawa di rumah itu menjadi sangat dingin, bebera kali ia melihat sosok romo yang terlihat sedikit lebih muda, sedang berdiri tegak di depan jendela lantai tiga.
Menurut penuturan wanita itu, dia melihat sosok majikannya, terlihat sedih menatap jauh keluar jendela. Tapi dia tidak berani memastikan apa yang dia lihat nyata atau hanya ilusi yang terdorong oleh rasa takut karena romo meninggal dalam kondisi yang menurut mereka tidak dalam keadaan baik.
Bagus yang cukup lama menguping pembicaraan mereka, lalu muncul dari balik dinding. Dia bermaksut mencari tahu tentang siapa sosok romo semasa hidupnya.
"Ehm... Maaf mengganggu obrolan gosip kalian, jujur saja saya sedang tersesat. Rumah ini sangat besar sampai sampai saya kebingungan."
"Soal pemilik asli rumah ini, kalian sebut dia apa, ndoro kakung ya?"
"Apakah orang yang kalian maksut, adalah Ayah Herly, atau ada pemilik lain, tuan rumah yang asli, sebelum mereka menempati rumah ini?"
Para wanita pekerja di rumah Herly terkejut dengan kehadiran Bagus di dapur itu. Bahkan Herly saja sangat jarang terlihat sampai ke dapur, tapi orang asing ini tiba tiba muncul di hadapan mereka, dan langsung bertanya tentang majikannya.
Kontan mereka saling menatap satu sama lain. Beberapa wanita tampak ketakutan melihat ekspresi wajah Bagus yang datar. Wanita yang paling tua lalu berjalan ke arah Bagus dengan memulas senyum ramah di bibirnya.
"Aden ini teman pak Herly, kenapa ingin tahu tentang majikan kami, apa sebelumnya panjenengan tidak mengenal ndoro kakung?"
"Saya baru pertama kemari, saya dan Herly bukan teman akrab, jadi saya tidak mengenal bagaimana pribadi orang tuanya."
"Tapi saya terkesan melihat rumah besar ini, koleksi benda benda kuno yang di pajang di seluruh ruangan, membuat saya sangat takjub. Saya jadi tertarik untuk mengenal siapa sosok romo di masa lalu."
Wanita itu mengamati Bagus dari ujung kaki hingga kepala, dan dia merasa Bagus tidak punya niat buruk kepada mereka. Wanita itu lalu mempersilahkan Bagus untuk duduk, sementara salah seorang dari mereka menyeduh kopi untuk Bagus.
"Saya tidak terlalu kenal dengan sosok ndoro kakung, tapi riwayat beliau kami tahu, sebab ndoro kakung yang bawa kakek kami ke desa ini."
"Beliaulah yang membabat alas, kemudian mempekerjakan kakek kami disini. Beliau juga yang menyelamatkan kakek saya dari pagebluk di desa, dan pada akhirnya kami semua tinggal, menetap disini."
"Dulu tempat ini tidak seindah saat sekarang, tapi sejak ndoro kakung membuka pertanian disini, desa kami jadi damai, walaupun tidak semua tempat di desa ini aman. Ada batas batas tertentu yang tidak boleh di langgar."
"Misalnya hutan yang berbatasan dengan desa ini. Tidak ada orang dari desa kami yang melintasi hutan menjelang waktu surup. Ada yang bilang, orang yang melanggar pantangan akan di sesatkan oleh mahluk disana, dan pasti tidak akan pernah kembali."
"Tentang ndoro kakung beliau adalah kakek pak Herly. Saya tidak kenal beliau, tapi simbah sering cerita tentang beliau. Sosok orang jawa yang lekat dengan tirakat, lelaku, dan ritual. Tapi sayang sekali umurnya tidak panjang, beliau meninggal tanpa sebab yang jelas, tepat di hari kelahiran pak Herly."
"Dulu rumah ini kecil, tapi ayah pak Herly yang membangun rumah ini, sampai sebesar sekarang."
Wanita itu menghentikan cerianya. Dia seperti enggan untuk memberi informasi lebih lanjut tentang ayah Herly kepada Bagus, namun dia tahu cara memaksa mereka untuk bercerita.
"Jadi bagaimana romo bisa sukses seperti sekarang. Saya melihat dia memiliki banyak koleksi mahal di rumah ini. Bisnis apa yang di lakoni sampai sehebat itu, dia bisa bangun semua ini?"
"Ayah Pak Herly pemilik semua sawah, kebun, dan peternakan di desa ini. Beliau menjual hasil bumi ke kota, dan kami yang menggarap lahan miliknya."
"Soal bagaimana awal mula beliau bisa punya modal yang besar, tidak ada yang tahu pasti mas. Tapi kami pernah dengar rumor, bahwa beliau sudah kaya dari sejak dulu. Dari zaman penjajahan, leluhur pak Herly adalah ningrat yang memiliki banyak emas."
"Seperti kata orang tua kami, kakek pak Herly kuat tirakat. Sudah bukan rahasia, kalau beliau kerap kali menjalani lelaku. Ada rumor pada malam tertentu beliau melakukan ritual khusus."
"Tapi sejak ibu dan kakak pak Herly meninggal, ayahnya jarang terlihat melakukan ritual lagi, beliau lebih sering mengundang rekan rekan bisnisnya datang kemari. Karena itu rumah ini semakin besar."
"Menurut saya, itu karena beliau kesepian, tapi entahlah, orang desa seperti kami hanya menebak nebak saja, tidak ada yang tahu pasti alasannya."
"Tentang penampakan sosok mahluk yang ibu ceritakan di awal tadi, apakah dia mahluk penunggu rumah ini, atau dia memang sosok peliharaan untuk menjaga keluarga romo?"
Wajah wanita itu mendadak jadi pucat, dia langsung menutup mulutnya. Wanita itu sepertinya sadar kalau dia telah salah bicara. Bagus yang tidak ingin melihat wanita itu jadi merasa serba salah, langsung menghentikan wawancara singkatnya.
Pemuda kurus berotot itu segera minta maaf, dan mengucapkan terima kasih kepada wanita desa yang telah banyak memberikan informasi perihal romo kepadanya.
"Pantas saja hawa di rumah ini sangat berbeda. Disini udaranya lebih dingin, ternyata romo punya ingon yang menjaga harta benda dan garis keturunan mereka."
"Aku jadi tidak heran, kalau urusan wasiat itu menjadi rumit sekali.Tapi harusnya Herly mendengar nasehat pengacara itu. Sebab hanya itu cara agar Herly bisa bebas dari kutukan yang di wariskan padanya."
Perlahan Bagus mulai menemukan titik terang, dia jadi faham alasan, mengapa aura rumah itu terkesan sangat angker. Setelah mendapat penjelasan dari wanita itu, Bagus segera berpamitan. Dia pergi ke arah kebun belakang, tempat dia pernah melihat sosok bayangan orang yang mengintip kedatangan mereka.
"Aku yakin romo Herly sudah tidak sanggup lagi memberikan apa yang di inginkan mahluk itu, sehingga ia mengorbankan dirinya sendiri."
Bagus menghela nafas panjang, dia terus berjalan menuju kebun di belakang rumah, sementara para wanita yang bekerja di dapur, terus mengawasinya sembari mebahas kehadiran Bagus, yang mereka nilai berbahaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments