Bab 18 Rahasia Romo

Ryo dan Jaka masih memeriksa setiap ruangan di rumah itu. Walau Ryo sebenarnya agak takut berada di ruangan kamar, yang menurut dia, setiap ruangan di rumah Herly menyimpan aura yang membuat bulu kuduknya bergidik, namun dia tetap masuk mencari benda yang diinginkan Herly.

Sesekali Ryo, merasakan kehadiran orang lain di dekatnya, saat dirinya masuk ke dalam sebuah kamar di lantai dua.

Ada kalanya dia merasa kupingnya seperti di tiup seseorang, namun saat menoleh tak ada siapa siapa di dekatnya. Ryo mencoba untuk tetap tenang meski ia merasa keganjilan kian nyata menteror mentalnya.

"Aku harusnya tidak sendiri. Rumah ini memiliki nyawa, aku harus pergi sekarang, kalau tidak penghuni di rumah Herly bisa membuat ku mati berdiri."

Ryo mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Dia lalu cepat cepat keluar dari kamar untuk mencari Jaka. Sementara di ujung lorong Jaka melakukan hal yang sama, pemuda itu keluar kamar sambil berlari ke arah tangga.

Tampak ketegangan di wajahnya, Ryo sadar, temannya itu pasti telah melihat sesuatu yang membuatnya sampai ketakutan.

"Hey... hey... pelan pelan Jak, apa yang terjadi, kenapa muka mu jadi pucat begitu, ada apa disana?"

"Ada sesuatu di ruangan dekat jendela besar itu Yo, seperti tangan dari sosok mahluk, aku benar benar melihatnya, jari tangan mahluk itu mencengkram kuat pergelangan kaki ku."

"Ini... coba kamu lihat bekas memar di kaki ku, apa kamu pikir ini hanya halusinasi ku saja, no man, ini real. Rumah ini sudah nggak beres Yo. Dari awal aku sudah yakin kalau rumah Herly ini angker. Kita pulang sekarang, kalau kamu mau tinggal lebih lama di rumah ini silahkan, terserah kamu saja, tapi aku mau pulang sekarang!"

Ryo melihat bekas memar di kaki Jaka, dan ini yang pertama kali, mahluk di rumah itu melakukan kontak fisik dengan mereka. Ryo tidak bisa mengabaikan fakta ini, dia hanya diam mengikuti Jaka yang sedang berkemas di kamar mereka.

"Ada apa ini, kenapa Jaka berteriak teriak begitu, suara mu terdengar sampai ke bawah Jak, ada apa bro, apa yang terjadi?"

Ryo dan Jaka spontan menoleh ke pintu kamar mereka. Bagus berdiri tepat di depan pintu, seolah sedang menghalangi niat mereka berdua yang ingin pergi dari rumah Herly.

"Rumah ini makin lama semakin berbahaya Gus, kita tidak bisa tinggal lebih lama lagi disini. Ini... coba kamu lihat bekas memar di kaki Jaka, lukanya itu nyata Gus, luka memar itu mirip cengkraman jari tangan manusia , apa menurut mu ini normal?"

"Aku dan Jaka, kami berdua akan pulang ke Jakarta hari ini, mahluk di rumah Herly sudah mulai brutal, sepertinya mereka semua tidak suka dengan kehadiran kita di rumah ini, aku sarankan kamu ikut kami sekarang, atau hal buruk akan menimpa kita di rumah ini."

"Benar kata Ryo Gus, sebelum benar benar jatuh korban jiwa, sebaiknya kita tinggalkan segera rumah terkutuk ini. Kami tidak mau mati sia sia disini."

Bagus tidak merespon ucapan Ryo, dan Jaka. Ia melangkah mendekati Jaka, dan langsung berjongkok memeriksa pergelangan kakinya yang berwarna hitam kebiruan.

Entah apa yang di bacanya, namun setelah Bagus mengusap usap pergelangan kaki Jaka, bekas luka memar itu tiba tiba langsung hilang seketika.

"Kalau kalian mau pergi silahkan, Herly juga menghendaki kita pergi meninggalkan rumah ini secepat mungkin. Tapi kamu perlu ingat, beberapa jam lalu, saat kita berada di meja makan kamu yang bilang akan bertahan di rumah ini sampai masalah Herly tuntas."

"Lalu Sekarang tiba tiba saja kalian mau meninggalkan Herly gara gara setan rumah ini?"

Bagus tersenyum mengejek, sambil berdiri dia pergi meninggalkan Ryo dan Jaka yang sedang berkemas. Di ruang tengah. Di depan tangga Bagus berpapasan dengan Herly dan Yasmin, tapi dia tak menyapa mereka. Pemuda itu hanya senyum simpul, kemudian berlalu begitu saja tanpa basa basi sedikitpun.

Herly dan Yasmin hanya tersenyum. Mereka mulai bisa membiasakan diri dengan sikap angkuh Bagus. Secara pribadi Herly tidak pernah menganggap sikap Bagus sebagai satu hal yang serius. Itu sebabnya dia dan Yasmin bersikap biasa saja.

Mereka berjalan santai beriringan, menuju kamarnya di lantai Tiga. Herly merasa perlu membahas kepindahan Yasmin ke pondok pesantren gurunya besok pagi.

"Besok pagi aku mau, kamu berangkat pagi pagi sekali. Yono akan mengantar mu, sekalian dia mengantarkan tamu tamu kita ke stasiun."

"Sampai disana sampaikan salam ku kepada mereka. Kamu ceritakan semua keadaan disini kepada romo kyai, semoga saja beliau punya jalan keluar mengenai masalah kita ini."

"Tapi mas, saya nggak enak kalau tidak sama sampean, pondok pesantren itu belum pernah kita datangi berdua, hanya sampean yang mengenal mereka."

"Sudahlah, aku sudah mengabari romo dan nyai, kamu hanya perlu menyebut nama ku, mereka pasti faham."

Yasmin dan Herly larut dalam percakapan mereka, sementara Bagus berwisata di dalam rumah Herly, benda benda antik yang terpajang rapi dari ruang tamu sampai ke ruang makan membuat Bagus takjub dan penasaran dengan sosok romo.

Bagus terus mengamati benda benda pusaka di rumah itu, sambil membayangkan bagaimana sosok romo semasa hidupnya. Langkah kakinya tanpa sadar membawa Bagus ke area belakang, menyusuri lorong sampai ke tempat yang lebih mirip gudang makanan.

Bagus berhenti sejenak disana. Matanya tertarik pada lukisan besar yang menggambarkan kehidupan masyarakat jawa di masa lalu. Setelah sempat meraba lukisan di dinding, pemuda dingin itu pergi ke arah dapur, tempat yang sangat ingin ia kunjungi sejak pertama kali datang menginjakkan kakinya di rumah Herly.

Saat Bagus tiba di area dapur yang ternyata sangat luas, dia melihat beberapa orang wanita muda dari desa itu, tengah mengobrol sambil membicarakan sesuatu. Bagus berhenti dan mencuri dengar apa yang tengah mereka bicarakan.

Seorang wanita yang tampak lebih tua dari yang lain, mengutarakan ketakutannya pada rumah keluarga Herly. Menurutnya, sejak kematian romo, hawa di rumah itu menjadi sangat dingin, bebera kali ia melihat sosok romo yang terlihat sedikit lebih muda, sedang berdiri tegak di depan jendela lantai tiga.

Menurut penuturan wanita itu, dia melihat sosok majikannya, terlihat sedih menatap jauh keluar jendela. Tapi dia tidak berani memastikan apa yang dia lihat nyata atau hanya ilusi yang terdorong oleh rasa takut karena romo meninggal dalam kondisi yang menurut mereka tidak dalam keadaan baik.

Bagus yang cukup lama menguping pembicaraan mereka, lalu muncul dari balik dinding. Dia bermaksut mencari tahu tentang siapa sosok romo semasa hidupnya.

"Ehm... Maaf mengganggu obrolan gosip kalian, jujur saja saya sedang tersesat. Rumah ini sangat besar sampai sampai saya kebingungan."

"Soal pemilik asli rumah ini, kalian sebut dia apa, ndoro kakung ya?"

"Apakah orang yang kalian maksut, adalah Ayah Herly, atau ada pemilik lain, tuan rumah yang asli, sebelum mereka menempati rumah ini?"

Para wanita pekerja di rumah Herly terkejut dengan kehadiran Bagus di dapur itu. Bahkan Herly saja sangat jarang terlihat sampai ke dapur, tapi orang asing ini tiba tiba muncul di hadapan mereka, dan langsung bertanya tentang majikannya.

Kontan mereka saling menatap satu sama lain. Beberapa wanita tampak ketakutan melihat ekspresi wajah Bagus yang datar. Wanita yang paling tua lalu berjalan ke arah Bagus dengan memulas senyum ramah di bibirnya.

"Aden ini teman pak Herly, kenapa ingin tahu tentang majikan kami, apa sebelumnya panjenengan tidak mengenal ndoro kakung?"

"Saya baru pertama kemari, saya dan Herly bukan teman akrab, jadi saya tidak mengenal bagaimana pribadi orang tuanya."

"Tapi saya terkesan melihat rumah besar ini, koleksi benda benda kuno yang di pajang di seluruh ruangan, membuat saya sangat takjub. Saya jadi tertarik untuk mengenal siapa sosok romo di masa lalu."

Wanita itu mengamati Bagus dari ujung kaki hingga kepala, dan dia merasa Bagus tidak punya niat buruk kepada mereka. Wanita itu lalu mempersilahkan Bagus untuk duduk, sementara salah seorang dari mereka menyeduh kopi untuk Bagus.

"Saya tidak terlalu kenal dengan sosok ndoro kakung, tapi riwayat beliau kami tahu, sebab ndoro kakung yang bawa kakek kami ke desa ini."

"Beliaulah yang membabat alas, kemudian mempekerjakan kakek kami disini. Beliau juga yang menyelamatkan kakek saya dari pagebluk di desa, dan pada akhirnya kami semua tinggal, menetap disini."

"Dulu tempat ini tidak seindah saat sekarang, tapi sejak ndoro kakung membuka pertanian disini, desa kami jadi damai, walaupun tidak semua tempat di desa ini aman. Ada batas batas tertentu yang tidak boleh di langgar."

"Misalnya hutan yang berbatasan dengan desa ini. Tidak ada orang dari desa kami yang melintasi hutan menjelang waktu surup. Ada yang bilang, orang yang melanggar pantangan akan di sesatkan oleh mahluk disana, dan pasti tidak akan pernah kembali."

"Tentang ndoro kakung beliau adalah kakek pak Herly. Saya tidak kenal beliau, tapi simbah sering cerita tentang beliau. Sosok orang jawa yang lekat dengan tirakat, lelaku, dan ritual. Tapi sayang sekali umurnya tidak panjang, beliau meninggal tanpa sebab yang jelas, tepat di hari kelahiran pak Herly."

"Dulu rumah ini kecil, tapi ayah pak Herly yang membangun rumah ini, sampai sebesar sekarang."

Wanita itu menghentikan cerianya. Dia seperti enggan untuk memberi informasi lebih lanjut tentang ayah Herly kepada Bagus, namun dia tahu cara memaksa mereka untuk bercerita.

"Jadi bagaimana romo bisa sukses seperti sekarang. Saya melihat dia memiliki banyak koleksi mahal di rumah ini. Bisnis apa yang di lakoni sampai sehebat itu, dia bisa bangun semua ini?"

"Ayah Pak Herly pemilik semua sawah, kebun, dan peternakan di desa ini. Beliau menjual hasil bumi ke kota, dan kami yang menggarap lahan miliknya."

"Soal bagaimana awal mula beliau bisa punya modal yang besar, tidak ada yang tahu pasti mas. Tapi kami pernah dengar rumor, bahwa beliau sudah kaya dari sejak dulu. Dari zaman penjajahan, leluhur pak Herly adalah ningrat yang memiliki banyak emas."

"Seperti kata orang tua kami, kakek pak Herly kuat tirakat. Sudah bukan rahasia, kalau beliau kerap kali menjalani lelaku. Ada rumor pada malam tertentu beliau melakukan ritual khusus."

"Tapi sejak ibu dan kakak pak Herly meninggal, ayahnya jarang terlihat melakukan ritual lagi, beliau lebih sering mengundang rekan rekan bisnisnya datang kemari. Karena itu rumah ini semakin besar."

"Menurut saya, itu karena beliau kesepian, tapi entahlah, orang desa seperti kami hanya menebak nebak saja, tidak ada yang tahu pasti alasannya."

"Tentang penampakan sosok mahluk yang ibu ceritakan di awal tadi, apakah dia mahluk penunggu rumah ini, atau dia memang sosok peliharaan untuk menjaga keluarga romo?"

Wajah wanita itu mendadak jadi pucat, dia langsung menutup mulutnya. Wanita itu sepertinya sadar kalau dia telah salah bicara. Bagus yang tidak ingin melihat wanita itu jadi merasa serba salah, langsung menghentikan wawancara singkatnya.

Pemuda kurus berotot itu segera minta maaf, dan mengucapkan terima kasih kepada wanita desa yang telah banyak memberikan informasi perihal romo kepadanya.

"Pantas saja hawa di rumah ini sangat berbeda. Disini udaranya lebih dingin, ternyata romo punya ingon yang menjaga harta benda dan garis keturunan mereka."

"Aku jadi tidak heran, kalau urusan wasiat itu menjadi rumit sekali.Tapi harusnya Herly mendengar nasehat pengacara itu. Sebab hanya itu cara agar Herly bisa bebas dari kutukan yang di wariskan padanya."

Perlahan Bagus mulai menemukan titik terang, dia jadi faham alasan, mengapa aura rumah itu terkesan sangat angker. Setelah mendapat penjelasan dari wanita itu, Bagus segera berpamitan. Dia pergi ke arah kebun belakang, tempat dia pernah melihat sosok bayangan orang yang mengintip kedatangan mereka.

"Aku yakin romo Herly sudah tidak sanggup lagi memberikan apa yang di inginkan mahluk itu, sehingga ia mengorbankan dirinya sendiri."

Bagus menghela nafas panjang, dia terus berjalan menuju kebun di belakang rumah, sementara para wanita yang bekerja di dapur, terus mengawasinya sembari mebahas kehadiran Bagus, yang mereka nilai berbahaya.

Episodes
1 Bab I Cuti
2 Bab 2 Teror Dalam Kereta
3 Bab 3 Pertanda
4 Bab 4 Bagus
5 Bab 5 Romo
6 Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7 Bab 7 Wasiat Romo
8 Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9 Bab 9 Ritual Terakhir
10 Bab 10 Penasaran
11 Bab11 Loak buku
12 Bab 12 Sebuah Teka teki
13 Bab 13 Peringatan
14 Bab 14 Ganjil
15 Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16 Bab 16 Sebuah Firasat
17 Bab 17 Peta Desa Leluhur
18 Bab 18 Rahasia Romo
19 Bab 19 Ruang Rahasia
20 Bab 20 Terlambat
21 Bab 21 Merangkai Kenangan
22 Bab 22 Malam Genting
23 Bab 23 Hilang
24 Bab 24 Mengejar Herly
25 Bab 25 Menapak Kenangan
26 Bab 26 Ibu
27 Bab 27 Desa di Balik Kabut
28 Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29 Bab 29 Rumah Joglo
30 Bab 30 Firasat Yasmin
31 Bab 31 Hujan Darah
32 Bab 32 Tersesat
33 Bab 33 Petunjuk Kakak
34 Bab 34 Wanita yang Terbakar
35 Bab 35 Menit menit Penentuan
36 Bab 36 Balas Dendam Darsih
37 Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38 Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39 Bab 39 Pindah Alam
40 Bab 40 Kebaya Hitam
41 Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42 Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43 Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44 Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45 45 Segel Mati
46 Bab 46 Tangisan Yasmin
47 Bab 47 Keteguhan Hati
48 Bab 48 Gadis Misterius
49 Bab 49 Karyawan Baru
50 Bab 50 Namaku Ayunindya
51 Bab 51 Rumah Kosong
52 Bab 52 Lamaran Gaib
53 Bab 53 Jelang Pernikahan
54 Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55 Bab 55 Pernikahan beda Alam
56 Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57 Bab 57 Bersiasat
58 Bab 58 Rahasia Angga
59 Bab 59 Pria Misterius
60 Bab 60 Ruqyah
61 Bab 61 Mimpi Yasmin
62 Bab 62 Pesan dari Bagus
63 Bab 63 Mengejar Yasmin
64 Bab 64 Peringatan dari Herly
65 Bab 65 Janji Angga
66 Bab 66 Tapa Hening
67 Bab 67 Rahasia Angga
68 Bab 68 Bayangan Misterius
69 Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70 Bab 70 Memburu Bagus
71 Bab 71 Memori yang Hilang
72 Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73 Bab 73 Kemunculan Herly
74 Bab 74 Perburuan
75 Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76 Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77 Bab 77 Sosok Penolong
78 Bab 78 Pertarungan Terakhir
79 Bab 79 Kekalahan
80 Bab 80 Kemenangan Sumpah
81 Bab 81 Babak Baru
82 Bab 82 Jodoh yang Hilang
83 Bab 83 Hati untuk Angga
84 Bab 84 Penampakan di Cermin
85 Bab 85 Dia Bukan Ayu
86 Bab 86 Kuntilanak Merah
87 Bab 87 Kamuflase
88 Bab 88 Serangan Fisik
89 Bab 89 Penjara Roh
90 Bab 90 Tabir Misteri
91 Bab 91 Labirin
92 Bab 92 Dasimah
93 Bab 93 Kematian Dasimah
94 Bab 94 Kabar Baik
95 Bab 95 Aji Malih Jiwo
96 Bab 96 Bayangan Hitam
97 Bab 97 Penumpang Gelap
98 Bab 98 Mahluk Bayangan
99 Bab 99 Jebakan
100 Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101 Bab 101 Gerbang Neraka
102 Bab 102. Nyekar
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab I Cuti
2
Bab 2 Teror Dalam Kereta
3
Bab 3 Pertanda
4
Bab 4 Bagus
5
Bab 5 Romo
6
Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7
Bab 7 Wasiat Romo
8
Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9
Bab 9 Ritual Terakhir
10
Bab 10 Penasaran
11
Bab11 Loak buku
12
Bab 12 Sebuah Teka teki
13
Bab 13 Peringatan
14
Bab 14 Ganjil
15
Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16
Bab 16 Sebuah Firasat
17
Bab 17 Peta Desa Leluhur
18
Bab 18 Rahasia Romo
19
Bab 19 Ruang Rahasia
20
Bab 20 Terlambat
21
Bab 21 Merangkai Kenangan
22
Bab 22 Malam Genting
23
Bab 23 Hilang
24
Bab 24 Mengejar Herly
25
Bab 25 Menapak Kenangan
26
Bab 26 Ibu
27
Bab 27 Desa di Balik Kabut
28
Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29
Bab 29 Rumah Joglo
30
Bab 30 Firasat Yasmin
31
Bab 31 Hujan Darah
32
Bab 32 Tersesat
33
Bab 33 Petunjuk Kakak
34
Bab 34 Wanita yang Terbakar
35
Bab 35 Menit menit Penentuan
36
Bab 36 Balas Dendam Darsih
37
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38
Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39
Bab 39 Pindah Alam
40
Bab 40 Kebaya Hitam
41
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44
Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45
45 Segel Mati
46
Bab 46 Tangisan Yasmin
47
Bab 47 Keteguhan Hati
48
Bab 48 Gadis Misterius
49
Bab 49 Karyawan Baru
50
Bab 50 Namaku Ayunindya
51
Bab 51 Rumah Kosong
52
Bab 52 Lamaran Gaib
53
Bab 53 Jelang Pernikahan
54
Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55
Bab 55 Pernikahan beda Alam
56
Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57
Bab 57 Bersiasat
58
Bab 58 Rahasia Angga
59
Bab 59 Pria Misterius
60
Bab 60 Ruqyah
61
Bab 61 Mimpi Yasmin
62
Bab 62 Pesan dari Bagus
63
Bab 63 Mengejar Yasmin
64
Bab 64 Peringatan dari Herly
65
Bab 65 Janji Angga
66
Bab 66 Tapa Hening
67
Bab 67 Rahasia Angga
68
Bab 68 Bayangan Misterius
69
Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70
Bab 70 Memburu Bagus
71
Bab 71 Memori yang Hilang
72
Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73
Bab 73 Kemunculan Herly
74
Bab 74 Perburuan
75
Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76
Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77
Bab 77 Sosok Penolong
78
Bab 78 Pertarungan Terakhir
79
Bab 79 Kekalahan
80
Bab 80 Kemenangan Sumpah
81
Bab 81 Babak Baru
82
Bab 82 Jodoh yang Hilang
83
Bab 83 Hati untuk Angga
84
Bab 84 Penampakan di Cermin
85
Bab 85 Dia Bukan Ayu
86
Bab 86 Kuntilanak Merah
87
Bab 87 Kamuflase
88
Bab 88 Serangan Fisik
89
Bab 89 Penjara Roh
90
Bab 90 Tabir Misteri
91
Bab 91 Labirin
92
Bab 92 Dasimah
93
Bab 93 Kematian Dasimah
94
Bab 94 Kabar Baik
95
Bab 95 Aji Malih Jiwo
96
Bab 96 Bayangan Hitam
97
Bab 97 Penumpang Gelap
98
Bab 98 Mahluk Bayangan
99
Bab 99 Jebakan
100
Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101
Bab 101 Gerbang Neraka
102
Bab 102. Nyekar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!