Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu

"Aku ada dimana sekarang.., ini tempat apa, om..., om Bandi...!"

"Om Bandi dimana...?"

"Aneh, aku ingat betul saat terakhir kali, aku sedang bersama om Bandi di dalam kereta, tapi kenapa tiba tiba sekarang semuanya berbeda, aku berada di tempat asing seperti ini, ada apa ini...?"

"Aku bahkan sama sekali tidak tahu tempat ini, atau jangan jangan telah terjadi sesuatu dengan kereta yang kami tumpangi?"

Angga merasakan dirinya berada di satu tempat yang begitu asing. Dia bahkan sangat yakin belum pernah sekalipun mendatangi tempatnya berada sekarang.

Bentang alam di sekitar yang benar benar berbeda dengan kehidupan nyata. Angga merasa dia sedang hidup di dunia pararel, yang belum pernah dia jalani sebelumnya.

"Apa aku sudah mati?"

"Tempat ini dingin sekali, aku sama sekali tidak mengenali daerah di sekitar ku, bahkan mungkin aku tak sedang berada di Indonesia saat ini, oh Tuhan apa yang terjadi?"

Angga kebingungan dengan apa yang sedang di alaminya sekarang. Dia coba mengenali tempatnya berada, namun sia sia saja. Angga tidak tahu dirinya sedang berada dimana saat ini.

"Aku harus mencari orang untuk bertanya, tapi aku harus berjalan ke arah mana, tempat ini begitu asing buat ku. Jalan di depan berkabut, aku mesti hati hati melangkah."

Angga melangkahkan kaki dengan ragu ragu, suara desiran angin yang menyibak daun daun, pepohonan besar yang rapat mengiringi langkahnya, jarak pandang yang tak terlalu jauh, membuatnya harus hati hati berjalan.

"Sepertinya di depan sana adalah perkampungan penduduk, mungkin ada orang yang bisa aku tanyai di kampung itu."

"Benar itu sebuah kampung, pasti ada orang disana, aku harus pergi kesana untuk bertanya."

Angga mempercepat langkahnya, suara suara binatang mulai riuh terdengar bersaut sautan. Dengan waspada Angga mengawasi sekitar, pemuda itu benar benar merasakan sensasi yang membuat nyalinya menciut.

"Aku harus mencari sesuatu untuk dijadikan senjata, tidak ada yang tahu, bahaya apa yang menanti ku di depan sana."

Angga memungut sebatang kayu yang tergeletak di tanah, lalu berlari menuju kampung yang dilihatnya. Kampung yang terlihat dekat, tapi sulit bagi Angga untuk sampai disana.

"Kampung itu ada di depan mata, tapi kenapa terasa sangat jauh. Dari tadi aku sudah jalan cukup jauh, tapi kenapa rasanya seperti baru berjalan beberapa langkah saja dari tadi."

"Berhenti disana anak muda, kamu dilarang menyebrang, atau kamu tidak akan bisa kembali lagi!"

Suara beberapa pria di balik kabut tiba tiba saja mengejutkan Angga. Dia belum sempat beralih dari keanehan yang ia rasakan, tapi sekarang Angga harus terkejut dengan sosok siluet hitam di balik kabut yang menahan langkah kakinya.

"Maafkan saya pak, nama saya Angga. Kalau tidak keberatan, bolehkah saya bertanya?"

"Sejujurnya saya tidak mengerti sedang berada dimana sekarang, lebih tepatnya saya tersesat. Apakah Bapak tahu jalan untuk kembali?"

Tanpa basa basi, Angga langsung mengajukan pertanyaan kepada sosok pria yang dalam pandangan matanya hanya berupa siluet. Walaupun ada perasaan segan yang terselip dalam hatinya, namun Angga harus mengambil resiko itu agar dia tak berlama lama terjebak di daerah yang ia tak tahu sedang berada dimana sekarang.

"Pulang, jangan teruskan langkahmu, tempat yang kamu tuju bukanlah rumah. Semestinya kamu tidak datang berkunjung!"

Ucapan pria itu membuat Angga tersentak, dia jadi teringat dengan kejadian di rumah makan, saat dia dan teman temannya mampir untuk makan siang di suatu tempat di kota Banyuwangi.

"Apa dia pria tua yang menegurku di rumah makan waktu itu, tapi disini bahkan tak mirip dengan desa desa di kota Banyuwangi."

Angga membatin dalam hati, saat ini pemuda itu benar benar merasa ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi keningnya, dia sadar ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi padanya sekarang.

"Koe wes tak wanti wanti le..., ojok melu melu perkoro wong liyo, mati, koncomu wes mati..."

Tiba tiba suara serak wanita tua terdengar tepat di telinga Angga, dia terkejut, dan terjatuh tepat di kaki wanita tua bungkuk yang berdiri menatapnya dengan tatapan sinis.

Sekonyong konyong Angga menarik tubuhnya mundur beberapa meter ke belakang. Wanita tua yang sedang berdiri di depannya, ternyata adalah wanita berkebaya hitam yang sebelumnya pernah di lihat Angga di stasiun kereta waktu itu.

Wanita berkebaya hitam itu, lalu menunjukkan beberapa potongan peristiwa dimasa penjajahan, yang menggambarkan situasi sulit di era itu yang memaksa sebuah keluarga bangsawan harus melindungi terah dengan mengambil jalan sesat, agar keberadaan mereka langgeng, dan tetap eksis di tengah tengah buruknya kehidupan sosial masyarakat kala itu.

Angga di perlihatkan bagaimana seorang pria dari kalangan priyayi memaksa wanita di desa untuk di nikahi, lalu ia membawanya pergi ke suatu tempat untuk melahirkan bayi sebelum waktunya, dan lalu di jadikan tumbal ritual kepada sosok bertanduk yang mengerikan.

Setelahnya wanita itu dipasung di sebuah gubuk tua, kemudian dia di paksa memakan sesuatu yang telah dicampur dengan darah dari janinnya.

Setelah itu Angga diperlihatkan lagi bagaimana kemakmuran datang menghampiri keluarga bangsawan, meskipun kehidupan masyarakat kala itu sedang susah susahnya.

Diperlihatkan kepadanya ritual yang sama terus berulang dari masa ke masa sampai ke generasi mereka selanjutnya. Dan di akhir kisahnya sebuah kutukan dari seorang gadis menjadi penutup tragedi sadis yang selalu berulang.

Desa itu tertimpa pagebluk atau wabah yang membuat desa subur, menjadi kuburan masal bagi orang orang di desa yang membiarkan kejahatan merajalela.

Semua tergambar begitu nyata di hadapan Angga. Dia sampai ingin muntah melihat kejadian itu. Angga ingin menolaknya, tapi tubuhnya mendadak jadi kaku, bahkan untuk sekedar menutup mata pun dia tak sanggup melakukannya.

"Sudah... Sudah cukup, saya cuma ingin petunjuk arah pulang, kenapa kalian memperlihatkan semua ini kepada saya?"

"Kami sudah menasehati kamu, tapi kamu buta dan tuli, lihatlah yang akan kamu alami selanjutnya. Bukankah Nyai sudah mewanti wanti untuk tidak ikut campur dalam masalah orang lain?"

"Biarkan temanmu menanggung karmanya sendiri, semua hanyalah jalan takdir, siapa yang sudah menanam, maka dia yang akan memetik hasilnya nak."

"Baik, buruk yang akan kamu terima tergantung pada perbuatan mu di masa lalu."

Tiba tiba siluet pria itu menghilang, dan sang nenek menunjukkan arah kemana Angga harus melangkah, kemudian dia menghilang bersama terang.

Angga kembali tersentak, kemudian membuka matanya, suara bising mesin lokomotif kereta kembali terdengar, dan ia mendapati dirinya masih berada dalam kereta menuju Banyuwangi.

Di depannya om Bandi masih duduk bersila, larut dalam semedi, Angga yang masih tidak percaya dengan pengalaman mistik yang baru saja di laluinya, menoleh ke arah bangku penumpang lain, seakan dia ingin memastikan bahwa dirinya telah kembali ke dunia nyata.

"Wah kita berjodoh mas, ketemu lagi disini, teman temannya mana, sendiri saja?"

Angga menengadahkan wajahnya ke atas, dan seorang petugas kereta yang membantunya saat Jaka tiba tiba hilang, sudah berdiri di samping dengan senyum ramah menghias bibirnya.

"Oh bapak, iya kita jumpa lagi, saya dengan om sekarang, teman teman masih berada di Banyuwangi."

"Rupanya sampean baru mimpi buruk ya, suaranya sampai sampai membuat penumpang lain khawatir, kalau boleh tahu sampean sudah melakukan apa?"

Angga memperbaiki duduknya, sambil menyeka keringat di dahi yang mengucur deras.

"Saya tidak melakukan apa apa, tapi entahlah, karena saya sendiri baru kali pertama mengalami masalah pelik yang seperti ini pak."

Petugas kereta mengambil tempat duduk di sebelah om Bandi. Pria itu langsung menyentuh lengan Angga dengan jarinya, kemudian buru buru melepaskannya kembali.

"Ini bukan perkara kecil mas, saran saya tidak usah sampean teruskan, tapi kalau tekad sampean memang sudah bulat, tolong hati hati, sekali bersentuhan dengan mereka, kita akan sulit untuk bisa lepas lagi."

Ucapan petugas kereta itu sangat mirip dengan pria dalam mimpi Angga, dia jadi ragu ragu dengan tekadnya. Akan meneruskan tujuan, atau mundur demi keselamatannya.

"Jika aku mundur sekarang, lalu bagaimana dengan mereka semua, bagaimanapun aku sudah berjanji akan kembali. Aku tidak mungkin menarik kata kata ku lagi sekarang."

Ada perang batin dalam diri Angga, tapi dia sudah berjanji kepada Herly untuk kembali, dan Angga mau tak mau harus menepatinya. Baginya ini pilihan yang sulit, namun ayah Angga pernah berkata jika seorang pria telah berjanji, maka dia harus menepatinya.

"Benar kata ayah laki laki itu yang di pegang adalah janjinya, jadi aku harus kembali kesana meski nyawa taruhannya."

"Saya akan berhati hati pak, doakan kami kembali dengan selamat."

Petugas kereta hanya tersenyum, lalu menepuk pundak Angga dan pergi berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

Sementara itu om Bandi mulai menggerakkan tubuhnya, bertanda ia sudah mulai tersadar dari semedi yang cukup lama.

Kereta terus melaju kencang, baik Angga maupun om Bandi masih fokus mencari jalan tengah untuk menyelamatkan Herly.

Terpopuler

Comments

Ifan K.

Ifan K.

iya emank katakternya batu sih ya..😁😄😄😄

2023-09-23

1

Indri Wulandari

Indri Wulandari

mang si angga ini ngeyel d ksh taunya dah berkali " diberi peringatan msh aja ngeyel dan nekat enga ngudeng

2023-09-23

2

lihat semua
Episodes
1 Bab I Cuti
2 Bab 2 Teror Dalam Kereta
3 Bab 3 Pertanda
4 Bab 4 Bagus
5 Bab 5 Romo
6 Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7 Bab 7 Wasiat Romo
8 Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9 Bab 9 Ritual Terakhir
10 Bab 10 Penasaran
11 Bab11 Loak buku
12 Bab 12 Sebuah Teka teki
13 Bab 13 Peringatan
14 Bab 14 Ganjil
15 Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16 Bab 16 Sebuah Firasat
17 Bab 17 Peta Desa Leluhur
18 Bab 18 Rahasia Romo
19 Bab 19 Ruang Rahasia
20 Bab 20 Terlambat
21 Bab 21 Merangkai Kenangan
22 Bab 22 Malam Genting
23 Bab 23 Hilang
24 Bab 24 Mengejar Herly
25 Bab 25 Menapak Kenangan
26 Bab 26 Ibu
27 Bab 27 Desa di Balik Kabut
28 Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29 Bab 29 Rumah Joglo
30 Bab 30 Firasat Yasmin
31 Bab 31 Hujan Darah
32 Bab 32 Tersesat
33 Bab 33 Petunjuk Kakak
34 Bab 34 Wanita yang Terbakar
35 Bab 35 Menit menit Penentuan
36 Bab 36 Balas Dendam Darsih
37 Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38 Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39 Bab 39 Pindah Alam
40 Bab 40 Kebaya Hitam
41 Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42 Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43 Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44 Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45 45 Segel Mati
46 Bab 46 Tangisan Yasmin
47 Bab 47 Keteguhan Hati
48 Bab 48 Gadis Misterius
49 Bab 49 Karyawan Baru
50 Bab 50 Namaku Ayunindya
51 Bab 51 Rumah Kosong
52 Bab 52 Lamaran Gaib
53 Bab 53 Jelang Pernikahan
54 Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55 Bab 55 Pernikahan beda Alam
56 Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57 Bab 57 Bersiasat
58 Bab 58 Rahasia Angga
59 Bab 59 Pria Misterius
60 Bab 60 Ruqyah
61 Bab 61 Mimpi Yasmin
62 Bab 62 Pesan dari Bagus
63 Bab 63 Mengejar Yasmin
64 Bab 64 Peringatan dari Herly
65 Bab 65 Janji Angga
66 Bab 66 Tapa Hening
67 Bab 67 Rahasia Angga
68 Bab 68 Bayangan Misterius
69 Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70 Bab 70 Memburu Bagus
71 Bab 71 Memori yang Hilang
72 Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73 Bab 73 Kemunculan Herly
74 Bab 74 Perburuan
75 Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76 Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77 Bab 77 Sosok Penolong
78 Bab 78 Pertarungan Terakhir
79 Bab 79 Kekalahan
80 Bab 80 Kemenangan Sumpah
81 Bab 81 Babak Baru
82 Bab 82 Jodoh yang Hilang
83 Bab 83 Hati untuk Angga
84 Bab 84 Penampakan di Cermin
85 Bab 85 Dia Bukan Ayu
86 Bab 86 Kuntilanak Merah
87 Bab 87 Kamuflase
88 Bab 88 Serangan Fisik
89 Bab 89 Penjara Roh
90 Bab 90 Tabir Misteri
91 Bab 91 Labirin
92 Bab 92 Dasimah
93 Bab 93 Kematian Dasimah
94 Bab 94 Kabar Baik
95 Bab 95 Aji Malih Jiwo
96 Bab 96 Bayangan Hitam
97 Bab 97 Penumpang Gelap
98 Bab 98 Mahluk Bayangan
99 Bab 99 Jebakan
100 Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101 Bab 101 Gerbang Neraka
102 Bab 102. Nyekar
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab I Cuti
2
Bab 2 Teror Dalam Kereta
3
Bab 3 Pertanda
4
Bab 4 Bagus
5
Bab 5 Romo
6
Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7
Bab 7 Wasiat Romo
8
Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9
Bab 9 Ritual Terakhir
10
Bab 10 Penasaran
11
Bab11 Loak buku
12
Bab 12 Sebuah Teka teki
13
Bab 13 Peringatan
14
Bab 14 Ganjil
15
Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16
Bab 16 Sebuah Firasat
17
Bab 17 Peta Desa Leluhur
18
Bab 18 Rahasia Romo
19
Bab 19 Ruang Rahasia
20
Bab 20 Terlambat
21
Bab 21 Merangkai Kenangan
22
Bab 22 Malam Genting
23
Bab 23 Hilang
24
Bab 24 Mengejar Herly
25
Bab 25 Menapak Kenangan
26
Bab 26 Ibu
27
Bab 27 Desa di Balik Kabut
28
Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29
Bab 29 Rumah Joglo
30
Bab 30 Firasat Yasmin
31
Bab 31 Hujan Darah
32
Bab 32 Tersesat
33
Bab 33 Petunjuk Kakak
34
Bab 34 Wanita yang Terbakar
35
Bab 35 Menit menit Penentuan
36
Bab 36 Balas Dendam Darsih
37
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38
Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39
Bab 39 Pindah Alam
40
Bab 40 Kebaya Hitam
41
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44
Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45
45 Segel Mati
46
Bab 46 Tangisan Yasmin
47
Bab 47 Keteguhan Hati
48
Bab 48 Gadis Misterius
49
Bab 49 Karyawan Baru
50
Bab 50 Namaku Ayunindya
51
Bab 51 Rumah Kosong
52
Bab 52 Lamaran Gaib
53
Bab 53 Jelang Pernikahan
54
Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55
Bab 55 Pernikahan beda Alam
56
Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57
Bab 57 Bersiasat
58
Bab 58 Rahasia Angga
59
Bab 59 Pria Misterius
60
Bab 60 Ruqyah
61
Bab 61 Mimpi Yasmin
62
Bab 62 Pesan dari Bagus
63
Bab 63 Mengejar Yasmin
64
Bab 64 Peringatan dari Herly
65
Bab 65 Janji Angga
66
Bab 66 Tapa Hening
67
Bab 67 Rahasia Angga
68
Bab 68 Bayangan Misterius
69
Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70
Bab 70 Memburu Bagus
71
Bab 71 Memori yang Hilang
72
Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73
Bab 73 Kemunculan Herly
74
Bab 74 Perburuan
75
Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76
Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77
Bab 77 Sosok Penolong
78
Bab 78 Pertarungan Terakhir
79
Bab 79 Kekalahan
80
Bab 80 Kemenangan Sumpah
81
Bab 81 Babak Baru
82
Bab 82 Jodoh yang Hilang
83
Bab 83 Hati untuk Angga
84
Bab 84 Penampakan di Cermin
85
Bab 85 Dia Bukan Ayu
86
Bab 86 Kuntilanak Merah
87
Bab 87 Kamuflase
88
Bab 88 Serangan Fisik
89
Bab 89 Penjara Roh
90
Bab 90 Tabir Misteri
91
Bab 91 Labirin
92
Bab 92 Dasimah
93
Bab 93 Kematian Dasimah
94
Bab 94 Kabar Baik
95
Bab 95 Aji Malih Jiwo
96
Bab 96 Bayangan Hitam
97
Bab 97 Penumpang Gelap
98
Bab 98 Mahluk Bayangan
99
Bab 99 Jebakan
100
Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101
Bab 101 Gerbang Neraka
102
Bab 102. Nyekar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!