"Aku ada dimana sekarang.., ini tempat apa, om..., om Bandi...!"
"Om Bandi dimana...?"
"Aneh, aku ingat betul saat terakhir kali, aku sedang bersama om Bandi di dalam kereta, tapi kenapa tiba tiba sekarang semuanya berbeda, aku berada di tempat asing seperti ini, ada apa ini...?"
"Aku bahkan sama sekali tidak tahu tempat ini, atau jangan jangan telah terjadi sesuatu dengan kereta yang kami tumpangi?"
Angga merasakan dirinya berada di satu tempat yang begitu asing. Dia bahkan sangat yakin belum pernah sekalipun mendatangi tempatnya berada sekarang.
Bentang alam di sekitar yang benar benar berbeda dengan kehidupan nyata. Angga merasa dia sedang hidup di dunia pararel, yang belum pernah dia jalani sebelumnya.
"Apa aku sudah mati?"
"Tempat ini dingin sekali, aku sama sekali tidak mengenali daerah di sekitar ku, bahkan mungkin aku tak sedang berada di Indonesia saat ini, oh Tuhan apa yang terjadi?"
Angga kebingungan dengan apa yang sedang di alaminya sekarang. Dia coba mengenali tempatnya berada, namun sia sia saja. Angga tidak tahu dirinya sedang berada dimana saat ini.
"Aku harus mencari orang untuk bertanya, tapi aku harus berjalan ke arah mana, tempat ini begitu asing buat ku. Jalan di depan berkabut, aku mesti hati hati melangkah."
Angga melangkahkan kaki dengan ragu ragu, suara desiran angin yang menyibak daun daun, pepohonan besar yang rapat mengiringi langkahnya, jarak pandang yang tak terlalu jauh, membuatnya harus hati hati berjalan.
"Sepertinya di depan sana adalah perkampungan penduduk, mungkin ada orang yang bisa aku tanyai di kampung itu."
"Benar itu sebuah kampung, pasti ada orang disana, aku harus pergi kesana untuk bertanya."
Angga mempercepat langkahnya, suara suara binatang mulai riuh terdengar bersaut sautan. Dengan waspada Angga mengawasi sekitar, pemuda itu benar benar merasakan sensasi yang membuat nyalinya menciut.
"Aku harus mencari sesuatu untuk dijadikan senjata, tidak ada yang tahu, bahaya apa yang menanti ku di depan sana."
Angga memungut sebatang kayu yang tergeletak di tanah, lalu berlari menuju kampung yang dilihatnya. Kampung yang terlihat dekat, tapi sulit bagi Angga untuk sampai disana.
"Kampung itu ada di depan mata, tapi kenapa terasa sangat jauh. Dari tadi aku sudah jalan cukup jauh, tapi kenapa rasanya seperti baru berjalan beberapa langkah saja dari tadi."
"Berhenti disana anak muda, kamu dilarang menyebrang, atau kamu tidak akan bisa kembali lagi!"
Suara beberapa pria di balik kabut tiba tiba saja mengejutkan Angga. Dia belum sempat beralih dari keanehan yang ia rasakan, tapi sekarang Angga harus terkejut dengan sosok siluet hitam di balik kabut yang menahan langkah kakinya.
"Maafkan saya pak, nama saya Angga. Kalau tidak keberatan, bolehkah saya bertanya?"
"Sejujurnya saya tidak mengerti sedang berada dimana sekarang, lebih tepatnya saya tersesat. Apakah Bapak tahu jalan untuk kembali?"
Tanpa basa basi, Angga langsung mengajukan pertanyaan kepada sosok pria yang dalam pandangan matanya hanya berupa siluet. Walaupun ada perasaan segan yang terselip dalam hatinya, namun Angga harus mengambil resiko itu agar dia tak berlama lama terjebak di daerah yang ia tak tahu sedang berada dimana sekarang.
"Pulang, jangan teruskan langkahmu, tempat yang kamu tuju bukanlah rumah. Semestinya kamu tidak datang berkunjung!"
Ucapan pria itu membuat Angga tersentak, dia jadi teringat dengan kejadian di rumah makan, saat dia dan teman temannya mampir untuk makan siang di suatu tempat di kota Banyuwangi.
"Apa dia pria tua yang menegurku di rumah makan waktu itu, tapi disini bahkan tak mirip dengan desa desa di kota Banyuwangi."
Angga membatin dalam hati, saat ini pemuda itu benar benar merasa ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi keningnya, dia sadar ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi padanya sekarang.
"Koe wes tak wanti wanti le..., ojok melu melu perkoro wong liyo, mati, koncomu wes mati..."
Tiba tiba suara serak wanita tua terdengar tepat di telinga Angga, dia terkejut, dan terjatuh tepat di kaki wanita tua bungkuk yang berdiri menatapnya dengan tatapan sinis.
Sekonyong konyong Angga menarik tubuhnya mundur beberapa meter ke belakang. Wanita tua yang sedang berdiri di depannya, ternyata adalah wanita berkebaya hitam yang sebelumnya pernah di lihat Angga di stasiun kereta waktu itu.
Wanita berkebaya hitam itu, lalu menunjukkan beberapa potongan peristiwa dimasa penjajahan, yang menggambarkan situasi sulit di era itu yang memaksa sebuah keluarga bangsawan harus melindungi terah dengan mengambil jalan sesat, agar keberadaan mereka langgeng, dan tetap eksis di tengah tengah buruknya kehidupan sosial masyarakat kala itu.
Angga di perlihatkan bagaimana seorang pria dari kalangan priyayi memaksa wanita di desa untuk di nikahi, lalu ia membawanya pergi ke suatu tempat untuk melahirkan bayi sebelum waktunya, dan lalu di jadikan tumbal ritual kepada sosok bertanduk yang mengerikan.
Setelahnya wanita itu dipasung di sebuah gubuk tua, kemudian dia di paksa memakan sesuatu yang telah dicampur dengan darah dari janinnya.
Setelah itu Angga diperlihatkan lagi bagaimana kemakmuran datang menghampiri keluarga bangsawan, meskipun kehidupan masyarakat kala itu sedang susah susahnya.
Diperlihatkan kepadanya ritual yang sama terus berulang dari masa ke masa sampai ke generasi mereka selanjutnya. Dan di akhir kisahnya sebuah kutukan dari seorang gadis menjadi penutup tragedi sadis yang selalu berulang.
Desa itu tertimpa pagebluk atau wabah yang membuat desa subur, menjadi kuburan masal bagi orang orang di desa yang membiarkan kejahatan merajalela.
Semua tergambar begitu nyata di hadapan Angga. Dia sampai ingin muntah melihat kejadian itu. Angga ingin menolaknya, tapi tubuhnya mendadak jadi kaku, bahkan untuk sekedar menutup mata pun dia tak sanggup melakukannya.
"Sudah... Sudah cukup, saya cuma ingin petunjuk arah pulang, kenapa kalian memperlihatkan semua ini kepada saya?"
"Kami sudah menasehati kamu, tapi kamu buta dan tuli, lihatlah yang akan kamu alami selanjutnya. Bukankah Nyai sudah mewanti wanti untuk tidak ikut campur dalam masalah orang lain?"
"Biarkan temanmu menanggung karmanya sendiri, semua hanyalah jalan takdir, siapa yang sudah menanam, maka dia yang akan memetik hasilnya nak."
"Baik, buruk yang akan kamu terima tergantung pada perbuatan mu di masa lalu."
Tiba tiba siluet pria itu menghilang, dan sang nenek menunjukkan arah kemana Angga harus melangkah, kemudian dia menghilang bersama terang.
Angga kembali tersentak, kemudian membuka matanya, suara bising mesin lokomotif kereta kembali terdengar, dan ia mendapati dirinya masih berada dalam kereta menuju Banyuwangi.
Di depannya om Bandi masih duduk bersila, larut dalam semedi, Angga yang masih tidak percaya dengan pengalaman mistik yang baru saja di laluinya, menoleh ke arah bangku penumpang lain, seakan dia ingin memastikan bahwa dirinya telah kembali ke dunia nyata.
"Wah kita berjodoh mas, ketemu lagi disini, teman temannya mana, sendiri saja?"
Angga menengadahkan wajahnya ke atas, dan seorang petugas kereta yang membantunya saat Jaka tiba tiba hilang, sudah berdiri di samping dengan senyum ramah menghias bibirnya.
"Oh bapak, iya kita jumpa lagi, saya dengan om sekarang, teman teman masih berada di Banyuwangi."
"Rupanya sampean baru mimpi buruk ya, suaranya sampai sampai membuat penumpang lain khawatir, kalau boleh tahu sampean sudah melakukan apa?"
Angga memperbaiki duduknya, sambil menyeka keringat di dahi yang mengucur deras.
"Saya tidak melakukan apa apa, tapi entahlah, karena saya sendiri baru kali pertama mengalami masalah pelik yang seperti ini pak."
Petugas kereta mengambil tempat duduk di sebelah om Bandi. Pria itu langsung menyentuh lengan Angga dengan jarinya, kemudian buru buru melepaskannya kembali.
"Ini bukan perkara kecil mas, saran saya tidak usah sampean teruskan, tapi kalau tekad sampean memang sudah bulat, tolong hati hati, sekali bersentuhan dengan mereka, kita akan sulit untuk bisa lepas lagi."
Ucapan petugas kereta itu sangat mirip dengan pria dalam mimpi Angga, dia jadi ragu ragu dengan tekadnya. Akan meneruskan tujuan, atau mundur demi keselamatannya.
"Jika aku mundur sekarang, lalu bagaimana dengan mereka semua, bagaimanapun aku sudah berjanji akan kembali. Aku tidak mungkin menarik kata kata ku lagi sekarang."
Ada perang batin dalam diri Angga, tapi dia sudah berjanji kepada Herly untuk kembali, dan Angga mau tak mau harus menepatinya. Baginya ini pilihan yang sulit, namun ayah Angga pernah berkata jika seorang pria telah berjanji, maka dia harus menepatinya.
"Benar kata ayah laki laki itu yang di pegang adalah janjinya, jadi aku harus kembali kesana meski nyawa taruhannya."
"Saya akan berhati hati pak, doakan kami kembali dengan selamat."
Petugas kereta hanya tersenyum, lalu menepuk pundak Angga dan pergi berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Sementara itu om Bandi mulai menggerakkan tubuhnya, bertanda ia sudah mulai tersadar dari semedi yang cukup lama.
Kereta terus melaju kencang, baik Angga maupun om Bandi masih fokus mencari jalan tengah untuk menyelamatkan Herly.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ifan K.
iya emank katakternya batu sih ya..😁😄😄😄
2023-09-23
1
Indri Wulandari
mang si angga ini ngeyel d ksh taunya dah berkali " diberi peringatan msh aja ngeyel dan nekat enga ngudeng
2023-09-23
2