Anggga duduk di meja makan menikmati nasi goreng buatan om Bandi. Jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi, udara di kota Malang masih terasa sejuk, namun Angga tidak dapat menyembunyikan rasa gelisah dalam hatinya. Pelan pelan ia mulai mencoba untuk mengungkapkan tujuannya datang berkunjung kepada om Bandi.
"Maaf sebelumnya om. Ada hal serius yang ingin saya utarakan kepada om Bandi. Sejujurnya, selain ingin liburan dan mengunjungi om Bandi, saya sebenarnya ada tujuan lain datang ke kota ini om."
Om Bandi berhenti mengunyah nasi dalam mulutnya, lalu menatap lekat wajah Angga. Kening pria itu berkerut lantas meletakkan sendoknya di piring.
Sikap om Bandi seketika jadi serius. Dia menangkap ada sesuatu yang tidak biasa dari sikap pemuda tampan yang duduk di depannya.
"Ada apa Ngga, setelah dewasa, kamu kok malah jadi hati hati kalau mau bicara, seperti om ini bukan kerabatmu saja?"
"Ayo teruskan ada apa sebenarnya, mungkin kita bisa cari jalan keluarnya sama sama. Lagi pula, om Bandi sedang libur, jadi kita bisa ngobrol apa saja seharian."
Om Bandi menegaskan agar Angga tidak perlu ragu ragu. Dia sungguh penasaran dengan apa yang ingin di ungkapkan keponakannya itu.
"Sebenarnya ini bukan masalah saya om, melainkan seorang teman yang tinggal di Banyuwangi. Dia adalah putra saudagar kaya di desa."
"Belum lama ini, saya dan tiga orang teman mendapatkan undangan dari Herly, seorang kawan dimasa kuliah, dan saya memutuskan untuk datang memenuhi undangan. Tapi setibanya disana, saya merasa rumah itu penuh aroma mistis."
"Menjelang meninggalnya sang ayah, rumah itu jadi horor om. Saya melihat bayangan orang melayang yang naik ke kamar kosong di lantai tiga, lalu setelahnya, kami di teror oleh suara misterius, yang membuat kami tidak bisa tidur semalaman hingga pagi menjelang, dan keesokan harinya ayah Herly tiba tiba saja meninggal."
"Kejanggalan semakin terasa, saat pengacara keluarga tiba tiba datang membacakan isi surat warisan dan wasiat terakhir mendiang ayah Herly yang bagi kami tidak wajar."
"Surat wasiat itu, aneh dan kesannya sangat misterius. Saya tidak bisa membayangkan ada seorang ayah yang tega melakukan semua itu terhadap putra semata wayangnya."
Om Bandi merasa cerita Angga cukup menarik, dia benar benar kehilangan selera makan dan fokus mendengar ucapan Angga.
"Memangnya apa isi wasiat ayah anak itu, kenapa kamu sampai harus ikut repot memikirkannya?"
Angga menangkap keseriusan di wajah om Bandi. Dia merasa telah berhasil menarik perhatian omnya. Angga lalu melanjutkan penuturan tentang wasiat romo yang terkesan aneh.
"Jadi begini om, dalam surat wasiat itu, sang ayah meminta agar putranya melakukan sebuah ritual aneh yang selama ini ayah Herly tidak pernah sekalipun membahas mengenai ritual kepada anaknya."
"Herly bahkan tidak tahu kalau romo, pernah melakukan ritual, yang selama di ketahui Herly, ayahnya adalah pria hebat, pekerja keras yang berhasil membangun bisnis bidang pertanian."
"Dia hanya tahu kalau ayahnya adalah pria sukses, memiliki lahan luas, dan peternakan. Sangat wajar jika beliau di hormati warga desa dan memiliki kolega bisnis yang luas hingga ke luar kota."
"Namun sekarang setelah ayahnya tiada, Herly harus menerima fakta baru, sisi lain dari ayahnya yang di kenal sebagai sosok ramah dan dermawan."
"Pengacara keluarga yang di tunjuk oleh ayah Herly, telah menyiapkan sejumlah dokumen atas aset, di bank dan properti di luar negri untuk Herly. Tapi dengan dua syarat, pertama Herly harus membuat sebuah ritual sebagai syarat wajib untuk menerima haknya."
"Ke dua setelah menyelesaikan ritual terakhir, sang ayah meminta Herly untuk melepas semua hak atas harta yang ada di desa, lalu menyerahkan harta tersebut kepada orang lain yang sanggup meneruskan beban ritual."
"Dan yang terakhir, waktu saya akan pergi ke stasiun, saya melihat ada hal aneh, entah ini hanya kebetulan atau memang ada kaitannya, tapi yang jelas, waktu itu saya melihat ada beberapa orang aneh yang sedang mengawasi rumah Herly dari jarak yang cukup jauh."
Lantas saya berpikir lagi dan mulai meyakini, bahwa semua ini pasti ada kaitannya dengan surat wasiat yang dituliskan sang ayah. Apakah om Bandi tahu tentang hal hal semacam ini, atau pernah punya pengalaman serupa om?"
"Jujur saja saya penasaran, dan ingin cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, sebab Herly sendiri tidak pernah tahu soal perkara mistik ini. Sekarang dia sedang bimbang, apakah akan terus menuruti isi surat wasiat romo, atau mengabaikannya saja, dengan segala resiko yang kami tidak tahu."
Wajah om Bandi menjadi tegang, pria itu tampak berpikir keras, ada sebuah kecemasan di raut wajahnya, namun dia seperti enggan untuk membahas lebih lanjut masalah itu.
"Nasehat om, sebaiknya kamu pulang saja ke Jakarta, tidak usah repot ikut campur dalam masalah temanmu itu, biarkan saja dia yang menyelesaikan masalahnya sendiri."
"Masalah kutukan bukan ranah kita, salah salah kita terseret masuk di dalamnya. Sekali masuk kamu tidak akan bisa keluar lagi."
"Sudahlah, ayo ikut om, kita pergi jalan jalan. Kamu sudah lama tidak datang kemari, banyak hal baru di kota ini yang belum kamu ketahui."
Om Bandi lalu mengeluarkan motor besar kesayangannya dan mengajak Angga berjalan jalan di kota. Saat di jalur stasiun ia tertarik melihat kios tua penjual buku bekas yang cukup terkenal di eranya. Angga minta agar om Bandi menepi untuk mampir di kios kecil itu.
"Om kita mampir di kios loak buku ya, saya mau cari buku, barangkali saja ada komik jaman dulu yang langka di kios itu, hitung hitung nostalgia."
Om Bandi menuruti keinginan Angga, lalu menepikan motornya. Mereka masuk ke kios tua yang dulu sering di kunjungi kakek Angga. Pria tua pemilik kios langsung mengenali om Bandi, sebab kakek Angga sering kali membawanya membeli buku di kios itu saat ia masih kecil.
Angga langsung masuk memeriksa buku buku tua yang berada di rak, sebagian tidak tertata dengan rapi dan hanya di tumpuk di lantai beralas kertas koran.
Di luar, om Bandi dan pria tua pemilik kios sedang asik mengobrol tanpa menghiraukan Angga sedikitpun. Dia yang terobsesi dengan kasus Herly berencana akan mengajak om Bandi ke perpustakaan, atau museum setelah ini.
Tapi rencananya berubah, sebab Angga menemukan sebuah rak khusus yang berisi buku buku tua tentang budaya Jawa, ritual kuno, dan aksara aksara jawa tentang mantra.
Angga mulai membuka buku satu per satu dan menemukan beberapa kata kata bijak yang membuatnya tertarik. Namun kemudian sebuah buku jatuh dengan sendirinya, konsentrasi Angga langsung teralihkan pada buku yang nyaris menimpa kepalanya.
Karena penasaran dengan isi buku itu, Angga lalu membuka buku tebal yang berisi aksara jawa kuno. Dia terus saja melihat gambar gambar seram di buku itu, meskipun tidak mengerti isinya.
"Kamu baca apa nak, sepertinya buku itu sangat menarik, sampai sampai kamu tidak beranjak sedikitpun dari sana."
Suara pemilik kios menyadarkan Angga. Tanpa terasa, sudah hampir setengah jam dia berjongkok, dan fokus pada buku yang dipegangnya saat ini.
"Berapa harga buku ini mbah, saya mau beli, sepertinya saya berjodoh dengan buku tebal ini, entah apa isinya, tapi saya sangat tertarik untuk mengetahui apa yang terkandung dalam kalimat kalimat singkat di bawah gambar."
Wajah pria tua seketika berubah sinis. Pemilik kios buku itu, menatap wajah Angga dengan tatapan tajam, lalu tersenyum, seraya mengambil sebuah koran bekas.
"Buku tua ini tidak ternilai harganya, saya tidak menjualnya. Buku tua itu bertuah, saya sekalipun akan sulit mengetahui makna yang terkandung dalam buku itu."
"Ada banyak lambang, mitos, di buku yang penuh misteri. Saya tidak akan sarankan kamu untuk membeli buku tua itu."
"Tapi kalau kamu sungguh sungguh ingin belajar tentang isinya, terserah saja."
Angga melihat lagi buku di tangannya dan keinginan hatinya tak berubah. Meski tak mengerti isinya, namun dia tetap ingin membeli buku itu.
"Saya mau buku ini, berapa haganya mbah?"
"Gratis untuk kamu, saya akan beri buku itu sebagai hadiah. Suatu hari, jika kamu sudah bosan dengan buku ini, jangan di buang, kembalikan lagi kemari, atau dia akan menemukan jalan kembali ke kios ini."
Angga merasa ada yang aneh dengan perkataan pria tua pemilik kios, tapi Angga tak ingin menggubrisnya. Pria tua pemilik kios itu membungkus buku dengan kertas koran lalu memberikannya kepada Angga.
Om Bandi kembali berbincang bincang sedikit dengan pemilik kios, lalu mereka pamit, segera pergi meninggalkan kios, untuk selanjutnya pergi ke perpustakaan daerah.
Om Bandi, masih menyimpan ucapan pria tua pemilik kios dalam hatinya. Dia tak bicara apapun kepada Angga tentang ucapan pemilik kios, dan hanya melajukan motornya menuju perpustakaan daerah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
si Angga ini orang nya terkesan cuek dgn pemikiran yg diluar nalar kayanya...
2025-01-27
0