Malam semakin larut, desa di lereng gunung itu sangat sunyi. Semua orang masuk ke kamar masing masing. Angga masih duduk di atas ranjang. Kamar remang itu terlihat suram dan menyeramkan baginya.
"Kamar ini terlalu besar untuk aku tiduri sendiri. Apa pekerjaan romo sampai bisa membangun rumah besar seperti ini?"
"Patung, guci, topeng, dan lukisan itu, jujur saja membuat aku jadi merinding. Hawa rumah ini tidak sehat, dingin, dan aneh. Auranya mengintimidasi, dari tadi aku tidak melihat ada anggota keluarga yang lain, hanya ada mereka bertiga di rumah ini."
"Lalu untuk apa romo membangun rumah besar dengan banyak kamar, bahkan sampai ada tiga lantai di rumah ini. Benar benar keluarga yang aneh."
Angga tidak bisa tidur dia hanya terdiam merenung melihat barang barang di kamar yang seperti memiliki nyawa. Angga bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia sempat mengintip keluar melihat suasana hening di lorong, lalu kembali menutup pintu kamar.
Lorong lantai dua sudah gelap, hanya ada beberapa bolam yang masih menyala. Angga berpikir untuk tidur dengan Ryo. Dia tidak suka aura di kamar tempatnya berada sekarang.
"Sebaiknya aku pindah ke kamar Ryo, kamar ini membuatku takut."
"Tok... Tok... Tok... Ryo.. Yo... Buka pintunya Yo..!"
Angga menoleh ke kanan kirinya, ruangan itu sangat sepi, tapi Angga merasa dirinya sedang diawasi oleh seseorang yang mungkin saja dia bersembunyi dalam gelap.
Saat Angga menoleh lagi ke arah tangga menuju lantai tiga, tempat Herly dan orang tuanya tidur, dia melihat sekelebat bayangan hitam melayang naik ke atas.
Tengkuk Angga terasa sangat dingin, jantungnya berdegub lebih kencang, telapak tangannya berkeringat, dan bulu kuduknya meremang. Angga benar benar tidak bisa mengontrol emosinya.
Rasa takut menghantui pikirannya. Ketukan pintu jadi semakin keras, hingga Ryo, akhirnya muncul dari balik pintu, dan menarik Angga ke dalam.
"Ssst.. diam jangan berisik, aku tahu yang kamu lihat!"
"Terus kenapa kamu lama buka pintunya?"
Ryo membekap mulut Angga yang tak sabar akan menceritakan pengalaman horor yang baru saja dia rasakan. Setelah Angga lebih tenang, Ryo melepaskan bekapan tangan kanannya dari mulut Angga.
Ternyata Jaka sudah ada di kamar itu, duduk di kursi meja rias di dekat lemari jati. Wajah pemuda itu sama pucatnya dengan Angga. Rupanya pemuda itu telah lebih dulu merasakan gangguan di kamarnya.
"Bukan cuma kamu Ngga, si Jaka justru orang yang pertama, aku rasa rumah ini punya rahasia. Sebaiknya kita tidak usah tinggal lebih lama lagi disini, besok pagi pagi sekali kita pamit pulang."
Ryo menunjuk ke arah Jaka, wajah pemuda kekar itu tampak shock dan tidak dapat bicara. Ryo merasa rumah Herly tidak beres sejak awal. Untung saja dirinya belum mendapatkan teror apapun, sehingga terlihat lebih tegar dari yang lain.
"Aku setuju kita pulang besok pagi, aku tidak mau menjadi tumbal di rumah sialan ini."
Angga sangat emosional, baru kali ini dia merasa sangat di intimidasi. Perasaan tidak nyaman yang dari awal mereka rasakan ternyata benar benar terbukti nyata terjadi. Ryo mulai menghubung hubungkan ucapan nenek di stasiun, dengan apa yang mereka alami sekarang.
"Apa Herly pelaku pesugihan ya Ngga?"
Jaka mulai curiga kalau keluarga Herly mengambil jalan pintas untuk mencapai kemakmuran. Bukan tanpa sebab, meski di tempat yang sangat terpencil, tapi rumah Herly ini memang sangat besar. Tanah pekarangan luas, yang di tumbuhi banyak pepohonan besar, seperti tidak memiliki pagar sama sekali.
Mereka curiga Herly mendapatkan kekayaanya dengan cara yang tidak wajar. Tapi Angga tidak yakin kalau Herly yang melakukannya.
"Aku rasa bukan Herly pelakunya, tapi romo. Rumah ini adalah milik orang tua Herly, dia hanya menjadi pewaris. Jujur saja aku agak heran dengan wasiat ayahnya. Kalian dengar ucapan romo tadi kan?"
"Dia minta Herly menyuruh orang lain, untuk memakamkan dirinya di kampung halaman. Artinya desa ini bukan tanah kelahiran beliau."
"Lebih mengherankan lagi, romo tidak mengizinkan Herly sebagai putra tunggalnya, mengunjungi makam beliau, dan dia ingin melihat putranya mempunyai teman, karena itu kita berada disini sekarang."
"Meskipun semasa kuliah kita tidak terlalu akrab dengannya, tapi Herly menganggap kita sebagai sahabat. Pasti ada alasan di balik semua ini, iya kan?"
Angga melanjutkan kecurigaan Jaka, tapi bukan di tujukan kepada Herly, melainkan pada sosok sang romo yang terlihat akan menjemput ajalnya sebentar lagi.
Terlalu banyak kejanggalan dalam ucapan ayah Herly yang tentu saja membuatnya yakin, kalau bukan Herly yang melakukan pesugihan, tapi sang romo. Namun semuanya masih sebatas prasangka pribadi seorang Angga.
Ryo mengernyitkan dahinya, dia mencoba untuk memahami situasi mereka. Ada rasa penasaran di benaknya. Terlalu banyak teka teki di keluarga Herly, tapi teror mental yang mereka alami di rumah ini, membuat mereka ingin cepat cepat pergi dari sana.
Malam ini mereka tidak bisa tidur. Suara berisik dari luar kamar masih saja terdengar. Ketiganya jadi sulit memejamkan mata. Rasa was was menghantui mereka. Angga, Jaka, dan Ryo, baru bisa tidur, saat langit mulai terang, dan suara aktifitas di luar kamar sudah tak lagi terdengar.
Di kamar Bagus baru saja selesai meditasi. Pemuda aneh itu tidak merasa ada sesuatu yang aneh mengganggu tidurnya. Kebiasaan bangun di pagi buta, memang telah dilakoninya sejak lama, kala Bagus masih berguru ilmu hitam.
Jam enam pagi Bagus keluar dari kamar. Ia berjalan jalan sendiri memeriksa kamar Angga yang sedikit terbuka. Bagus melongok ke dalam, melihat apakah temannya itu sudah bangun atau belum.
"Ternyata Angga sudah bangun, tapi kemana dia di pagi buta begini?"
Bagus tersenyum tipis, lalu pergi menuju kamar Ryo, yang terkunci dari dalam. Bagus mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.
"Dasar kebo, jam segini masih juga tidur."
Bagus bergumam lirih, lalu turun menuju ruang tengah. Dia tidak menemukan siapa siapa di tempat itu. Karena bosan Bagus berjalan jalan di dalam rumah. Ia berpikir akan melihat koleksi barang barang antik milik romo yang terpajang dari ruang tamu hingga ke ruang makan.
Rumah itu bagai museum, banyak artefak kuno yang menjadi koleksi romo. Bagus merasakan beberapa benda pusaka memang bertuah. Sebagai orang yang pernah tersesat menggeluti dunia hitam. Bagus mengerti betul apa yang mendiami benda koleksi romo.
"Pantas saja, hawa rumah ini tidak enak, banyak benda di rumah ini yang memiliki nyawa."
Sedang asyik melihat lihat, tiba tiba sudut mata Bagus melihat bayangan romo yang berjalan ke arah dapur. Bagus diam, dan coba mengingat ingat kejadian tadi malam. Dia tahu betul kalau romo duduk di kursi roda. Tubuh orang tua itu sangat ringkih, sampai Herly harus menggendong ayahnya untuk berbaring di ranjang.
"Kamu sudah bagun Gus, yang lain pada kemana, apa belum bangun?"
Bagus terkejut, matanya segera teralihkan pada suara Herly yang sedang menapaki anak tangga. Herly dan Yasmin turun bersama, istri Herly segera pergi menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Sepertinya mereka sangat lelah Her, aku sudah ketuk pintu kamar Ryo tapi tak ada jawaban, sedang Angga aku tidak tahu dia pergi kemana, kamarnya sudah kosong."
"Jaka sepertinya masih tidur sama dengan Ryo. Dua orang itu tidur seperti kebo."
"HAHAHAHA...!"
Kamu bisa saja Gus, ya sudah, coba kita cari Angga di halaman depan, mungkin dia sedang jalan jalan di sekitar kebun."
Herly membuka pintu samping yang masih terkunci, dia berpikir kalau Angga pasti keluar dari pintu ruang tamu.
Setelah jalan jalan keliling rumah, Bagus baru mengetahui secara jelas penampakan rumah keluarga Herly. Bangunan tua itu lebih mirip sebuah kastil dari pada rumah mewah.
Strukturnya kokoh bergaya gotik, mirip gaya bangunan rumah orang orang eropa di abad pertengahan.
Pekarangannya sangat luas tanpa ada pagar yang menghalangi. Pohon pohon tua, besar, dan tinggi, berjajar rapi menaungi rumah itu. Mata Bagus kembali terpusat pada satu titik. Ia seperti melihat romo sedang berdiri menatapnya dari sebuah pohon yang cukup jauh dari letaknya berdiri.
"Ada apa Gus, kamu lihat apa, sepertinya ada sesuatu yang membuat kamu tertarik?"
Herly menatap ke arah pohon yang menjadi pusat perhatian Bagus. Dia coba menelisik, apa yang sedang diperhatikan Bagus. Namun tidak ada apa apa disana. Bagus sendiri enggan bercerita tentang apa yang baru dilihatnya.
Pemuda aneh itu lebih memilih diam, menyimpan rasa penasaran di dalam benaknya, ketimbang dia harus memberi tahu Herly tentang keanehan yang dirasakannya.
"Ooh... tidak apa apa Her, aku cuma sedikit bingung, bagaimana cara kalian berdua mengurus rumah ini. Bangunan besar dengan halaman yang seluas ini, pasti merepotkan."
"HAHAHA...!"
"Tentu saja kami tidak mampu Gus, disini kami tidak sendiri. Setiap hari puluhan orang datang kemari bekerja pada romo, akan tetapi mereka semua tidak tinggal di rumah ini. Sekarang baru jam enam pagi, mereka baru akan datang bekerja tepat jam tujuh pagi."
"Romo adalah pemilik dari dua puluh hektare sawah dan lima belas hektare kebun, beliau juga memiliki peternakan sapi potong tidak jauh dari rumah ini."
"Kami memperkerjakan penduduk dari dua desa, karena itu, meskipun anak petani, aku mampu merantau ke Jakarta, dan kuliah di universitas milik anak anak borjuis seperti kalian. Ya... walaupun aku sempat minder dengan gaya hidup teman teman."
"Tapi aku bersyukur masih ada anak anak baik seperti kalian yang tidak memilah milih pertemanan. Kamu, Angga, Jaka, dan Ryo mau berteman dengan aku yang seorang anak petani berasal dari udik."
"Ya... aku juga sadar, kalau kita sebenarnya tidak terlalu akrab, tapi tetap saja aku menganggap kalian sebagai sahabat terdekatku."
Mendengar ucapan Herly, Bagus langsung terhenyak, dia yang dulu populer di antara teman teman seangkatan, tak pernah berpikir mengotak kotakkan teman. Tapi memang iya, Bagus lebih sering berkumpul dengan anak anak yang sealiran. Dia lebih senang kumpul, nongkrong, dan menyalurkan hobi bermusik dengan kelompok bandnya.
"Maaf kalau kamu merasa begitu Her, kami tak bermaksud seperti itu. Khususnya aku, sejujurnya secara pribadi, aku tidak pernah ingin membedakan teman, apalagi anak pintar seperti kamu."
"Waktu itu aku sangat terobsesi dengan musik, ya... kamu juga tahu kalau aku sering bolos kuliah. Kalau bukan dispensasi rektor, aku tidak akan mungkin lulus tepat waktu."
Herly tersenyum tipis, dia bisa maklumi sikap Bagus. Sambil mengbrol, Herly mengajak Bagus kembali ke rumah. Para pekerja mulai datang berduyun duyun. Yasmin terlihat sedang berdiri di pintu dapur dengan senyum manis menyambut para asisten rumah tangga, yang bersiap menjalankan tugas keseharian mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Niswah
masih penasaran, apakah mereka selamat
2024-01-30
1