Om Bandi telah membuka matanya, pertanda pria itu sudah kembali dari semedi. Angga yang melihat omnya sudah sadar, ingin cepat cepat bercerita tentang apa yang telah terjadi di mimpinya beberapa waktu lalu.
"Jangan ceritakan sekarang, om Bandi butuh sedikit waktu untuk tenang, dan memulihkan tenaga Ngga."
Angga yang mendengar penolakan omnya, bahkan sebelum ia sempat berkata kata, langsung terkejut dan memilih untuk diam. Ia cukup heran karena om Bandi seolah olah tahu apa yang ingin dia katakan.
"Aku memang tak cukup mengenal om Bandi, tapi aku rasa pria tua ini memiliki sesuatu yang spesial pada dirinya."
"Dia bahkan bisa menebak kalau aku ingin bercerita soal mimpi ku tadi, apa om Bandi sudah memiliki jawaban atas perkara ini, atau dia punya pengalaman yang sama dengan ku saat bermeditasi?"
Angga termenung dia menebak nebak, apa yang dipikirkan omnya saat ini. Pemuda itu merasa pria yang sedang duduk lemas di hadapannya sekarang, memiliki informasi tentang apa yang ingin ia sampaikan.
"Temanmu itu, bukan dari keluarga biasa, dia adalah keturunan terakhir dari terah keluarga bangsawan, tepatnya leluhurnya adalah seorang Adipati."
"Sayang sekali leluhur temanmu itu, mereka telah melakukan satu perbuatan menyimpang yang mengerikan di masa lalu, semuanya hanya demi menjaga kelanggengan dari terah mereka."
"Ada banyak kekejaman yang telah di perbuat sang Adipati hanya untuk menyingkirkan lawan, dan menjaga pengaruhnya. Dia bahkan membuat perjanjian darah yang membuatnya memiliki ribuan perewangan untuk sekedar menjadikan keluarga mereka kuat, disegani, dan berpengaruh."
"Perewangan itu yang saat ini terus melekat pada garis keturunan sang Adipati, terpelihara dengan baik sampai sekarang. Meskipun pada akhirnya, keluarga itu jadi terkena kutuk dari seorang wanita yang mereka jadikan tumbal Ngga."
"Dua generasi mereka berhasil di selamatkan, namun ingonnya tetap ikut dan selalu menagih janji. Hal ini tentu memberatkan. Tanpa tumbal, hidup mereka tidak akan tenang. Itu yang menurut om Bandi menjadi penyebab utama mereka memilih mengasingkan diri di desanya sekarang."
Angga terkesima dengan penuturan om Bandi, cerita om Bandi kurang lebih sama dengan kepingan kisah masa lampau yang di perlihatkan oleh sosok nenek berkebaya hitam dalam mimpinya.
"Lalu jika keluarga Herly bisa pergi menghindar dari kutukan di desa, bukankah kakeknya bisa melepas ingon yang mengikuti mereka, dan kenapa mereka harus tinggal di desa itu om?"
Pembahasan teka teki di balik misteri keluarga Herly semakin membuat Angga penasaran, dan ingin mengulik lebih jauh tentang mereka.
"Masalah gaib semacam ini sulit untuk di nalar, tapi kemungkinan desa itu mereka pilih, karena ada sesuatu di desa itu yang menjadi tameng bagi keluarga mereka."
"Semacam teritorial, yang itu tidak dapat di tembus mahluk dari luar teritori, atau dengan kata lain, desa itu dalam genggaman kekuasaan dari mahluk mahluk disana. Bisa jadi keluarga teman mu membuat perjanjian baru, mungkin juga itu masih dalam wilayah kekuasaan ingonnya."
"Entahlah, tapi sepertinya ayah dari temanmu itu sudah lelah dengan segala ritual yang menghantuinya, sehingga dia hendak mengakhiri semua ini dan segera bertaubat."
"Om Bandi tidak tahu pasti apa alasan yang sebenarnya, tapi menurut om, Ayahnya sengaja melakukan ini, karena dia ingin menyelamatkan anak keturunan mereka, agar terlepas dari jerat perjanjian dengan iblis yang mengikat mereka turun temurun."
Sedikit sedikit Angga mulai bisa menalar alasan romo membuat surat wasiat, dan dia berfikir, jika memang itu demi pertaubatan, maka tidak layak bagi romo untuk mengorbankan orang lain untuk masuk jeratan iblis, hanya demi menggantikan keluarga mereka.
Meskipun Angga sendiri juga sadar, bahwa sifat manusia itu cendrung serakah, pasti akan ada orang yang terdorong untuk melakukan hal hal aneh demi harta dan tahta.
Dia sangat yakin, pasti akan ada saja orang orang di luar sana yang mau menerima beban ritual, seperti yang di inginkan romo dalam surat wasiatnya.
Jadi sangat wajar bila ayah Herly berfikir untuk mengalihkan kutukan kepada orang kain, yang memang mereka menginginkan jalan instan untuk meraih kejayaan.
"Masalah ini rumit sekali, awalnya aku berfikir liburan ini akan sangat menyenangkan buat ku, tapi tidak, bukan mengendurkan urat syaraf, aku malah di buat tegang dengan kasus Herly."
Angga terdiam dia larut dalam lamunannya sendiri, sementara om Bandi, memperhatikan sekeliling mereka. Dia tahu beberapa orang di dekat kursinya ikut menyimak apa yang menjadi bahan perbincangan mereka.
Sementara itu, di tempat berbeda, Herly, Yasmin, Ryo, Bagus, dan Jaka, mereka berlima tengah asik mengobrol di meja makan. Herly telah meyakinkan dirinya tidak akan mengalihkan properti milik keluarga mereka ke orang lain. Dia memilih akan menempuh opsi lain, dengan segala resiko yang terpaksa harus di tanggungnya.
Memutuskan perjanjian menurut Herly adalah langkah bijak yang paling tepat, meski dia tahu peluang untuk berhasil sangat kecil. Tapi dia dan Yasmin sudah memebuat keputusan, Herly akan tetap pergi ke tanah leluhur sang ayah, walaupun itu bertentangan dengan isi surat wasiat romo.
"Jadi apa keputusan kalian, apa kamu bersedia meninggalkan desa ini dan ikut kami ke Jakarta?"
Ryo coba mengorek informasi dari Herly, pria tambun itu, sebenarnya agak khawatir dengan situasi Herly sekarang. Apa lagi sejak mereka datang ke rumah itu.
Gangguan ganguan meta fisik yang kerap muncul menteror mereka, itu cukup menjadi alasan untuk pergi, tapi entah mengapa, Ryo, Jaka, dan Bagus, seperti berat meninggalkan rumah itu, apa lagi saat ini Herly, sedang dalam masalah rumit, yang mereka tidak tahu, apa konsekuensi dari masalah ini bagi mereka.
"Aku akan tetap mempertahankan aset romo di desa ini Yo, apapun alasannya, ini adalah jerih payah romo, tidak bijak rasanya melepas tanggung jawab kepada orang lain, yang mungkin saja itu berdampak buruk baginya."
"Sebentar lagi pengacara romo ku akan sampai, aku akan mengatakan semua rencana ku kepada beliau nanti."
"Sebelum itu, aku mau minta tolong kalian untuk menggeledah rumah ini. Aku yakin romo pasti masih menyimpan arsip, tentang silsilah keluarga kami."
"Semoga saja kita bisa menemukan jejak desa tempat para leluhur ku berada. Peta terakhir yang ada telah hilang bersama orang orang yang mengantarkan jenazah romo, tapi aku memiliki keyakinan, romo pasti memiliki salinan, sebab itu adalah bukti otentik dari keberadaan kami."
Ucapan Herly membuat Bagus jadi tak enak makan, entah apa yang di pikirkan pemuda yang dulu pernah mempelajari ilmu hitam itu, namun yang pasti dia langsung bereaksi, dengan menunjukkan wajah yang tak bersahabat kepada Herly.
"Bruak...!!"
"Kamu jangan bodoh Her, mendiang romo mu itu ingin keluarga kalian selamat, sebaiknya turuti saja apa isi surat wasiat itu, supaya kamu, istri, dan anak mu selamat!"
"Bukannya malah bersikap konyol, ingin menggali makam sendiri, apa kamu tidak memikirkan Yasmin, dan bayi dalam kandungannya?"
"Gus sudah gus, kamu harus bisa mengendalikan emosi, coba hargai keputusan Herly, dia pasti punya alasan sendiri, kenapa mengambil keputusan ini."
Emosi Jaka tersulut, pria kekar itu tak suka dengan sikap Bagus yang menurutnya sangat arogan. Walau dalam hatinya, Jaka setuju dengan pendapat Bagus, namun ini adalah masalah pribadi Herly, dia merasa tak perlu ikut campur, selain hanya mendukung apapun keputusannya.
"Maafkan aku teman teman, ini memang terdengar sangat konyol, tapi hati nurani ku tidak mungkin membiarkan orang lain masuk dalam bahaya yang keluarga kami ciptakan."
"Aku akan tetap melakukan ritual terakhir, lalu mencari cara melepas perjanjian. Pasti ada cara untuk mebalik mantra, dan membatalkan perjanjian yang sudah dibuat oleh para leluhur kami."
"Aku minta, setelah ini kalian pulang ke Jakarta, titip istri ku, antarkan Yasmin, ke pondok pesantren guru ku di Jember. Semoga beliau bisa menjaga mereka berdua, sampai anak ku lahir."
"Jika ini berhasil, aku akan segera pergi menyusul kalian, dan kita akan sama sama merancang masa depan di Jakarta."
Tiba tiba suasana menjadi hening, entah mengapa ucapan Herly, membuat Ryo merinding. Pemuda tambun itu seperti mendapat satu firasat buruk, akan terjadi kepada mereka semua.
Awalnya dia berniat akan pulang sesuai rencana mereka semula, tapi ucapan Herly malah membuat Ryo semakin yakin untuk tetap ada di desa itu, apapun yang kelak akan terjadi.
"Aku harap keputusan ku tepat kali ini, tapi aku akan tetap disini. Kita akan cari desa leluhur mu, setelah semuanya selesai, kita sama sama ke Jakarta memulai semuanya dari awal lagi."
Suasana di meja makan menjadi agak canggung, Jaka bingung akan mendukung Ryo, atau tetap memilih pulang sesuai rencana mereka di awal. Jaka sadar betul, jika ia tetap tinggal, maka akan banyak resiko yang tidak terduga, dapat menimpa mereka kapan saja. Tapi jika dia memilih untuk pulang, artinya Jaka akan pulang sendiri tanpa Ryo.
Sedangkan Bagus menyelesaikan makannya, lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka semua di meja makan, tanpa sepatah kata yang terlontar dari mulutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments