Jam satu siang, Angga dan teman teman tiba di stasiun kota tujuan. Seluruh penumpang telah turun, kecuali seorang wanita tua renta yang mengenakan kebaya hitam. Tanpa sengaja mata Angga bertemu pandang dengan sorot tajam mata sang nenek.
"Muleh...!"
Kata itu terdengar jelas mengiang di telinga Angga. Pria ramping berotot itu cepat cepat menundukan wajah, menghindari tatapan tajam sang nenek yang membuatnya segan.
"Ayo Ngga, kita harus menunggu jemputan dari orang suruhan Herly."
Suara keras Ryo terdengar memekakkan telinga. Angga mengangkat wajahnya dan wanita tua itu sudah tidak ada lagi di tempat duduknya. Bulu kuduk Angga meremang, tengkuknya terasa dingin. Kata muleh yang berarti pulang masih terekam di dalam otaknya.
Di tengah tengah keramaian orang di stasiun, Angga merasa hening, dia tak lagi melihat orang orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Stasiun itu benar benar kosong, hanya menyisakan Angga seorang diri.
"Ndang muleh, yen kue pengen selamet!"
Suara serak wanita tua terdengar lagi di telinga Angga. Pemuda itu langsung mengedarkan pandangan ke sekitar, tapi tidak ada siapa siapa disana, kecuali dirinya.
"Sial... ada apa lagi sekarang, dari tadi keanehan ini tak henti hentinya menteror kami, aku yang edan, atau sesuatu di kota ini sedang menipu panca indraku, keanehan ini, apa semua ini, kenapa stasiun ini jadi mendadak sepi?"
"Aku ini sebenarnya kenapa, sejak naik kereta itu, semua terasa aneh. Tidak mungkin gangguan jin kan?"
Tiba tiba Ryo datang menghampiri Angga. Pemuda tambun itu segera menarik lengan temannya, yang masih diam mematung di tempat.
Angga merasakan tangannya di seret seseorang, dan semuanya berubah kembali normal seperti sedia kala.
"Heh, ayo jalan... malah bengong sih?"
Angga baru sadar, dia bisa melihat lagi hiruk pikuk aktifitas stasiun. Ia buru buru menjinjing koper kecil miliknya, lalu mengikuti Ryo keluar stasiun.
Di depan Jaka terlihat sedang bercakap cakap dengan seorang pria kurus yang mengenakan setelan safari biru gelap. Pria itu langsung bisa mengenali Angga dan Ryo.
"Kita berangkat sekarang mas, biar nanti tidak terlalu sore sampai di desa. Bapak sudah menunggu kalian di rumah."
"Kami semua ini belum makan Yon, kamu antarkan kami ke warung di dekat dekat sini dulu ya. Nanti habis makan, baru kita berangkat ke desa Herly."
Yono mengangguk setuju. Supir suruhan Herly itu segera membuka bagasi mobil, kemudian membantu memasukkan barang bawaan Angga dan teman teman.
Setelah lima belas menit keluar dari stasiun, mobil yang dikemudikan Yono parkir di halaman sebuah rumah makan yang cukup ramai pengunjung.
Yono memandu ketiga tamunya memesan makanan. Suara khas musisi jalanan mewarnai istirahat makan siang mereka. Setelah sempat buang air, dan beribadah di mushola rumah makan, Angga keluar lebih dulu menuju mobil.
"Sebaiknya kamu pulang sekarang nak, tempat yang akan kalian tuju, bukan rumah yang layak untuk disinggahi."
Seorang kakek berpenampilan lusuh berdiri dengan tongkat kayu menghadang langkah Angga. Pria tua itu menyarankan agar Angga tak usah melanjutkan perjalanan mereka ke desa Herly.
Angga mengamati tampilan lusuh pria tua yang mirip pengemis di hadapannya. Dia lalu mengambil uang pecahan sepuluh ribu rupiah dari dompetnya, dan kemudian memberikan uang itu kepada pria tua tersebut.
Tanpa menoleh lagi, Angga buru buru melanjutkan langkah kakinya menuju mobil. Ia segera masuk dan menunggu di dalam. Tapi tiba tiba pria tua itu berteriak lantang, Angga sempat melirik ke arahnya melalui jendela, namun dia tak ingin ambil pusing, Angga hanya duduk santai bersandar dan mengabaikan pria tua itu begitu saja.
"Hati hati anak muda, rumah yang kamu tuju itu bukan rumah yang semestinya kamu kunjungi!"
Angga menoleh lagi dari jendela mobil. Dia tak mengerti apa arti ucapan pria tua itu. Tapi keanehan kembali terjadi, pria pengemis tua yang sempat di beri uang oleh Angga tiba tiba menghilang. Dia tak lagi berada di tempatnya berdiri.
Uang pecahan sepuluh ribu rupiah yang diberikan Angga, tergeletak di tanah tersapu angin. Uang itu terus melayang jauh hingga tergeletak di dekat kaki Jaka.
"Ini Ngga, tadi aku lihat kamu menjatuhkan uang sepuluh ribu ini di sana. Jangan lalai walaupun nominalnya kecil. Uang ini tetap memiliki nilai besar bagi orang orang yang membutuhkan."
Angga diam tidak menjawab, tangannya menerima uang yang di sodorkan Jaka, tapi pikirannya terus mengembara jauh, mencerna setiap peristiwa yang telah mereka lewati.
"Nenek di stasiun, Jaka yang sempat hilang di kereta, dan kakek tua tadi, apakah ini sebuah pertanda atau hanya kebetulan semata?"
Angga mengusap wajahnya. Dia ingin sekali menayakan hal aneh ini kepada Yono. Tapi entah kenapa bibirnya berat sekali untuk berucap. Dia takut Yono tersinggung dan mengira dirinya cari cari masalah.
Sejak dahulu kala, kota itu memang terkenal kental dengan sesuatu yang berbau mistis. Angga berpikir, apa yang sedang dia alami sekarang, adalah bagian dari itu semua.
Tapi sekali lagi, Angga tidak ingin punya masalah dengan orang lain. Dia memilih menyimpannya sendiri dalam hati.
Mobil semakin jauh meninggalkan kota. Suasana desa mulai terasa. Pemandangan indah sawah dan sungai sungai kecil tersaji di depan mata. Mereka mulai bisa menikmati perjalanan. Semua orang dapat melupakan peristiwa ganjil yang pernah mereka alami.
Jalanan desa mulai menyempit, pemandangan hijau hutan lindung terhampar luas di hadapan mata mereka. Matahari kian meredup, udara dingin terasa menembus kulit. Angga masih terbius, takjub dengan bentang alam yang mengagumkan.
Di kota besar seperti Jakarta, dia tidak akan pernah mendapatkan view indah seperti ini. Meskipun jalan mulai rusak, namun mereka tetap bisa menikmati perjalanan.
"Kreakk...!"
Tiba tiba saja roda mobil berhenti bergerak. Yono turun memeriksa apa yang baru saja di tabraknya. Dengan teliti mata pemuda desa itu memeriksa body mobil. Yono berjalan memutar, mencari tahu benda apa yang tertabrak olehnya.
Setelah dua kali memutari body mobil, Yono memastikan mobil mini bus juragannya aman, tanpa noda gores sedikitpun. Ryo yang bosan menunggu, kemudian turun, dan ikut memeriksa.
"Kamu berhenti kenapa Yon, mobil ini aman kok, nggak ada yang lecet sedikitpun. Batu, kayu, atau benda lain juga tidak ada."
"Iya mas, semuanya aman, tapi saya yakin telah menabrak sesuatu. Tak mungkin hanya sekedar halusinasi, sebab saya mendengar jelas suara benda itu."
Ryo tak menyanggah ucapan Yono, karena dia yang duduk di sebelah Yono, juga mendengar suara yang sama persis dengan apa yang di katakan Yono.
Seperti Yono, dia juga heran dengan keadaan itu. Ryo masuk kembali ke dalam mobil, dengan rasa heran bercampur was was ia mengawasi sekeliling mereka.
Mobil yang di kemudikan Yono kembali melaju. Langit sore berwarna jingga keemasan. Malam akan segera tiba, Yono tampak mulai gelisah, dan mempercepat laju mobilnya.
"Pelan pelan saja Yon, hati hati, jangan sampai kita semua celaka, hanya karena kamu ingin buru buru tiba di rumah."
Jaka mengingatkan Yono yang mulai melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Yono tak mau menghiraukannya. Pemuda kurus itu, seperti menyimpan sesuatu, yang tidak ingin ia bagikan kepada tamu tamu majikannya.
Angga merasa keadaan mulai tak nyaman, tak ada penerangan di jalan yang mereka lalui. Yono diam diam melirik kaca spion, dan keringat dingin mulai membanjiri wajahnya.
"Astaga matahari akan tenggelam, mereka sudah menampakkan diri. aku harus cepat cepat sampai di desa sebelum mahluk mahluk itu menjadikan kami semua sebagai tumbal mereka."
Yono menambah kecepatan mobil, wajah pemuda desa itu terlihat lebih tegang, menatap lurus jauh ke depan. Ryo yang melihat gelagat aneh dari gerak tubuh Yono, di buat penasaran. Berkali kali ia melirik ke arah spion, tapi dia tak melihat apa apa selain warna pekat malam yang mulai berkabut.
"Anak ini kenapa ya, aku curiga dia sedang menyembunyikan sesuatu. Ada apa di hutan ini?"
Ryo menyimpan teka teki itu di dalam benaknya. Dia hanya fokus memperhatikan jalan, agar Yono tak sampai membuat mereka celaka.
"Hah... akhirnya kita sampai juga di desa!"
Yono mendesah, sembari berseru. Dia merasa lega karena mobilnya sampai di batas desa tepat waktu. Ryo yang masih bingung dengan sikap Yono ikut merasa senang, karena mereka mulai dapat melihat rumah rumah penduduk, walaupun jarak antar rumah saling berjauhan.
"Syukurlah akhirnya kita berhasil lolos dari bahaya yang mengintai."
Yono bergumam lirih, dia mulai menurunkan laju kecepatan mobilnya sambil sesekali melirik kaca spion, seperti sedang memastikan, kalau mereka benar benar aman, dan tidak ada sesuatu yang mengikuti ke desa.
"Berapa lama lagi Yon, sudah enam jam lebih kita berkendara, tapi rumah Herly kok belum kelihatan juga?"
Jaka mulai lelah, dia ingin cepat cepat sampai di rumah Herly dan beristirahat. Menyetujui ide Ryo, adalah sebuah kesalahan terbesar bagi Jaka. Pengalaman gaib di kereta hari ini tak mungkin bisa di lupakan begitu saja olehnya.
"Pinggangku sakit sekali, tubuh ini kaku semua rasanya. Semoga saja rumah Herly nyaman untuk istirahat malam ini. Aku tak sabar berbaring di ranjang yang empuk."
Jaka terus saja meracau sambil meregangkan otot otot tangannya yang terasa kaku. Mobil yang di kemudikan Yono perlahan masuk ke halaman rumah besar bergaya gotik, jauh dari kesan mewah.
Pekarangan rumah itu sangat luas dengan beberapa pohon yang tertata rapi. Namun entah mengapa Angga melihat rumah itu terkesan suram dan angker.
"Kita sudah sampai mas, ini rumah bapak Herly, beliau pasti sudah menunggu di dalam."
Yono membuka bagasi mobil dan menurunkan barang barang bawaan tamunya. Angga berdiri terpaku menengadahkan wajahnya ke arah lantai dua rumah yang terkesan angker itu.
"Kriek..!"
Pintu ruang tamu terbuka lebar, sosok pria sepantaran Angga muncul dari ruang tamu. Pria kurus berkaca mata itu berjalan sambil mengulas senyum di bibir. Dia langsung menjabat tangan Ryo lalu mengajaknya masuk ke dalam.
Di belakang Angga dan Jaka berjalan menaiki anak tangga, sambil membawa barang barang bawaan mereka.
"Apa kabar kalian semua, sudah lama sekali tak jumpa, aku pangling lihat wajah tampan kalian. Ayo.. Ayo masuk, istriku sudah menyiapkan makan malam yang lezat untuk kalian."
"Di dalam juga sudah ada Bagus, dia datang lebih awal dari kalian."
Pria itu adalah Herly sang pemilik rumah yang mengundang Angga dan teman teman untuk reuni. Herly membimbing tamunya menuju meja makan.
Bangunan luas bergaya gotik dengan koleksi barang barang antik, membuat Angga, Ryo, dan Jaka jadi merinding. Mereka bertiga saling memandang satu sama lain. Aura magis di ruangan itu menimbulkan perasaan yang sulit untuk di lukiskan.
"Ayo silahkan duduk, jangan sungkan. Semua hidangan disini di masak khusus untuk menjamu kalian."
"Nikmati hidangannya, saya akan menemui romo sebentar, dan segera kembali."
Ryo, Jaka, dan Angga saling bertukar pandang. Mereka sama sama merasakan ada yang tidak beres dengan rumah itu.
"Sebaiknya kita jangan lama lama disini, entah mengapa aku tidak suka dengan aura rumah ini."
Jaka berbisik kepada Ryo, dia mengutarakan perasaan tak nyaman sejak masuk ke dalam rumah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
masa sih kamu ngga ngerti Ngga, aq aja yg baca ngerti kok😁😁
2025-01-27
0
Ree Prasetya
suka novelnya...
2025-01-13
0