Bagus dan Herly berjalan menuju ruang tamu, tapi pintu di ruang tamu ternyata masih terkunci dari dalam. Tentu saja Herly bertanya tanya, kemana perginya si Angga.
Yasmin memanggil Herly untuk menjamu tamu tamu mereka agar sarapan, dan menikmati secangkir kopi racikan khas, ramuan khusus dari desa mereka.
Herly yang masih bertanya tanya tentang keberadaan Angga, lalu mengajak Bagus untuk sarapan lebih dulu. Mereka duduk berdua di meja panjang itu, sedangkan Yasmin menyajikan makanan untuk mereka.
"Teng... teng... Teng... teng...!"
Jam dinding besar di ruang tengah berbunyi. Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi. Tapi selain Bagus, teman teman Herly masih belum juga kelihatan. Herly dan Yasmin memutuskan naik ke lantai tiga untuk mengecek keadaan sang romo. Sementara Bagus memilih untuk berjalan jalan di sekitar desa.
Pemandangan desa yang indah, asri, dan udara segar pegunungan membuat hati damai. Bagus betah di tempat itu. Dia bahkan sempat berbincang bincang dengan para petani ramah, yang sedang bekerja di kebun sayur, milik keluarga Herly.
Udara masih terasa sangat dingin, Yono datang dengan membawa seorang dokter dari kecamatan yang jaraknya dua jam dari desa. Satu dokter pria dan satu orang perawat wanita.
Mereka rutin datang setiap minggu, untuk memeriksa kondisi kesehatan romo. Seperti Biasa Yono membantu dokter untuk membawakan tas peralatan medis yang selalu di bawanya.
Seperti biasanya dokter felix selalu segan, bila menginjakkan kakinya di ruang tamu itu. Seperti ada sesuatu yang mebuatnya tidak nyaman saat masuk ke rumah besar milik romo. Dokter itu selalu merasa ada hal ganjil yang membuat hatinya tidak tenang.
"Silahkan dokter, bapak sudah menunggu anda di dalam."
Dokter felix tersenyum ramah, lalu membuka pintu kamar. Di dalam, ia melihat Herly yang sedang duduk di tepi ranjang romo, sembari tersenyum ramah kepadanya.
Dokter Felix meletakkan tas di meja, lalu menjabat hangat tangan Herly. Setelah sedikit berbincang bincang tentang kondisi kesehatan romo, dokter felix langsung duduk memeriksa keadaan pria renta itu.
"Bagaimana keadaan romo dokter, apakah ada tanda tanda beliau akan pulih seperti dulu?"
"Maafkan saya mas Her, secara medis beliau baik, semua organnya berfungsi, tapi kalau keadaan ini, saya tidak bisa pastikan. Maklum saja faktor usia, ada baiknya kalau beliau di rujuk saja ke rumah sakit besar, agar kita tahu lebih detil kondisi beliau."
"Kabar baiknya, kondisi beliau sudah ada perkembangan positif. Secara umum yang kita lihat sekarang, beliau lebih segar dari hari hari kemarin."
Herly sangat senang mendengar berita itu. Ia memang melihat ada perubahan pada kondisi kesehatan ayahnya. Herly berdoa agar ayahnya lekas pulih, sehingga beliau bisa beraktifitas lagi seperti dulu.
"Terima kasih dokter, saya akan membujuk romo agar beliau mau ke rumah sakit. Anda berdua orang orang baik, entah dengan cara apa kami bisa membalas kebaikan dokter felix, dan suster Rena."
Yasmin memberikan amplop coklat berisi segepok uang kepada suster Rena, lalu Herly mengantar mereka kembali keluar. Yono telah siap menunggu mereka di pintu mobil. Dokter felix dan suster Rena segera berpamitan pulang.
Herly mengulas senyum di bibir sembari melambaikan tangan kepada mereka. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Yono segera pergi meninggalkan pekarangan rumah keluarga Herly.
Jam menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh, saat Angga dan dua temannya terbangun. Ia langsung kaget melihat dirinya yang tertidur bersandar di dinding. Hanya Ryo yang tidur di atas ranjang, sedang Jaka tidur di kursi rias, mereka tidur bagai orang yang tak sadarkan diri.
Angga kembali kekamarnya dan langsung menuju kamar mandi, ia berpikir akan izin pulang hari ini. Suasana rumah itu benar benar membuat Angga tidak nyaman, dan ingin cepat cepat melanjutkan rencananya ke kota Malang.
Sementara itu, Ryo dan Jaka yang baru saja bangun, mereka tidak ingat apa yang terjadi semalam. Tanpa merasa ada sesuatu yang ganjil, Ryo membuka jendela, dan melihat matahari sudah tinggi.
Jaka melemaskan otot ototnya yang kaku, karena tidur dalam posisi duduk. Setelah merasa segar, Jaka keluar, berniat kembali ke kamarnya. Di lorong ia berpapasan dengan Angga yang baru saja berbenah, dan akan keluar untuk berpamitan.
"Pagi pagi begini kamu sudah rapi, mau jalan jalan kemana Ngga?"
Angga menatap wajah Jaka dengan aneh, ia ingat betul kejadian tadi malam. Saat itu Ryo dan Jaka bersi keras akan meninggalkan rumah keluarga Herly pagi ini. Tapi entah ada apa dengan pemuda itu, yang jelas, sikap Jaka justru berubah seolah olah tidak ada sesuatu yang terjadi semalam.
"Bukannya tadi malam kita bertiga sudah sepakat, akan pamit pulang pagi ini Jak?"
"Ya ampun Ngga, kita ini baru sampai tadi malam. Istirahat dulu sebentar, healing healing, lihat lihat pemandangan indah desa di kaki gunung yang damai ini, baru besok kita pamit pulang."
Angga mengerutkan dahinya, dia merasa ada yang aneh dengan sikap Jaka yang berubah ubah. Padahal tadi malam, seingat Angga, Jaka yang paling takut, dan ingin agar mereka segera meninggalkan rumah keluarga Herly, tapi sekarang justru terbalik. Jaka meminta agar mereka bertahan disini semalam lagi.
Karena merasa semuanya semakin tidak beres. Angga mengabaikan Jaka. Dia pergi ke kamar Ryo, untuk menanyakan hal yang sama. Apakah mereka jadi pulang hari ini, atau menunggu semalam lagi seperti pinta Jaka.
"Yo... kita jadi pulang hari ini kan?"
"Ya ampun Ngga baru sampai tadi malam, sekarang sudah mau minta pulang?"
"Tunggu sampai besok pagi saja, aku nggak enak dengan Herly."
Angga jadi bingung, semuanya jadi berubah, tidak seperti yang mereka katakan tadi malam. Dengan kesal Angga meninggalkan kamar Ryo, dan membereskan koper miliknya.
"Dasar orang orang plin plan, mereka sendiri yang ingin cepat cepat pergi dari sini, tapi sekarang mereka juga yang mau tetap tinggal."
Angga mengoceh sendiri tanpa menyadari, ada sosok Herly yang sedang menatapnya dengan senyum tipis.
"Kamu mau pergi kemana Ngga, sekarang sudah siang, sudah lewat waktu sarapan. Istriku sudah menyiapkan makanan dari jam tujuh. Kami tinggal menunggu dirimu seorang."
Angga terkejut mendengar suara Herly, ia jadi salah tingkah dibuatnya. Dengan cepat Angga menutup koper miliknya. Dia melepas senyum kepada Herly untuk menetralkan situasi yang canggung diantara mereka.
Herly mengajak Angga turun menuju ruang makan. Tiga orang temannya sudah duduk lebih dulu, menunggu sambil menyeruput secangkir kopi panas yang dihidangkan Yasmin.
Mereka semua menyantap sarapan masing masing dengan santai seperti tidak ada sesuatu yang terjadi semalam. Keadaan ini, kontan menimbulkan tanda tanya. Besar di benak Angga.
"Apa aku saja disini yang merasa aneh, atau mereka memang sedang bersandiwara?"
Angga belum bisa melupakan sosok hitam yang di lihatnya semalam. Tak ingin gaduh sendiri, Angga berterus terang kepada Herly tentang keinginannya untuk segera pergi ke kota Malang.
"Her aku minta maaf sebelumnya, mungkin kurang sopan, tapi aku minta maaf ke kalian semua, karena hari ini harus segera pergi ke kota Malang, cutiku tidak lama, jadi aku mau pergi ke beberapa tempat sebelum masuk kerja."
Herly terdiam, dia tidak melanjutkan aktifitas makannya, dan berjalan menghampiri Angga, yang nampak canggung berada di antara mereka.
"Maaf jika ada pelayanan kami yang membuat kamu merasa tidak nyaman Ngga. Aku juga tidak punya niat untuk mencegahmu pergi, tapi saat ini Yono sedang pergi ke kota kecamatan.
Dia baru saja pergi mengantar dokter felix, sekalian membeli keperluan kami.
"Mungkin sore baru akan kembali. Di desa ini tidak ada transportasi umum, walaupun itu sekedar ojek. Masyarakat disini kalau hendak pergi ke kota, mereka menumpang mobil pengangkut sayur, dan pulang ke desa sebelum waktu surup tiba."
Herly coba memberi pengertian kepada Angga agar ia mau tetap tinggal sampai besok pagi, setelah itu Yono pasti akan mengantarnya ke stasiun kota.
"Apa tidak ada masyarakat desa yang punya sepeda motor Her?"
"Jika ada, aku mau sewa jasa mereka untuk sekali ini saja."
Herly berpikir sejenak, kemudian memanggil salah satu asisten rumah tangganya. Dia meminta wanita muda itu memanggil semua warga desa yang punya sepeda motor.
Wanita muda itu cepat cepat memanggil beberapa orang yang memiliki sepeda motor. Herly menanyakan, apakah ada orang yang bersedia mengantar Herly ke kota.
"Maaf mengganggu aktifitas bapak bapak semua, saya mau minta tolong, apa ada dari kalian yang mau membantu teman saya.
"Jangan khawatir, saya akan bayar sewa jasa bapak bapak, dengan harga yang pantas, bagaimana?"
Warga saling bertukar pandang, mereka melihat jam, dan serentak mengatakan tidak berani, karena pasti tidak bisa kembali ke desa sebelum magrib.
"Maafkan kami juragan, bukannya tidak mau membantu, tapi sebentar lagi sudah jam dua belas siang, kami takut kembali terlambat."
"Juragan tahu sendiri jalur hutan itu, disana sudah gelap walaupun masih jam lima sore."
Angga jadi merasa tidak enak hati sendiri. Ada pertanyaan baru yang hinggap di benaknya. Angga jadi penasaran, apakah hutan yang di maksud warga desa, adalah hutan yang sama, dengan hutan kemarin, yang mereka lewati, saat Yono merasa mobil menabrak sesuatu.
"Begini saja pak, bagaimana kalau nanti salah seorang, dari kalian yang bersedia mengantarkan saya, tidak usah pulang sore ini, nanti saya akan sewakan penginapan, besok pagi bapak baru kembali pulang ke desa, bagaimana?"
Terlihat raut wajah warga enggan untuk pergi, dan Angga tidak bisa memaksa mereka. Bagus lalu menghampiri Angga dan berbisik.
"Sudahlah pulang besok saja. Nanti malam, kamu tidur dengan aku. Mahluk itu tidak akan masuk ke kamar selama aku ada."
Bisikan Bagus membuat Angga kaget, lalu menoleh ke arahnya. Bagus hanya senyum lalu kembali ke dalam.
"Jadi bagaimana Ngga, kamu masih mau pulang hari ini?"
"Kalau saranku, kamu pulang besok pagi saja, aku akan suruh Yono menginap di rumah, agar kamu bisa berangkat pagi pagi sekali."
Angga tidak dapat berkata kata lagi, dengan terpaksa ia harus menuruti saran Herly. Jam terasa berjalan sangat cepat, usai makan siang, Herly mengajak teman temannya ke sungai jernih di desanya.
Herly sengaja mengajak, mereka melihat lihat desa agar tidak bosan di rumah itu. Untuk sejenak Angga bisa terbebas dari situasi yang menekan mentalnya.
Keindahan sungai jernih, hutan kecil, sawah, dan air pancuran yang mengalir dingin dari mata air, benar benar memanjakan mereka.
Tapi kesenangan itu tidak bisa berlangsung lama, seorang pria yang bekerja di rumah Herly, tiba tiba datang memberi kabar yang tidak mengenakan.
"Pak Herly... pak... Romo pak, beliau telah meninggal, ibu Yasmin menyuruh saya untuk menjemput bapak pulang.
Herly terkejut, wajahnya tiba tiba panik. Tanpa berpikir lagi, ia segera berlari meninggalkan keempat temannya. Suasana seketika jadi berubah, Angga dan teman teman segera menyusul Herly dari belakang.
Rumah keluarga Herly tela penuh dengan orang orang yang melayat. Isak tangis terdengar menyayat hati, rumah besar itu jadi terlihat lebih suram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments