Bab 6 Wafatnya Sang Romo

Bagus dan Herly berjalan menuju ruang tamu, tapi pintu di ruang tamu ternyata masih terkunci dari dalam. Tentu saja Herly bertanya tanya, kemana perginya si Angga.

Yasmin memanggil Herly untuk menjamu tamu tamu mereka agar sarapan, dan menikmati secangkir kopi racikan khas, ramuan khusus dari desa mereka.

Herly yang masih bertanya tanya tentang keberadaan Angga, lalu mengajak Bagus untuk sarapan lebih dulu. Mereka duduk berdua di meja panjang itu, sedangkan Yasmin menyajikan makanan untuk mereka.

"Teng... teng... Teng... teng...!"

Jam dinding besar di ruang tengah berbunyi. Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi. Tapi selain Bagus, teman teman Herly masih belum juga kelihatan. Herly dan Yasmin memutuskan naik ke lantai tiga untuk mengecek keadaan sang romo. Sementara Bagus memilih untuk berjalan jalan di sekitar desa.

Pemandangan desa yang indah, asri, dan udara segar pegunungan membuat hati damai. Bagus betah di tempat itu. Dia bahkan sempat berbincang bincang dengan para petani ramah, yang sedang bekerja di kebun sayur, milik keluarga Herly.

Udara masih terasa sangat dingin, Yono datang dengan membawa seorang dokter dari kecamatan yang jaraknya dua jam dari desa. Satu dokter pria dan satu orang perawat wanita.

Mereka rutin datang setiap minggu, untuk memeriksa kondisi kesehatan romo. Seperti Biasa Yono membantu dokter untuk membawakan tas peralatan medis yang selalu di bawanya.

Seperti biasanya dokter felix selalu segan, bila menginjakkan kakinya di ruang tamu itu. Seperti ada sesuatu yang mebuatnya tidak nyaman saat masuk ke rumah besar milik romo. Dokter itu selalu merasa ada hal ganjil yang membuat hatinya tidak tenang.

"Silahkan dokter, bapak sudah menunggu anda di dalam."

Dokter felix tersenyum ramah, lalu membuka pintu kamar. Di dalam, ia melihat Herly yang sedang duduk di tepi ranjang romo, sembari tersenyum ramah kepadanya.

Dokter Felix meletakkan tas di meja, lalu menjabat hangat tangan Herly. Setelah sedikit berbincang bincang tentang kondisi kesehatan romo, dokter felix langsung duduk memeriksa keadaan pria renta itu.

"Bagaimana keadaan romo dokter, apakah ada tanda tanda beliau akan pulih seperti dulu?"

"Maafkan saya mas Her, secara medis beliau baik, semua organnya berfungsi, tapi kalau keadaan ini, saya tidak bisa pastikan. Maklum saja faktor usia, ada baiknya kalau beliau di rujuk saja ke rumah sakit besar, agar kita tahu lebih detil kondisi beliau."

"Kabar baiknya, kondisi beliau sudah ada perkembangan positif. Secara umum yang kita lihat sekarang, beliau lebih segar dari hari hari kemarin."

Herly sangat senang mendengar berita itu. Ia memang melihat ada perubahan pada kondisi kesehatan ayahnya. Herly berdoa agar ayahnya lekas pulih, sehingga beliau bisa beraktifitas lagi seperti dulu.

"Terima kasih dokter, saya akan membujuk romo agar beliau mau ke rumah sakit. Anda berdua orang orang baik, entah dengan cara apa kami bisa membalas kebaikan dokter felix, dan suster Rena."

Yasmin memberikan amplop coklat berisi segepok uang kepada suster Rena, lalu Herly mengantar mereka kembali keluar. Yono telah siap menunggu mereka di pintu mobil. Dokter felix dan suster Rena segera berpamitan pulang.

Herly mengulas senyum di bibir sembari melambaikan tangan kepada mereka. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Yono segera pergi meninggalkan pekarangan rumah keluarga Herly.

Jam menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh, saat Angga dan dua temannya terbangun. Ia langsung kaget melihat dirinya yang tertidur bersandar di dinding. Hanya Ryo yang tidur di atas ranjang, sedang Jaka tidur di kursi rias, mereka tidur bagai orang yang tak sadarkan diri.

Angga kembali kekamarnya dan langsung menuju kamar mandi, ia berpikir akan izin pulang hari ini. Suasana rumah itu benar benar membuat Angga tidak nyaman, dan ingin cepat cepat melanjutkan rencananya ke kota Malang.

Sementara itu, Ryo dan Jaka yang baru saja bangun, mereka tidak ingat apa yang terjadi semalam. Tanpa merasa ada sesuatu yang ganjil, Ryo membuka jendela, dan melihat matahari sudah tinggi.

Jaka melemaskan otot ototnya yang kaku, karena tidur dalam posisi duduk. Setelah merasa segar, Jaka keluar, berniat kembali ke kamarnya. Di lorong ia berpapasan dengan Angga yang baru saja berbenah, dan akan keluar untuk berpamitan.

"Pagi pagi begini kamu sudah rapi, mau jalan jalan kemana Ngga?"

Angga menatap wajah Jaka dengan aneh, ia ingat betul kejadian tadi malam. Saat itu Ryo dan Jaka bersi keras akan meninggalkan rumah keluarga Herly pagi ini. Tapi entah ada apa dengan pemuda itu, yang jelas, sikap Jaka justru berubah seolah olah tidak ada sesuatu yang terjadi semalam.

"Bukannya tadi malam kita bertiga sudah sepakat, akan pamit pulang pagi ini Jak?"

"Ya ampun Ngga, kita ini baru sampai tadi malam. Istirahat dulu sebentar, healing healing, lihat lihat pemandangan indah desa di kaki gunung yang damai ini, baru besok kita pamit pulang."

Angga mengerutkan dahinya, dia merasa ada yang aneh dengan sikap Jaka yang berubah ubah. Padahal tadi malam, seingat Angga, Jaka yang paling takut, dan ingin agar mereka segera meninggalkan rumah keluarga Herly, tapi sekarang justru terbalik. Jaka meminta agar mereka bertahan disini semalam lagi.

Karena merasa semuanya semakin tidak beres. Angga mengabaikan Jaka. Dia pergi ke kamar Ryo, untuk menanyakan hal yang sama. Apakah mereka jadi pulang hari ini, atau menunggu semalam lagi seperti pinta Jaka.

"Yo... kita jadi pulang hari ini kan?"

"Ya ampun Ngga baru sampai tadi malam, sekarang sudah mau minta pulang?"

"Tunggu sampai besok pagi saja, aku nggak enak dengan Herly."

Angga jadi bingung, semuanya jadi berubah, tidak seperti yang mereka katakan tadi malam. Dengan kesal Angga meninggalkan kamar Ryo, dan membereskan koper miliknya.

"Dasar orang orang plin plan, mereka sendiri yang ingin cepat cepat pergi dari sini, tapi sekarang mereka juga yang mau tetap tinggal."

Angga mengoceh sendiri tanpa menyadari, ada sosok Herly yang sedang menatapnya dengan senyum tipis.

"Kamu mau pergi kemana Ngga, sekarang sudah siang, sudah lewat waktu sarapan. Istriku sudah menyiapkan makanan dari jam tujuh. Kami tinggal menunggu dirimu seorang."

Angga terkejut mendengar suara Herly, ia jadi salah tingkah dibuatnya. Dengan cepat Angga menutup koper miliknya. Dia melepas senyum kepada Herly untuk menetralkan situasi yang canggung diantara mereka.

Herly mengajak Angga turun menuju ruang makan. Tiga orang temannya sudah duduk lebih dulu, menunggu sambil menyeruput secangkir kopi panas yang dihidangkan Yasmin.

Mereka semua menyantap sarapan masing masing dengan santai seperti tidak ada sesuatu yang terjadi semalam. Keadaan ini, kontan menimbulkan tanda tanya. Besar di benak Angga.

"Apa aku saja disini yang merasa aneh, atau mereka memang sedang bersandiwara?"

Angga belum bisa melupakan sosok hitam yang di lihatnya semalam. Tak ingin gaduh sendiri, Angga berterus terang kepada Herly tentang keinginannya untuk segera pergi ke kota Malang.

"Her aku minta maaf sebelumnya, mungkin kurang sopan, tapi aku minta maaf ke kalian semua, karena hari ini harus segera pergi ke kota Malang, cutiku tidak lama, jadi aku mau pergi ke beberapa tempat sebelum masuk kerja."

Herly terdiam, dia tidak melanjutkan aktifitas makannya, dan berjalan menghampiri Angga, yang nampak canggung berada di antara mereka.

"Maaf jika ada pelayanan kami yang membuat kamu merasa tidak nyaman Ngga. Aku juga tidak punya niat untuk mencegahmu pergi, tapi saat ini Yono sedang pergi ke kota kecamatan.

Dia baru saja pergi mengantar dokter felix, sekalian membeli keperluan kami.

"Mungkin sore baru akan kembali. Di desa ini tidak ada transportasi umum, walaupun itu sekedar ojek. Masyarakat disini kalau hendak pergi ke kota, mereka menumpang mobil pengangkut sayur, dan pulang ke desa sebelum waktu surup tiba."

Herly coba memberi pengertian kepada Angga agar ia mau tetap tinggal sampai besok pagi, setelah itu Yono pasti akan mengantarnya ke stasiun kota.

"Apa tidak ada masyarakat desa yang punya sepeda motor Her?"

"Jika ada, aku mau sewa jasa mereka untuk sekali ini saja."

Herly berpikir sejenak, kemudian memanggil salah satu asisten rumah tangganya. Dia meminta wanita muda itu memanggil semua warga desa yang punya sepeda motor.

Wanita muda itu cepat cepat memanggil beberapa orang yang memiliki sepeda motor. Herly menanyakan, apakah ada orang yang bersedia mengantar Herly ke kota.

"Maaf mengganggu aktifitas bapak bapak semua, saya mau minta tolong, apa ada dari kalian yang mau membantu teman saya.

"Jangan khawatir, saya akan bayar sewa jasa bapak bapak, dengan harga yang pantas, bagaimana?"

Warga saling bertukar pandang, mereka melihat jam, dan serentak mengatakan tidak berani, karena pasti tidak bisa kembali ke desa sebelum magrib.

"Maafkan kami juragan, bukannya tidak mau membantu, tapi sebentar lagi sudah jam dua belas siang, kami takut kembali terlambat."

"Juragan tahu sendiri jalur hutan itu, disana sudah gelap walaupun masih jam lima sore."

Angga jadi merasa tidak enak hati sendiri. Ada pertanyaan baru yang hinggap di benaknya. Angga jadi penasaran, apakah hutan yang di maksud warga desa, adalah hutan yang sama, dengan hutan kemarin, yang mereka lewati, saat Yono merasa mobil menabrak sesuatu.

"Begini saja pak, bagaimana kalau nanti salah seorang, dari kalian yang bersedia mengantarkan saya, tidak usah pulang sore ini, nanti saya akan sewakan penginapan, besok pagi bapak baru kembali pulang ke desa, bagaimana?"

Terlihat raut wajah warga enggan untuk pergi, dan Angga tidak bisa memaksa mereka. Bagus lalu menghampiri Angga dan berbisik.

"Sudahlah pulang besok saja. Nanti malam, kamu tidur dengan aku. Mahluk itu tidak akan masuk ke kamar selama aku ada."

Bisikan Bagus membuat Angga kaget, lalu menoleh ke arahnya. Bagus hanya senyum lalu kembali ke dalam.

"Jadi bagaimana Ngga, kamu masih mau pulang hari ini?"

"Kalau saranku, kamu pulang besok pagi saja, aku akan suruh Yono menginap di rumah, agar kamu bisa berangkat pagi pagi sekali."

Angga tidak dapat berkata kata lagi, dengan terpaksa ia harus menuruti saran Herly. Jam terasa berjalan sangat cepat, usai makan siang, Herly mengajak teman temannya ke sungai jernih di desanya.

Herly sengaja mengajak, mereka melihat lihat desa agar tidak bosan di rumah itu. Untuk sejenak Angga bisa terbebas dari situasi yang menekan mentalnya.

Keindahan sungai jernih, hutan kecil, sawah, dan air pancuran yang mengalir dingin dari mata air, benar benar memanjakan mereka.

Tapi kesenangan itu tidak bisa berlangsung lama, seorang pria yang bekerja di rumah Herly, tiba tiba datang memberi kabar yang tidak mengenakan.

"Pak Herly... pak... Romo pak, beliau telah meninggal, ibu Yasmin menyuruh saya untuk menjemput bapak pulang.

Herly terkejut, wajahnya tiba tiba panik. Tanpa berpikir lagi, ia segera berlari meninggalkan keempat temannya. Suasana seketika jadi berubah, Angga dan teman teman segera menyusul Herly dari belakang.

Rumah keluarga Herly tela penuh dengan orang orang yang melayat. Isak tangis terdengar menyayat hati, rumah besar itu jadi terlihat lebih suram.

Episodes
1 Bab I Cuti
2 Bab 2 Teror Dalam Kereta
3 Bab 3 Pertanda
4 Bab 4 Bagus
5 Bab 5 Romo
6 Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7 Bab 7 Wasiat Romo
8 Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9 Bab 9 Ritual Terakhir
10 Bab 10 Penasaran
11 Bab11 Loak buku
12 Bab 12 Sebuah Teka teki
13 Bab 13 Peringatan
14 Bab 14 Ganjil
15 Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16 Bab 16 Sebuah Firasat
17 Bab 17 Peta Desa Leluhur
18 Bab 18 Rahasia Romo
19 Bab 19 Ruang Rahasia
20 Bab 20 Terlambat
21 Bab 21 Merangkai Kenangan
22 Bab 22 Malam Genting
23 Bab 23 Hilang
24 Bab 24 Mengejar Herly
25 Bab 25 Menapak Kenangan
26 Bab 26 Ibu
27 Bab 27 Desa di Balik Kabut
28 Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29 Bab 29 Rumah Joglo
30 Bab 30 Firasat Yasmin
31 Bab 31 Hujan Darah
32 Bab 32 Tersesat
33 Bab 33 Petunjuk Kakak
34 Bab 34 Wanita yang Terbakar
35 Bab 35 Menit menit Penentuan
36 Bab 36 Balas Dendam Darsih
37 Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38 Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39 Bab 39 Pindah Alam
40 Bab 40 Kebaya Hitam
41 Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42 Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43 Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44 Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45 45 Segel Mati
46 Bab 46 Tangisan Yasmin
47 Bab 47 Keteguhan Hati
48 Bab 48 Gadis Misterius
49 Bab 49 Karyawan Baru
50 Bab 50 Namaku Ayunindya
51 Bab 51 Rumah Kosong
52 Bab 52 Lamaran Gaib
53 Bab 53 Jelang Pernikahan
54 Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55 Bab 55 Pernikahan beda Alam
56 Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57 Bab 57 Bersiasat
58 Bab 58 Rahasia Angga
59 Bab 59 Pria Misterius
60 Bab 60 Ruqyah
61 Bab 61 Mimpi Yasmin
62 Bab 62 Pesan dari Bagus
63 Bab 63 Mengejar Yasmin
64 Bab 64 Peringatan dari Herly
65 Bab 65 Janji Angga
66 Bab 66 Tapa Hening
67 Bab 67 Rahasia Angga
68 Bab 68 Bayangan Misterius
69 Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70 Bab 70 Memburu Bagus
71 Bab 71 Memori yang Hilang
72 Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73 Bab 73 Kemunculan Herly
74 Bab 74 Perburuan
75 Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76 Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77 Bab 77 Sosok Penolong
78 Bab 78 Pertarungan Terakhir
79 Bab 79 Kekalahan
80 Bab 80 Kemenangan Sumpah
81 Bab 81 Babak Baru
82 Bab 82 Jodoh yang Hilang
83 Bab 83 Hati untuk Angga
84 Bab 84 Penampakan di Cermin
85 Bab 85 Dia Bukan Ayu
86 Bab 86 Kuntilanak Merah
87 Bab 87 Kamuflase
88 Bab 88 Serangan Fisik
89 Bab 89 Penjara Roh
90 Bab 90 Tabir Misteri
91 Bab 91 Labirin
92 Bab 92 Dasimah
93 Bab 93 Kematian Dasimah
94 Bab 94 Kabar Baik
95 Bab 95 Aji Malih Jiwo
96 Bab 96 Bayangan Hitam
97 Bab 97 Penumpang Gelap
98 Bab 98 Mahluk Bayangan
99 Bab 99 Jebakan
100 Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101 Bab 101 Gerbang Neraka
102 Bab 102. Nyekar
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab I Cuti
2
Bab 2 Teror Dalam Kereta
3
Bab 3 Pertanda
4
Bab 4 Bagus
5
Bab 5 Romo
6
Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7
Bab 7 Wasiat Romo
8
Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9
Bab 9 Ritual Terakhir
10
Bab 10 Penasaran
11
Bab11 Loak buku
12
Bab 12 Sebuah Teka teki
13
Bab 13 Peringatan
14
Bab 14 Ganjil
15
Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16
Bab 16 Sebuah Firasat
17
Bab 17 Peta Desa Leluhur
18
Bab 18 Rahasia Romo
19
Bab 19 Ruang Rahasia
20
Bab 20 Terlambat
21
Bab 21 Merangkai Kenangan
22
Bab 22 Malam Genting
23
Bab 23 Hilang
24
Bab 24 Mengejar Herly
25
Bab 25 Menapak Kenangan
26
Bab 26 Ibu
27
Bab 27 Desa di Balik Kabut
28
Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29
Bab 29 Rumah Joglo
30
Bab 30 Firasat Yasmin
31
Bab 31 Hujan Darah
32
Bab 32 Tersesat
33
Bab 33 Petunjuk Kakak
34
Bab 34 Wanita yang Terbakar
35
Bab 35 Menit menit Penentuan
36
Bab 36 Balas Dendam Darsih
37
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38
Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39
Bab 39 Pindah Alam
40
Bab 40 Kebaya Hitam
41
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44
Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45
45 Segel Mati
46
Bab 46 Tangisan Yasmin
47
Bab 47 Keteguhan Hati
48
Bab 48 Gadis Misterius
49
Bab 49 Karyawan Baru
50
Bab 50 Namaku Ayunindya
51
Bab 51 Rumah Kosong
52
Bab 52 Lamaran Gaib
53
Bab 53 Jelang Pernikahan
54
Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55
Bab 55 Pernikahan beda Alam
56
Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57
Bab 57 Bersiasat
58
Bab 58 Rahasia Angga
59
Bab 59 Pria Misterius
60
Bab 60 Ruqyah
61
Bab 61 Mimpi Yasmin
62
Bab 62 Pesan dari Bagus
63
Bab 63 Mengejar Yasmin
64
Bab 64 Peringatan dari Herly
65
Bab 65 Janji Angga
66
Bab 66 Tapa Hening
67
Bab 67 Rahasia Angga
68
Bab 68 Bayangan Misterius
69
Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70
Bab 70 Memburu Bagus
71
Bab 71 Memori yang Hilang
72
Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73
Bab 73 Kemunculan Herly
74
Bab 74 Perburuan
75
Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76
Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77
Bab 77 Sosok Penolong
78
Bab 78 Pertarungan Terakhir
79
Bab 79 Kekalahan
80
Bab 80 Kemenangan Sumpah
81
Bab 81 Babak Baru
82
Bab 82 Jodoh yang Hilang
83
Bab 83 Hati untuk Angga
84
Bab 84 Penampakan di Cermin
85
Bab 85 Dia Bukan Ayu
86
Bab 86 Kuntilanak Merah
87
Bab 87 Kamuflase
88
Bab 88 Serangan Fisik
89
Bab 89 Penjara Roh
90
Bab 90 Tabir Misteri
91
Bab 91 Labirin
92
Bab 92 Dasimah
93
Bab 93 Kematian Dasimah
94
Bab 94 Kabar Baik
95
Bab 95 Aji Malih Jiwo
96
Bab 96 Bayangan Hitam
97
Bab 97 Penumpang Gelap
98
Bab 98 Mahluk Bayangan
99
Bab 99 Jebakan
100
Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101
Bab 101 Gerbang Neraka
102
Bab 102. Nyekar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!