Kereta terus melaju kencang menuju stasiun bayangan. Ryo yang mulai bosan memilih memejamkan mata, dan tidur pulas. Sedangkan Jaka yang terjaga karena perutnya yang terasa lapar, memutuskan untuk pergi menuju gerbong belakang. Ia berencana membeli makanan di kantin kereta.
Setelah melewati gerbong tiga, entah mengapa perasaan Jaka jadi tidak enak. Dia ragu ragu untuk melanjutkan langkahnya. Jaka memutuskan untuk berdiri sejenak di depan pintu toilet, yang terletak di antara pintu gerbong tiga dan empat.
Matanya fokus menelisik gerbong empat yang terasa ganjil baginya. Sekilas semua tampak normal, tak ada yang aneh di dalam gerbong empat. Semua penumpang terlihat sedang tidur pulas. Namun Jaka merasa keadaan itu justru aneh. Menurutnya situasi di gerbong empat terlalu hening.
Jaka mulai menemukan beberapa keanehan yang membuat bulu kuduknya meremang. Di gerbong empat, Jaka melihat orang orang itu seperti terhipnotis.
Semua orang terlihat tidur dalam posisi yang sama. Mereka tidur dengan posisi duduk, dan kepala tertunduk, kecuali satu orang yang terlihat masih terjaga. Dia adalah seorang wanita tua renta yang mengenakan setelan kebaya serba hitam.
Jaka menelan ludahnya, rasa takut mulai terasa menteror mental pemuda kekar itu. Untuk sesaat ia hanya diam terpaku. Ruang di gerbong empat membuatnya kaku tak sanggup bergerak. Otak jaka memerintahkan, agar ia cepat cepat pergi dari sana. Tapi tubuhnya tak mau digerakkan, walau sekedar untuk menoleh.
"Celaka..., bagaimana ini, kenapa seluruh badanku jadi kaku begini, oh Tuhan wanita itu menoleh kesini, aku harus apa sekarang?"
Tiba tiba wanita tua berkebaya hitam berdiri. wajah pucatnya menyeringai, matanya yang hitam menyorot tajam ke arah Jaka, dan lalu bertiak menyuruh Jaka untuk pergi. Tentu saja pemuda itu jadi panik dan terkejut. Dia ingin segera melarikan diri dari sana, tapi kaki Jaka terasa lemas. Pandangan matanya memudar, dan Jaka langung jatuh pingsan di sebelah toilet antara gerbong tiga dan empat.
Angga yang telah terbangun dari tidurnya, sedikit bingung melihat tempat duduk Jaka yang sudah kosong. Dia lalu berdiri, monoleh ke sekelilingnya. Berpikir kalau Jaka berada diantara penumpang. Tapi setelah menoleh kanan kiri, dia tak menemukan pemuda itu.
Angga lalu berpikir, kalau Jaka pasti sedang pergi ke toilet atau kantin kereta. Tapi setelah satu jam berlalu, Angga mulai resah sebab Jaka belum juga kembali. Dia merasa ada yang tak beres dengan Jaka. Dia lalu membangunkan Ryo.
"Yo... bangun Yo, Jaka hilang, sebaiknya kita cari dia. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya."
"Kita ini sedang berada di kereta Ngga, anak itu mau pergi kemana, kalau tidak ke toilet, ya pasti pergi ke kantin kereta."
Ryo menjawab dengan mata yang masih terpejam. Angga tidak mau menyerah begitu saja. Dia terus berusaha membangunkan Ryo.
"Hey Yo, ini sudah satu jam, tapi jaka belum juga kembali."
Ryo memicingkan matanya, lalu melihat jam tangan. Untuk beberapa detik ia mengusap wajah dan memulihkan kesadarannya.
"Ada apa sih Ngga, perjalanan kita masih tiga jam lagi, aku masih ngantuk"
"Heh dengar, sudah satu jam sejak aku bangun, dan selama itu Jaka tidak ada di tempat duduknya. Aku khawatir dengan dia Yo."
Ryo masih menelaah ucapan Angga, dia berpikir Jaka pergi ke kantin atau toilet. Tapi bila di pikir pikir lagi, tidak mungkin juga satu jam lebih. Ryo mendadak panik, dia berpikir yang sama dengan Angga.
"Itu anak pergi kemana sih, bikin panik orang saja."
"Ya sudah ayo, kita cari Yo, kamu ke depan, aku ke belakang."
Angga lalu mengajak Ryo untuk berpencar. Dia akan mencari ke gerbong belakang, sementara Ryo akan mencari Jaka ke depan.
Angga melintasi para penumpang, matanya fokus memperhatikan wajah setiap penumpang kereta dengan seksama. Tapi tidak ada tanda tanda keberadaan Jaka diantara mereka. Angga terus mencari hingga ke gerbong akhir dimana kantin kereta berada.
Setiap toilet telah di periksa, tapi Jaka tak ada dimana mana. Karena melihat Angga yang terlihat sedang kebingungan, seorang petugas kereta, lalu datang menghampiri pemuda tampan itu.
"Ada apa ya mas, saya perhatikan kalian mondar mandir, seperti mencari sesuatu. Apa ada barang kalian yang hilang?"
"Bukan barang pak, tapi teman kami Jaka yang hilang, dari tadi saya sudah mencari dia kemana mana. Tapi Jaka seperti tidak ada di dalam gerbong ini."
"Entah kemana, jagan jangan dia...?"
Tanpa basa basi, Angga langsung menceritakan kronologi hilangnya Jaka, dan pikiran negatif yang terlintas dalam benaknya. Angga khawatir Jaka melakukan sesuatu, atau jangan jangan ada orang jahat yang mengincarnya.
Petugas kereta mendengarkan uraian Angga sambil tersenyum tipis penuh arti. Pria itu seperti tak heran dengan yang terjadi. Dia lalu mengajak Angga dan Ryo menuju toilet yang berada di antara gerbong tiga dan empat.
"Kalian berdua tunggu disini sebentar. Saya mau ke kantin untuk buat kopi dan ambil rokok."
Angga yang tak mengerti dengan ucapan aneh petugas kereta, tidak ingin ambil pusing. Dia hanya mengangguk setuju, lalu membiarkan petugas kereta itu pergi berlalu menuju kantin.
"Orang aneh, teman kita hilang, dia malah sibuk bikin kopi dan mau merokok."
Angga menggerutu kesal, menekuk wajahnya. Dia merasa sia sia telah melaporkan hilangnya Jaka kepada petugas.
Berbanding terbalik dengan Ryo, pria tambun itu justru terlihat lebih tenang, menghadapi masalah hilangnya Jaka.
Di bandingkan Angga yang skeptis dengan dunia mistis. Ryo memang tipe orang yang percaya akan hal hal gaib, berbau klenik. Apa lagi dirinya baru saja mengalami sendiri fenomena astral di stasiun kecil beberapa waktu yang lalu.
Dengan adanya petugas kereta yang mengerti perkara gaib, Ryo menjadi lebih tenang. Dia yakin Jaka bisa ditemukan.
"Maaf lama menunggu, soalnya saya harus membuat kopi hitam, dengan sedikit ritual."
"Tidak apa apa pak, yang penting teman kami selamat, itu sudah cukup."
Ryo memasrahkan pencarian Jaka kepada petugas kereta. Sedangkan Angga tampak, seperti tidak perduli. Dia memilih diam, tak berkomentar. Baginya ini hanya sebuah kekonyolan yang membuang buang waktu.
Angga ingin sekali kembali ke tempat duduknya, tapi dia enggan dikatakan tak memiliki empati. Dengan sangat terpaksa Angga harus menyaksikan sebuah ritual yang menurut nalarnya, terlihat aneh.
"Sekarang coba buka pintu toilet itu, teman kalian pasti ada di dalam."
"Di dalam pak?"
"Iya di dalam... toilet ini memang portal antar dimensi, jangan melamun kalau sedang berada dalam toilet ini."
"Maaf sebelumnya pak, bukannya saya tidak percaya, tapi saya sudah dua kali bolak balik memeriksa toilet ini, dan Jaka teman kami tidak ada disana."
Angga segera menyanggah ucapan petugas kereta. Dia yakin sudah memeriksa semua toilet berkali kali, dan Jaka memang tak ada di semua toilet. Berbeda dengan Ryo, dia tak ingin berdebat dengan orang yang sudah berniat baik membantu mereka.
Pemuda bertubuh tambun itu buru buru melangkah, dan membuka pintu toilet. Angga terkejut pupil matanya melebar. Mereka sama sama melihat Jaka terkulai lemas di lantai toilet yang sempit.
Mulut petugas kereta komat kamit membaca doa dalam hati. Setelah itu, dia langsung jongkok dan membasuh wajah Jaka dengan air mineral. Tak butuh waktu lama, Jaka segera tersadar dari pingsan, dan terlihat linglung.
"Kita harus pulang Ngga, nenek berkebaya hitam itu bilang, kita semua sedang pergi menjemput maut sendiri."
Tiba tiba saja Jaka mengucapkan sesuatu yang ganjil. Angga bingung dengan perkataan Jaka, sedangkan Ryo justru terkejut, ucapan Jaka sama persis dengan yang ia alami, di stasiun satu setengah jam yang lalu. Dia sadar ada sesuatu yang tak beres dengan Herly, tapi entah kenapa dia tidak bisa merubah keputusan, dan tetap melanjutkan perjalanan mereka.
Sebaliknya Angga masih terlihat bingung mengartikan ucapan Jaka. Dia masih harus mencerna lagi fenomena yang berlangsung di depan matanya. Aneh tapi nyata, itu yang terlintas dalam benak seorang Angga.
Semua seperti sulap, tapi mereka tidak sedang menyaksikan pertunjukkan di panggung. Angga tak bisa berkata kata, selain menguntai kata Maaf, dan terima kasih, karena petugas kereta telah sudi membantu mereka.
Ryo segera kembali ke gerbong satu tempat duduk mereka. Dia mengambil pakaian bersih untuk Jaka. Sementara Angga masih berdiri di tempat, menemani Jaka yang duduk lemas di lantai kereta. Kejadian itu tak pelak jadi tontonan para penumpang yang hendak masuk ke toilet.
Petugas kereta segera menetralisir keadaan dengan mengatakan, kalau Jaka hanya jatuh terpeleset di dalam toilet. Orang orang yang berkerumun akhirnya mengerti dan kembali ke tempat duduk masing masing.
Ryo datang memberikan pakaian kering untuk Jaka. Pemuda itu perlahan bangkit dan menutup pintu toilet. Setelah berganti pakaian, suasana tegang di kereta berangsur angsur pulih kembali.
Angga dan Ryo memapah Jaka kembali ke tempat duduk mereka. Pemuda itu masih terlihat trauma, dia yakin wanita berkebaya hitam itu benar benar nyata dan dia telah menterornya.
Perjalanan mereka sudah tak jauh lagi, hanya tinggal tersisa satu jam, sebelum mereka sampai di stasiun kota banyuwangi. Angga duduk santai sambil menatap kosong ke luar jendela. Fikirannya melayang pada rentetan peristiwa yang baru saja mereka lewati.
Dia sebagai seorang yang lahir di era modern, mau tidak mau harus mengakui, ada dunia lain di luar sana, dunia abstrak yang bersinggungan dengan kehidupan manusia.
Bell kereta berbunyi, bertanda kereta akan segera berheti di stasiun tujuan. Semua penumpang berkemas, bersiap siap untuk turun di Stasiun terakhir.
Angga berdiri sejenak untuk melemaskan otot ototnya yang kaku. Penumpang Kereta telah turun seluruhnya, kecuali satu orang di gerbong empat. Seorang nenek masih tetap duduk di kursi penumpang.
Dia adalah wanita tua yang dilihat oleh Jaka dan Ryo. Wanita tua itu terus menatap tajam ke arah Angga dengan wajah yang diliputi amarah.
"Muleh...!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
pada bandel ya nek...tapi kalo mereka ngga bandel ceritanya ngga horor🤣🤣🤣
2025-01-27
0