Walaupun tidak setuju dengan isi wasiat sang ayah, tapi Herly tidak bisa menolak. Dia tak mungkin melanggar wasiat yang jadi pesan, dan keinginan terakhir romo.
Dengan berat hati Herly dan Yasmin, harus ikhlas melepaskan kepergian romo menuju peristirahatan terakhir tanpa kehadiran sosok keluarga. Pria tinggi bertubuh gempal bernama Darmo, ditunjuk pengacara untuk memimpin prosesi keberangkatan jenazah.
Pria gempal itu duduk di samping peti mati yang berisi jenazah romo. Setelah selesai mempersiapkan segalanya, mobil ambulan segera melaju menuju desa kelahiran romo.
Sudah hampir satu jam, sejak iring iringan tiga mobil yang membawa peti jenazah romo berangkat dari rumah duka. Darmo melihat lagi peta jalur perjalanan menuju desa kelahiran romo.
Ada rasa segan dalam hatinya kala itu. Ia seakan memiliki sebuah firasat yang kuat higga ragu untuk melanjutkan perjalanan mereka.
"Don, kita cari rumah makan dulu ya, perut ku tiba tiba saja lapar lagi. Kita mampir di rumah makan terdekat, sekalian aku mau buang air."
"Ok siap boss..."
Pria pendek yang mengemudikan mobil jenazah, mengiyakan keinginan Darmo, pria itu juga ingin istirahat sambil minum segelas kopi agar staminanya tetap terjaga sampai di tujuan mereka.
Setelah mengisi bahan bakar mobil, mereka segera parkir di rumah makan pertama yang mereka temukan. Darmo segera memesan makanan, lalu minta izin kepada pemilik rumah makan untuk buang air ke belakang.
Usai menyelesaikan hajatnya, Darmo lagi lagi berpikir untuk tidak melanjutkan tugas mengantar jenazah romo. Ia sempat berdiri lama di depan cermin dan pergi dari sana.
"Dari tadi perasaanku tidak enak, harusnya aku tidak mengambil tugas ini, tapi mau bagaimana lagi, aku sedang butuh uang banyak untuk biaya sekolah anak anak. Atau aku lari saja ya?"
"Biarkan mereka yang menyelesaikan tugas mengantar peti jenazah ke kampung orang tua pak Herly."
Usai menyisir rambutnya Darmo berencana akan mencari jalan keluar lain, dari rumah makan itu. Ia akan pergi diam diam tanpa di ketahui teman temannya. Tapi tiba tiba saja Darmo di buat kaget oleh sesuatu yang membuatnya jadi kaku.
Darmo melihat bayangan orang berjubah hitam di dalam cermin. Bayangan hitam itu tidak memiliki wajah. Ia berdiri tegak di belakang Darmo, lalu mencekik lehernya hingga wajahnya memerah.
"Aghk... Aghk... to.. tolong, tolong lepaskan, ampun... Ampuni aku!"
Tubuh Darmo terangkat ke udara, matanya melotot, lehernya tercekat tak bisa bicara. Bayangan itu menjatuhkan Darmo ke lantai, lalu menghilang.
"Antarkan dia padaku, atau kau dan anak, istrimu akan menjadi tumbalku."
Suara itu tiba tiba terdengar mengiang ngiang di dalam kepala Darmo. Ia lari terbirit birit hingga hampir saja menabrak pemilik rumah makan. Darmo cepat cepat kembali ke tempat duduknya, lalu segera minum segelas air putih. Tangannya masih gemetar saat meminum kopi yang telah tersuguh di atas meja.
"Ada apa pak Darmo, kenapa wajahmu memerah, dan tangan mu jadi gemetar begitu, apa yang terjadi?"
Gendon penasaran dengan sikap aneh yang di tunjukkan Darmo. Ia menduga pasti telah terjadi sesuatu di kamar mandi. Walaupun ia
tak tahu persisnya, tapi Gendon berpikir, apa yang telah di alami Darmo bukanlah perkara kecil yang bisa mereka abaikan.
"Ayolah pak Darmo, terus terang saja, ada apa sebenarnya, kenapa tangan bapak jadi gemetar, apa yang terjadi di kamar mandi?"
Gendon memburu Darmo dengan rentetan pertanyaan yang membuat Darmo terpojok. Dia lalu bangun, dan pindah tempat duduk ke sebelah Gendon, seraya berbisik lirih.
"Aku baru saja melihat malaikat maut di kamar mandi Don, lihat bekas merah yang ada di leherku ini, gambar bekas tangan ini adalah ulah dari mahluk hitam itu."
Mendengarnya Gendon jadi bergidik ngeri. Bulu kuduknya merinding. Cerita Darmo membuatnya takut, sebab mereka sedang membawa peti mati yang berisi jenazah romo.
"Kita tidak boleh lama lama disini pak Dar, jenazah romo harus kita kuburkan sekarang juga, jangan sampai terjadi sesuatu kepada kita di perjalanan."
Ucapan Gendon membuat Darmo jadi makin panik. Ia cepat cepat menghabiskan makan siangnya, lalu mereka segera meninggalkan rumah makan itu dengan terburu buru.
Tak ada percakapan yang terjadi, mereka fokus menyetir agar segera sampai di desa romo. Tapi baru setengah jam mengemudi, tiba tiba mobil jenazah yang mengangkut jasad romo, mengalami pecah ban di jalan sepi.
Mereka segera menepi untuk ganti ban. Dua orang pria dari mobil hitam segera turun tangan, ikut membantu memasang ban serep, dan perjalanan di lanjutkan kembali.
"Kita sudah sampai dimana pak, disini sepi, tidak ada rambu rambu penunjuk jalan. Di depan sana sudah hutan, desanya sebelah mana ya pak?"
"Sebentar dulu Don, biar aku lihat petanya. Kalau menurut peta ini, tiga puluh lima kilo meter lagi, kita akan menemukan sebuah gapura menuju desa."
"Nanti kamu ambil kiri, setelah itu kita akan masuk ke dalam. Kira kira tiga kilo meter lagi, terus kita akan menjumpai jalan tanah berbatu. Disitulah letak desa romo."
"Setelah masuk desa, kita masih harus jalan terus melewati pemukiman penduduk. Baru kita akan menemukan makam keluarga beliau."
Jam empat sore, saat Gendon melajukan mobil memasuki gapura. Suasana sunyi terasa aneh bagi Darmo. Rimbun hutan bambu yang mereka lewati, membuatnya was was.
Kejadian di rumah makan masih menghantui pikiran Darmo. Pria Gempal itu mulai gelisah dan membaca doa dalam hati, aroma wangi kembang melati tiba tiba tercium, menteror mental semua orang yang berada di dalam mobil jenazah.
Gendon mempercepat laju mobilnya. Udara dingin dan wangi melati makin menyengat, kabut mulai turun menghalangi pandangan mata mereka.
"Bagaimana ini pak Darmo, kabutnya makin tebal, apa tidak sebaiknya kita kembali saja pak, saya takut."
"Jalan terus, nyalakan lampu kabutnya Don, awas kalau kamu berani putar balik!"
"Tapi pak...?"
Mendengar ancaman Darmo, Gendon jadi panik. Pria pendek itu menelan ludah, menahan ketakutan yang menggelayuti pikirannya. Meski ingin kabur, tapi Gendon tak bisa lagi melihat jalan yang ada di belakang mereka.
Semua jalan telah tertutup oleh kabut tebal. Dengan sangat terpaksa ke tiga mobil itu melanjutkan perjalanan, hingga menemukan pemukiman penduduk.
Gendon menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar yang tidak terawat. Halamannya luas namun dipenuhi sampah dedaunan. Penampakan pemukiman itu, bagai sebuah desa mati. Gendon gemetar, dia tak sanggup lagi mengemudikan mobil jenazah.
Seorang pria turun dari mobil hitam, yang mengawal mereka. Dia bertanya kenapa Gendon berhenti medadak di pemukiman penduduk.
"Hey, Don kenapa berhenti disini, apa kita sudah sampai di tujuan?"
Gendon enggan menjawab, matanya liar mengawasi keadaan sekitar. Tak lama kemudian Darmo turun dari pintu belakang. Dengan kasar ia menarik kerah baju Gendon memaksanya keluar dari balik kemudi.
Darmo segera mengambil alih kemudi, dan melanjutkan perjalanan mereka. Gendon yang merasa mereka sedang diawasi banyak mata, tiba tiba saja mengompol. Darmo mencium bau pesing dan ingin marah, tapi kejadian itu membuatnya jadi geli sendiri.
Sambil menahan tawanya Darmo menyuruh Gendon turun, lalu pindah ke belakang. Mobil kembali melaju menuju pemakaman yang berada di ujung desa.
Tanpa mereka sadari, sosok mahluk gaib sudah ramai menyambut kedatangan romo. Aroma yang berasal dari peti jenazah telah mengundang banyak mahluk astral datang mendekat. Jam lima lewat tiga puluh menit sore hari, mereka sampai di area makam.
Tak ingin buang waktu, mereka bergegas pergi menuju ke tengah area pemakaman. Darmo segera menurunkan peralatan, dan mereka cepat cepat menggali lubang untuk menguburkan jasad romo.
Sudah hampir jam tujuh malam, saat mereka berhasil menggali lubang sedalam dua meter. Darmo memerintahkan enam orang pria untuk mengangkat peti jenazah dari dalam mobil. Sementara tiga orang berada di dalam liang lahat.
Darmo memerintahkan teman temannya untuk membuka peti. Aroma busuk disertai anyir darah segar menyeruak menyengat hidung.
Meski risih dan takut namun mereka tetap melanjutkan prosesi pemakaman dan menggelar doa bersama diterangi cahaya lampu mobil. Tapi kemudian suasana jadi berubah. Angin bertiup kencang menyibak daun daun.
Darmo merasakan suasana makam kian ganjil. Pria gempal itu lantas mengarahkan head lamp mengitari makam. Sementara teman temanya menurunkan jasad romo ke dalam liang lahat.
Darmo, Gendon, dan beberapa temannya, melihat pemakaman itu dipenuhi oleh sosok bayangan manusia berjubah hitam yang tak memiliki wajah.
"AAAAAAAA....!"
Serempak mereka berteriak panik, karena sosok sosok itu menunjuk ke arah mereka. Sontak mereka lari tunggang langgang tak tentu arah. Semua orang lari berpencar, mencari selamat sendiri.
Liang lahat romo tiba tiba bergetar bagai gempa bumi. Tanah yang ada di atas makam longsor, menimbun orang orang yang sedang berada di dalam liang lahat.
Sementara yang lain mencari tempat untuk bersembunyi, Gendon dan Darmo berlari ke dalam mobil mereka. Tapi sial mobil jenazah sama sekali tak bisa menyala.
Mereka lari berpencar menuju hutan, sawah, dan pemukiman. Namun semua usaha itu sia sia saja. Darmo dan teman temannya tewas tergantung di lilit kain kafan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ree Prasetya
uuuh sereemmm
2025-01-13
0