Bab 8 Maut Pengantar Jenazah

Walaupun tidak setuju dengan isi wasiat sang ayah, tapi Herly tidak bisa menolak. Dia tak mungkin melanggar wasiat yang jadi pesan, dan keinginan terakhir romo.

Dengan berat hati Herly dan Yasmin, harus ikhlas melepaskan kepergian romo menuju peristirahatan terakhir tanpa kehadiran sosok keluarga. Pria tinggi bertubuh gempal bernama Darmo, ditunjuk pengacara untuk memimpin prosesi keberangkatan jenazah.

Pria gempal itu duduk di samping peti mati yang berisi jenazah romo. Setelah selesai mempersiapkan segalanya, mobil ambulan segera melaju menuju desa kelahiran romo.

Sudah hampir satu jam, sejak iring iringan tiga mobil yang membawa peti jenazah romo berangkat dari rumah duka. Darmo melihat lagi peta jalur perjalanan menuju desa kelahiran romo.

Ada rasa segan dalam hatinya kala itu. Ia seakan memiliki sebuah firasat yang kuat higga ragu untuk melanjutkan perjalanan mereka.

"Don, kita cari rumah makan dulu ya, perut ku tiba tiba saja lapar lagi. Kita mampir di rumah makan terdekat, sekalian aku mau buang air."

"Ok siap boss..."

Pria pendek yang mengemudikan mobil jenazah, mengiyakan keinginan Darmo, pria itu juga ingin istirahat sambil minum segelas kopi agar staminanya tetap terjaga sampai di tujuan mereka.

Setelah mengisi bahan bakar mobil, mereka segera parkir di rumah makan pertama yang mereka temukan. Darmo segera memesan makanan, lalu minta izin kepada pemilik rumah makan untuk buang air ke belakang.

Usai menyelesaikan hajatnya, Darmo lagi lagi berpikir untuk tidak melanjutkan tugas mengantar jenazah romo. Ia sempat berdiri lama di depan cermin dan pergi dari sana.

"Dari tadi perasaanku tidak enak, harusnya aku tidak mengambil tugas ini, tapi mau bagaimana lagi, aku sedang butuh uang banyak untuk biaya sekolah anak anak. Atau aku lari saja ya?"

"Biarkan mereka yang menyelesaikan tugas mengantar peti jenazah ke kampung orang tua pak Herly."

Usai menyisir rambutnya Darmo berencana akan mencari jalan keluar lain, dari rumah makan itu. Ia akan pergi diam diam tanpa di ketahui teman temannya. Tapi tiba tiba saja Darmo di buat kaget oleh sesuatu yang membuatnya jadi kaku.

Darmo melihat bayangan orang berjubah hitam di dalam cermin. Bayangan hitam itu tidak memiliki wajah. Ia berdiri tegak di belakang Darmo, lalu mencekik lehernya hingga wajahnya memerah.

"Aghk... Aghk... to.. tolong, tolong lepaskan, ampun... Ampuni aku!"

Tubuh Darmo terangkat ke udara, matanya melotot, lehernya tercekat tak bisa bicara. Bayangan itu menjatuhkan Darmo ke lantai, lalu menghilang.

"Antarkan dia padaku, atau kau dan anak, istrimu akan menjadi tumbalku."

Suara itu tiba tiba terdengar mengiang ngiang di dalam kepala Darmo. Ia lari terbirit birit hingga hampir saja menabrak pemilik rumah makan. Darmo cepat cepat kembali ke tempat duduknya, lalu segera minum segelas air putih. Tangannya masih gemetar saat meminum kopi yang telah tersuguh di atas meja.

"Ada apa pak Darmo, kenapa wajahmu memerah, dan tangan mu jadi gemetar begitu, apa yang terjadi?"

Gendon penasaran dengan sikap aneh yang di tunjukkan Darmo. Ia menduga pasti telah terjadi sesuatu di kamar mandi. Walaupun ia

tak tahu persisnya, tapi Gendon berpikir, apa yang telah di alami Darmo bukanlah perkara kecil yang bisa mereka abaikan.

"Ayolah pak Darmo, terus terang saja, ada apa sebenarnya, kenapa tangan bapak jadi gemetar, apa yang terjadi di kamar mandi?"

Gendon memburu Darmo dengan rentetan pertanyaan yang membuat Darmo terpojok. Dia lalu bangun, dan pindah tempat duduk ke sebelah Gendon, seraya berbisik lirih.

"Aku baru saja melihat malaikat maut di kamar mandi Don, lihat bekas merah yang ada di leherku ini, gambar bekas tangan ini adalah ulah dari mahluk hitam itu."

Mendengarnya Gendon jadi bergidik ngeri. Bulu kuduknya merinding. Cerita Darmo membuatnya takut, sebab mereka sedang membawa peti mati yang berisi jenazah romo.

"Kita tidak boleh lama lama disini pak Dar, jenazah romo harus kita kuburkan sekarang juga, jangan sampai terjadi sesuatu kepada kita di perjalanan."

Ucapan Gendon membuat Darmo jadi makin panik. Ia cepat cepat menghabiskan makan siangnya, lalu mereka segera meninggalkan rumah makan itu dengan terburu buru.

Tak ada percakapan yang terjadi, mereka fokus menyetir agar segera sampai di desa romo. Tapi baru setengah jam mengemudi, tiba tiba mobil jenazah yang mengangkut jasad romo, mengalami pecah ban di jalan sepi.

Mereka segera menepi untuk ganti ban. Dua orang pria dari mobil hitam segera turun tangan, ikut membantu memasang ban serep, dan perjalanan di lanjutkan kembali.

"Kita sudah sampai dimana pak, disini sepi, tidak ada rambu rambu penunjuk jalan. Di depan sana sudah hutan, desanya sebelah mana ya pak?"

"Sebentar dulu Don, biar aku lihat petanya. Kalau menurut peta ini, tiga puluh lima kilo meter lagi, kita akan menemukan sebuah gapura menuju desa."

"Nanti kamu ambil kiri, setelah itu kita akan masuk ke dalam. Kira kira tiga kilo meter lagi, terus kita akan menjumpai jalan tanah berbatu. Disitulah letak desa romo."

"Setelah masuk desa, kita masih harus jalan terus melewati pemukiman penduduk. Baru kita akan menemukan makam keluarga beliau."

Jam empat sore, saat Gendon melajukan mobil memasuki gapura. Suasana sunyi terasa aneh bagi Darmo. Rimbun hutan bambu yang mereka lewati, membuatnya was was.

Kejadian di rumah makan masih menghantui pikiran Darmo. Pria Gempal itu mulai gelisah dan membaca doa dalam hati, aroma wangi kembang melati tiba tiba tercium, menteror mental semua orang yang berada di dalam mobil jenazah.

Gendon mempercepat laju mobilnya. Udara dingin dan wangi melati makin menyengat, kabut mulai turun menghalangi pandangan mata mereka.

"Bagaimana ini pak Darmo, kabutnya makin tebal, apa tidak sebaiknya kita kembali saja pak, saya takut."

"Jalan terus, nyalakan lampu kabutnya Don, awas kalau kamu berani putar balik!"

"Tapi pak...?"

Mendengar ancaman Darmo, Gendon jadi panik. Pria pendek itu menelan ludah, menahan ketakutan yang menggelayuti pikirannya. Meski ingin kabur, tapi Gendon tak bisa lagi melihat jalan yang ada di belakang mereka.

Semua jalan telah tertutup oleh kabut tebal. Dengan sangat terpaksa ke tiga mobil itu melanjutkan perjalanan, hingga menemukan pemukiman penduduk.

Gendon menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar yang tidak terawat. Halamannya luas namun dipenuhi sampah dedaunan. Penampakan pemukiman itu, bagai sebuah desa mati. Gendon gemetar, dia tak sanggup lagi mengemudikan mobil jenazah.

Seorang pria turun dari mobil hitam, yang mengawal mereka. Dia bertanya kenapa Gendon berhenti medadak di pemukiman penduduk.

"Hey, Don kenapa berhenti disini, apa kita sudah sampai di tujuan?"

Gendon enggan menjawab, matanya liar mengawasi keadaan sekitar. Tak lama kemudian Darmo turun dari pintu belakang. Dengan kasar ia menarik kerah baju Gendon memaksanya keluar dari balik kemudi.

Darmo segera mengambil alih kemudi, dan melanjutkan perjalanan mereka. Gendon yang merasa mereka sedang diawasi banyak mata, tiba tiba saja mengompol. Darmo mencium bau pesing dan ingin marah, tapi kejadian itu membuatnya jadi geli sendiri.

Sambil menahan tawanya Darmo menyuruh Gendon turun, lalu pindah ke belakang. Mobil kembali melaju menuju pemakaman yang berada di ujung desa.

Tanpa mereka sadari, sosok mahluk gaib sudah ramai menyambut kedatangan romo. Aroma yang berasal dari peti jenazah telah mengundang banyak mahluk astral datang mendekat. Jam lima lewat tiga puluh menit sore hari, mereka sampai di area makam.

Tak ingin buang waktu, mereka bergegas pergi menuju ke tengah area pemakaman. Darmo segera menurunkan peralatan, dan mereka cepat cepat menggali lubang untuk menguburkan jasad romo.

Sudah hampir jam tujuh malam, saat mereka berhasil menggali lubang sedalam dua meter. Darmo memerintahkan enam orang pria untuk mengangkat peti jenazah dari dalam mobil. Sementara tiga orang berada di dalam liang lahat.

Darmo memerintahkan teman temannya untuk membuka peti. Aroma busuk disertai anyir darah segar menyeruak menyengat hidung.

Meski risih dan takut namun mereka tetap melanjutkan prosesi pemakaman dan menggelar doa bersama diterangi cahaya lampu mobil. Tapi kemudian suasana jadi berubah. Angin bertiup kencang menyibak daun daun.

Darmo merasakan suasana makam kian ganjil. Pria gempal itu lantas mengarahkan head lamp mengitari makam. Sementara teman temanya menurunkan jasad romo ke dalam liang lahat.

Darmo, Gendon, dan beberapa temannya, melihat pemakaman itu dipenuhi oleh sosok bayangan manusia berjubah hitam yang tak memiliki wajah.

"AAAAAAAA....!"

Serempak mereka berteriak panik, karena sosok sosok itu menunjuk ke arah mereka. Sontak mereka lari tunggang langgang tak tentu arah. Semua orang lari berpencar, mencari selamat sendiri.

Liang lahat romo tiba tiba bergetar bagai gempa bumi. Tanah yang ada di atas makam longsor, menimbun orang orang yang sedang berada di dalam liang lahat.

Sementara yang lain mencari tempat untuk bersembunyi, Gendon dan Darmo berlari ke dalam mobil mereka. Tapi sial mobil jenazah sama sekali tak bisa menyala.

Mereka lari berpencar menuju hutan, sawah, dan pemukiman. Namun semua usaha itu sia sia saja. Darmo dan teman temannya tewas tergantung di lilit kain kafan.

Terpopuler

Comments

Ree Prasetya

Ree Prasetya

uuuh sereemmm

2025-01-13

0

lihat semua
Episodes
1 Bab I Cuti
2 Bab 2 Teror Dalam Kereta
3 Bab 3 Pertanda
4 Bab 4 Bagus
5 Bab 5 Romo
6 Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7 Bab 7 Wasiat Romo
8 Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9 Bab 9 Ritual Terakhir
10 Bab 10 Penasaran
11 Bab11 Loak buku
12 Bab 12 Sebuah Teka teki
13 Bab 13 Peringatan
14 Bab 14 Ganjil
15 Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16 Bab 16 Sebuah Firasat
17 Bab 17 Peta Desa Leluhur
18 Bab 18 Rahasia Romo
19 Bab 19 Ruang Rahasia
20 Bab 20 Terlambat
21 Bab 21 Merangkai Kenangan
22 Bab 22 Malam Genting
23 Bab 23 Hilang
24 Bab 24 Mengejar Herly
25 Bab 25 Menapak Kenangan
26 Bab 26 Ibu
27 Bab 27 Desa di Balik Kabut
28 Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29 Bab 29 Rumah Joglo
30 Bab 30 Firasat Yasmin
31 Bab 31 Hujan Darah
32 Bab 32 Tersesat
33 Bab 33 Petunjuk Kakak
34 Bab 34 Wanita yang Terbakar
35 Bab 35 Menit menit Penentuan
36 Bab 36 Balas Dendam Darsih
37 Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38 Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39 Bab 39 Pindah Alam
40 Bab 40 Kebaya Hitam
41 Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42 Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43 Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44 Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45 45 Segel Mati
46 Bab 46 Tangisan Yasmin
47 Bab 47 Keteguhan Hati
48 Bab 48 Gadis Misterius
49 Bab 49 Karyawan Baru
50 Bab 50 Namaku Ayunindya
51 Bab 51 Rumah Kosong
52 Bab 52 Lamaran Gaib
53 Bab 53 Jelang Pernikahan
54 Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55 Bab 55 Pernikahan beda Alam
56 Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57 Bab 57 Bersiasat
58 Bab 58 Rahasia Angga
59 Bab 59 Pria Misterius
60 Bab 60 Ruqyah
61 Bab 61 Mimpi Yasmin
62 Bab 62 Pesan dari Bagus
63 Bab 63 Mengejar Yasmin
64 Bab 64 Peringatan dari Herly
65 Bab 65 Janji Angga
66 Bab 66 Tapa Hening
67 Bab 67 Rahasia Angga
68 Bab 68 Bayangan Misterius
69 Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70 Bab 70 Memburu Bagus
71 Bab 71 Memori yang Hilang
72 Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73 Bab 73 Kemunculan Herly
74 Bab 74 Perburuan
75 Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76 Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77 Bab 77 Sosok Penolong
78 Bab 78 Pertarungan Terakhir
79 Bab 79 Kekalahan
80 Bab 80 Kemenangan Sumpah
81 Bab 81 Babak Baru
82 Bab 82 Jodoh yang Hilang
83 Bab 83 Hati untuk Angga
84 Bab 84 Penampakan di Cermin
85 Bab 85 Dia Bukan Ayu
86 Bab 86 Kuntilanak Merah
87 Bab 87 Kamuflase
88 Bab 88 Serangan Fisik
89 Bab 89 Penjara Roh
90 Bab 90 Tabir Misteri
91 Bab 91 Labirin
92 Bab 92 Dasimah
93 Bab 93 Kematian Dasimah
94 Bab 94 Kabar Baik
95 Bab 95 Aji Malih Jiwo
96 Bab 96 Bayangan Hitam
97 Bab 97 Penumpang Gelap
98 Bab 98 Mahluk Bayangan
99 Bab 99 Jebakan
100 Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101 Bab 101 Gerbang Neraka
102 Bab 102. Nyekar
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Bab I Cuti
2
Bab 2 Teror Dalam Kereta
3
Bab 3 Pertanda
4
Bab 4 Bagus
5
Bab 5 Romo
6
Bab 6 Wafatnya Sang Romo
7
Bab 7 Wasiat Romo
8
Bab 8 Maut Pengantar Jenazah
9
Bab 9 Ritual Terakhir
10
Bab 10 Penasaran
11
Bab11 Loak buku
12
Bab 12 Sebuah Teka teki
13
Bab 13 Peringatan
14
Bab 14 Ganjil
15
Bab 15 Jejak Dari Masa Lalu
16
Bab 16 Sebuah Firasat
17
Bab 17 Peta Desa Leluhur
18
Bab 18 Rahasia Romo
19
Bab 19 Ruang Rahasia
20
Bab 20 Terlambat
21
Bab 21 Merangkai Kenangan
22
Bab 22 Malam Genting
23
Bab 23 Hilang
24
Bab 24 Mengejar Herly
25
Bab 25 Menapak Kenangan
26
Bab 26 Ibu
27
Bab 27 Desa di Balik Kabut
28
Bab 28 Gadis Kerudung Merah
29
Bab 29 Rumah Joglo
30
Bab 30 Firasat Yasmin
31
Bab 31 Hujan Darah
32
Bab 32 Tersesat
33
Bab 33 Petunjuk Kakak
34
Bab 34 Wanita yang Terbakar
35
Bab 35 Menit menit Penentuan
36
Bab 36 Balas Dendam Darsih
37
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.
38
Bab 38 Nenek Kebaya Hitam
39
Bab 39 Pindah Alam
40
Bab 40 Kebaya Hitam
41
Bab 41 Ritual Putus Kontrak Darah
42
Bab 42 Kembalinya Adipati Rekso
43
Bab 43 Bantuan Gaib Para Leluhur
44
Bab 44 Gadis Kerudung Merah
45
45 Segel Mati
46
Bab 46 Tangisan Yasmin
47
Bab 47 Keteguhan Hati
48
Bab 48 Gadis Misterius
49
Bab 49 Karyawan Baru
50
Bab 50 Namaku Ayunindya
51
Bab 51 Rumah Kosong
52
Bab 52 Lamaran Gaib
53
Bab 53 Jelang Pernikahan
54
Bab 54 Hari Hari yang Menegangkan
55
Bab 55 Pernikahan beda Alam
56
Bab 56 Ada Apa Dengan Angga
57
Bab 57 Bersiasat
58
Bab 58 Rahasia Angga
59
Bab 59 Pria Misterius
60
Bab 60 Ruqyah
61
Bab 61 Mimpi Yasmin
62
Bab 62 Pesan dari Bagus
63
Bab 63 Mengejar Yasmin
64
Bab 64 Peringatan dari Herly
65
Bab 65 Janji Angga
66
Bab 66 Tapa Hening
67
Bab 67 Rahasia Angga
68
Bab 68 Bayangan Misterius
69
Bab 69 Menembus Dinding Gaib
70
Bab 70 Memburu Bagus
71
Bab 71 Memori yang Hilang
72
Bab 72 Mencari Jejak Herly.
73
Bab 73 Kemunculan Herly
74
Bab 74 Perburuan
75
Bab 75 Tersembunyi Dalam Kabut
76
Bab 76 Mencari Jejak om Bandi
77
Bab 77 Sosok Penolong
78
Bab 78 Pertarungan Terakhir
79
Bab 79 Kekalahan
80
Bab 80 Kemenangan Sumpah
81
Bab 81 Babak Baru
82
Bab 82 Jodoh yang Hilang
83
Bab 83 Hati untuk Angga
84
Bab 84 Penampakan di Cermin
85
Bab 85 Dia Bukan Ayu
86
Bab 86 Kuntilanak Merah
87
Bab 87 Kamuflase
88
Bab 88 Serangan Fisik
89
Bab 89 Penjara Roh
90
Bab 90 Tabir Misteri
91
Bab 91 Labirin
92
Bab 92 Dasimah
93
Bab 93 Kematian Dasimah
94
Bab 94 Kabar Baik
95
Bab 95 Aji Malih Jiwo
96
Bab 96 Bayangan Hitam
97
Bab 97 Penumpang Gelap
98
Bab 98 Mahluk Bayangan
99
Bab 99 Jebakan
100
Bab 100 Menjerat Bayangan Hitam
101
Bab 101 Gerbang Neraka
102
Bab 102. Nyekar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!