11 - FL

Delkiza langsung keluar dari kamarnya sebelum semua keluarganya terbangun dan memilih pergi tanpa memberi pesan apapun kepada keluarganya.

Memilih pergi menggunakan mobil hasil kerja kerasnya dan tidak ada satupun yang tahu bahwa ada satu mobil baru diantara mobil yang terparkir di garasi, bahkan warna yang mencoloknya tidak membuat semua orang bertanya-tanya tentang mobil tersebut.

Sesampainya didepan gerbang yang sudah Delkiza buka Ia pun langsung naik dan mengeluarkan mobilnya tanpa menimbulkan kebisingan setelahnya Ia tutup kembali gerbang tanpa Ia kunci dan langsung masuk kemudian pergi meninggalkan kediaman Likila dalam diam.

CCTV? Ada, tapi sudah Delkiza setting jadi tidak ada satupun yang tahu kapan perginya Delkiza. Penjaga? Sudah Delkiza beri obat tidur agar tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa Ia pergi sendirian dan hanya membawa beberapa setel baju dan juga alat elektronik. Apa gak dilacak nanti? Tentu, karena semua komunikasi sudah lebih dulu Delkiza putus saat Denis pergi dari kamarnya dan Ia semalam begadang untuk menyiapkan semuanya agar tidak ada celah sedikitpun.

Selama perjalanan menuju tempat yang akan dituju Delkiza Ia menyempatkan untuk mampir ke tempat makan yang buka 24jam dan mengisi perutnya agar tidak keroncongan sepanjang perjalanan nanti.

"Untuk kedepannya mungkin bakal berat. Tapi, gue pasti bisa dan semua akan baik-baik saja." Ucap Delkiza menyakinkan dirinya

10 menit kemudian setelah selesai mengisi perutnya Delkiza kembali masuk ke mobil dan Ia sempat membeli beberapa makanan untuk perjalanan nanti.

Menit berganti jam dan sekarang sudah terhitung cukup lama sejak Ia makan dijalan, bahkan sekarang matahari pun sudah terbit membuat Delkiza kembali memberhentikan mobilnya setelah menempuh perjalanan selama 7 jam karena Ia keluar saat masih dijam 3 pagi dini hari dan sekarang sudah jam 10 pagi menjelang siang

Tujuan Delkiza adalah Yogyakarta tempat dimana Ia dibesarkan selama 7 tahun oleh neneknya dari pihak Ibu yang bernama Deswita Hernasari Yang biasa dipanggil Nenek Herna oleh para cucunya.

Bisa dilihat ekspresi Delkiza yang menunjukkan kerinduan yang amat sangat dalam karena kepergian Nenek Herna saat Ia berusia 12 tahun bahkan Ia tidak tahu apa penyebab dari kepergian Nenek Herna yang awalnya sehat-sehat saja dan saat itu tiba-tiba jatuh sakit dan langsung pergi tanpa ada kata-kata terakhir yang Delkiza dapatkan.

"Nek... Aku pulang..." Lirih Delkiza saat menampaki kakinya dihalaman rumah

Biarpun sederhana tapi rumah Nenek Herna terbilang bagus dan masih kokoh karena setiap bulannya ada yang menjaga rumah Nenek Herna disaat semua keluarga sibuk di luar kota.

Sambil berjalan sedikit demi sedikit dengan perasaan campur aduk Delkiza memilih untuk lebih menikmati pemandangan disekitar rumah yang banyak tertanam bunga-bunga yang dulu pernah Nenek Herna rawat setiap hari bahkan salah satu tanaman itu ada bunga lavender kesukaan Delkiza saat Ia masih tinggal dengan Nenek Herna.

"Nek, sepertinya Aku masih gak rela kalau Nenek sudah pergi duluan... Bahkan Aku merasa Nenek masih berada disini tepat disamping Aku dan tersenyum lembut ke arah Aku. Nek, Aku merasa tidak nyaman tinggal bersama mereka yang tidak menganggap ku ada tapi, biar bagaimanapun mereka adalah keluarga tapi, seakan Aku merasa bukan bagian dari mereka. Aku gak tahu Nek harus apa dan sekarang Aku memilih menjauh dari mereka entah sampai kapan. Lucu ya Nek, cucumu ini sangat penakut padahal mereka semua keluarga ku sendiri bukan orang asing. Huft.... Aku izin tinggal disini beberapa hari ya Nek. Semoga Nenek bisa hadir dimimpi Aku."

Setelah dirasa Delkiza sudah mengeluarkan unek-uneknya tengah-tengah taman Ia pun memutuskan untuk masuk dan menyiapkan keperluan untuk makan siang yang sudah Ia beli bahan-bahannya dijalan.

Karena terlalu fokus dengan dirinya sendiri Delkiza sampai tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang melihat dari kejauhan apa yang Delkiza lakukan dan ucapkan dan salah satu dari mereka menatap kepergian Delkiza dengan tatapan penuh arti.

"Apa Dia cucu Nenek Herna? Mereka tampak mirip walau sekilas." Celetuk pria berbandana hitam

"Bisa jadi, apa lagi Nenek Herna kan pernah cerita kalau punya cucu perempuan yang sangat disayang dan dibangga-banggakan sama Nenek Herna." Sahut temannya bertindik ditelinga kiri

"Aha! Gimana kalo nanti siang kita kenalan sama Dia. Setuju?" Saran gadis berambut pendek dengan senyuman cerianya

"Ide bagus tuh." Sahut gadis berambut panjang coklat

"Siapkan." Ucap Pria yang sedari tadi diam dan semua temannya tampak girang dan bergegas untuk menyiapkan semuanya sesuai usulan dari si gadis berambut pendek

Bersambung...

Maaf lama update nya Huhuhu 😭

Semoga suka sama cerita ku ini See you 👋

Rilis : 19.02 WIB

17 Juli 2023

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!