Rumah sakit Medika Melawai
Diruang UGD terdapat gadis terbaring diam dengan dibantu selang infus di hidungnya. Karena kondisinya yang cukup memperihatinkan membuat kedua orang tuanya menatap cemas gadis tersebut.
"Gimana Dok, keadaan putri saya." Tanya Ayahnya
"Kondisi Nona sudah lebih baik dari sebelumnya, sepertinya Nona tidak mengatur pola makan dengan baik dan juga Nona sepertinya terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas hingga menyebabkan ada gejala tipes timbul ditubuh Nona." Jelas Dokter
"Apa Dok? Gejala tipes?" Beo Ibunya menatap shok
Dokter mengangguk. "Benar Nyonya. Dan jika Nona masih sering mengonsumsi makanan pedas itu akan berakibat fatal dan akan timbul lebih parah lagi." Tutur Dokter
"Mas..." Panggilnya kepada sang suami dengan tatapan penuh arti
"Baik Dok. Terima kasih." Ucap Ayahnya datar dan singkat
"Baiklah. Saya pamit undur diri." Ujar Dokter dan keluar setelah mendapat balasan dari orang tua pasien dan diikuti dua suster
Cklek!
"Gimana kondisi adik Pah, Mah." Ucap Denis setelah menyelesaikan urusan administrasi
"Adikmu mengalami gejala tipes." Balas Ayahnya
"Apa? Adik kena tipes?!" Seru Denis dan membuat sang Ayah melotot marah
"Pelankan suaramu." Desis Ayah
Denis merutuki kebodohannya sendiri dan berjalan pelan mendekati adiknya.
"Kiza. Abang minta maaf nggak bisa jaga kamu sampai kamu kena penyakit itu." Gumam Denis ditelinga Delkiza
Ya, benar Gadis yang terbaring disana adalah Delkiza, setelah menyadari keadaan Delkiza yang tidak baik-baik saja Deniz langsung membawa tubuh Delkiza kerumah sakit bersama kedua orangtuanya sedangkan orang rumah hanya bisa berdoa agar kondisi Delkiza cepat membaik. Tanpa terkecuali Bibi Keli yang sekarang standby ditempat dan iku menjaga Delkiza diruang rawat (Bergantian).
Hari sudah semakin malam dan Delkiza tak kunjung sadarkan diri membuat kedua orang tua dan Denis menatap takut keadaan Delkiza.
"Pah. Ini sudah tiga jam dari Kiza pingsan. Tapi, kenapa Kiza tidak mau membuka matanya." Ucap Denis menatap Ayahnya
Sedangkan yang ditanya diam merenung dan mencoba berfikir positif. "Mungkin Adik sebentar lagi bangun. Kita tunggu saja."
Denis berusaha untuk menerima apa yang diucap Ayahnya.
"Pah. Sepertinya Mama mengantuk. Dan lebih baik kalian istirahat biar aku yang jaga Kiza." Ucap Denis
"Nggak. Mama ngga ngantuk." Tolak Ibunya tegas
"Mah... Aku gak mau lihat mamah sakit juga. Mama mau kan istirahat." Ujar Denis lembut
Mendengar tutur kata putranya membuat Ibu dari tiga anak mengangguk.
"Mama titip Adik ya. Kalo ada apa-apa kamu langsung kabarin Mama." Ucap Ibunya
"Siap. Mah." Balas Denis tersenyum hangat
Dan keduanya pun keluar menuju kamar istirahat yang tersedian dirumah sakit. Sedangkan Denis menjaga Delkiza seorang diri.
Tepat pukul 2 dini hari.
"Uh... kenapa kepala gue berat ya...." Lirihnya sambil memegang kepalanya yang berdenyut
Setelah beberapa saat dan menyadari bahwa Ia berada ditempat asing langsung membuka matanya lebar-lebar dan menatap sekeliling.
"Apa! Gue dirumah sakit?! Kok, bisa." Ucapnya dengan nada sedikit keras
"nghhh..." lenguhan seseorang membuat Delkiza terkesiap
Delkiza menatap kesamping untuk mengetahuinya siapkan orang yang disamping.
"Eh? Bang Denis?!" Ujar Delkiza karena mendapati Denis tertidur dengan posisi duduk
"Pasti sakit itu badannya." Pikir Delkiza meringis menatap Denis
"Sudahlah itu bukan urusanku." Gumam Delkiza mengenyahkannya pikirannya tentang posisi tidur Denis
Delkiza bergerak pelan sambil terus menatap Denis waspada karena Ia akan segera turun dari tempat tidur.
Setelah berusaha keras untuk tidak menimbulkan suara akhirnya Delkiza berhasil turun dari kasur.
"Yes!" Seruan penuh kegembiraan didalam hati Delkiza
Delkiza memutuskan untuk keluar dari ruangan yang menurutnya sangat menyesakkan karena bau desinfektan yang terlalu kuat.
Melihat sekeliling yang sepi membuat Delkiza seketika dibuat merinding.
"Gak bakal ada hantu yang lewat kan ya... Sumpah, ini rumah sakit kenapa semakin horor ya..." Gumam Delkiza mengintip dari balik pintu dan menatap lorong yang sepi
Delkiza mulai bimbang dan Delkiza memutuskan untuk tidak keluar. Berjalan pelan dan duduk disofa sambil memakan makanan yang ada diatas meja dengan lahap.
Hingga nggak kerasa waktu sudah menunjukkan pukul 4.45 pagi dan Delkiza terjaga semalaman sambil menonton drama di ponsel Denis.
Disatu sisi Denis mulai menggeliat dan merenggangkan tubuhnya tapi, saat Ia meraba tempat tidur Denis langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Astaga. Adik gue menghilang." Ujar Denis kaget saat tidak mendapati Delkiza diatas kasur
Hingga sahutan dari belakang terdengar.
"In here." Sahut Delkiza
Denis langsung membalikkan badannya dan Ia bisa dengan jelas menatap adiknya yang terlihat cukup memperihatinkan.
"Balum sembuh udah berani begadang hah! Lihat! Mata kamu macam panda." Ujar Denis sambil menunjukkan kaca ke hadapan Delkiza
Delkiza bisa melihat wajahnya yang lelah dan Ia tersenyum.
"Hihihi... Aku mirip panda." Ujar Delkiza sambil cekikikan tidak jelas
"Stop! Sekarang kamu tidur."
Dengan gerakan paksa Denis membaringkan tubuh Delkiza bahkan sampai ponsel Denis terjatuh karena gerakan Denis yang tiba-tiba menggendong Delkiza.
"Abang!" Jerit Delkiza kesal
"Tidur. Kalo nggak gue bakal aduin ke Papa dan Mama. Mau?" Ancam Denis serius
Mendengar kalimat itu membuat Delkiza mengurungkan niatnya untuk memberontak dan kembali tidur dengan perasaan dongkol.
"Liat aja nanti. Kalo gue udah sehat gue bakal bales." Gumam Delkiza pelan dengan penuh keyakinan
Sedangkan Denis yang tidak mendengar suara Delkiza hanya menatap bingung dan berusaha untuk tidak peduli.
"Tidur ya cantik." Ujar Denis dan mengecup pipi Delkiza
Mendapat kecupan tiba-tiba Delkiza kembali bangun dan menatap Denis tajam.
"Iyuhhh...." Ucap Delkiza yang langsung mengelap kasar pipinya dan kembali berbaring dengan membelakangi Denis
Denis yang melihat itu terdiam kaku dan menatap miris ke arah Delkiza.
"Segitu gak sukanya lu sama gue." Ucap Denis penuh emosional dan memilih keluar meninggalkan Delkiza sendiri
Berbeda dengan Denis sekarang Delkiza membalikkan badannya dan menatap pintu yang tertutup rapat.
"Dih. Merajuk dia." Ucap Delkiza sengit dan memilih memejamkan matanya
Di satu sisi belahan dunia lain ✨ Dijam yang berbeda
London
"Kita berangkat sekarang." Ucap Pria berusia 25 Tahun kepada Sekretarisnya
"Baik. Tuan Muda." Jawab sekretaris dan bersiap terbang ke Indonesia
Selama perjalanan ke bandara Pria yang dipanggil Tuan Muda disibukkan dengan iPad yang menampilkan suasana di sebuah Mansion.
Dengan raut tidak bersahabat membuat suasana didalam mobil semakin mencengkam dan bahkan untuk pasokan udara saja mulai semakin menipis.
"Kenapa lagi dengan Tuan Muda." Pikir Sekretaris saat mendapati atasannya berprilaku tidak biasa
"Tuan Muda apa ada yang perlu Saya lakukan." Ucap Sekretaris penuh hati-hati
"Diamlah." Balas Tuan Muda dingin dan membuat sang sekretaris menciut
"Baik..."
TBC...
See you 👋 next part
Rilis : 19Juni2023#21.03wib☑️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments